Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 38


__ADS_3

Pagi hari tepat dua minggu lebih tiga hari aku sudah tidak masuk sekolah, melewatkan ujian semester satu dan juga kompetisi ku yang baru saja aku ikuti lalu tinggal begitu saja. Jantungku berdetak sangat kencang entah kenapa, aku seperti murid pindahan yang baru saja akan masuk sekolah untuk pertama kali. Berangkat bersama Selena, aku turun dari mobil milik Selena dan menatap pintu gerbang sekolah.


"Kenapa?" tanya Selena kepadaku sembari menepuk pundak kiriku, aku menoleh menatap Selena dengan wajah yang begitu tegang.


"Aku merasa... gugup..." jawabku terbata, Selena pun tertawa lalu menarik ku untuk masuk kedalam gerbang sekolah


Didalam koridor sekolah beberapa siswa dan siswi melihatku dengan wajah heran, "Ya ampun... apa yang kalian lihat dariku? apa ada yang aneh denganku?" dalam hati aku berkata. Aku terus saja ditarik Selena untuk masuk ke dalam kelas, hingga didalam kelas ketika Selena membuka pintu... semua siswa dan siswi disana langsung menatapku dengan tatapan kaget.


"Ya ampun... Luna, aku turut berduka ya atas kematian nenekmu"


"Luna~ akhirnya kamu masuk sekolah, kamu yang sabar ya.."


"Luna, kamu sudah belajar? kamu harus segera ikut ujian susulan kan?"


Begitulah ucapan siswi - siswi teman sekelas ku yang tiba - tiba mengerumuniku, aku terkejut dengan sambutan itu. Jujur saja dalam bayanganku aku melihat sikap dingin, cuek, dan acuh, namun yang terjadi malah sambutan hangat dari teman - teman sekelas ku. Aku membalas setiap pertanyaan mereka dengan sopan dan ramah, meski aku tahu aku sedang membohongi mereka.


Aku pun duduk di kursiku bersebelahan dengan Selena, ketika itu sebuah sentuhan dari jari menyentuh bahuku. Aku kaget dengan sentuhan itu lalu dengan segera menoleh ke belakang mencari tahu siapa gerangan yang mencolek ku, ternyata Alvin dengan wajah datarnya mencoba menarik perhatianku.


"Kita ini teman kan? kenapa kamu tidak menyapaku setelah dua minggu lebih tidak masuk sekolah?" tanyanya dengan nada datar khas Alvin, aku langsung memasang wajah jutek ku yang paling baik untuk menyambut pertanyaannya.


"Kenapa bukan kamu duluan yang menyapaku? kamu lihat tadi semua siswi menyapa dan menyambut ku lebih dulu" jawabku dengan kesal


"Karena kita ini teman, seharusnya aku memiliki keistimewaan dibanding siswi - siswi itu" jawabnya


"Nyebelin Mu gak hilang ya meski kita gak bertemu lebih dari dua minggu" timpal ku


"Terima kasih" masih dengan menyebalkannya Alvin menimpali ejekan ku


Manusia satu itu..... Andai saja dia bukan teman Selena, sudah pasti aku tinggalkan dia. Hasrat ingin mendepaknya sangat kuat.

__ADS_1


"Itu bukan pujian!!" bentak Selena begitu kesal, aku pun menghela nafas lalu kembali menghadap ke depan.


"Putra keluarga Gates mencari mu dan dia sampai menghantam pipi kakak kelas kita yang bernama Justin, apa kamu tahu?" celetuk Alvin


Aku terkejut dengan celetukan itu, sedangkan Selena sampai melotot dan berbalik kembali menatap Alvin. Reaksi Selena saat itu membuat aku yakin jika antara dia dan kak Justin menyembunyikan kejadian itu dariku, aku langsung menatap Selena dengan tajam agar dia berbicara jujur padaku.


