
Saat - saat menegangkan bagiku berlalu, kak Jester mempercayai dengan apa yang telah aku katakan padanya. Tentu saja aku tidak bisa menuliskannya secara gamblang disini, Selena akan marah padaku~
Tentang tubuhku.. saat sarapan bersama kak Jester, Naomi dan Selena, aku merasa sangat bugar meski sesekali rasa nyeri di punggung dan pinggul sangat mengganggu. Tapi aku berhasil bertahan agar tidak sampai membuatku merintih kesakitan, semua karena sarapan pagi ini aku selalu berusaha tertawa. Menertawakan apa? tentu saja menertawakan kak Jester dan Selena yang saling salah tingkah menghindari saling kontak mata, keduanya hanya bisa terdiam dengan wajah yang memerah.
"Apa... yang terjadi dengan kalian?" tanya Naomi terdengar penasaran, pertanyaan Naomi semakin membuatku tidak dapat menahan tawa.
"Kak Jester tadi..." belum selesai aku menjawab, Selena memotong perkataanku dengan amarah.
"Luna!!!" bentak Selena dengan wajah yang memerah
Aku semakin tertawa terbahak - bahak sampai membuat kak Jester tidak lagi bernafsu makan, dia terlihat berjalan keluar dari ruang makan dengan tertunduk lemas. Naomi pun semakin dibuat penasaran dengan semua yang terjadi, sedangkan Selena melipat kedua tangannya diatas meja lalu menyandarkan kepalanya di lipatan tangannya itu.
"Ahahaha... ya ampun, iya iya maaf... gak ada yang terjadi kok, Naomi" timpal ku setelah puas tertawa, tapi tentu saja Naomi tidak mempercayai apa yang aku katakan.
Tidak lama aku mendengar suara ketukan dari pintu utama rumah, serentak aku, Naomi dan Selena menatap pintu keluar ruang makan menatap kak Jester yang sedang berjalan keluar dari ruangan ini. Tidak lama ketika terdengar kak Jester membuka pintu, aku mendengar suara nyonya Marrie. "Nyonya Marrie?" ucapku dalam hati.
Aku, Naomi dan Selena pun beranjak dari duduk kami lalu segera berjalan untuk menyambut, ketika kami sudah keluar dari ruang makan aku melihat nyonya Marrie dan nyonya Scott berjalan di lorong ditemani kak Jester. Aku dan Selena segera membungkuk untuk memberi salam pada keduanya, aku tidak tahu kalau nyonya Marrie dan nyonya Scott akan datang berkunjung pagi - pagi seperti ini.
"Pagi mama... ibu..." sapa Naomi
"Hai anak - anak, apa kalian bersenang - senang?" tanya nyonya Marrie pada kami semua, suaranya terdengar ceria dan bahagia seperti biasa.
Aku dan Selena tertawa kecil mendengar perkataan nyonya Marrie ketika itu, perlahan kami mengangkat kepala kami untuk menatap nyonya Marrie dan nyonya Scott. Namun tatapan tajam nyonya Scott membuatku kehilangan senyuman, dia selalu menatapku dengan sangat tajam. Entah bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak merasa jika nyonya Scott membenci ataupun marah padaku namun dia selalu menatap dengan cara berbeda dari kebanyakan orang yang aku kenal. Begitu tajam dan mengintimidasi, "Bagaimana keseharian mu dengan ibu seperti ini, Naomi?" tanyaku dalam hati.
"Apa Sarah sudah merespon chatting mu, Marrie?" tanya nyonya Scott, pertanyaan itu membuat nyonya Marrie merogoh tas untuk mengambil ponselnya.
"Sarah bilang dia masih dalam perjalanan bisnis dan akan segera menemui kita dikantornya, kita diminta kesana lebih dulu karena divisinya sudah siap menyambut kedatangan kita" jawab nyonya Marrie, setelah mengatakan itu nyonya Marrie kembali menatap kak Jester dan Naomi.
