
Peter kemudian Manda, mereka tampil dan menyanyikan lagu terakhir mereka di kompetisi ini. Sayangnya aku tidak bisa konsentrasi pada penampilan mereka karena aku harus berjuang menahan rasa nyeri yang aku derita, ketika itu yang sangat aku harapkan adalah tidak pingsan dan muntah darah seperti dulu. Jujur jika itu terjadi... aku pasti akan syok, karena selama ini aku sudah mulai jarang mengalami hal itu.
Dokter Alora terus memantau kesehatanku, ayah ibu menjadi pendampingku yang paling setia dengan elusan lembut baik di rambut dan pipiku untuk berusaha menenangkan aku yang terus - menerus merintih kesakitan. Tidak lama Manda kembali kebelakang panggung setelah selesai menampilkan perform terakhirnya di kompetisi ini, aku pun berdiri ketika melihat Manda berjalan menghampiriku.
"Luna, bagaimana keadaanmu? apa istirahatmu cukup?" tanya Manda padaku, aku tersenyum padanya lalu mengangguk.
"Aku baik, terima kasih sudah bertanya" jawabku
"Aku sudah mengulur waktu semampuku, semoga itu membuatmu punya waktu lebih banyak untuk istirahat" ucap Manda sembari memelukku, aku membalas pelukannya.
"Terima kasih bantuannya" timpal ku
Perlahan pelukanku dan pelukan Manda terlepas, bersamaan dengan lepasnya pelukan kami saat itu seorang pria yang menjadi panitia acara menyebut namaku. "Sudah waktunya..." ucapku dalam hati, aku berjalan untuk menuju panggung. Namun ketika itu ibu menahan langkahku, tangan itu menggenggam lenganku.
"Semoga berhasil sayang, ingat... kamu tidak harus melakukannya" celetuk ibu ketika aku menoleh menatapnya, aku tersenyum pada ibu lalu aku mengatakan...
"Aku akan menyelesaikannya dengan baik" timpal ku
Saat itu aku tahu bahwa langkahku tidak akan lagi mudah, atau bahkan suaraku akan buruk. Tetapi ini titik terakhirku untuk menyelesaikan apa yang menjadi impianku dan juga ayah ibu. Semangat Luna... kamu pasti bisa melalui ini. Tubuhku... tolong bekerja samalah dengan baik kali ini, aku mohon!!
Ibu memelukku dan mengelus punggungku beberapa kali dengan lembut, setelah pelukan ibu terlepas saat itu ayah sudah menunggu untuk memelukku bergantian.
"Ayah bangga padamu, sayang" ucap ayah, tidak lama pelukan ayah pun terlepas.
"Terima kasih" ucapku
Aku berbalik dan berjalan melewati tirai penghubung ruang tunggu dengan panggung, aku memberitahu panitia lagu apa yang akan aku bawakan. Ya... All I Ask dari Adele, aku akan menyanyikan lagu yang diminta oleh Grece. Aku yakin bisa menyanyikannya dengan baik karena aku sangat merasakan jiwa dari lagu itu, karena aku juga merasakan apa yang ingin disampaikan Adele lewat lagu itu.
Tidak lama setelah itu, aku mendengar Aiko dan tuan West menyebut namaku. Aku kembali berjalan dan mendekati tengah panggung untuk bersiap tampil, lampu - lampu mulai padam dan kini tersisa lampu sorot yang mengarah padaku. Aku menatap langit gelap saat itu dan membayangkan wajah kak Jester, "Aku berharap kamu mendengar apa yang aku nyanyikan hari ini" gumamku ketika itu.
Musik pun masuk pada intronya, aku memejamkan mataku untuk menghayati lagu itu. Tidak terasa air mataku menetes, hatiku merasa kacau dan aku tidak tahu kenapa aku bisa sampai seperti ini. Aku bahkan sampai tidak mampu untuk membuka mulutku untuk mulai bernyanyi, aku hanya terdiam dan mungkin saat itu tingkahku membuat pengiring lagu merasa heran padaku.
Pengiring lagu pun menghentikan permainan mereka, gumaman penonton semakin jelas aku dengar bersamaan dengan terhentinya musik intro. Aku masih berdiri membatu ditengah panggung tanpa melakukan apapun, hanya ada air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipiku. Perlahan aku membuka mataku lalu kembali aku pandangi bintang - bintang di langit, aku tertawa kecil ketika itu.
"Apa yang terjadi padaku... aku bahkan tidak mampu untuk bernyanyi, padahal tinggal selangkah lagi. Pangeranku... kamu benar - benar... kejam, kau tahu..." gumamku
__ADS_1
"Lunar? apa ada masalah?" tanya Grece padaku, suara Grece yang berbicara menggunakan mic saat itu cukup mengagetkanku yang sedang melamun.
"Lunar? ada apa?" tanya Yohan, aku tertawa kecil dan aku berkata...