Ada apa ini? kenapa mereka membohongiku? benarkah yang dikatakan manusia menyebalkan itu? Rasa sedihnya terasa dua kali, pertama karena dua orang sahabatku membohongiku dan yang kedua karena jika benar kak Justin pasti kesakitan karena pukulan kak Jester. Pangeraaaaan....! kenapa kamu harus arogan lagi?!


"Selena! apa itu benar?!" tanyaku dengan suara yang begitu menekan


"Eeh... i..itu... gak gitu ceritanya.. Luna kamu dengar dulu penjelasanku.." jawabnya terbata, lalu Selena pun menggantung kalimatnya sembari menatap Alvin yang berwajah datar seakan tidak bersalah itu dengan begitu tajam penuh kemarahan.


"Selena!! jelaskan cepat!!" ucapku lagi dengan paksaan, Selena kembali menatapku namun dia hanya diam.


Bagaimana bisa aku tahan untuk dibohongi apalagi itu menyangkut kejadian yang disebabkan karena ku. Aku sangat kesal pada diriku, kenapa harus membuat dua pria yang luar biasa baik itu menanggung hal tidak mengenakkan karena ulahku?!


"Aku... dan tetanggamu itu sudah sepakat untuk tidak menceritakan hal ini padamu, temanmu takut jika kamu tahu tentang ini maka kamu akan membenci kak Jester..." jawabnya


Hancur hatiku mendengar jawaban Selena, sifat yang begitu aku benci dari anak orang kaya ternyata tidak bisa hilang meski itu adalah dari pangeran impianku. Begitu arogannya mereka merasa jika semuanya harus berjalan sesuai dengan apa yang mereka inginkan, tidak bisakah mereka sedikit saja bersikap lebih manusiawi?


Aku menopang kepalaku dengan kedua tangan yang aku arahkan di kepala. Memikirkan semua hal tentang kak Jester, dimana aku tidak mampu lagi melakukan apapun untuk mengatasi semua kekecewaanku kepadanya. Tapi disisi lain aku sangat mencintainya, aku begitu nyaman ketika berada didekatnya. Entah apa yang aku harus lakukan kedepannya, tentang hubunganku dengan kak Jester.


Ditengah pikiranku itu aku merasakan cairan hangat keluar dari hidungku....


Panik, aku segera menutupi hidung dengan kedua tanganku. Selena paham jika aku sedang mimisan, dia segera memberikan jaketnya kepadaku untuk menjadi penyerap darah agar tidak berceceran kemana - mana lalu menuntunku menuju kamar mandi terdekat dikelas kami.


Aku menuju wastafel lalu membiarkan darah keluar dari hidung dan mulutku, Selena juga sudah bersiap untuk menopang ku jaga - jaga aku akan pingsan. Sendiku mulai terasa begitu ngilu dan juga memar - memar mulai nampak semakin jelas di kulit tanganku, aku pun terjatuh dengan nafas yang terengah - engah. Selena menopang tubuhku lalu menyandarkan aku tembok.


Dia mencoba menelepon seseorang dan tidak lama Kak Justin masuk kedalam toilet perempuan sembari membawakan aku obat - obatan milikku beserta air mineral botolan. Tanganku yang bergemetaran aku arahkan untuk mengambil obat - obatan itu, lalu segera meminumnya. Dalam posisi masih duduk bersandar pada tembok dekat wastafel aku mencoba melupakan rasa nyeri itu, tanganku aku arahkan menggenggam lengan kak Justin.

__ADS_1


"A... apa yang... terjadi... antara kamu.. dan kak Jester?" tanyaku dengan nafas yang terengah - engah dan rintih kesakitan


"Bukan saatnya kita membahas itu, aku pasti akan jelaskan ketika..." belum selesai kak Justin menjawab, aku memotongnya karena itu bukan jawaban yang aku inginkan.


"Se...karang..." timpal ku memaksanya, lalu kak Justin menghela nafas.


