Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 40


__ADS_3

Kata tolong dari Naomi membuatku kembali bersemangat untuk benar - benar membantunya bangkit kembali, mentalnya pasti hancur lebur dengan apa yang telah dilakukan oleh Daniel kepadnya. Tapi ini bukan menjadi alasan bagi Naomi untuk memutuskan hubungannya dengan kak Jester, dia tidak boleh sepertiku yang jatuh kedalam jurang keputusasaan. Aku belai lembut rambut Naomi untuk menenangkan tangisannya, kata tolong darinya adalah modal utamaku agar Naomi mampu mempertahankan hubungannya dengan kak Jester.


"Kamu butuh pertolongan apa? aku akan menolongmu sekuat tenaga..." ucapku dengan lembut


"Luna... aku takut, bayangan kejadian itu menghantuiku. Bahkan sentuhan - sentuhan itu sulit untuk aku lupakan, aku benar - benar hancur bahkan sampai aku membenci diriku sendiri dan aku merasa tidak pantas untuk Jester. Rasa trauma ini hanya akan menyiksanya, aku takut jika terus bersama aku akan menyakiti hatinya dan menjadi sosok yang tidak dia kenal sama sekali. Aku takut... aku tidak sanggup untuk membayangkan akan menjadi bebannya" ucap Naomi, seketika tangisannya kembali pecah dan terdengar begitu pilu ditelingaku.


"Aku trauma... aku trauma parah yang belum pernah aku alami bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya... wanita yang punya trauma tidak akan pantas untuk siapapun... karena trauma ini akan membuat aku menjadi mudah emosi dan terkadang membuatku menjadi egois tanpa sadar" ucap Naomi lagi setelah dia dapat mengendalikan tangisannya meski sedikit, suaranya tidak terlalu jelas karena sesegukan yang dia alami.


Aku terdiam sejenak sembari menatap langit - langit kamar, aku mencoba memahami apa yang Naomi sampaikan agar nasihatku benar - benar mengena dihatinya. Tentang wanita dengan trauma... mungkin benar, trauma itu akan mengganggu ketika pemicunya tersulut. Kadang hal itu membuat kita histeris, bereaksi berlebihan, atau bahkan yang lebih parah... mungkin saja membuat kita menjadi orang asing bagi pasangan, karena trauma itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijelaskan.


"Tapi trauma itu bukan tanpa alasan, itu sebagai bentuk pertahanan diri hatimu" ucapku, aku kembali mengalihkan pandanganku menatap Naomi yang masih melipat kedua kakinya lalu bersandar pada dipan. Kepalanya kembali dia sandarkan pada kedua tangan yang memeluk kaki, aku menghela nafasku lalu aku katakan...


"Naomi... dengarkan aku, aku paham apa yang kamu rasakan. Kejadian ini pasti akan terus membekas disepanjang hidupmu tapi percayalah padaku, kak Jester pasti akan memahamimu. Dia begitu mencintaimu dan dia pasti akan menerima apapun keadaanmu" ucapku dengan lembut, Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk merespon negatif perkataanku.


"Tidak... meskipun Jester menerimaku... aku tidak akan sampai hati untuk menjadi bebannya, dia berhak mendapatkan yang lebih baik dariku" ucap Naomi dengan tangisan yang terisak - isak, aku menghela nafasku sejenak lalu aku katakan..


"Aku tahu kamu berpikiran seperti itu, kamu tidak ingin merepotkannya.. Tapi Naomi, orang yang mencintaimu pasti memahami kondisimu, akan selalu menerima dan menemanimu atau bahkan akan menjadi sosok yang mampu mengobati luka dihatimu. Dan aku yakin kamu tahu siapa sosok itu, aku yakin" ucapku dengan penuh keyakinan tanpa keraguan sedikitpun, perkataanku membuat Naomi menoleh padaku dengan tatapan heran dan aku membalasnya dengan sebuah senyuman.


"Siapa...?" tanya Naomi penasaran.


Pertanyaan bodoh itu membuatku tertawa terbahak - bahak, aku merangkulnya dengan erat dan membiarkan kepalanya kini bersandar pada bahuku. Aku pun membelai lembut rambutnya, sesaat aku merasa sedang menasihati diriku sendiri. Yaa benar.... aku merasa sedang menasihati diriku yang dulu, Naomi merupakan refleksi yang sangat menyerupai diriku.


Dari Naomi membuatku semakin yakin bahwa aku bisa memutuskan rantai penyesasalanku yang selama ini aku tanggung dengan membantu Naomi untuk bisa menjadi kekasih kak Jester, melihatnya bisa bahagia bersama kak Jester sama seperti melihat diriku bisa berdua bersamanya. Karena kami... sangat mirip, aku benarkan? :)


"Kamu tanya siapa? baiklah... biar aku beri kamu petunjuk, dia pria bodoh yang jika jatuh cinta maka dia akan menjadi budak cinta bagi wanita yang dicintainya. Huruf depan dari namanya berawalan dari huruf 'J'" ucapku dengan sedikit menggodanya, sesaat Naomi kembali membuang wajah namun aku bisa melihat garis senyumnya terangkat.


