Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 49


__ADS_3

Aku dan kak Jester berlari - lari di bandara untuk menuju counter check in yang terlihat begitu padat dengan orang - orang, didepan salah satu counter kami mengantri panjang dengan waktu yang begitu mepet. Ketika itu kak Jester terlihat begitu gelisah, beberapa kali aku melihatnya memutar kepala untuk menatap pintu masuk keberangkatan terminal tiga. Sedangkan aku hanya diam saja dan mencoba untuk menelaah tentang semua yang terjadi, dalam benak aku bertanya "Kenapa aku tidak diberitahu sama sekali tentang rencana mereka? apa aku hanya bisa mengacau sampai mereka tidak mau melibatkan ku?".


"Yang menuju Paris, silahkan antri disini!!" ucap seorang petugas bandara, suaranya yang terdengar keras itu membuatku dan kak Jester mengalihkan perhatian.


"Kita pindah" celetuk kak Jester ketika itu, aku hanya mengangguk lalu kami pun segera berpindah counter.


"Selamat pagi, tolong tiket dan identitasnya" ucap petugas kepada kak Jester


"Luna" celetuk kak Jester meminta tiket dan pasporku, aku segera memberikannya pada kak Jester lalu kak Jester memberikan tiket dan paspor kami pada petugas.


"Masih ada penumpang yang akan terlambat, bisa kalian menunda penerbangan lebih lama?" tanya kak Jester pada petugas, sejenak petugas itu terdiam lalu berkata...


"Tidak bisa lebih dari lima belas menit dari jam keberangkatan, tuan Gates... anda tuan muda Gates?" tanya petugas itu, kak Jester pun mengangguk.


"Kenapa repot - repot tuan muda Gates? kenapa tidak menggunakan pesawat pribadi anda?" tanya petugas itu lagi, kak Jester menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan petugas.


"Karena ini permintaan temanku, dia yang membelikan aku tiket bahkan tiket ekonomi" terdengar kesal kak Jester ketika mengatakannya, aku pun teringat kata Selena kenapa dia yang menyiapkan semua tiket untuk kami dan tidak membiarkan kak Jester ataupun Naomi membeli tiket mereka sendiri.


"Ooh begitu ya... aah sayang sekali tuan muda, kami tidak bisa menuruti permintaan anda... karena... ini penerbangan ekonomi... jadi akan banyak protes dari penumpang eksekutif jika menunda terlalu lama... saran saya anda ganti saja penerbangan dengan jet pribadi anda" ucap petugas memberi saran, mendengar sarannya aku pun panik jika kak Jester tiba - tiba memutuskan untuk menuruti saran petugas.


Saat itu aku memutar otakku agar rencana Selena dan kak Justin berjalan dengan baik, aku tidak ingin mengacau lagi. Mereka telah bekerja keras untuk membantuku, setidaknya aku ingin sedikit berguna bagi Selena dan kak Justin. Namun sekuat apapun aku berpikir, aku merasa buntu dan tidak menemukan apapun ide. Aku juga bingung harus berkata apa yang mungkin masuk akal agar kak Jester tidak merubah pemikirannya, semakin lama aku berpikir kak Jester pasti akan segera memutuskan dan semua akan menjadi sia - sia...


"Tidak usah, ini permintaan Naomi supaya aku percaya pada teman kami yang membelikan tiket ini untuk kami. Baiklah aku mengerti, lima belas menit menurutku sudah cukup" ucap kak Jester, aku pun terkejut karena kak Jester mengatakan seperti itu.


Naomi yang meminta kak Jester untuk percaya pada Selena membuatku terkejut, sampai - sampai permintaan Naomi itu membuat kak Jester tidak mau menerima saran yang terasa sangat masuk akal untuknya. Pada akhirnya kami mendapatkan boarding pass kami dan petugas meminta kami untuk segera menuju ke ruang tunggu di gate nomor empat belas, kami kembali berlari - lari agar segera sampai disana dan dapat beristirahat meski itu hanya sejenak.


Tapi kami tidak punya waktu untuk istirahat, karena setelah sampai di gate nomor empat belas saat itu petugas lainnya meminta kami untuk masuk kedalam pesawat karena mereka akan segera berangkat. Kak Jester sempat berdebat sengit dengan beberapa petugas karena permintaan kak Jester ditolak oleh mereka, penundaan penerbangan tidak bisa dilakukan. Emosi Lah kak Jester ketika itu, dia sampai terlihat membentak - bentak petugas dan membuat kak Jester menunjukkan kembali arogansinya di depanku.