"Maaf... aku mengundurkan diri dari kompetisi ini...." jawabku
Berhenti ditengah kompetisi sedang berlangsung memang keputusan yang fatal, tapi hanya itu yang aku inginkan ketika itu. Pasti sebuah jawaban yang mengejutkan untuk banyak pihak, namun pilihanku sudah sangat tepat bagiku. Grece... dia pasti orang yang paling kecewa dengan keputusan yang aku ambil.
Aku mendengar semua terkejut dengan jawabanku, namun aku tidak menghiraukan itu. Aku berbalik dan hendak kembali menuju belakang panggung, ketika itu aku mendengar Grece marah padaku namun aku abaikan dia dan terus berjalan menuju belakang panggung.
Dibelakang panggung aku disambut wajah kaget ayah, ibu, dokter Alora, Peter, dan juga Manda, aku tahu mereka ingin minta penjelasan dariku yang tiba - tiba memutuskan untuk berhenti dari kompetisi meski hanya tinggal menyanyikan lagu terakhirku. Tapi aku hanya membalas wajah kaget dan penasaran mereka dengan satu kata, aku tidak tahu harus berkata apa lagi selain kata...
"Maaf ya... aku tidak bisa, hatiku sudah sangat menolak untuk melakukan lebih jauh dari ini" celetukku
Aku pun berlari mendekati ayah dan memeluknya dengan erat, entah kenapa aku ingin menangis begitu keras di dekapan ayah. Aku curahkan semua tangisanku ketika itu, ayah juga tidak banyak bertanya ada apa. Ayah hanya menepuk - nepuk punggungku dan berusaha menenangkan ku, tidak lama ibu pun memelukku yang masih didalam pelukan ayah.
Ini adalah hari terakhir aku berada di desa ini, sebuah desa dimana aku mendapatkan sebuah arti dari kehidupan, sebuah arti dari keputusan dan juga sebuah arti dari janji. Aku ingin hidup seperti yang Peter katakan... aku ingin membekas di hati orang, tapi tidak sembarang orang yang aku ingin namaku terus ada di hati mereka.
Aku memahami jika kehidupan ini tidak lebih dari saling meminjami tanpa pernah saling memiliki, semua orang akan datang silih berganti dan pergi juga dengan silih berganti. Yang dulu sedekat nadi pun suatu saat akan terpisah dan sejauh matahari... yang perlu kita lakukan hanya menjadi sosok yang berkesan untuk orang yang saat ini dekat dengan kita dan memanfaatkan waktu bersama sebaik mungkin, itu yang akan menjadi tujuan hidupku selanjutnya.
Siang hari disebuah perumahan elite, terlihat sebuah rumah dengan aksen khas budaya jepang yang menjadikan rumah itu terlihat beda sendiri dari rumah - rumah lainnya. Didalam rumah itu terdapat ruang keluarga yang terbentang tatami, televisi besar dengan home theater lengkap disebelah televisi itu, dan juga sofa panjang yang membentang sebagai tempat duduk untuk menikmati televisi.
DI sofa panjang itu terlihat Jester sedang duduk sembari memegang diary berwarna pink milik Luna, sedangkan Naomi terlihat tiduran di paha Jester dengan sedikit garis senyum yang terangkat. Perlahan Naomi menoleh menatap Jester yang sudah berhenti membaca isi diary Luna, nafas berat Jester begitu terdengar ditelinga Naomi lalu perlahan tangan Naomi mengelus pipi Jester.
"DIa berhasil menggapai cita - citanya walau pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak melanjutkan kompetisi itu, bukan kah itu sesuatu yang baik?" tanya Naomi pada Jester
"Kamu benar, dia berjuang sangat keras hingga sampai dititik itu. Dengan penyakit yang dia derita... bukan hal yang mudah bisa bertahan sampai final" jawab Jester terdengar sedih, Naomi pun bingung mengapa Jester sedih membaca pencapaian Luna yang luar biasa itu.
"Kenapa sedih? bukannya kita harus senang membaca bagian Luna yang ini?" tanya Naomi heran, Jester menatap sebuah sofa yang kosong tepat dihadapannya lalu terdiam.
"Ada apa Jess? kamu melihat sesuatu di sofa itu?" tanya Naomi lalu ikut mengalihkan pandangannya menatap sofa dihadapannya.
"Ingatkah kamu ketika aku membentak Luna habis - habisan ditempat ini? dia duduk tepat didepan kita saat itu dengan senyumnya, jika mengingat itu... aku merasa bersalah padanya, aku merasa sangat jahat padanya..." jawab Jester terdengar begitu menyesal
"Itu bukan sepenuhnya salahmu Jess, nyatanya memang Luna menutupi semua kenyataan tentang dirinya. Jika pun aku jadi kamu, aku juga pasti melakukan hal yang sama" timpal Naomi berusaha membuat Jester berhenti untuk terus - menerus menyalahkan dirinya
__ADS_1
"Tapi kamu tidak melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan... kamu menerima kehadirannya disini dan berkat kamu juga aku bisa menerima kehadiran Luna di rumah ini" ucap Jester dengan sedikit emosional, Jester terdengar akan menangis ketika itu.
