
"Ada apa ini tuan muda Gates?" tanya kepala pelayan yang tadi menyajikan dan menjelaskan makanan kami
Tatapan mata kak Jester kini beralih pada kepala pelayan itu, entah bagaimana tatapannya namun aku dapat melihat kepala pelayan itu begitu ketakutan. Aku pun kembali menarik lengan kak Jester agar dia berhenti untuk meneruskan segala permasalahan sepele itu, tapi apapun yang aku lakukan saat itu percuma dan kak Jester seperti umumnya orang kaya yang arogan.
"Dia memperlakukan temanku dengan tidak baik!!" bentak kak Jester pada kepala pelayan itu
Sigap kepala pelayan itu langsung menatap pelayan penerima tamu kemudian kembali menatap kak Jester, dengan tubuh yang membungkuk saat itu kepala pelayan mencoba meminta maaf pada kak Jester. Aku tidak ingat ada berapa orang pelayan disana saat itu, namun diantara mereka semua tidak ada satupun pelayan yang tidak membungkukkan badannya dihadapan kak Jester.
"Maafkan sikap kasar kami tuan muda Gates" kepala pelayan itu pun memohon maaf dengan tulus
"Aku pasti sampaikan ini pada papa dan mama, aku pastikan keluarga Gates tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di..." belum selesai kak Jester berkata, aku pun sudah pada puncak emosiku
"Cukup!!! sudah cukup!!!" bentak ku padanya dan akhirnya kak Jester menoleh menatapku yang menangis saat itu, aku sudah tidak tahan lagi dengan semuanya.
Sikap arogan itu adalah sikap yang aku sangat tidak sukai, kamu mungkin boleh marah jika kamu disepelekan namun jika mereka sudah mengucapkan kata 'maaf' maka sudah cukup. Apa lagi yang sebenarnya kalian inginkan? apa kalian ingin dia sampai bersujud di depanmu? arogan sekali... aku tidak suka :(
"Cukup kak!! antar aku pulang sekarang!!" bentak ku padanya, sepertinya itu adalah bentakan pertama baginya... karena dia hanya termenung menatapku untuk beberapa saat.
Aku membentaknya didepan para pelayan yang juga arogan itu, entah apa yang mereka nilai dan pikirkan terhadapku. Aku sungguh tidak peduli, yang aku pedulikan saat ini adalah bisa segera pergi dari tempat yang membuatku tidak nyaman ini. Apakah itu salah pangeranku? tentu saja tidak, aku tahu dia ingin memberikan yang terbaik untuk kencan pertamanya denganku... tapi akulah yang menjadi masalahnya. Sungguh aku tidak tahu harus bersikap dan berpenampilan bagaimana ditempat dan lingkungan seperti ini.
"Ta.. tapi, aku masih..." belum selesai kak Jester berbicara, aku memotongnya.
"Aku mau pulang!! kalau memang kamu tidak mau mengantarkan aku, aku akan pulang sendiri!!" timpal ku dengan bentakan meski suaraku mungkin terdengar lucu saat itu karena aku juga masih menangis terisak...
Aku berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu, tidak lama kak Jester menyusul ku dan menggenggam lenganku dengan cukup kuat. Aku tidak ingin menatap wajahnya... aku kecewa padanya... aku pikir dia berbeda, karena kamu adalah pangeranku... :(
"Tu.. tunggu Luna! aa.. aku minta maaf, aku akan antar kamu pulang! Oke? tunggu sebentar, karena mobilku sedang diambil petugas vale" ucap kak Jester kepadaku, aku pun berhenti melangkah meski aku masih tidak ingin menatap wajahnya.
Hingga beberapa detik mobil kak Jester pun sudah berada di depan lobby, kak Jester menarik ku dan membawaku masuk kedalam mobil yang pintu penumpangnya sudah dibukakan oleh pelayan. Aku langsung masuk dan tidak lupa aku ucapkan terima kasih pada pelayan itu, ketika itu kak Jester ingin memasangkan sabuk pengamanku namun tangannya aku tepis dan aku melakukannya sendiri.
Sempat termenung kak Jester dengan sikapku saat itu, namun sepertinya kak Jester kehabisan kata - katanya lalu pintu mobil pun tertutup. Jujur saja hatiku terasa sakit ketika memperlakukannya seperti itu, tapi pangeranku benar - benar mengecewakanku... :(
__ADS_1
Empat puluh menit kami melakukan perjalanan hingga akhirnya kami sampai di rumahku, aku segera melepaskan sabuk pengamanku yang sebenarnya sejak tadi tidak terpasang karena aku masih tidak paham cara melepasnya. Aku segera turun dari mobil kak Jester dan hendak berlari masuk kedalam rumah, namun kak Jester juga ikut turun dan berlari mengejar lalu menahan langkahku.
"Lu... Luna, tunggu. Beri aku waktu untuk bicara padamu" ucapnya, aku tidak ingin mendengarkannya dan berusaha untuk melewatinya.
"Luna tunggu, aku minta maaf atas sikapku... aku hanya tidak..." belum selesai kak Jester berkata, aku memotongnya.
"Tidak ingin aku direndahkan?! aku memang sudah rendah dan aku baik - baik saja dengan itu!! kak Jester tidak bisa menerima keadaanku ini? jangan dekati aku lagi! selesai sampai disini kak!! selesai!!" ucapku begitu menekan dengan air mata yang terus mengalir deras dari kedua mataku, aku beranikan diri untuk terus menatap wajah pangeranku yang terlihat juga ingin meneteskan air matanya.
