
Aku menyambut uluran tangan kak Jester dan dia membawaku menuju sebuah kafe di dalam area sekolah... kafe dalam area sekolah! Aku memang belum sempat untuk berkeliling sekolah sejak kejadian tidak mengenakkan dengan kak Natalie, jadi hari itu aku baru tahu jika sekolah ini tidak hanya ada kantin namun juga ada kafe... "pemikiran orang kaya memang tidak bisa diikuti oleh aku sebagai kelas bawah..." ucapku dalam hati
Disana kak Jester memesan segelas Cappucino sedangkan aku memesan segelas moccacino, kami terdiam dan tidak saling berkata hingga pesanan kami tersaji diatas meja. Ketika pelayan pergi, kami saling menatap seakan saling menunggu untuk memulai obrolan. Namun... beberapa detik kami saling menatap, tidak satupun diantara kami yang ingin memulai obrolan.
Aah sial, aku kembali canggung... Bukan hal yang mudah untuk dijalani setelah kejadian terakhir bersama kak Jester di restoran mahal itu. Pangeranku juga begitu canggung, seakan sulit untuk berinisiatif memulai obrolan.
Serentak kami pun saling membuang muka kembali, "Aaa~ kenapa mulutku gak bisa berbicara?!!" tanyaku dalam hati, aku meremas kedua tanganku untuk memberanikan diri agar mulut ini bisa terbuka. Hingga di satu titik akhirnya aku mendapatkan keberanian itu, aku mengangkat kepalaku menatap mata kak Jester dan begitu juga kak Jester yang tiba - tiba menatapku.
"Aaaa Lu.."
"Aaa Kak Jes.."
Kami pun sama - sama ingin memulai obrolan... sungguh canggung saat itu, aku pun berinisiatif untuk membiarkan kak Jester berbicara lebih dulu
"Eeh iya Lu..."
"I..iya kak Jes..."
Dan terjadi lagi!!! Aaaa~ aku ingin segera menggali lubang dan mengubur diriku hidup - hidup didalamnya!! Kami pun kembali membuang muka, aku yakin kak Jester pun merasakan hal yang sama denganku. Disaat seperti ini, apa yang bisa aku lakukan? cinta pertama~ aku membencimu karena membuatku jadi aneh seperti ini~
"Bicaralah yang benar dasar orang - orang bodoh!!!!" bentak kak Luke yang entah sejak kapan dia berada dibelakang kak Jester
Memalukan sekali bukan? ini kencan kedua tetapi semua sama sekali tidak ada kemajuan. Aku dan kak Jester benar - benar amatir untuk urusan percintaan.
"Hei Luna!! kamu kenapa jadi gugup seperti orang bodoh didepanmu itu?!! cukup satu orang bodoh saja yang kami tangani, kamu jangan ikut - ikut!!" bentak kak Harry berada dibelakangku, aku pun segera memutar kepalaku menatap kak Harry dengan wajah terkejut.
"Kalian yang bodoh!! kenapa kalian ada disini?! aku jadi semakin gugup!!!" tidak mau kalah galak kak Jester saat itu membalas perkataan kak Luke dan kak Harry
"Kami ini mengkhawatirkan kebodohanmu!! berterima kasihlah pada kami!!" bentak kak Luke pada kak Jester
__ADS_1
"Kalian hanya melakukan tindakan bodoh!! buat apa berterima kasih pada kalian?!!" bentak balik kak Jester
Entah bagaimana ketika itu kak Jester dan kak Luke bertengkar hebat saling pukul dengan serunya, sedangkan kak Harry berusaha untuk melerai keduanya namun tenaga kak Jester dan kak Luke terlalu kuat untuk kak Harry. Kepanikan dari pengunjung kafe pun terjadi, beberapa siswi terdengar berteriak ketakutan, dan ada juga yang ingin membantu melerai.
Aku tertawa terbahak - bahak ketika itu melihat tingkah mereka, aku teringat pertikaian Selena dan Naomi saat mereka masih kecil... "Benarkah mereka ini bersahabat? apa mereka tidak salah?" ucapku dalam hati, suara tawaku berhasil membuat kak Jester, kak Luke dan kak Harry terdiam dan serentak menatapku. Tidak lama mereka bertiga pun tertawa bersamaku, suara tawa mereka semakin membuatku tidak dapat berhenti tertawa :)
Kami pun dimarahi penjaga kafe dan mengusir kami begitu saja, kami berlari keluar kafe dengan suara tawa yang masih terdengar. Aaa.. aku lupa jika aku dan kak Jester belum membayar minuman kami, maaf ya penjaga kafe :)
Kami pun berhenti di lapangan basket, kak Luke dan kak Harry bermain basket sedangkan aku dan kak Jester duduk di pinggir lapangan. Kami menikmati permainan mereka dan sesekali aku dan kak Jester menyemangati kak Harry yang sangat jelas terlihat dia tidak dapat mengimbangi besarnya tubuh kak Luke, pertandingan yang tidak adil menurutku.
"Jadi... apa yang ingin kamu jelaskan padaku?" tanya kak Jester kepadaku, aku pun terdiam lalu menundukkan kepalaku.
"Aku ingin menjawab pertanyaanmu ketika kita di hotel kota sebelah..." jawabku menggantung
"Pertanyaan apa?" tanya kak Jester bingung, aku menatapnya dengan ekspresi serius tanpa keraguan yang aku tunjukkan pada pangeranku.