"Menangis lah jika itu memang bisa membuatmu lega..." celetuk Naomi ketika itu, Jester menoleh berusaha keras agar dia tidak menangis dengan mengatur nafas dan juga pandangannya keberbagai arah.
"Begitu berat beban Luna ketika itu... dia dimusuhi olehmu, Luke, Harry, dan Grece, ditengah berjuangnya dia dengan waktu... tragedi ku dengan Daniel semakin memperburuk waktu Luna yang sempit itu untuk memenuhi check list keinginannya" ucap Naomi lagi memecah keheningan diantara mereka
Perlahan tangan Jester kembali membuka lembar demi lembar buku diary itu, disana Jester dan Naomi melihat tulisan Luna kembali muncul setelah beberapa lembar Luna lompati. Sejenak Naomi dan Jester membaca tulisan itu dalam hati, setelah membaca satu halaman penuh ketika itu baik Naomi dan Jester langsung saling menatap dengan wajah terkejut.
"Bukankah ini tulisan tentang kejadian bersama kita di rumah ini?!" serentak Jester dan Naomi mengucapkannya
Jester membalik dan terus membalik lembar demi lembar buku diari itu sampai tulisan Luna kembali berakhir, Jester membaca tentang kejadian ketika dirinya dan Luna mendatangi bioskop terbuka di Paris dulu.
"Ini kejadian saat aku dan Luna ke bioskop terbuka Paris!!" seru Jester yang terkejut dengan tulisan Luna bahkan sampai ketika mereka liburan ke Paris
"Tapi ada yang aneh... tulisan Luna dari halaman satu ke halaman lain semakin.... jelek, aku benarkan? tekanannya semakin aneh..." agak sedikit bergumam Naomi mengatakannya, seketika itu Jester memperhatikan cara tulis Luna dari halaman satu ke halaman terakhir dan sangat terlihat jika tulisan Luna semakin bergetar seperti kurang tekanan.
"Kamu... benar, sepertinya sejak di halaman ini dia semakin kesulitan untuk menulis..." celetuk Jester setelah membandingkan tulisan Luna dihalaman sebelumnya
"Mau kamu bacakan untukku, Jess?" pinta Naomi
"Baiklah... ayo kita baca apa yang terjadi padanya saat itu, meski sebenarnya kita sudah tahu bagaimana ceritanya..." jawab Jester
***EPISODE KE DEPAN MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA SEBAGAI LUNA LINCOLN***
Diary...
Aku kembali...aku berada di kota dengan jutaan kenangan indah tentang persahabatan dan percintaan. Aku pulang pada tempat yang ku sebut rumah, yah... rumah yang begitu nyaman untuk aku tinggali walau penderitaanku karena leukimia tidak hilang dari tubuhku sejak usiaku 5 tahun.
Aku kini sudah di ibukota bersama ayah dan ibu, aku kembali tinggal di rumahku sebelumnya ketika aku tinggal di ibukota. Sudah waktunya bukan? benar... inilah waktunya untuk memulai kembali semua dari awal. Memperbaiki kekacauan yang ku buat karena keraguanku dan karena aku selalu menutup telinga dan mataku untuk pendapat orang lain. Aku tidak ingin mengulang kebodohan lagi... Aku akan memperbaiki semuanya dengan sempurna, bahkan sangat sempurna.
Tuhan.... beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya, beri kekuatan pada tubuhku agar aku kembali pada mereka semua dengan keadaan yang baik - baik saja.
Aku yakin Selena sudah menjadi pacar kak Jester karena janji kami, sudah berlalu dua tahun juga dan aku yakin Selena benar - benar bisa menepati janji kami berdua. Mungkin tidak akan semudah yang aku pikirkan ketika aku memutuskan untuk kembali masuk dalam kehidupan kak Jester, meski Selena menjadi pacar kak Jester... tapi aku yakin Selena tidak akan semudah itu untuk merelakannya kak Jester jatuh dalam pelukanku... :)
Yaah... tidak akan ada kemajuan jika aku masih ragu - ragu, aku harus memantapkan tujuanku dan keinginanku. Semua kisahku dimulai sejak aku mendapatkan nomor telepon rumah keluarga Parker dari ayah, di suatu siang... entah hari apa saat itu aku lupa, aku menelepon rumah keluarga Parker untuk janjian menemui Selena.
__ADS_1
Sayangnya dia tidak ada di rumah siang itu.... tapi itu tidak akan memupuskan keinginanku, aku akan terus berjuang sampai di titik terakhir hidupku...