
Sore hari yang cerah, secerah hatiku saat itu... Aku kembali berkencan dengan kak Jester, dewi fortuna sedang berpihak padaku.... aku sangat berbahagia untuk setiap hari yang ku lalui bersama pangeranku, pangeran impian yang berhasil mencuri hatiku dan mengisi hari - hariku yang pernah... yaah... pernah hampa dan nyaris tidak memiliki harapan.
Disebuah toko buku didalam mall, aku dan kak Jester berdiri ditumpukan berbagai jenis dan bentuk dari sebuah buku diary. Ada yang mahaalll dan ada juga yang biasa, dan seperti biasa... aku dan pangeranku berbeda ketika memilih sebuah buku diary, dia memilih dengan bahan yang terlihat begitu mewah sedangkan aku memilih bahan yang biasa saja namun ringan.
Sebuah buku diary berwarna pink dengan hiasan berwarna keemasan dengan ukuran yang tidak terlalu besar namun juga tidak kecil, menjadi pilihanku karena pangeran ku pun suka dengan buku diary itu. Ada sebuah pengait dengan kunci kecil yang terlihat lucu dengan warna keemasan yang menambah kemewahan buku itu, kami saling memegang buku itu dan saling menatap dengan mata berbinar.
"Ini saja" ucapku dan pangeranku bersamaan
Kami pun tertawa bersama karena untuk pertama kalinya kami dapat memutuskan sesuatu tanpa ada perdebatan, kak Jester membayarkan buku itu sedangkan aku membeli beberapa pena yang membuat buku diary itu semakin serasi. Ketika selesai, kak Jester memberikan buku diary itu dengan wajah yang kembali memerah.
"Luna... aku harap kamu mau mengisi buku diary ini lalu suatu saat kamu akan memberikannya kepadaku, aku ingin tahu semuanya tentangmu dan aku ingin tidak ada apapun yang kamu tutupi dariku dibuku diary ini" ucapnya penuh harap, aku tersenyum manis dan menerima bungkusan berisi buku diary pilihan kami.
"Jangan menyesal ketika kamu sudah memiliki kembali dan membaca isinya ya" ucapku, lalu aku memberikan jari jentik ku untuk mengikat janji.
Tanpa ragu pangeranku langsung mengaitkan jari jentiknya dengan jari jentik ku, dia menatapku penuh keyakinan seakan dia tidak akan menyesali apapun ketika dia sudah mendapatkan kembali buku diary ini dan membaca isinya.
"Aku tidak akan menyesalinya dan buku diary ini akan selalu aku tunggu untuk membaca isinya" jawab kak Jester
Aku sempat terdiam menatap wajahnya yang terlihat begitu senang, "Kamu akan sangat terkejut dengan apa yang akan kamu baca kak, karena sampai detik ini pun aku tidak tahu akan selamat dan menemanimu selamanya atau tidak" ucapku dalam hati.
Tidak terasa aku meneteskan air mataku didepannya, sekejap ekspresi kak Jester pun berubah. Dia terlihat begitu khawatir dan panik melihatku yang tiba - tiba menangis, meski senyumku masih terlihat tapi aku benar - benar tidak dapat menghentikan air mataku untuk keluar.
Sialnya aku yang tidak bisa menahan air mataku, ternyata aku tidak sekuat itu didepan pangeran yang aku cintai.
"Luna, kamu kenapa?" tanya kak Jester panik dan khawatir
"Ahaha... gak tau kenapa, aku tiba - tiba ingin menangis..." jawabku mencoba untuk berhenti menangis, tiba - tiba kak Jester memelukku dengan erat dan membuatku terkejut.
__ADS_1
"Jika kamu kenapa - kenapa, tolong langsung ceritakan padaku. Aku akan lakukan apapun untuk membantumu, jangan ragu karena aku pasti akan membantumu apapun itu" ucap kak Jester ketika dia memelukku begitu erat
Pelukan itu... terasa sangat berat bagiku, aku sedang menanggung sesuatu yang tidak dapat aku kendalikan... ingin aku katakan padanya agar jangan mencintaiku terlalu dalam, tapi aku juga tidak ingin ini berakhir... aku didalam dilema terbesarku selama ini...
Aku pun menangis sejadi - jadinya dalam pelukan kak Jester, aku yakin dia tidak tahu kenapa tiba - tiba aku menangis seperti itu tapi tidak ada satupun pertanyaan kak Jester kepadaku seakan dia membiarkan aku meluapkan semua kesedihanku dalam pelukannya. Pangeranku... aku ingin segera kamu tahu jika aku... sedang sakit parah dan akan besar kemungkinannya aku meninggalkanmu ketika kamu tidak siap aku meninggalkanmu...
Apa yang harus aku lakukan disaat seperti ini? apakah harus aku katakan padanya? atau malah seharusnya aku tinggalkan dia agar dia tidak terlalu dalam mencintaiku? semua pertanyaan itu aku limpahkan pada Selena ketika aku dan kak Jester sudah berpisah sore itu, kini aku berada dirumah Selena menunggu ayah selesai bekerja.
"Gila kamu!! jangan katakan jika kamu ingin meninggalkan kak Jester ketika dia dititik sangat mencintaimu!! apa kamu tahu akan seberapa hancurnya dia ketika kamu meninggalkannya?!" bentak Selena kepadaku
"Aku tahu... tapi aku harus apa disaat sudah seperti ini?! aku tiba - tiba khawatir umurku tidak panjang, Selena" timpal ku dengan helaan nafas
"Kamu harus berobat dan katakan pada kak Jester tentang kondisimu!! Biarkan dia membantumu agar cepat sehat!!" bentaknya lagi, aku pun menatap Selena dengan kesal.