"Kalian sudah siap?" tanya nyonya Marrie, hampir bersamaan kak Jester dan Naomi saling menatap.
Ketika itu aku dapat merasakan kekhawatiran kak Jester pada Naomi dan ketakutan dari raut wajah Naomi, yah tentu saja... dengan apa yang baru dua hari yang lalu menimpa Naomi, trauma itu tidak mungkin akan hilang begitu saja.
"Aku sih sudah..." jawab kak Jester menggantung, seketika itu raut wajah nyonya Marrie dan nyonya Scott menampakkan keheranan.
Ketika itu aku ingin membantu kak Jester untuk mencarikan alasan agar Naomi tidak perlu pergi dari rumah, tapi sepertinya Selena menyadari aku ingin menimpali perkataan mereka. Tangan Selena menarik lenganku sampai membuatku mengalihkan perhatianku menatap Selena yang sedikit menunduk, meski dia tidak berkata apa - apa tapi aku paham jika keputusanku untuk menimpali pembicaraan mereka adalah ide bodoh. Akhirnya aku mengurungkan niatku, perlahan aku tundukkan lagi kepala dan berharap kak Jester bisa membantu Naomi.
"Aku... siap..." terbata Naomi mengatakannya, aku pun terkejut dengan keputusan Naomi.
"Ayoo berangkat!!" timpal nyonya Marrie seraya menarik tangan nyonya Scott keluar dari rumah.
Naomi membatu ketika itu, aku tahu dia memaksakan dirinya untuk menerima ajakan nyonya Marrie dan nyonya Scott. Aku ingin menguatkan hatinya, namun kak Jester mendahuluiku. Kak Jester berjalan mendekati Naomi lalu menggenggam kedua tangan Naomi dengan erat, senyum kak Jester pun menyambut tatapan mata Naomi yang terarah padanya.
"Jangan jauh - jauh dariku, aku akan berusaha memberikan rasa aman untukmu" ucap kak Jester terdengar lembut, Naomi tersenyum mendengar perkataan kak Jester lalu dia mengangguk beberapa kali untuk meresponnya.
__ADS_1
"Kami tinggal dulu ya" celetuk kak Jester kepadaku dan Luna, tatapan mata kak Jester menatap kami.
"Oke~ aku dan Selena juga akan pergi" timpal ku, lalu Naomi berbalik untuk menatap mataku dengan senyumnya.
"Terima kasih sarannya semalam, Luna... Ittekimasu" ucap Naomi
Aku tersenyum sembari melambaikan tanganku untuk melepas kepergian kak Jester dan Naomi, aku melihat keduanya jalan berdampingan sampai didepan pintu. Ketika mereka sudah menutup pintu dan pergi, senyumku pun hilang. Nafasku tidak teratur, tubuhku bergetar hebat, dan kakiku terasa begitu nyeri.
Belakangan ini aku harus berjuang lebih untuk menyembunyikan rasa sakit ku, sebenarnya aku kuat dan tidak apa -apa jika harus melakukan itu semua. Tapi.... aku hanya takut tubuhku menolak dan harus pingsan dihadapan mereka semua, sungguh aku tidak ingin itu terjadi.
"Kamu sudah memaksakan diri sejak tadi, apa gak masalah?" tanya Selena begitu khawatir, dengan nafas yang terengah - engah aku mencoba menjawab pertanyaan Selena.
"Tidak apa, yuk bersiap" jawabku sembari berbalik dan berjalan menuju kamar untuk bersiap.
Setelah bersiap yang menghabiskan waktu cukup lama karena aku juga harus bertarung dengan rasa nyeri, aku dan Selena pun beranjak pergi menuju rumah dokter Richard. Aku menelepon ayah dengan ponsel Selena untuk janjian di depan rumah dokter Richard, ayah menyetujui permintaanku dan kami segera berangkat.