"Kak Justin tidak ada lebihnya dibandingkan denganmu kak" jawabku tegas
Aku pun dibuat bingung dengan respon kak Jester, apa aku kembali salah bicara? apa dia sebenarnya tidak peduli pada jawabanku? atau lebih parahnya.... dia sudah tidak peduli lagi apapun tentangku... Aku sangat berharap ada respon dari kak Jester saat itu, apapun.... jangan menggantungku seperti itu...
"Kak... apa aku salah bicara?" tanyaku karena kak Jester hanya terdiam
"Ti.. tidak, a.. aku hanya sedang berfikir..." jawab kak Jester terbata
"Berpikir apa?" tanyaku menekan, aku ingin tahu apa yang dipikirannya ketika itu.
"Tentang... perkataanmu yang bilang jika kita berbeda pandangan karena status kita, kamu juga bilang jika aku tidak bisa menerimamu... kamu meminta semuanya berakhir..." jawabnya, aku pun tersentak dan teringat akan kata - kata jahatku kepada pangeranku.
Ternyata kalimatku saat itu membuat kak Jester memikirkannya dengan serius. Hei apa yang bisa diharapkan untuk gadis sepertiku? perbedaan status ku dan pengeran ku memang terlalu jauh, rasanya aku yang terlalu minder dan takut untuk berharap lebih. Kalimatku itu..... saat ini baru bisa ku sesali kenapa harus terucap dari mulutku ini.
__ADS_1
"Tentang itu... aku hanya kecewa padamu, aku punya ketakutan tersendiri berhadapan dengan keluarga kaya raya. Mereka begitu arogan terhadap kami orang kelas bawah, apapun kesalahan kami... sekecil apapun itu... kalian kelas atas selalu menindas kami tanpa mau tahu apa alasan dibaliknya..." timpalku
"Be... begitu ya... jadi karena itu..." ucap kak Jester terbata
Kami pun terdiam kembali cukup lama, dalam kepalaku kembali terfikirkan tentang akan kandasnya hubungan kami. Tentu kak Jester tidak akan mau menuruti permintaanku, bagaimana pun dia berada dikalangan atas dan aku tidak paham bagaimana mereka memandang dunia ini.
"Tapi... aku tetap ingin dekat denganmu..." celetuk kak Jester memecah keheningan diantara kami
Jujur aku terkejut dengan celetukan kak Jester, aku sampai mengalihkan pandanganku sekejap untuk memastikan jika yang mengatakannya adalah kak Jester. Perlahan kak Jester menatapku dengan wajah memerah dan tangannya yang sedikit menggaruk dahinya, kami pun bertatapan mata dalam diam cukup lama.
"Ke.. kenapa? apa ada yang spesial dariku kak?" tanyaku mencoba mencari alasan kak Jester tetap ingin bersamaku
"Spesial? kamu... spesial, aku tidak pernah merasakan getaran seperti itu selama ini. Ketika teman - teman lain merasakan namanya cinta, tapi sampai sebelum bertemu denganmu... aku tidak pernah merasakan hal yang sama dengan teman - temanku" jawab kak Jester, lalu dia mengalihkan pandangannya menatap kak Luke dan kak Harry yang masih bermain basket.
"Mereka mengatakan jika aku kelainan, namun aku tidak seperti itu tentunya. Pada akhirnya aku merasa jika aku sedang di kutuk oleh seseorang sehingga hatiku mati rasa, sampai pada akhirnya aku menceritakan kesimpulanku itu kepada gorila dan rubah bodoh itu..." ucap kak Jester meneruskan kalimatnya, sejenak kak Jester terdiam dan menghela nafasnya.
"Mereka tertawa dihadapanku tapi dibelakangku ternyata mereka menganggap kesimpulanku adalah hal serius, sampai pada akhirnya aku bertemu denganmu... dan mereka bilang... kutukanku ada pada dirimu..." kak Jester melanjutkan perkataannya lalu kembali menatapku
Aku hanya bisa terdiam dan teringat ketika aku mengatakan alasan kenapa aku menyukai kak Jester kepada kak Luke dan kak Harry di lapangan mini golf sekolah, seketika aku merasa bersalah padanya sampai aku tidak kuat lagi untuk bertatapan mata. Kami pun terdiam untuk beberapa saat, otakku membeku dan aku tidak tahu harus menanggapi cerita kak Jester seperti apa.
"Aaa.. anu, Luna.." celetuk kak Jester, aku pun menoleh menatapnya masih dengan rasa bersalahku padanya.
"Aku tetap ingin mengenalmu... meski itu berarti aku harus mengikuti caramu... jadi izinkan aku untuk dekat denganmu..." ucapnya lagi
Senang... aku melayang dibuatnya.... keberuntungan masih berpihak padaku... aku ingin memeluknya, menciuminya, dan mengatakan aku cinta padamu... tapi aku tidak berani untuk mengatakannya~ :)
"Dengan caraku... harus dengan caraku, janji?" ucapku lalu memberikan jari kelingkingku padanya untuk memintanya berjanji dengan mengaitkan jari kelingking kami.
Kekanakan? iya memang.... aku kekanakan, tapi aku ingin melakukan itu dengan pangeranku. Aku yakin aku akan ditertawainya saat itu, namun aku kembali salah berfikir tentang pangeranku... dia langsung mengaitkan kelingkingnya ke kelingkingku.
__ADS_1
"I..iya... aku janji..." ucapnya
Aku ingin melayang seketika.... terima kasih, cinta pertama... aku senang :)