Aku pun melewatinya begitu saja, aku berlari sekencang yang aku bisa meninggalkan kak Jester didepan pagar rumah. Aku membuka pintu rumahku lalu menutupnya dengan keras, kemudian berlari lagi hingga ke kamar dan kembali aku membuka pintu lalu menutupnya dengan keras pula.
aku membanting tasku ke lantai lalu melompat ke kasurku, aku membenamkan wajahku di bantal dan menangis sekeras - kerasnya... kencan yang aku bayangkan akan indah bersama pangeranku, kini hancur total tak bersisa... mungkin karena ekpektasi ku terlalu tinggi? atau karena aku naif? atau karena... beginilah cinta beda derajat... kami tidak akan bisa saling mengerti karena beda cara pandang.... aku tidak mengerti.
Suara ketokan pintu pun terdengar ketika itu, aku menatap pintu itu sejenak lalu mengatur nafasku agar suaraku yang serak karena menangis tidak terdengar oleh siapapun itu didepan pintu kamarku.
"Iya?!" agak berteriak aku mengatakannya
"Luna? kamu baik - baik saja sayang?" tanya ibu padaku dari balik pintu
"Luna.. ayah sama ibu ingin bicara... boleh?" tanya ibuku, aku tidak menjawabnya agar ibu berfikir aku sudah bersiap untuk tidur.
"Sayang... boleh ya kami masuk" pinta ayahku tapi tetap aku tidak menjawabnya
Aku kembali menangisi kencanku yang hancur total itu, namun belum juga ada satu menit... terdengar suara ketukan dari kaca jendela kamarku yang menghadap taman samping rumah. Aku menoleh menatap jendela itu, "Apa itu?" tanyaku dalam hati. Perlahan aku turun dari kasurku lalu berjalan mendekati jendela kamar, aku buka gorden dan melihat siapa yang mengetuk kaca jendela itu.
Tapi aku tidak melihat apapun, kemudian aku buka jendela itu untuk melihat keluar dan aku dapati kak Justin berdiri disamping jendela dengan sebuah coklat ditangannya yang dia arahkan seakan memberikannya padaku. Aku begitu terkejut sampai tidak sengaja menamparnya begitu keras, maafkan aku kak Justin... :(
"Kyaaaa!!!" teriakku saat itu, bersamaan dengan tanganku yang menampar pipi kak Justin dan pintu kamar yang terbuka dengan sangat keras.
"Luna!! kenapa?!" teriak ayah begitu khawatir dengan teriakanku
"Aaa... tidak apa ayah! aku hanya terkejut ada cicak didekat jendela kamarku saat aku membukanya!" jawabku panik, ayah dan ibu pun menatapku dengan heran.
__ADS_1
"Ayah ibu! aku mau tidur, tinggalkan aku!" perintahku masih dengan panik
"Jangan buka jendela malam - malam, gak baik buat tubuhmu" ucap ibuku
"I..iya iya... selamat malam ayah ibu!" ucapku lagi
Kemudian ayah dan ibu pun keluar kamarku lalu menutup pintu kamar dengan rapat, setelah beberapa detik aku menatap pintu itu aku langsung mengeluarkan kepalaku lagi untuk melihat keadaan kak Justin dihalaman samping rumah. Dia terlihat meringkuk kesakitan, aku pun begitu menyesal namun aku tidak bisa melakukan apapun disaat seperti itu.
"Kak~ maaf..." ucapku menyesal
"Aduh duh duh... jika aku cicak mungkin aku sudah beda alam sekarang" timpal kak Justin, aku tertawa kecil mendengar perkataannya lalu kak Justin pun berdiri dan memberikanku coklat.
"Apa ini?" tanyaku heran
"Coklat" jawabnya singkat, aku pun menunjukkan wajah jutek ku padanya.
"Ahaha... untukmu, supaya mood mu membaik" ucap kak Justin, aku pun mengambil coklat itu dan segera membukanya lalu memakannya.
Kak Justin, hmmm... Seperti itulah dia yang memang selalu baik dan perhatian kepadaku, aku yang tidak memiliki saudara membuat kehadiran kak Justin seperti seorang kakak yang memberikan perhatian kepada adiknya. Aku beruntung memiliki teman seperti kak Justin, tentu saja juga dengan Selena. Kehadiran mereka membuat hidup ku yang entah kapan berakhir karena leukimia ini terasa sangat berwarna.
"Bagaimana? apa sudah lega?" tanya kak Justin dengan sedikit suara tawa
"Tidak~ aku kesal hari ini" jawabku lalu berjalan menuju kasurku
Kak Justin pun melompat menaiki jendelaku lalu duduk di kusen jendela, dia terdiam menatapku yang masih menikmati coklat pemberiannya. Seakan dia menungguku untuk berbicara, aku yakin dia melihat pertengkaran ku dengan kak Jester didepan rumah tadi.
"Aku baik - baik saja, tidak usah cemas" ucapku memecahkan keheningan diantara kami, namun perkataanku disambut dengan suara tawa kecil dari kak Justin.
"Aku tidak mengkhawatirkan mu, aku cuma ingin memberikanmu coklat itu dan mendengarkan keluh - kesahmu jika kamu ingin" timpalnya
Aku menoleh menatap wajahnya yang tersenyum seperti biasanya, senyum itu selalu menemaniku sejak aku masih kecil hingga saat ini. Entah kenapa aku kembali ingin menangis dengan keras, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku lalu meluapkan semua tangisanku ketika itu.
__ADS_1