Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 29


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu, Luna?" tanya kak Jester kepadaku


Ketika itu aku berada di kamarku bersama kak Jester, aku duduk bersandar pada dipan kasur sedangkan kak Jester duduk di sebelahku dengan kursi belajarku. Kami saling bertatapan mata dengan kelembutan kami masing - masing, rasa khawatirnya begitu terasa di hatiku.


"Aku sudah membaik, terima kasih sudah menjengukku kak" jawabku


"Aku membawakan beberapa buah - buahan, aku harap semuanya sesuai seleramu. Aku tidak terlalu tahu tentangmu, jadi aku asal memilihnya" ucap kak Jester, aku tertawa kecil mendengar perkataannya.


Bahkan tanpa membawa apapun, dijenguk oleh orang yang kita cintai sungguh membuat hati bahagia bukan?


"Maaf, aku belakangan ini sering menghilang darimu" timpal ku menyesal, kak Jester pun menghela nafasnya.


"Tidak masalah, siapa sangka nenekmu tiba - tiba jatuh sakit kan? sekarang malah kamu yang sakit, apa kamu tertular nenekmu?" tanya kak Jester, aku pun terkejut dengan pertanyaan kak Jester.


Aaah... pasti karena Selena bilang aku ke rumah nenek selama dua minggu ketika aku dirumah sakit, aku pun tersenyum kecut kepadanya karena tidak biasa aku berbohong seperti ini. Dengan anggukan kepala aku mencoba meyakinkan kak Jester jika aku memang benar - benar ke rumah nenek saat itu, meski bertentangan dengan hati nuraniku.


Selena memang sahabat yang bisa diandalkan, beberapa kali dia menyelamatkanku dari banyak hal yang tak terduga. Memiliki Selena memang keberuntungan bagiku.


"Ada kejadian apa hari ini disekolah kak?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan


"Aah.. yah, tidak banyak. Kamu tahu sebentar lagi ada pemilihan ketua osis? Justin mendaftar menjadi penantang" jawab kak Jester, aku terkejut dengan berita yang dibawa kak Jester sore itu.


"Hah?! benarkah?! tapikan kak Justin..." belum selesai aku berkata, kak Jester memotong.


"Ini menjadi sejarah baru karena biasanya yang menjadi ketua osis sekolah kita itu ya dari kalangan atas, tapi seperti yang kamu tahu... penantang terkuat itu Natalie dan dia keluar dari sekolah" timpal kak Jester, lagi - lagi kak Jester membuatku terkejut.


"Bukannya kak Natalie dikeluarkan dari sekolah?" tanyaku padanya, kak Jester pun terdiam menatapku heran.


"Benarkah?" tanyanya bingung


"Kok tanya aku? aku dengar itu dari Selena dan kak Justin, kata mereka keluargamu dibalik semuanya, kamu tidak sedang membohongiku kan kak?" tanyaku sedikit menekan


"Aah gak penting, aku tidak tahu pasti alasan dia keluar dari sekolah. Sekarang lawan Justin tidak terlalu berat aku rasa, dia bilang butuh bantuanku untuk merebut kursi ketua osis" ucapnya


"Kamu akan menolongnya kak?" tanyaku, kak Jester pun terdiam sejenak menatapku.


"Bagaimana pandanganmu tentang.... ketua osis?" tanya kak Jester dengan nada cemburunya yang begitu terasa ditelinga, aku pun tertawa kecil mendengarnya.


Kecemburuan kak Jester adalah pemandangan yang lucu untukku, pangeranku... percayalah, jabatan apapun dan posisi apapun yang akan diraih oleh kak Justin tidak akan merubah apapun. Karena hanya kamu pangeran impianku.


"Tidak akan ada jabatan disekolah yang mampu mengalihkan ku darimu kak~" jawabku dengan nada semanja mungkin, aku sudah belajar untuk tidak mengerjai pangeranku ketika dia sedang cemburu.

__ADS_1


Wajahnya memerah lalu kak Jester membuang muka, aku kembali tertawa bersamaan dengan ekspresi kak Jester yang terlihat masam. Sejenak aku terdiam dan berfikir kenapa kak Justin mau repot - repot mendaftar menjadi ketua osis sekolah? apa dia tidak terlalu berlebihan memanfaatkan posisi kak Jester?


"Kenapa, Luna?" tanya kak Jester penasaran karena aku melamun, aku tersadar dari lamunanku lalu menatap matanya.


