
"Luna.. jangan ngomong hal menyedihkan gitu, aku jadi sedih mendengarnya~" timpal Manda, aku tertawa kecil mendengar perkataan Manda ketika itu.
"Aku tidak menganggap itu sebagai hal yang menyedihkan, malah itu sebuah perkembangan mentalku. Aku menjadi lebih kuat sejak hari ini, yaitu hari dimana aku sudah berdamai dengan diriku sendiri secara utuh" ucapku sembari berjalan mendekati sofa terdekat lalu duduk disana, ketika itu Peter dan Manda seakan mematung entah apa yang mereka pikirkan tentangku.
"Hei... setelah acara ini selesai, aku ingin berpamitan dengan kalian" celetukku pada mereka, seketika ekspresi wajah Peter dan Manda berubah menjadi terkejut.
"Kamu mau kemana, Luna?!" tanya Manda dengan nada yang terdengar sangat terkejut, aku tertawa karena Manda begitu terkejut aku berpamitan. Bukankah itu sebuah keuntungan untuknya? dia bisa mendekati Peter tanpa gangguan dariku lagi.
"Aku ingin kembali ke ibukota, entah untuk berapa lama... tapi sepertinya aku akan cukup lama disana, semua tergantung bagaimana mereka akan menerimaku lagi..." jawabku
"Mereka? siapa itu?" tanya Peter
"Pangeranku, sahabatku, dan sahabat - sahabat pangeranku... aku sudah memutuskan untuk membuat kenangan indah bersamanya, aku ingin...." jawabku menggantung sejenak, karena tiba - tiba keraguan kembali menghantuiku.
"Jangan ragu lagi Luna, kamu harus menguatkan tekat mu!" ucapku dalam hati
"Aku ingin membekas di hati pangeranku!! iya.. sesuai dengan apa yang pernah kita bicarakan Peter, aku ingin menghabiskan sisa hidupku agar membekas di hati pangeranku" ucapku melanjutkan kalimat yang sempat aku gantung sebelumnya, Peter dan Manda kembali menatapku dalam diam.
"Aku... aku tidak tahu kenapa, tapi... aku merasa jika waktuku sudah tidak banyak..." belum selesai aku bicara, Manda memotongnya.
"Luna! jangan bicara yang tidak - tidak!!" timpal Manda dengan bentakan
"Aku serius, aku sangat memahami tubuhku... dia meronta, dia ingin aku untuk bertemu pangeranku... dia sudah tidak ingin menangis lagi dan dia... sudah lelah..." ucapku, lalu aku menghela nafas.
"Tapi itu tidak apa, semua akan baik - baik saja. Seperti yang sudah aku katakan tadi jika aku sudah berteman dengan diriku sendiri, aku tidak tahu apa aku masih memiliki waktu untuk bertemu kalian lagi setelah ini. Jadi tidak ada salahnya aku berpamitan dulu kan? selain karena aku akan pergi jauh, aku juga tidak yakin akan kembali" ucapku lagi dengan senyuman kepada mereka
"Kalian... aku beruntung bisa bertemu dengan kalian setelah dua tahun ini aku mengurung diri dalam kebencian pada diri sendiri, dari kalian aku bisa memahami apa yang dirasakan pangeranku, sahabat - sahabatku, dan akibat dari keegoisanku. Terima kasih sudah menjadi temanku selama ini" ucapku lagi masih dengan senyuman setulus mungkin, seketika itu Manda berlari mendekatiku lalu memelukku dengan erat.
"Luna~ semoga perjalananmu menyenangkan! aku memang ingin kamu kembali secepat mungkin kesini, tapi jika itu artinya keinginanmu di ibukota gagal... aku lebih memilih untuk tidak melihatmu lagi di desa ini!" suara Manda terdengar bergetar saat itu, aku tahu dia sedang menangis ketika mengatakannya.
"Lunar... semoga kamu bahagia dengan keputusanmu" celetuk Peter lalu berjalan mendekatiku
Ketika sudah dekat, Peter menjulurkan tangannya untuk bersalaman denganku. Dengan tubuh yang masih dipeluk Manda, aku sedikit kesulitan untuk menyambut tangan Peter.
"Terima kasih, Peter. Semoga kamu bisa bahagia juga kedepannya!" timpal ku
"Peter!! bersiaplah, kamu akan tampil sebentar lagi!!" seru panitia ditengah suasana haru kami
Sontak suara itu menarik perhatian kami bertiga, "Sudah dimulai ya" ucapku dalam hati, perlahan pelukan Manda pun terlepas dan tangan Peter sudah melepaskan genggamannya pada tanganku. Peter berjalan mendekati tirai penghubung ruang tunggu peserta dengan panggung sembari berkata...
"Aku akan menjadi pemenangnya!!" agak berteriak Peter mengatakannya, aku dan Manda pun tertawa mendengar semangat Peter saat itu.
Dari sofa tempat aku duduk, aku bisa melihat penampilan Peter yang menyanyikan lagu Aerosmith dengan judul I Dont Want To Miss a Think dari sebuah layar televisi yang tepat berada di hadapanku. Aku menonton perform Peter bersama Manda, kami mengobrol banyak hal tidak penting saat itu. Tentang pangeranku, tentang kehidupanku sebelum tinggal di desa, dan banyak hal lain yang juga aku tanyakan pada Manda.
Lima menit berlalu, Peter kembali masuk kedalam ruang tunggu. Dengan senyum sinis nya dia mengatakan "Kalahkan itu", seketika itu Manda merasa tertantang dan mengatakan "Liat aja nanti ya".
