
"Apa ada anak cowok yang kamu taksir?" tanya dokter Ellie kepadaku dengan senyuman yang terlihat menggodaku
Aku tidak tahu harus menjawab apa, dalam benakku berkata "Apa - apaan dokter satu ini? disaat seperti ini dia malah membuat candaan?"
Aku kembali membenamkan kepalaku diatas bantal dan tidak menghiraukan pertanyaan dokter Ellie kepadaku, namun sepertinya dokter Ellie tidak kehabisan ide untuk membuatku mau menjawab pertanyaan konyol itu. Setelah terdiam sejenak, suara deham dokter Ellie terdengar.
"Bagaimana denganmu Selena? apa ada anak cowok yang kamu sukai di sekolah?" tanya dokter Ellie kepada Selena
"Hah? eeh aku... tidak!! aku tidak suka pada siapa pun, aku benci anak cowok" jawab Selena dengan panik, jawaban Selena menarik perhatianku saat itu karena aku tahu ada satu anak cowok dikelas kami yang sering Selena lirik diam - diam.
"Ada, dia sering melirik salah satu anak cowok dikelas kami" celetukku menimpali obrolan dokter Ellie dan Selena
"Luna!! aku gak pernah melirik Adam!!" bentak Selena membantah perkataanku, tiba - tiba suara tawa dokter Ellie terdengar.
Salah tingkah Selena saat itu membuatku sedikit puas karena mengerjainya dan aku pun menoleh menatapnya, wajah Selena yang memerah juga lucu untuk selalu ku ingat.
"Padahal Luna tidak menyebutkan nama Adam loh" celetuk dokter Ellie ikut menggoda Selena dengan suara tawa yang berusaha dia tahan
"Aaaa... aku.. itu..." terbata Selena mengatakannya
"Adam pernah memergoki kamu saat menatapnya loh" ucapku menggodanya
"Luna!! Iiih~ gak suka aku!!" bentak Selena lalu memunggungi ku
Aku tersenyum melihat sikap malu - malu Selena, suara tawa dokter Ellie pun seakan menular padaku. Tidak terasa aku tertawa kecil dan suara tawaku menarik perhatian dokter Ellie dan Selena, hampir secara bersamaan mereka menatapku dengan wajah yang terkejut namun terlihat senang. Aku pun berhenti tertawa lalu kami terdiam saling menatap, sampai tiba - tiba tangan lembut dokter Ellie mengelus rambutku lagi.
"Bagaimana Luna? kebahagiaan bisa tercipta dari sebuah momen sederhana seperti tadi, begitu juga dengan rasa optimisme mu yang hancur itu. Ayo susun lagi fondasi optimisme itu" ucap dokter Ellie kepadaku
Aku terpana mendengar perkataan dokter Ellie kepadaku, untuk sejenak aku merasakan semangat lagi untuk sembuh dari penyakitku. Tapi meski begitu... keraguan terasa kembali menggerogoti semangatku, perlahan aku kembali meletakkan kepalaku diatas bantal lalu membenamkannya.
__ADS_1
"Apa benar... masih ada harapan?" tanyaku, tidak terasa air mataku menetes. Hatiku sebenarnya sudah tidak tahan lagi, setiap tertidur pun aku selalu was - was jika aku sampai.... tidak dapat bangun untuk selama - lamanya.
"Selalu ada harapan karena kita manusia rapuh yang memang hanya bisa berpegangan pada harapan, tidak ada manusia yang tidak pernah berharap. Entah kita akan mendapat harapan kita atau tidak, itu bukan inti dari kehidupan... yang penting kita sudah berusaha dan tidak ada penyesalan dalam hidup yang sudah kita lewati" jawab dokter Ellie
Seketika itu aku menangis sejadi - jadinya....
Aku berteriak seakan sedang meluapkan semua kegundahan hatiku dalam satu tarikan nafas....
Beberapa menit berlalu dan aku mulai dapat mengendalikan emosiku, kini aku duduk di kasur bersandar pada tembok agar dapat menatap langsung dokter Ellie dan Selena yang juga duduk di kasur yang sama denganku. Sejenak kami terdiam dan suasana kamarku begitu hening, aku terus berusaha membangun kembali rasa optimisme ku dalam diam.
"Ayo kita alihkan pembicaraan dulu, pertama yang perlu kita lakukan untuk membangun rasa optimis adalah membangun cita - cita. Apa kamu punya cita - cita, Luna?" tanya dokter Ellie kepadaku, aku tersenyum kecut mendengar pertanyaan dokter Ellie.
"Buat apa aku memiliki cita - cita?" aku bertanya balik, helaan nafas dokter Ellie begitu terdengar di telingaku.
"Luna... cita - cita itu penting untuk kita sebagai manusia, dengan adanya cita - cita maka kita akan menentukan tujuan hidup kita. Tidak peduli akan sampai atau tidak, tapi tanpa cita - cita maka manusia hanyalah sebuah wadah kosong tanpa arti" jawab dokter Ellie yang lagi - lagi membuatku terpana
Aku mulai memutar otakku untuk berpikir kemana arah tujuan hidupku, benarkah aku tidak memiliki cita - cita? ataukah aku punya tapi tertutupi rasa putus asaku yang terus menghantui pikiran dan hatiku? di tengah kebingunganku saat itu, sepertinya Selena paham aku bingung saat itu.
