
Kami menghabiskan sepanjang siang berada di taman itu, menikmati indahnya bunga sakura dan juga makanan kecil yang dijajakan disana. Seratus foto dengan berbagai pose serta background pun sudah aku dapatkan, kini aku merasakan lelahnya sampai membuatku sedikit pusing dan tidak mampu lagi untuk berjalan. Kak Justin menawarkan diri untuk menggendongku, meski aku merasa tidak enak padanya namun aku benar - benar sudah tidak memiliki pilihan lagi.
Kak Justin pun menggendongku di punggungnya lalu membawaku ke pintu keluar taman, disana aku dan kak Justin menunggu taksi online kami datang. Beberapa menit berlalu dan taksi online kami datang, segera kami memasuki taksi online itu untuk kemudian kami melakukan perjalanan menuju stasiun.
Namun ketika itu kami terjebak macet, dengan panik kak Justin pun berusaha menuntun sopir untuk mencari jalur alternatif. Aku tidak mengerti mengapa kak Justin begitu panik saat itu, jadi aku hanya diam saja dan sibuk berkirim chat dengan Selena.
Aku menunjukkan beberapa foto hasil jepretan kak Justin dan Selena mengatakan dia juga ingin kesana suatu saat nanti bersamaku dan kak Justin sebagai fotografer, aku tertawa kecil membaca chat itu dan untuk pertama kalinya aku bisa membuatnya iri kepadaku.
Sore pun menggantikan siang, sekitar jam enam kami akhirnya sampai di stasiun. Kak Justin segera kembali ingin menggendongku masuk kedalam stasiun namun aku sempat menolaknya, ketika itu kak Justin mengatakan jika kita harus berlari untuk mengejar pemberangkatan terakhir hari itu. Aku pun terkejut dan segera mengajaknya untuk berlari, namun kak Justin memintaku untuk menurutinya agar aku mau untuk digendongnya lagi agar aku tidak kecapean.
Debat kecil kami saat itu membuat kami semakin kehabisan waktu, aku masih dengan keras kepalaku menolaknya. Tapi sekeras itu juga kak Justin memintaku, semua demi aku... Aku pun akhirnya setuju dan kak Justin mulai berlari menuju loket pembelian tiket dengan membawaku di punggungnya.
Dan ketakutan kak Justin pun terjadi.... kami ketinggalan kereta terakhir kami, lalu kami duduk bersama diruang tunggu stasiun. Kak Justin memikirkan berbagai cara untuk membawaku pulang ketika itu, aku pun menawarkan ide untuk meminta bantuan Selena agar mengizinkan ayahku menjemput kami dengan mobil Selena.
Sayangnya ayah tidak dapat menjemput kami karena ayah diajak tuan Parker keluar kota, kami kembali dibuat bingung saat itu. Sejak aku menutup teleponku, aku dan kak Justin pun terdiam. Tiba - tiba perutku pun berbunyi dan aku begitu malu saat itu, "Aaa~ kenapa kamu berbunyi disaat seperti ini?!" teriakku dalam hati.
Kak Justin tertawa lalu mengajakku untuk mencari makan, disebuah kantin kami pun memesan makanan. Kami mengobrol kesana - kemari untuk mencari cara untuk pulang, namun kami benar - benar tidak tahu caranya. Bus sudah tidak ada, travel pun baru besok pagi - pagi sekali baru berangkat, sedangkan kereta juga keesokan paginya memiliki jadwal menuju kota kami.
"Sepertinya kita harus menginap untuk sementara sampai besok pagi" celetuk kak Justin
"Hmmm... benar juga, aku akan minta izin pada ibu" timpal ku lalu mengambil handphone dalam tasku untuk menelepon ibu
***
"Halo Luna, ada apa?" tanya ibuku ketika telepon terangkat
__ADS_1
"Ibu~ aku ketinggalan kereta dan kami baru bisa pulang besok pagi. Aku sudah menanyakan Selena untuk mengizinkan ayah menjemput ku menggunakan..." belum selesai aku berkata, ibu memotong.
"Ayah pergi perjalanan bisnis sama tuan Parker..." timpal ibu dengan nada yang terdengar khawatir.
"Aku baik - baik saja kok bu, hanya aku minta izin untuk menginap" ucapku pada ibu
"Tapi... kamu cuma bersama Justin, apa tidak apa - apa?" tanya ibuku, aku pun menatap kak Justin yang menatapku dengan khawatir.
"Aku akan baik - baik saja karena ada kak Justin, tidak ada yang perlu dikhawatirkan bu" jawabku, lalu ibu pun menghela nafasnya.
"Berikan handphone ini kepadanya, ibu ingin bicara dengannya" pinta ibuku, aku pun memberikan handphoneku pada kak Justin.
"Iya tante Lisa" ucap kak Justin
***
"Luna, minumlah obat - obat ini. Semua untuk meredakan nyeri yang mungkin akan kamu derita setelah ini" ucapnya dengan lembut, aku pun menepis tangan kak Justin dan membuat obat - obatan itu berserakan di lantai.
Obat - obatan itu membuatku mengingat jika aku hanyalah penderita leukimia yang sebentar lagi akan mati, obat - obatan itu juga mengingatkanku jika harta orangtuaku terkuras habis untuk membelinya.
