
Di keesokan harinya pada sore hari, apa yang dikatakan ibu benar - benar terjadi. Keluarga Parker menjemput keluargaku dan mengatakan jika ulang tahunku dan Selena akan dirayakan di rumah keluarga Parker, meski aku tahu tapi tetap saja aku terkejut. Selena selama ini benar - benar tidak mengatakan apa pun tentang perayaan ulang tahun kami yang akan dilaksanakan bersama - sama, aku pun panik dan mengatakan padanya jika aku tidak mau.
Tapi Selena tetaplah Selena, dia memaksaku dengan wajah memelas nya membuat aku tak kuasa lagi menolak. Beberapa orang asing yang tidak aku kenal masuk ke dalam kamarku, mereka mendandaniku dan Selena dengan sangat brutal. Aku sampai tidak ingat dengan wajah asliku ketika selesai, menatap wajahku disebuah cermin membuatku takjub, untuk pertama kalinya aku bahkan sanggup untuk memuji kecantikanku. Ayah dan ibu juga terkejut dengan penampilanku setelah selesai di dandani.
"Ya ampun anak ayah cantik banget" ucap ayahku ketika aku keluar dari kamar dengan penampilan seperti putri dalam cerita dongeng.
"Luna cantik kan tuan Lincoln?" timpal Selena terdengar begitu senang, ayah dan ibu pun tertawa dengan perkataan Selena.
"Selena~ haruskah sampai seperti ini?" tanyaku keberatan
Benar - benar seperti sebuah cerita dalam dongeng bukan? anak seorang sopir pribadi diperlakukan seperti putri oleh keluarga majikannya. Namun itu sungguh terjadi padaku, kebaikan hati keluarga Parker membuatku merasa kebahagiaan bisa datang dari mana saja. Walau tentu saja itu semua tidak mampu menghilangkan rasa minder ku akan keluarga yang kaya raya.
"Harus dong, yakan tuan dan nyonya Lincoln?" lagi dan lagi Selena mencoba memaksaku dengan bantuan dari ayah dan ibu, mereka tersenyum manis menatapku dengan anggukan kepala.
"Tuh... ayo kita segera pulang~" ucap Selena lagi sembari mendorongku untuk keluar
"Tu... tunggu! tunggu Selena~" aku berusaha menolaknya namun Selena tidak mempedulikan aku
"Tunggu apa lagi sih?" tanya Selena namun tetap sambil mendorongku keluar dari rumah
"Aa... aku anak sopir pribadi keluargamu! aku gak pantas mendapatkan ini!" akhirnya terpaksa aku ucapkan apa yang menggangguku sejak tadi, lalu Selena pun menghentikan dorongannya dan berbalik untuk menatap mataku dengan ekspresi marahnya.
"Coba katakan lagi" celetuk Selena terdengar sangat marah
Celetukan Selena mengingatkan aku ketika kami masih berusia lima tahun, ketika itu aku dan Selena mengadakan pesta ulang tahun bersama dengan anak - anak di perumahan Selena. Ketika tiup lilin, aku dan Selena bersama - sama meniupnya, namun ada satu anak yang mengatakan "Kenapa anak sopir juga ikut meniup lilin? jijik aah".
Setelah ucapan itu....
Pesta ulang tahun yang harusnya berjalan dengan bahagia, berubah menjadi pesta ulang tahun penuh keributan dan kekacauan. Semua terjadi seketika saat Selena mengangkat kue ulang tahun kami dan melemparkannya ke wajah anak itu, sembari berkata "Apa kamu bilang?! dia kakak perempuanku!! jangan berkata yang menyakiti hatinya!!"
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Selena melarang ku untuk memanggilnya dengan kata 'nona' di depan namanya. Sejak saat itu antara aku dan Selena seakan tidak memiliki batasan apapun, kami benar - benar seperti kakak adik yang saling melengkapi. Karena itulah, celetukan penuh amarah Selena saat itu di depanku membuatku menyesal sudah mengatakannya.
"Katakan lagi yang tadi kamu ucapkan!!" bentak Selena lagi sampai membuatku tersentak, aku menundukkan kepalaku untuk menghindari menatap matanya.
"Maaf... aku salah..." ucapku penuh penyesalan
"Bagus kamu sadar~ aku baru saja ingin memakan mu hidup - hidup" celetuk Selena menggodaku, aku tertawa kecil mendengar celetukan itu.
Selena menarik lenganku untuk membawaku ke dalam mobilnya, namun aku melihat kak Justin di pojokan pagar rumahku sedang berdiri menatapku dengan senyuman. Ketika tangan Selena lepas dari lenganku, aku meminta waktu kepada Selena untuk berbicara dengan kak Justin. Selena hanya menganggukkan kepala dan aku pun berlari kecil mendekati kak Justin, aku berniat untuk mengajaknya saat itu.
"Hei kak, mau ikut di acara ulang tahun kami?" ajak ku kepada kak Justin.
"Sepertinya tidak, berada di tengah orang - orang kaya tidak pernah membuatku nyaman" tolak kak Justin kepadaku, aku tersenyum mendengar penolakan yang aneh itu.
"Begitu ya... lalu kamu kesini mau ngapain? mau mengunjungi ku?" tanyaku lagi, kak Justin hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku cuma kaget akan sesuatu ketika keluar rumah dan melihatmu" jawab kak Justin dengan senyumannya, aku hanya memiringkan sedikit kepalaku tanda jika aku tidak paham dengan jawaban itu.
"Hah? dimana?!" tanyaku penasaran, kak Justin hanya tertawa lalu menunjuk kebelakang ku tepat mobil Selena berada, aku menoleh kebelakang dan ku dapati Selena mengintip dari dalam mobil.