"Itu malah akan membuat dia semakin sedih sepanjang hari, dia akan khawatir berlebih dan bersikap berlebihan padaku" timpal ku dengan nada kesal, kami pun terdiam beberapa saat.
"Terus menurutmu dengan membohonginya sepanjang tahun akan memberi dia kebahagiaan?" tanya Selena
Selena adalah sahabatku yang sama sekali belum mengenal apa itu cinta, mungkin karena hal itu dia dengan mudah memberikan pendapatnya kepadaku. Satu yang pasti, ketika bersama Selena aku bisa menjadi lebih kuat untuk menahan tangisku.
"Luna, ayahmu mencari" celetuk nyonya Parker, aku segera berdiri dan berjalan mendekati pintu keluar kamar ditemani Selena. Namun Selena tiba - tiba menarik lenganku, aku pun segera membalik badanku untuk menatapnya.
"Aku teringat sesuatu yang mungkin bisa jadi bahan pertimbanganmu, Luna" celetuk Selena, aku memiringkan kepalaku sedikit menatap wajahnya.
"Kesalahan terbesar yang dibuat manusia dalam kehidupannya adalah terus menerus merasa takut bahwa mereka akan melakukan kesalahan, mungkin kalimat ini akan menjadi bahan pertimbanganmu akan dibawa kemana hubunganmu dengan kak Jester" ucap Selena kepadaku, aku pun termenung memikirkan apa yang Selena katakan.
Sepanjang perjalananku menuju pelataran rumah Selena, aku terus memikirkan apa yang baru saja dikatakan Selena. "Apa aku terlalu takut untuk mengatakan keadaanku kepada kak Jester? atau aku terlalu takut untuk meninggalkannya dan kehilangannya? atau aku malah takut jika aku meninggalkan kak Jester disaat dia jatuh cinta padaku begitu dalam?" aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
Malam pun tiba dan aku masih dibingungkan dengan pertanyaanku sendiri, ketika itu aku sedang makan malam bersama ayah dan ibu dengan obrolan ringan. Setelah selesai aku meninggalkan ruang makan untuk mengambil obat - obatan ku didalam kamar, namun belum juga sampai kamar saat itu aku mendengar seseorang mengetuk pintu utama rumah.
Aku berjalan untuk membuka pintu itu dan yang aku dapati adalah kedatangan kak Justin, dia tersenyum padaku dengan senyum khas miliknya yang selalu dia tunjukkan padaku. Aku membalas senyumnya lalu berbalik untuk kembali berjalan masuk kedalam kamar diikuti kak Justin di belakangku, aku membuka pintu kamar dan membiarkannya tetap terbuka karena aku yakin kak Justin akan masuk begitu saja kedalam kamar.
Namun ternyata kedatangannya kali ini tidak untukku, kak Justin terlihat tidak masuk kedalam kamar dan malah duduk bersama ayah dan ibu. Aku penasaran dengan apa yang sedang mereka bertiga bicarakan, dengan cepat aku membuka semua obat - obatan ku dari bungkusnya dan aku minum sekaligus tidak seperti biasanya. Aku pun berlari kecil mendekati meja makan tempat kak Justin, ayah dan ibu mengobrol.
"Jadi semoga tuan dan nyonya Lincoln mengizinkan" itu yang aku dengar ketika aku bergabung bersama mereka dari mulut kak Justin
"Tapi... Luna tidak boleh sampai kecapean" timpal ibuku khawatir
"Nyonya Lincoln tenang saja, aku tahu cara agar Luna menikmati perjalanan itu tanpa harus membuatnya kecapean" ucap kak Justin
"Ada apa ini?" tanyaku penasaran
"Justin ingin membawamu berlibur ke kota sebelah" jawab ayahku, aku pun terkejut dengan jawaban ayah.
"Disana ada tempat yang cocok untukmu mengerti tentang berbagai lagu dan cara bernyanyi" timpal kak Justin
"Hah?! ngapain?!" tanyaku pada kak Justin
"Rekaman mu saat bernyanyi mendapat perhatian lebih dari guru pembina musik, kamu bisa menjadi vokalis utama sekolah dan mewakili sekolah untuk ajang - ajang vokal. Jadi tempat itu akan memperluas wawasanmu tentang cara bernyanyi, bukankah itu penting?" ucap kak Justin terdengar antusias, aku tidak dapat berkata apapun dan hanya bisa mengalihkan pandanganku menatap ayah dan ibu.
"Bagaimana Luna? kamu tertarik?" tanya ayahku
"Duh gimana ya? aku tidak tahu..." jawabku bingung
"Tenang, itu masih hari minggu depan ini. Kamu bisa pikirkan itu baik - baik dan besok juga kamu akan tahu kenapa ini penting untukmu" timpal kak Justin, aku menghela nafasku lalu berbalik untuk kembali masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Ketika didalam kamar aku merebahkan tubuhku di kasur, tidak lama kak Justin juga masuk kedalam kamarku dan langsung menuju jendela kamar. Dia membuka kaca lalu duduk di kusen jendela menatap langit gelap malam itu, kami terdiam beberapa saat entah apa yang dipikirkan kak Justin saat itu.
"Apa aku... akan berumur panjang kak?" tanyaku tiba - tiba memecahkan keheningan kami, disaat itu pula kak Justin terjatuh dari duduknya lalu menatapku dengan tatapan kesal.