"Ayolah kamu tahu jawabannya, baik... aku akan tambahi huruf 'E' setelah huruf 'J'" ucapku lagi kembali menggodanya, kali ini aku mendengar suara tawa kecil dari Naomi.


Tidak ada henti - hentinya aku menggoda Naomi hari itu, aku terus memancing suara tawanya meski kecil sekali kudengar. Tapi setidaknya... aku berhasil mengurangi beban mental yang dia tanggung, entah berapa lama kami saling mengobrol seperti ini. Aaah... yah maksudku, entah berapa lama aku mengobrol satu arah dengannya seperti ini. Ahahaha... Naomi benar - benar hanya bisa tertawa kecil dengan semua perkataanku, andai....

__ADS_1


Andai....


Andai aku memiliki Luna dalam hidupku dulu... mungkin aku tidak perlu mengalami hal seperti ini dan bisa bersama kak Jester meski tidak lama, tapi semua sudah terlambat. Aku tidak boleh menyesal, akan aku susuri terus jalanku ini sampai titik berakhirnya hidupku agar tidak ada lagi penyesalan. :)


Tidak lama Naomi tertidur kembali di bahuku, perlahan aku membaringkan tubuhnya senyaman mungkin dan tidak membangunkannya. Setelah berhasil membaringkannya, aku teringat jika kak Jester mungkin belum makan sama sekali setelah sarapan bersama kami tadi. Aku pun mengalihkan pandangan mataku untuk menatap jam weker disebelah kasur dan aku dapati hari sudah sore, "Aduh.. kak Jester kamu makan siang pakai apa?" ucapku dalam hati.


Aku membuka pintu kamar untuk menyiapkan makan siang buat kak Jester, tapi ketika aku hampir sampai di ruang makan yang menjadi satu dengan dapur... aku mengintip Selena yang sedang memasak, aku tersenyum ketika itu dan kembali melangkahkan kaki kekamar. Di dalam kamar, aku merebahkan tubuhku disebelah Naomi. Tapi itu tidak berlangsung lama sampai suara ketukan pintu terdengar, aku beranjak dari rebahanku dan aku membukakan pintu untuk si pengetuk.


Selena mengetuk pintu untuk memberitahuku bahwa makan siang sudah tersedia, dia memintaku untuk bergabung bersama dengan kak Jester. Tapi aku menolaknya, aku tahu dia hanya akan menanyakan tentang Naomi. Bukan aku tidak ingin memberitahunya, tapi ini juga tentang hati kak Jester. Dia yang sedang emosi, pasti akan semakin emosi kalau tahu bagaimana kondisi Naomi saat ini.


Aku katakan pada Selena kalau aku akan segera kesana menyusulnya, aku ingin membiarkan kak Jester lebih dulu makan untuk menghindari bertatapan mata dengannya. Setelah beberapa saat, aku pun melangkah menuju dapur untuk mengambil menu makan siang yang dibuat oleh Selena. Tujuanku sudah jelas, ke dapur, ambil piring, mengambil lauk dan kembali kedalam kamar. Tapi benar dugaanku, kak Jester bertanya tentang keadaan Naomi. Aku hanya tersenyum padanya, lalu kuabaikan pertanyaan yang kak Jester lontarkan. Meski khawatir kak Jester akan marah padaku, namun kenyataannya kak Jester benar - benar mempercayakan Naomi padaku.


Didalam kamar aku memakan seperlunya agar aku bisa meminum obat, tidak lama Selena pun menyusulku kedalam kamar. Dia bertanya padaku kenapa aku terkesan cuek pada kak Jester dan aku jawab "Aku sedang malas untuk berbicara dengannya" dengan suara tawa, jawaban itu berhasil membuat Selena kesal padaku.


Aku biarkan hari berlalu begitu saja, menunggu Naomi terjaga dan berusaha agar aku selalu terlihat disebelahnya ketika mata Naomi terbuka. Semua untuk memastikan pada Naomi jika aku akan selalu ada untuknya, sesuai janjiku yang mengatakan jika aku akan menolongnya untuk bangkit kembali.


Pagi pun menjelang, aku tertidur cukup lelap hari ini. Ketika sudah membuka mata... aku tidak melihat Selena ada di kamar ini, hanya ada Naomi yang tertidur dengan posisi meringkuk. Entah berapa lama dia tertidur seperti itu, tapi bukankah itu posisi tidur dimana kita merasa ketakutan? Haah... aku tidak paham dengan masalah seperti ini, aku cuma berharap Naomi segera bangkit.