Mungkin butuh waktu sekitar empat puluh lima menit untukku sampai didepan rumah dokter Richard, begitu sampai aku sudah melihat sebuah mobil yang terparkir didepan rumah itu dan tidak lama ayah dan ibu keluar dari mobil itu. Ternyata ayah dan ibu menggunakan taksi online ketika itu, entah apa yang terjadi sampai keduanya tidak menggunakan mobil pribadi.
Begitu keluar dari mobil, ayah dan ibu segera berlari untuk menyambut ku. Mungkin insting orang tua yang membuat mereka tiba - tiba panik, tidak ada satupun yang mengatakan jika penyakitku kambuh namun seakan mereka tahu aku sedang tidak baik - baik saja. Ayah dan ibu menuntunku keluar dari mobil dan membawaku masuk kedalam teras rumah dokter Richard, disana aku melihat dokter Richard dan dokter Ellie sudah menunggu kedatangan kami.
Setelah basa - basi antara ayah, ibu, dokter Richard dan dokter Ellie, kami pun masuk kedalam ruang pemeriksaan. Kedua dokter ini memeriksaku secara bergantian dan menjelaskan detail - detail dari apa yang dia temukan dari pemeriksaan dasar yang mereka lakukan, dan hasilnya adalah...
"Kondisi tubuh Luna sudah sangat memburuk, Luna harus segera dirawat secara intensif dan berkelanjutan" ucap dokter Richard
"Aku tidak bisa" timpal ku tegas
"Tapi Luna, tubuhmu sudah tidak mampu untuk terus kamu paksa. Kamu harus segera mendapatkan perawatan" ucap dokter Ellie memaksaku
"Tidak!! aku tidak bisa melakukan itu!! semua sudah berjalan sesuai kemauanku dan aku tidak ingin usahaku selama ini menjadi sia - sia!! aku!! aku... aku tidak bisa... kali ini aku tidak bisa..." timpal ku dengan derai air mata yang keluar
Aku tidak ingin ini berakhir, aku tidak ingin semua tiba - tiba selesai disini... masih ada yang harus aku lakukan, masih ada impian yang belum aku centang.... aku tidak ingin ini berakhir, aku harus lebih bisa bertahan meski artinya aku mempercepat kematianku sekalipun.
Apakah harus sesulit itu bagiku untuk mewujudkan impian terakhirku? kematianku sudah didepan mata tetapi mereka tidak mengerti jika impian itulah yang membuatku bertahan sekuat ini. Mengapa mereka selalu menolak kenyataan dan masih berharap aku sembuh, kalian semua salah.. kalian tidak mengerti begitu berartinya ini bagiku :(:(:( tolong jangan hentikan aku untuk mengejar sisa impianku yang tersisa..aku mohon!!!
Ditengah kalutnya aku suara ayah terdengar seperti hal yang kembali menyakitkan hatiku, ayah yang selalu yakin jika putrinya akan kembali sembuh.
"Luna... setelah sembuh kamu..." belum selesai ayah berkata, aku menoleh untuk menatapnya dan berkata...
"Tidak akan sembuh, ayah!! aku tidak akan sembuh!! kematianku sudah jelas akan..." ketika itu tiba - tiba Selena memotong perkataanku
"Luna!!" bentak Selena kepadaku, aku pun terdiam menatap wajah Selena yang terlihat emosi padaku.
Aku menghela nafasku lalu kembali menatap dokter Richard dan dokter Ellie, perlahan aku menundukkan pandanganku lalu aku katakan...
__ADS_1
"Seberapa yakin kalian aku akan sembuh ketika menuruti saran kalian?" tanyaku
"Ilmu kedokteran tidak menjamin apa yang dokter sarankan akan memberikan kesembuhan, tapi kami hanya meningkatkan persentase kesembuhan yang semula nol menjadi lebih tinggi dari itu" jawab dokter Richard
"Dokter Richard!" bentak dokter Ellie
"Luna bukan tipe pasien yang bisa dibohongi, kita harus katakan dengan jujur agar dia paham apa yang sedang kita usahakan" ucap dokter Richard
"Aku ingin bicara dengan kalian tanpa ayah... ibu... dan Selena..." celetukku, seketika ayah, ibu dan Selena pun terkejut.