"Darimana kamu tahu jenis - jenis obatku?" tanyaku kesal, kak Justin tersenyum padaku lalu memunguti obat - obatan itu.
"Ini pesan ibumu padaku, karena kamu pasti kecapekan dan nanti malam rasa nyeri pasti akan menyerang mu" ucap kak Justin lalu duduk kembali di depanku, aku membuang muka untuk menunjukkan seberapa tidak sukanya aku dengan sikap kak Justin padaku.
"Aku sudah berhenti mengkonsumsi benda itu sejak aku kelas tiga SMP, aku tidak akan sembuh dan itu bukan obat yang murah! aku benci membuang uang untuk hal yang sia - sia!" bentak ku padanya
__ADS_1
"Tidak pernah akan ada usaha yang sia - sia Luna, semua pasti punya manfaatnya masing - masing" timpal kak Justin, aku kembali menatap matanya dengan tajam.
"Jalan - jalan hari ini kita sudah menghabiskan beberapa lembar uang, apa ini akan sia - sia?" tanya kak Justin menekan ku, aku pun tersulut emosi saat itu karena aku merasakan manfaat dari jalan - jalan kali ini.
"Ini hal berbeda! aku bahagia meski kak Justin keluarkan uang, apa kak Justin ingin aku kembalikan semuanya? aku akan kembali..." belum selesai aku berkata kak Justin mengelus rambutku dengan lembut.
"Jalan - jalan kali ini untuk mengobati sakit hatimu entah karena apa itu, aku cuma tahu kamu sedang kecewa dan aku memberikan obat yang mungkin kamu perlukan. Aku tidak peduli dengan semua uang yang aku keluarkan untukmu, asal kamu bisa menikmati manfaatnya" timpal kak Justin dengan senyum khasnya di hadapanku, tangannya kini beralih menyentuh tanganku dan memberikan obat itu padaku.
"Begitu juga obat ini, aku cuma tahu kamu akan menderita nanti malam karena sendi - sendi mu akan terasa nyeri setelah ini. Aku tidak peduli dengan semua uang yang aku keluarkan untuk obat ini, asal kamu tidak kesakitan nanti malam itu sudah cukup untukku" ucap kak Justin
Senyum hangat dan ucapan lembutnya meluluhkan hatiku... aku menerima obat itu lalu seakan aku terhipnotis ketika itu, aku membuka semua obat - obatan itu lalu meminumnya meski aku sebenarnya ingin menolak. Setelah meminumnya aku pun menunjukkan seberapa kesalnya aku padanya, aku membuang muka dengan ekspresi kesal agar kak Justin paham jika aku tidak suka caranya yang membuatku... tidak dapat menolak....
Kak Justin tertawa melihat sikapku, lalu dia kembali memberi gestur agar aku mau dia gendong lagi. Kami memutuskan untuk mencari penginapan murah karena kami harus memesan dua kamar dengan uang yang sangat mepet. Tidak jauh dari stasiun kami menemukan penginapan, namun sayang kami harus berbagi kamar.
Kak Justin menyarankan untuk mencari penginapan lain, namun aku menolaknya. Aku menolaknya karena kak Justin akan menggendongku entah seberapa jauh lagi, aku kasihan padanya dan aku yakin tidak akan terjadi hal negatif apapun karena aku akan bersama kak Justin.
Didalam kamar aku melihat hanya ada satu kasur besar, tidak ada sofa dan tempat lain untuk tidur terpisah. Aku tiba - tiba menyesali keputusanku, namun suara tawa kak Justin membuyarkan kekhawatiranku. Dia bilang akan tidur dilantai, namun lagi - lagi aku yang menolaknya. Aku katakan padanya jika dia boleh tidur satu kasur denganku dan aku tidak bermasalah dengan itu, meski awalnya kak Justin menolak namun pada akhirnya kami sepakat untuk memberi pembatas pada kasur.
Kami bergantian mandi untuk membersihkan diri, aku baru ingat jika seharian ini aku belum mandi. Dengan semangat aku meminta kak Justin agar dia mau mengalah padaku, aku tiba - tiba tidak tahan dengan bau badanku sendiri. Suara tawa kak Justin mengiringi aku berjalan menuju kamar mandi, hingga beberapa menit aku pun selesai membersihkan tubuhku.
Aku merebahkan tubuhku yang mulai terasa nyeri itu di kasur, sedangkan kak Justin beranjak menuju kamar mandi. Setelahnya.... aku tidak ingat lagi karena aku ketiduran, aku benar - benar kelelahan... atau mungkin juga karena efek obat yang aku konsumsi hari itu.
Aku bermimpi hal - hal aneh... aku bermimpi dua orang bertengkar hebat di hadapanku meski aku tidak tahu mereka bertengkar untuk apa, semua begitu samar. Ingin aku melerai kedua orang itu namun aku tidak bisa melakukan apapun, bahkan menggerakkan tanganku pun aku tidak bisa.
Ketika aku sadar aku terbangun dengan kaget, dengan gorden yang terbuka aku melihat jika hari sudah pagi dan aku tidak mendapati kak Justin berada di sebelahku. Ketika aku mencarinya yang aku dapati malah... Kak Jester duduk di kursi dekat dengan pintu keluar kamar....
__ADS_1