"Aaa ya... itu.. kamu tahukan? aku dan dia sering bersama... dari kemarin aku gak bisa ketemu dengannya, sekarang rasanya sepi dirumah ini..." ucap kak Jester terbata


Aku tertawa kecil mendengarnya, bagaimanapun kak Jester bukanlah lagi seorang remaja. Dia sudah cukup dewasa untuk tidak malu - malu mengatakan rindu pada Naomi, tapi kak Jester tetaplah kak Jester dan seperti itulah karakternya.


"Kak, kamu itu umur berapa? kok masih bertingkah seperti anak SMA yang lagi jatuh cinta? kalau rindu katakan saja kamu rindu, gengsi amat" timpal Selena dengan suara tawanya, ternyata Selena punya pemikiran yang sama denganku


"Aku bukan gengsi bilang rindu padanya, tapi aku hanya..." ucapan kak Jester pun menggantung


"Hanya...?" tanya Selena mengejar perkataan kak Jester, aku semakin tidak kuasa untuk menahan tawaku namun aku tidak boleh ketahuan kalau aku sedang menguping pembicaraan mereka.


Kak Jester tetap tidak menjawabnya, sampai aku mendengar suara tawa Selena yang terbahak - bahak. Bersamaan dengan itu aku kembali melangkah untuk menemui keduanya diruang makan, menyadari keberadaanku saat itu hampir bersamaan Selena dan kak Jester pun menoleh menatapku.

__ADS_1


"Pagi..." sapaku pada keduanya


"Bagaimana keadaan Naomi?" tanya kak Jester tanpa basa - basi


"Dia baik... cuma belum saatnya untuk kamu bertemu dengannya" timpalku agak kesal padanya, aku melihatnya sedih kala itu.


"Kak, tenang aja... bukan berarti Naomi tidak ingin bertemu denganmu, membencimu, ataupun menghindarimu. Dia cuma ingin menata hatinya untuk berhadapan denganmu" ucapku lagi setelah menghela nafas


"Sampai kapan? apa kamu tidak bilang kalau aku tidak bermasalah sama sekali dengan apapun yang terjadi padanya?" tanyanya terdengar kesal


"Ini tidak semudah yang kamu pikirkan kak, mental Naomi benar - benar hancur saat ini. Bersabarlah, aku akan membantu sebisaku" jawabku sembari membawa beberapa piring untuk mengambil lauk hasil masakan Selena


"Dia sangat merindukan Naomi, makanya jadi gak sabaran gitu" dengan nada menggoda Selena mengatakannya, aku tertawa mendengar perkataan Selena namun tidak dengan kak Jester yang terlihat makin kesal.


"Hei, kalian ada kuliah kan? sekalian aja pergi berdua kesuatu tempat buat habisin waktu, biar gak dikit - dikit Naomi" ucapku memberi saran pada kak Jester dan juga Selena, mendengar ideku itu membuat Selena terkejut sampai menatapku dengan mata melototnya.


"Ide bagus sih, apa kamu gaka da acara?" tanya kak Jester yang menyetujui ideku, semakin terkejutlah Selena dibuat oleh kak Jester.


"Eeh.. gak ada acara sih, tapi..." jawab Selena menggantung


"Tapi apa?" tanya kak Jester mengejar, Selena pun membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengan kak Jester.


"Kak.. aku masih merasa canggung saat berada didekatmu, setelah apa yang kita lalui... aku rasa perasaan itu masih sulit untuk aku pendam" jawab Selena, aku pun cukup terkejut dengan jawaban Selena.


"Kalian harus segera membiasakan diri, kak kamu harus paham hatimu sudah milik Naomi jadi kamu harus bersikap bahwa Selena hanya tean an untukmu Selena... kamu tahu teman tidak makan teman, jagalah hatimu" tegas aku katakan, Selena pun menatapku dengan wajah sedihnya.


"Aku... mengerti" jawab Selena, aku menghela nafasku lalu membawa beberapa piring dengan lauk yang akan aku bawa kedalam kamar.


"Aku mengharapkan yang terbaik darimu, Selena... aku harap kamu benar - benar memahami posisimu dan tidak menimbulkan masalah baru" tegas aku mengatakannya, lalu aku berjalan meninggalkan mereka berdua di ruang makan.

__ADS_1


Entah apa keputusanku sudah bernar atau tidak, tapi aku tidak ingin Selena patah hati lagi dengan semua yang terjadi. Naomi dan kak Jester tidak mungkin bisa terpisahkan, keduanya saling mencintai dan jika Selena memaksa... dia hanya akan melukai dirinya sendiri, aku lah yang paling menyesal jika itu sampai terjadi. Tidak untuk kedua kalinya...


__ADS_2