Pada akhirnya aku berusaha untuk menenangkan kak Jester tapi apapun yang aku katakan... semua tidak berhasil membuat kak Jester menjadi tenang, semua ketegangan itu mereda ketika handphone kak Jester berdering. Kak Jester segera mengambil handphone dari saku celananya dan melihat siapa yang meneleponnya, jujur saja aku penasaran tapi aku tidak berani untuk bertanya padanya.

__ADS_1


Aku tidak tahu siapa yang meneleponnya ketika itu, aku hanya mendengar percakapan dari satu sisi dimana kak Jester menanyakan keadaan kak Luke dan kak Harry lalu sepertinya seseorang dibalik telepon mengatakan jika mereka akan segera menyusul kami. Aku melihat kak Jester menghela nafas terlihat lega, lalu kak Jester mengajakku untuk masuk kedalam pesawat dan mengatakan semua berjalan dengan baik.


Di dalam pesawat itu aku dan kak Jester duduk bersebelahan di kursi ekonomi, sebuah kursi yang sepertinya membuat kak Jester kesal. Mungkin karena dia terbiasa dengan kursi empuk khas kelas eksekutif atau jet pribadi miliknya, yah tentu saja hal itu membuatnya kesal kan. Tapi sepertinya kata - kata Naomi kepada kak Jester membuat kak Jester seakan tidak memiliki pilihan, entah apa yang dikatakan Naomi pada kak Jester sampai membuatnya begitu menurut hari ini.


Setelah lima belas menit berlalu, tidak lama suara kapten pesawat terdengar dan mengatakan jika pesawat akan segera berangkat. Kak Jester semakin gusar ketika itu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri hampir setiap saat sampai pesawat terasa mulai bergerak. Aku merasa bersalah padanya ketika itu, dia pasti sangat khawatir jika kami terbang meninggalkan Naomi dan teman - teman yang lain.


"Ada apa kak?" tanyaku mencoba untuk menarik perhatiannya, kak Jester pun terdengar menghela nafas.


"Kemana Naomi? apa dia ketinggalan pesawat? masa kita berduaan seperti ini keluar negeri? aku merasa... tidak enak hati terpisah jauh dari Naomi seperti ini" jawab kak Jester terdengar sedih, aku tertawa mendengar jawabannya.


"Walau terlambat, mereka pasti akan segera menyusul kita" jawabku mencoba untuk menenangkannya, aku melakukan sebisaku ketika itu namun sia - sia karena kak Jester kembali menoleh kanan kiri untuk mencari keberadaan Naomi dan teman - teman.


Selama perjalanan udara itu aku dan kak Jester hanya berdiam diri, aku pun tidak terasa beberapa kali tertidur entah kenapa. Aku merasa sangat lelah dan mengantuk, hanya sesekali saja aku terbangun karena pramugari memberi kami kue, makan dan minum. Selebihnya aku kembali tertidur sepanjang perjalanan selama.... yah aku bingung berapa lama kami melakukan perjalanan, perbedaan waktu membuatku kebingungan.


Begitu pesawat sudah mendarat ketika itu aku melihat hari sudah gelap, waktu setempat menunjukkan pukul sembilan malam. Padahal kata Selena perjalanan kami membutuhkan waktu setidaknya enam belas jam, ketika kami berangkat pukul sepuluh pagi seharusnya aku sampai disini pada keesokan harinya kan? Aaa~ entahlah... aku bingung dan semua itu membuatku pusing~


"Apa telepon itu tersambung?" tanyaku, namun kak Jester menanggapi pertanyaanku hanya dengan gelengan kepala.


"Gimana kalau kita ke hotel dulu? aku sedikit merasa lelah" ajak ku padanya, namun kak Jester bergeming dan hanya diam menatap layar handphonenya.


Sikap dingin kak Jester kembali muncul, dia begitu cuek kepadaku ketika itu. Mungkin karena hatinya yang gusar atau karena dia mulai curiga dengan semua yang terjadi pada hari ini, aku tidak tahu apa yang kak Jester pikirkan kala itu. Aku menghela nafasku sembari berjalan menuju salah satu kursi terdekat, aku duduk di kursi itu dan menyadarkan tubuhku yang terasa begitu lelah seraya menatap langit gelap dari sebuah kaca.


"Aku selalu berpikir kalau diluar negeri akan terasa beda, ternyata disini sama saja... udaranya, anginnya, dan ramainya... apa kamu merasakan perbedaannya, kak?" tanyaku mencoba kembali mengalihkan perhatiannya


"Ayo kita pulang, aku akan pesan tiket untuk kita pulang" timpal kak Jester, terkejut lah aku mendengar perkataannya ketika itu.