Persaingan kami kembali memanas, Manda berjalan penuh semangat mendekati tirai penghubung ruang tunggu dengan panggung karena setelah ini giliran Manda yang akan tampil. Aku bersama Peter menyaksikan perform Manda dari balik layar kaca, Manda membawakan lagu dari Ruth B dengan judul Dandelions. Ketika itu aku mengatakan pada Peter jika mungkin saja Manda menyanyikan lagu itu untuknya, Peter tertawa dan mengatakan jika Manda adalah wanita yang baik.
__ADS_1
Sepertinya setelah ini mereka akan menjadi sepasang kekasih, aku benarkan? xixixi... :)
Lima menit berlalu dan Manda kembali berkumpul bersama kami di ruang tunggu peserta, Manda mengatakan jika penampilannya lebih mendapat respon positif dari para juri dan juga penonton yang hadir. Dia merasa di atas Peter ketika itu, mungkin memang benar karena nyatanya memang Peter sempat memiliki peringkat dibawah kami.
Aku tertawa melihat permusuhan keduanya, lalu aku menepuk pundak mereka sembari mengatakan...
"Kalian akan menjadi sepasang kekasih yang serasi, semoga aku memiliki waktu untuk melihat seberapa harmonisnya kalian kelak" celetukku, seketika itu wajah Manda memerah menatapku dan Peter tertawa.
Aku berjalan mendekati tirai untuk menuju panggung, tidak lama panita masuk kedalam ruang tunggu untuk memanggilku. Dia bertanya lagu apa yang akan aku nyanyikan, dengan segera aku menjawab...
"Whitney Houston, I Will Always Love You.." jawabku
"Lagu yang bagus, akan sangat cocok dengan suaramu. Bagaimana dengan nada dasarnya? apa perlu aku naikkan atau turunkan?" tanya pria itu padaku, aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum padanya.
"Aku paham, baiklah nona Lunar. Semoga sukses" ucap pria itu dengan sedikit suara tawa, lalu dia kembali berlari mendekati tim pengiring lagu.
Aku mendengar MC begitu bersemangat untuk memandu acara, begitu pula dengan sorak sorai penonton yang bahkan sampai menggema diruang terbuka ini. Bisa dibayangkan seberapa banyak penonton yang hadir saat itu? bahkan aku yang berada disana tidak menyangka akan sampai sebanyak ini penonton kami, mengingat bagaimana awal mula acara ini dimulai.
Begitu kacau, persiapan seadanya, dan juga... tim panita yang lebih sering berdebat tanpa ujung oleh Grece, Aiko dan Yohan. Aku tertawa kecil ketika mengingat bagaimana awal mula aku bisa berada disini, namun sekarang semua telah berubah total. Acara ini berjalan dengan sangat baik, Grece pasti bangga atas keberhasilannya ini. Begitu pula aku... aku sudah sangat puas dengan semua pencapaianku, aku sudah selesai dengan tanggung jawabku kepada Grece, tuan West, tuan Jhonson, dan desa ini.
Aiko menyebut namaku, aku keluar dari balik tirai dan ketika itu aku dapat melihat penonton yang begitu banyak dari atas panggung. Begitu banyaknya sampai terlihat seperti lautan manusia, berdesak - desakan satu sama lain, dan nampak begitu bersemangat. Lampu - lampu sorot begitu gemelap menyinari gelap malam saat itu, musik sambutan kepadaku begitu merdu, dan kemeriahan acara itu begitu terasa.
Namun....
Aku merasakan kehampaan...
Hampa....
Tidak ada rasa antusias, rasa gugup, maupun senang... ada sesuatu yang salah ketika itu, tapi aku tidak tahu apa. Suara bising ditempat itu seakan tidak terdengar dengan baik olehku, aku kesepian ditengah keramaian. Sorak sorai penonton tidak dapat aku dengar, suara kedua MC yang memandu acara pun tidak dapat aku dengar. Aku bahkan terdiam beberapa saat ketika seharusnya aku mulai bernyanyi.
"...Nar?! Lunar?! kamu siap?" tanya Grece padaku dari meja juri, aku tersentak lalu aku tersadar dari lamunanku. Ketika itu penonton yang begitu heboh sebelumnya, kini sudah terdiam menungguku untuk bernyanyi.
"Aah.. i.. iya, maaf... aku gugup" jawabku, seketika itu suara gelak tawa terdengar dari para penonton.
"Baiklah... mulailah jika kamu telah siap" timpal Grece yang terlihat heran dengan apa yang terjadi padaku.
Aku menoleh menatap tim pemandu lagu, aku berikan tanda kepada mereka untuk memulai memainkan alat musik mereka. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, aku mulai menyanyikan lagu...
***Whitney Houston - I Will Always Love You***
If i should stay
I would only be in your way
So i'll go, but i know
I'll think of you every step of the way
__ADS_1
And i will always love you
I will always love you
You, my darling, you, hmm
Bittersweet memories
That is all i'm taking with me
So, goodbye
Please, don't cry
We both know i'm not what you, you need
And i will always love you
I will always love you
I hope life treats you kind
And i hope you have all you've dreamed of
And i wish to you joy and happiness
But above all this, i wish you love
And i will always love you
I will always love you
I will always love you
I will always love you
I will always love you
I will always love you
You
Darling, i love you
Ooh, i'll always
I'll always love you
__ADS_1
******************************************************