Meski berat hati namun akhirnya mereka menerima permintaanku, ayah, ibu dan Selena pun secara teratur keluar dari ruang pemeriksaan dokter Richard. Tersisa lah aku, dokter Richard dan dokter Ellie didalam ruangan, suara nafas dokter Richard memecah keheningan ruangan.
"Ada apa Luna? apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami?" tanya dokter Richard
"Katakan dengan jujur... apa benar aku masih punya peluang untuk tetap.... hidup?" tanyaku, sejenak ruangan itu kembali terasa hening sampai suara helaan nafas dokter Richard kembali terdengar.
"Tidak akan ada dokter yang mengatakan jika pasiennya memiliki peluang kecil untuk bertahan, kami selalu mengatakan jika semua pasien pasti akan sembuh" jawab dokter Richard
"Itu artinya aku memang tidak memiliki peluang untuk hidup lebih lama kan?" tanyaku lagi dengan tekanan
"Luna... bukan seperti itu yang ingin dokter Ri..." belum selesai dokter Ellie berkata, dokter Richard merogoh saku jas dokternya lalu memberikanku enam kaplet obat entah apa itu.
"Aku tahu kemana arah pembicaraan ini, Luna" ucap dokter Richard saat menyodorkan obat itu padaku, ketika dokter Ellie menatap obat itu dia langsung marah.
"Dokter Richard!! apa yang anda lakukan?!!" bentak dokter Ellie, tapi dokter Richard tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari mataku.
"Apa.... ini...?" tanyaku
"Luna!! jangan kamu terima obat itu!! dokter Richard sedang tidak normal!!" bentak dokter Ellie, tapi baik aku dan dokter Richard tidak dapat teralihkan lagi.
"Obat yang sangat kamu butuhkan" jawab dokter Richard tegas, dokter Ellie menggebrak meja begitu keras menunjukkan seberapa marahnya dia.
"Aku akan laporkan kamu ke dewan dokter!!" bentak dokter Ellie, aku menerima obat itu lalu aku tertegun melihatnya.
"Luna, dengarkan aku! obat itu hanya akan memanipulasi rasa sakit mu!!! kamu akan kehilangan respon rasa sakit dan membuatmu merasa semua baik - baik saja!! efek sampingnya lebih mengerikan dari yang bisa kamu bayangkan! tolong dengarkan aku, itu tidak baik untukmu!!" ucap dokter Ellie mencoba membujukku, aku tersenyum lalu ku tatap mata dokter Ellie.
"Jadi begitu... aku mengerti..." timpal ku
Aku bangga dan bahagia ditangani oleh kedua dokter hebat ini, meskipun harus membuat keduanya berdebat tetapi pada akhirnya mereka paham apa yang aku inginkan. Jika waktuku sudah tiba nanti, aku harap kalian tahu jika kalian adalah dua orang yang juga sangat berjasa bagiku untuk meraih impian.
"Lakukan sesukamu, kamu tahu efek sampingnya dan aku berdoa... aku akan selalu berdoa agar kamu dapat memenuhi impianmu, Luna" terdengar sedih dokter Ellie mengatakannya, aku kembali menatap dokter Richard masih dengan senyumanku.
"Senang bertemu denganmu, Luna. Tekadmu yang membuatku mau melanggar sumpah dokter, aku juga berharap kamu bisa memenuhi impian terakhirmu dan... meninggal lah dalam senyuman tanpa penyesalan sedikit pun, itu permintaanku sebagai dokter mu" ucap dokter Richard, aku mengangguk lalu kembali menatap enam kaplet obat di tanganku.
__ADS_1
Dalam hati aku berkata... "Bertahan ya tubuh... maaf kalau aku terus memaksamu untuk tetap kuat, aku dengar suara ronta kalian semua. Tapi untuk terakhir kalinya... penuhi impianku, aku percaya pada kalian"