Pulang! bagaimana kalau benar - benar harus pulang? jantungku berdebar tak menentu, tolonglah kak bertahan disini! tidak ingatkah kamu ini adalah tempat impian yang akan kita kunjungi dulu? Aku kalut dan bingung, hanya tersisa satu langkah lagi.. kali ini aku berharap ada keajaiban untuk bisa membuat kak Jester bertahan bersamaku disini.


"Kita sudah sampai sini, kenapa tidak kita coba nikmati suasananya?!" tanyaku dengan nada panik, aku takut kak Jester benar - benar akan pergi dari tempat ini.

__ADS_1


"Aku gak bisa... berjauhan dengan Naomi membuat hatiku gak tenang, aku takut dia mengalami hal - hal yang berbahaya dan aku tidak ada disana untuk menyelamatkannya" jawab kak Jester dengan helaan nafas


"Kak, Naomi akan baik - baik saja. Kita akan berada disini cuma tiga hari" timpal ku memaksanya, seketika itu kak Jester menatapku dengan tajam seakan sedang menaruh curiga padaku.


"Tunggu... kamu tidak merencanakan sesuatu untuk memisahkan ku dengan Naomi, kan?" tanya kak Jester menekan penuh rasa curiga, mendapatkan pertanyaan dan tatapan seperti itu membuatku terpaku dan membatu.


Aku tidak tahu harus menjawab apa, otakku terasa membeku tak bekerja sama sekali. Mungkin inilah alasan kenapa kak Justin dan Selena tidak melibatkan ku dalam rencana mereka, karena aku pembohong yang buruk. Aku memang selalu berbohong tentang kesehatanku selama ini kepada kak Jester, Naomi, dan teman - teman yang lain, tapi beberapa kali juga aku sebenarnya diselamatkan oleh Selena dan kak Justin ketika aku sudah terpojok seperti sekarang.


Kini aku hanya sendiri, tidak ada yang bisa menyelamatkanku ketika aku dicurigai seperti ini.... aku hanya bisa pasrah dan terdiam menatap kak Jester, mungkin tatapan mataku pun seakan sudah mengaku dihadapan kak Jester jika apa yang dikatakannya adalah benar.


"Luna!! jadi semua ini karena ulahmu?!!" bentak kak Jester padaku, aku tersentak ketika itu.


"Sial!!" ucap kak Jester lebih meneriaki ku


Seketika itu kak Jester berbalik dengan semua barang bawaannya hendak meninggalkanku disana, melihat kak Jester yang akan pergi itu membuatku semakin panik. Aku berdiri dari dudukku lalu berlari mendekatinya, aku tarik lengannya agar dia berhenti berjalan.


"Kak!! tunggu!! aku sudah izin sama Naomi dan dia mengizinkanku!! Tolong, dengarkan aku dulu!!" dengan panik aku mengatakannya, kak Jester menepis tanganku lalu berbalik untuk menatapku dan menunjukku dengan jari telunjuknya.


"Aku sudah biarkan kamu berkeliaran di lingkaran pertemananku, aku juga biarkan kamu menginap di rumahku, dan terakhir aku juga sudah mencoba memaafkan mu!! Tapi sekarang kamu sudah kelewatan!! aku tidak bisa menerima apapun alasanmu!!" bentak kak Jester begitu marah padaku, seketika itu air mataku begitu deras menetes membasahi wajah


Aku tahu kak, sangat tahu tapi... aku belum bisa jujur untuk saat ini mengapa aku melakukan ini semua. Saat itu aku merasa seperti penjahat yang sedang dihakimi, entah kenapa rasanya begitu sakit dengan bentakan kak Jester walaupun yang dia katakan semua adalah benar.


"Kak... tolong... aku mohon untuk terakhir kalinya... hanya ini saja yang ingin aku lakukan berdua denganmu... tinggal satu ini saja...." ucapku ditengah tangisan


Namun kak Jester tidak menghiraukannya dan tidak peduli, kak Jester kembali berbalik lalu berjalan menjauhiku...


"Kak... tolong... tinggallah sebentar saja...." gumamku ketika itu, suara ini sudah tidak mampu lagi untuk keluar....


Aku hanya bisa menangis melihat kak Jester berjalan semakin jauh dariku... aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan atau mungkin hanya sekedar bisa aku lakukan untuk menahannya agar dia tidak pergi meninggalkanku... perlahan aku menundukkan kepalaku dan membiarkan air mataku jatuh membasahi ubin, aku berusaha menguatkan hatiku seraya berkata "Tidak apa.... tidak apa jika memang berakhir seperti ini... sebentar lagi Luna juga akan mati dan Luna tidak akan lagi merasakan sakit.... tidak apa... tidak apa...."

__ADS_1


__ADS_2