"Eeeh.. gak, gak ada apa - apa kak" jawabku


"Aku berpikir untuk membantunya, menjadikannya ketua osis tidak akan merugikan ku kan" celetuk kak Jester


"Tidak ada ruginya sih, tapi yakin karena itu? bukan karena aku yang mengatakan jika apapun jabatannya, duniaku tetap ada padamu?" tanyaku menggodanya


Kak Jester pun memutar badannya dan membantah perkataanku, sedangkan aku hanya tertawa menimpali bantahannya. Sejenak kami terdiam lagi dan kali ini giliran kak Jester yang terlihat tidak ingin membuka obrolan, aku menghela nafasku lalu berusaha menyentuh punggungnya.


"Kenapa kak?" tanyaku ketika tanganku berhasil mencolek punggungnya


"I..ini.. sudah hampir tengah semester dan... aku tidak terlalu mengenalmu... apa yang kamu suka, apa yang kamu benci, apa makanan dan minuman favoritmu dan segalanya tentangmu..." jawab kak Jester


"Yang aku suka adalah kamu, yang aku benci adalah bau kaporit rumah sakit, aku tidak punya makanan dan minuman favorit karena aku hampir menyukai semuanya, tentang aku.... aku kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu karena aku tidak pandai mendeskripsikan tentangku secara lisan" ucapku menjawab kak Jester


"Aku cuma merasa.... kita tidak mengalami kemajuan sejak pertemuan pertama kita sampai detik ini, apa aku pria yang buruk karena itu?" tanya kak Jester lagi kali ini terdengar begitu kecewa, aku pun menghela nafasku.


"Tidak, karena aku hanya ingin ada kamu di dekatku tanpa peduli apa kamu mengenaliku atau tidak. Itu tidak penting kak, bukankah yang utama itu adalah kebersamaan kita?" aku pun bertanya balik dan membuatnya termenung, lalu perlahan garis senyumnya terangkat.


Aku tertawa menahan malu mendengar pujian itu, lalu kami menghabiskan sore itu dengan obrolan tidak penting penuh canda tawa. Menjelang malam kak Jester pun pamit pulang, namun sayang aku tidak bisa mengantarnya sampai teras rumah.


Aku merebahkan tubuhku yang mulai terasa ngilu itu, tidak lama ibu dan kak Justin masuk kedalam kamar. Mereka tersenyum bersamaan lalu berjalan mendekatiku, ibu duduk di kasur sedangkan kak Justin ditempat kak Jester tadi duduk. Ibu yang saat itu masuk kedalam kamar membawa segelas air putih, lalu memberikan gelas itu kepadaku beserta empat butir obat.


"Kamu sudah mau minum obat?" tanya kak Justin, aku tersenyum namun tidak dapat aku pungkiri jika senyumku juga menyiratkan rintihanku.


"Kamu baik - baik saja sayang?" tanya ibuku, aku mengangguk dan mengambil segelas air putih itu berserta obat - obat nya.


Aku segera meminum obatku lalu kembali merebahkan tubuhku di kasur, lalu ibu pergi dengan menitipkan pesan kepada kak Justin agar tidak terlalu ribut agar aku segera tidur. Tapi aku mengatakan pada ibu jika aku bisa lebih nyenyak tidur ketika kak Justin menemaniku seperti ini, tawa kak Justin dan ibu pun pecah dengan perkataanku sembari ibu berjalan keluar kamar.


"Jester baru dari sini?" tanya kak Justin ketika ibu sudah menutup pintu.


"Iya, kak Justin bertemu dengannya?" aku pun tanya balik, dengan anggukan kepala kak Justin menjawab pertanyaanku.


"Kenapa kamu mendaftar jadi ketua osis?" tanyaku, kak Justin pun sedikit terkejut mendengar pertanyaanku namun sepertinya dia memahami darimana informasi itu aku dapatkan.


"Yah kamu tahukan kalau aku bisa masuk SMA itu karena beasiswa? orang seperti aku ini pasti akan kesulitan untuk mendapatkan prestasi non akademik karena semua slot pasti diisi anak - anak kelas atas itu" jawab kak Justin, lalu dia menghela nafasnya sejenak sebelum meneruskan ceritanya.