"Temanmu sudah tidak sabar menunggumu, pergilah dan bersenang - senanglah" ucap kak Justin
Dan aku membiarkan begitu saja kebingunganku akan ucapan kak Justin kepadaku tentang sosok bidadari yang dia maksud itu.
Aku menoleh menatap kak Justin lalu tersenyum, setelah mendapatkan senyum balasan darinya aku pun berlari untuk masuk ke dalam mobil Selena. Terlihat antusias Selena menyambut ku masuk ke dalam mobilnya, tidak lupa dia bertanya tentang kak Justin dan kenapa aku tidak mengajaknya jika dia adalah temanku. Aku membeberkan alasan dan beberapa informasi kak Justin kepada Selena, termasuk fakta jika dia akan menjadi kakak kelas kita di SMA nanti.
Acara pesta ulang tahun dilaksanakan tepat pada pukul tujuh malam, berbagai tamu undangan terlihat datang meramaikan pesta yang diadakan di rumah keluarga Parker. Tapi dari sekian banyak orang, selain teman - teman sekolah dan keluarga kami saat itu aku tidak mengenal mereka satu pun. Hingga suatu ketika aku tersadar jika bisa saja aku akan bertemu dengan Naomi, mungkin ini akan menjadi kesempatan langka ku bisa bertemu dan berteman dengannya.
"Apa Naomi akan hadir, Selena?" tanyaku
__ADS_1
"Aku ragu, Naomi bilang dia ada acara sendiri menghadiri talk show apa lah gitu" jawab Selena dengan kecewa, aku mengernyitkan dahi setelah mendengar jawaban Selena.
"Ooh iya aku lupa bilang kalau Naomi sekarang adalah selebgram, pengikutnya banyak loh. apa kamu gak punya aplikasi ingram?" tanya Selena kepadaku, aku tersenyum sinis menatapnya.
"Apa handphone ku bisa dibuat untuk itu?" tanyaku padanya dengan sindiran, mendengar sindiran ku saat itu tiba - tiba Selena seakan teringat sesuatu.
Lalu dia menarik lenganku menuju masuk kedalam rumah keluarga Parker, dia terus menarik ku hingga sampai di kamarnya. Didalam kamar Selena mendekati meja belajarnya lalu mengambil sebuah kotak kecil dengan balutan kertas kado, dia kemudian berjalan mendekatiku dan memberikan kado itu kepadaku.
"Apa ini?" tanyaku penasaran, Selena tertawa lalu memberikan gestur tangan agar aku segera membukanya.
Aku pun membuka bungkusan itu dan aku mendapati sebuah handphone keluaran terbaru, aku terkejut dengan apa yang aku lihat saat itu sampai aku tidak dapat berkata - kata. Aku menatap Selena namun tidak aku tunjukkan senyumku, aku merasa apa yang Selena lakukan sudah melebihi batas kewajaran.
"Itu handphone yang sama dengan milikku, warnanya juga sama dan aku ingin kamu menggunakan handphone itu" ucap Selena terdengar antusias, dia juga menunjukkan wallpaper dilayar handphonenya yang tergambar momen kami berdua saat tadi memotong kue ulang tahun bersama - sama namun saat itu aku melihat foto itu terpotong dengan fotoku yang nampak di handphone miliknya.
"Kamu gunakan wallpaper yang sama denganku dan potong pada bagian gambarku, jadi ketika handphone kita bersebelahan maka momen kita merayakan ulang tahun bersama ini seakan menjadi satu ke satuan" ucapnya lagi
"Apa ini... tidak terlalu berlebihan?" tanyaku ragu, Selena pun menunjukkan ekspresi juteknya padaku
"Tidak ada kata berlebihan, apa kamu keberatan dengan itu?" tanya Selena menekan ku
"Eeh tidak! aku bukan berkata aku keberatan dengan idemu, tapi aku berbicara tentang... kebaikanmu dan keluargamu kepadaku dan keluargaku... aku cuma anak seorang sopir pribadimu, aku tahu kamu akan marah lagi mendengar ku berkata seperti ini lagi... tapi aku harus mengatakannya karena aku merasa... kalian sudah terlalu berlebihan padaku..." jawabku, lalu Selena memelukku dengan erat.
Memiliki Selena dalam hidupku adalah sebuah anugrah yang besar, dia adalah satu - satunya sahabatku yang tidak pernah meninggalkanku dalam kondisi apapun. Dan aku... aku takut untuk meninggalkannya dengan kematianku. Perayaan ulang tahun ini, entah aku harus bahagia karena usiaku bertambah atau harus menangis karena vonis itu semakin dekat. Aku tidak akan siap dengan kenyataan itu, Selena adalah hal berharga bagiku.
"Luna~ kamu satu - satunya temanku yang tidak pergi ketika aku dibully habis - habisan saat kita masih SD. Bahkan kamu rela menggantikan ku untuk jadi korban bully mereka, lalu bagian mana yang bisa kamu sebut aku berlebihan padamu?" tanya Selena
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi saat itu, aku hanya diam dan hanyut dalam pelukan hangat Selena. Tidak lama Selena melepaskan pelukannya lalu memintaku untuk membuka dus handphone baru yang Selena berikan kepadaku, dengan senyuman aku pun membuka dus handphone baru itu dan melakukan penyetelan sesuai permintaan Selena.
Setelah selesai, kami kembali menuju tempat pesta sampai jam sepuluh malam. Dengan penuh kebahagiaan, aku sempat melupakan tentang kondisi kesehatanku karena larut dalam suasana bahagia itu dan berharap... aku bisa terus merasakan kebahagiaan itu selamanya...
__ADS_1
Meski itu.... mustahil untukku...