Siapapun yang menjadi aku tentu saja akan melakukan hal yang sama kan? memaksa untuk berkata jujur karena rasa bersalah didalam diri yang begitu besar. Kak Justin, maafkan aku! :(


"Jester tidak senang aku menutupi keberadaan mu, dia bersikap berlebihan kepadaku karena begitu emosi. Wajar, karena dia begitu merindukanmu dan dia merasa tidak berguna menjadi seorang pria karena tidak bisa menemukanmu. Dia terlihat sangat kebingungan, jika harus aku gambarkan maka bayangkan saja angsa jantan yang kehilangan pasangannya" timpalnya, aku perlahan melepaskan genggaman tanganku dari lengan kak Justin.


"Tidak!! aku tidak bisa menerima itu... aku tidak mau menerima alasan itu... tidak ada yang wajar dalam kekerasan..." ucapku dan air mataku pun pecah, Selena mendekap kepalaku dalam lingkaran tangan lalu menempelkan di bahunya.


"Luna... jangan bahas itu dulu ya, emosimu masih belum stabil.." celetuk Selena mencoba menenangkan ku


Aku berusaha untuk menghentikan tangisanku, namun percuma... air mataku benar - benar tidak mampu untuk aku bendung. Hingga bel berdering dan aku belum juga mampu untuk menghentikan tangisanku, aku menatap kak Justin dan Selena bergantian sembari memberi gestur agar mereka meninggalkanku ditempat itu namun keduanya kompak untuk menolak permintaanku.


Apakah masih mungkin aku bisa kuat dengan keadaan ini? rentetan dari penyakit yang menderita ku menimbulkan berbagai masalah untuk orang - orang yang aku sayangi. Apakah masih mungkin bisa ku tahan air mataku agar tidak jatuh ketanah? agar semesta tidak tahu jika aku sedang tidak baik - baik saja, agar semesta tidak tahu jika hatiku sangat sakit dengan keadaan ini!


Tapi jika tidak ku jatuhkan pada tanah setiap tetesan air mataku, bukankah masih ada angin yang berhembus lembut pada wajah yang aku basahi dengan air mataku dan ku seka sebelum akhirnya jatuh menetes pada tanah itu? sebuah hembusan yang menimbulkan sensasi dingin pada kulit bagian pipi yang basah kerena begitu kuatnya tangan ini menghapus tetesan air mata itu.


Hingga beberapa menit berlalu sejak bel sekolah berdering, aku akhirnya mampu untuk menghentikan tangisanku. Perlahan aku berdiri dan diikuti oleh Selena dan juga kak Justin, aku mencuci wajahku di wastafel, tidak lupa aku merapihkan make up ku untuk menutupi wajah pucat ku, dan juga membenarkan posisi wig yang sedikit miring di kepalaku itu.


Setelah siap, aku berbalik dan menatap Selena dan kak Justin dengan senyum lalu berjalan melewati mereka begitu saja. Aku membuka pintu kamar mandi dan terkejut dengan kehadiran kak Jester, kak Luke dan kak Harry yang seakan sedang menungguku sejak tadi, kami bertatapan mata sangat dalam namun masih terdiam tanpa kata.


"Luna..." celetuk kak Jester lalu aku memberikan gestur tangan agar dia diam.


"Lepaskan aku, aku tidak ingin lagi memiliki hubungan apa pun denganmu" timpal ku dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun.


Aku melihat wajah terkejut dari kak Jester setelah mendengar apa yang baru saja aku katakan padanya dengan tegas, aku tahu itu mengejutkannya namun aku sudah tidak mampu lagi untuk mentoleransi sikap arogannya. Aku mulai sedikit memahami apa yang ibu larang dari keluarga kaya, kini semua semakin jelas dan nyata kenapa ibu melarang ku untuk memiliki hubungan dengan mereka kecuali dengan keluarga Selena.

__ADS_1


__ADS_2