"Aku suka bermusik, aku bisa memainkan berbagai alat musik namun aku tidak pernah bisa membentuk tim sendiri karena jadwal selalu penuh diisi oleh siswa - siswi kaya itu. Aku ingin merubah kebiasaan itu dengan kekuasaan ketua osis, menghilangkan bully dan lain - lain yang memungkinkan murid seperti kita ini bersekolah dengan nyaman" ucap kak JustinĀ  meneruskan ceritanya

__ADS_1


Kini aku paham maksud kak Justin ingin menjadi ketua osis di SMA kami, tapi itu bukan pekerjaan mudah karena siswa - siswi elit itu pasti tidak akan mau dipimpin oleh siswa beasiswa seperti kak Justin. Sejenak kami terdiam lalu aku teringat tentang kecemburuan kak Jester, sejenak aku menatap kak Justin dengan tajam namun tidak mengatakan apapun.


"Hei, kenapa melihatku seperti itu?" tanya kak Justin mungkin risih dengan caraku memandangnya.


"Kenapa ketua osis bisa membuat kak Jester cemburu?" tanyaku, sekejap pertanyaan itu membuat kak Justin tertawa terbahak - bahak.


"Serius?" tanya kak Justin memastikan apa yang baru saja dia dengar, aku kesal padanya jadi aku jawab saja dengan anggukan kepala.


"Oke gini, ketua osis bisa menentukan banyak hal di sekolah. Dia disukai banyak siswi karena pesonanya ketika mengenakan aksesoris ketua osis yang bergengsi, dan biasanya memang dari kalangan populer. Jadi wajar jika aku menjadi ketua osis, maka aku akan lebih populer dari Jester" dengan sedikit suara tawa kak Justin mengatakannya


"Aku jadi penasaran..." celetuk aku dan sengaja aku gantung untuk menarik perhatian kak Justin yang masih saja tertawa.


"Apa itu?" tanyanya singkat


"Apa tidak ada siswi disekolah yang kamu suka, kak?" tanyaku kepadanya


Sekejap senyum kak Justin pun menghilang, dia terlihat sedikit melotot kepadaku mungkin karena terkejut. Perlahan ekspresi kagetnya itu berangsur - angsur menghilang, lalu senyumnya kembali terangkat menatapku.


"Ada.... aku menyukai seseorang disana, sayangnya aku rasa cinta kami bertepuk sebelah tangan" jawabnya


"Oh iya? siapa? bagaimana ciri - cirinya?" tanyaku lagi


"Dia cantik, kadang ceria kadang tidak, sering kali tidak bisa jujur kepada perasaannya sendiri, baik hati dan juga ikhlas dengan keadaannya. Sering membuatku repot karena ulahnya sendiri, meski dia sering tidak sadar jika dia disayangi oleh banyak orang dan juga banyak yang mempedulikannya" jawabnya


Sepertinya wanita yang disukai kak Justin akan menjadi wanita yang sangat beruntung, bagaimana tidak kak Justin adalah sosok dengan tingkat kepedulian yang tinggi, dia sangat baik dan dewasa, terlebih dia itu sangat perhatian. Wajar kan jika akan beruntung wanita yang berada disisinya kelak.


"Cewek yang aneh" timpal ku, kak Justin pun menertawakan celetukan ku itu.


"Lalu, apa kamu mengenalnya dengan baik? apa itu penting?" tanyaku lagi


"Aku mengenalnya dengan sangat baik dan jika masalah penting atau tidak, semua itu tergantung bagaimana kamu ingin menjalaninya. Untuk hubungan sesaat maka kamu tidak perlu terlalu mengenalnya, tapi sebaliknya jika kamu ingin hubungan jangka panjang maka kamu harus tahu apapun tentangnya" jawab kak Justin


"Begitu ya... pantas kak Jester ingin mengenalku, tapi aku malah mungkin membuatnya berpikir jika aku menginginkan hubungan jangka pendek" dengan penuh penyesalan aku mengatakannya


"Ikuti saja kata hatimu, kamu tahu kapan kamu harus berhenti dan kapan kamu harus terus melangkah. Jester orang yang baik, dia akan sangat cocok denganmu" timpal kak Justin


"Benarkah?" tanyaku penuh harap, tangan lembut kak Justin pun mengelus kepalaku dengan begitu lembut.


"Tentu, jika kamu memilih orang yang salah aku pasti akan segera melarang mu. Sekarang tidurlah, biar aku menjagamu sampai kamu tertidur disini" jawab kak Justin begitu lembut


Aku tersenyum menatapnya, lalu perlahan aku menarik selimutku hingga menutupi sampai daguku, perlahan aku pejamkan mataku dan kurasakan sentuhan tangan hangat kak Justin di kepalaku terasa sangat nyaman. Tidak lama aku pun tertidur hingga pagi menjelang... aku begitu bersemangat pagi itu karena merasa tidurku begitu nyenyak... :)

__ADS_1


__ADS_2