Aku mengalihkan tatapan mataku menatap Selena, aku begitu terkejut dengan perkataan Selena. Sejenak aku teringat tentang kebiasaanku bernyanyi disela - sela aku melakukan kegiatanku, ketika aku bernyanyi pun aku sering mendengar pujian dari ayah, ibu, kedua orang tua Selena, kak Justin dan juga Selena. Namun kebiasaanku itu terhenti ketika aku berumur tiga belas tahun, tepat ketika aku mengetahui penyakitku.
"Benarkah? dari nada bicara saja memang suaramu terdengar merdu, aku rasa perkataan Selena ada benarnya" dokter Ellie pun seakan sedang memancingku untuk menerima saran Selena tanpa berpikir terlalu panjang, aku kembali mengalihkan pandanganku menatap dokter Ellie namun masih terdiam.
"Bolehkah...?" tanyaku ragu - ragu, senyum Selena dan dokter Ellie terlihat dari garis senyum di wajah mereka masing - masing hampir bersamaan.
"Tentu, kenapa tidak?" timpal dokter Ellie padaku
"Aku yakin kamu bisa jadi penyanyi hebat!!" timpal Selena penuh semangat
Aku tersenyum meski terasa berat bibirku ini untuk melakukannya, namun senyumku itu diartikan sebagai persetujuanku bagi Selena dan Dokter Ellie. Aku mendengar mereka mereka berdua melakukan tos setelah melihat senyumku itu, suara tawa pun kembali terdengar saat itu.
__ADS_1
"Baik... cita - cita Luna adalah menjadi seorang penyanyi, yang kedua... bagaimana sudut pandang mu menatap lawan jenis? apa pernah merasakan getaran di hati?" tanya dokter Ellie kepadaku, aku terkejut lagi mendengar pertanyaan itu.
Perlahan aku membuang muka dan menghindari bertatapan mata dengan dokter Ellie, pertanyaan itu sangat bertentangan dengan apa yang sudah aku putuskan sejak aku tahu bahwa aku menderita penyakit parah. Keputusan yang berat tapi aku sudah membulatkan tekadku dan pertanyaan dari dokter Ellie seakan membuat aku kembali meragukan keputusanku itu, aku jadi kembali.... bimbang...
"Ada apa, Luna?" tanya dokter Ellie ketika aku membuang muka menghindari bertatapan mata dengannya.
"Tentang hubunganku dengan semua orang selain keluargaku, itu hanya aku bayangkan didalam kepala. Aku tidak peduli akan disukai atau akan dibenci karena semua itu hanya ada dalam imajinasiku, selama aku tidak merasa dirugikan... aku tidak mau peduli. karena itu... aku tidak tertarik pada orang lain dan orang lain tidak akan tertarik padaku" jawabku
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya dokter Ellie lagi, perlahan aku mengalihkan pandanganku menatap mata dokter Ellie.
"Karena... aku takut menyakiti banyak orang ketika aku mati... aku ingin hidup sendiri jika aku mampu, tapi sepertinya itu mustahil karena pada akhirnya ada Selena dan kak Justin yang selalu menemaniku hingga titik ini" jawabku lagi
"Manusia itu tidak bisa hidup tanpa orang lain, mau seberapa tertekannya kamu karena orang lain.. seputus asa apapun kamu, pasti suatu saat kamu ingin diterima oleh orang lain. Karena itulah, meski kamu ingin hidup sendiri tapi pasti suatu saat nanti akan jatuh cinta pada seseorang. Hubungan itu pasti akan selalu ada" timpal dokter Ellie, untuk beberapa saat aku termenung mencoba memahami perkataan dokter Ellie.
"Bolehkah...?" tanyaku ragu, senyum dokter Ellie kembali terlihat seakan menegaskan jika aku juga berhak untuk jatuh cinta suatu saat nanti.
"Kalau begitu..." aku menggantung kalimatku karena aku tersenyum.... perlahan aku menundukkan pandanganku menatap kedua kakiku.
"Aku ingin pria aneh yang akan bergetar dan terbata ketika berbicara denganku..." ucapku melanjutkan perkataanku
"Hah?!! kriteria aneh apa itu?!" agak terdengar marah Selena mengatakannya, bersamaan dengan itu aku juga mendengar suara tawa dokter Ellie.
"Lalu? apa lagi yang kamu harapkan dari cinta pertamamu itu?" tanya dokter Ellie seakan memancingku kembali untuk menggambarkan sosok pria idamanku.
"Pria selalu kekanakan tapi aku tidak bermasalah dengan itu, dia pria yang bahkan tidak ingin aku jauh darinya meski hanya satu senti sekalipun ketika bersama. Pria yang memahami hatiku meski aku tidak bicara apapun kepadanya, aku ingin dia pengertian, baik, dan selalu berwajah masam ketika resah akan sesuatu yang juga selalu heboh ketika bersama teman - temannya" jawabku spontan
"Luna!!! kamu bicara apa?!! pria aneh apa yang sebenarnya kamu bayangkan?!! hentikan permintaan bodoh itu!!" teriak Selena kepadaku
Jujur aku tidak peduli dengan perkataan Selena karena hanya itu yang terlintas di kepalaku untuk menjawab pertanyaan dokter Ellie, suara tawa dokter Ellie pun semakin keras terdengar. Perlahan aku mendongakkan kepalaku untuk menatap Selena, aku menatapnya dengan mata yang sedikit aku sipit kan untuk menatap tajam Selena.
__ADS_1
"Dan aku mengutuknya, dia akan menjadi jomblo seumur hidup sampai aku menjadi pacarnya atau ketika aku mati maka dia hanya bisa berpacaran dengan wanita pilihanku untuk menjadi penggantiku!!" dengan tegas aku mengucapkan sumpah serapahku itu meski aku hanya bercanda saat itu...