Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 39


__ADS_3

"Oi Oi putri bulan, apa yang baru saja kamu katakan?" tanya kak Luke, aku pun menoleh menatapnya


"Apa aku berkata kurang jelas? baik, aku akan katakan sekali lagi. Tolong lepaskan aku, aku tidak mau lagi punya hubungan apapun dengan kalian!!" jawabku dengan tegas


"Hei Luna! bercanda mu gak lucu!" bentak kak Harry, kali ini tatapanku beralih pada kak Harry.


"Apa aku terlihat sedang bercanda kak? bagaimana cara agar kamu menganggap aku serius jika yang seperti ini saja kalian anggap bercanda?!" timpal ku


Hari itu aku marah semarah - marahnya, aku kesal... kenapa?  kenapa pangeranku masih saja arogan dengan segala keistimewaan yang dia punya?


"Lu.. Luna... gak lucu tahu... dua minggu ini kamu menghilang dan tiba - tiba kamu..." belum selesai kak Jester berkata, aku memotongnya dengan tatapan mata yang tajam aku menatapnya.


"Aku tidak sedang bercanda, sekali lagi aku serius!! Lepaskan aku!!" bentak ku dengan penuh amarah


Seketika suasana menjadi hening, tubuhku bergetar hebat karena emosi. Kini aku menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan mataku yang mulai berkaca, aku tidak tega menatap wajah sedih dari pangeranku.... ternyata benar, aku masih sangat mencintainya meski dia membuatku sangat kecewa. Hatiku pun terasa begitu sesak dan ketika aku sudah tidak kuat untuk menahannya... aku beranjak pergi meninggalkan pangeranku disana.


Aku berlari menuju kelasku dengan mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis, diikuti Selena kami pun masuk kelas yang ternyata sudah ada guru didalamnya. Aku membuka pintu dan meminta maaf pada guru dengan mengatakan jika aku ada di kamar mandi, beruntungnya aku guru langsung mengizinkan aku untuk masuk ke dalam kelas.


Tidak lama ada guru lain yang masuk ke dalam kelas dan mencariku untuk segera menghadap ke ruang guru untuk segera berkumpul bersama siswa - siswi yang tidak mengikuti ujian semester satu. Aku berdiri lalu kembali meminta izin pada guruku didepan kelas, lalu segera berjalan mengikuti guru yang mencariku itu.


Disebuah ruangan tempat untuk siswa dan siswi mengikuti ujian susulan, aku bertemu dengan kak Jester.... "Hah? kak Jester juga ikut ujian susulan?" tanyaku dalam hati, kami sempat saling menatap namun aku membuang muka lalu duduk di empat kursi sebelah kak Jester. Aku tahu dia sangat ingin berbicara denganku, namun antara takut untuk memulai obrolan atau karena bukan saat yang tepat.


Guru datang dan mengatakan jika ujian susulan akan diadakan, mencampur semua siswa dan siswi yang mengikuti ujian susulan dalam satu kelas agar kemungkinan kami saling contek tidak terjadi. "Aaah sudahlah, apa peduliku? aku akan mati sebentar lagi" ucapku ketika lembar soal diberikan padaku, aku mengerjakannya sebisaku dan berharap bisa segera meninggalkan kelas itu.


Tidak banyak berpikir dan beberapa soal aku hanya mengandalkan instingku untuk menjawab, aku mengisi lembar soal itu dengan asal - asalan. Berharap aku akan selesai lebih dulu, yang aku dapati malah kak Jester keluar lebih dulu daripada aku. "Yang benar saja? serius kak?! kamu pasti asal saja kan memilih jawabannya?!!" ucapku dalam hati.


tersisa lima belas menit sebelum ujian berakhir, aku memberikan lembar soalku kepada guru lalu segera ingin meninggalkan kelas.

__ADS_1


"Luna Lincoln, kamu jangan jauh - jauh dari kelas ini karena ujian berikutnya akan segera diadakan" celetuk guru ketika aku hendak keluar, aku menoleh menatap guruku.


"Iya pak, apa aku akan sendirian kali ini?" tanyaku


"Tidak, tapi kamu cuma bersama Jester Gates karena hanya kalian berdua yang tidak ikut semua ujian semester kali ini" jawab guru


Aku pun terkejut dengan jawaban guruku, "Bagaimana mungkin kak Jester tidak mengikuti ujian sama sepertiku? apa dia sengaja? aah tidak mungkinkan, untuk apa juga?" tanyaku dalam hati, aku pun berjalan keluar kelas dan disanalah aku melihat kak Jester duduk di sebuah kursi tunggu dan menumpu tubuhnya dengan tangan yang dia letakkan di paha.


Apa memang Tuhan mentakdirkan aku dan kak Jester bersatu? kenapa setelah susah payah aku menjauhinya tetapi kami masih memiliki kesempatan untuk bersama. Tidak.... ini pasti hanya kebetulan.


Mata kami kembali bertemu ketika kak Jester mengangkat kepalanya, aku sempat menatapnya dengan tatapan penuh rasa marah lalu membuang muka dan berjalan meninggalkannya.


"Kamu tidak akan dipanggil untuk kedua kalinya, kamu akan dianggap gugur jika meninggalkan tempat ini dan telat untuk kembali" celetuk kak Jester


Aku menghentikan langkahku lalu berbalik dan berjalan mendekati kursi tunggu, ada jarak empat kursi antara aku dan kak Jester. "Jangan menangis... jangan menangis Luna... kuatkan tekad dan juga hatimu... aku mohon tubuhku, bekerjasama lah untuk saat ini" ucapku dalam hati


"Te.... terima kasih.." timpal ku, kami pun terdiam kembali untuk waktu yang cukup lama.


"Maaf aku bertindak kasar... aku tidak dapat mengontrol emosiku..." celetuknya lagi


"Kamu tahu alasan aku bersikap seperti ini padamu? kayaknya kamu belajar cepat, apa kak Justin yang mengatakan apa alasanku ingin pergi darimu?" tanyaku dengan sindiran, kak Jester menoleh menatapku dan kami pun saling bertatapan mata.


"Kami masih tidak saling bicara meski Justin mencoba untuk bisa akrab lagi denganku, jadi aku hanya menduga - duga kenapa kamu marah padaku" jawab kak Jester dengan suara yang terdengar begitu sedih dan menyesal, aku pun terdiam dan terus menatap matanya yang nampak berkaca itu.


Oooh ayolah Luna, menyedihkan sekali wajah pangeranmu itu! Tapi... kesempatan dia untuk arogan akan selalu terbuka lebar dan aku kesal... masih sangat kesal padanya.


"Kenapa... kamu ikut ujian susulan?" tanyaku, kak Jester kembali menundukkan kepalanya menatap lantai didepannya.

__ADS_1


"Aku berusaha mencari mu selama itu... temanmu dan Justin mengatakan jika kamu diluar negeri tapi entah kenapa aku merasa kamu tidak jauh dari sekolah ini... aku terus berusaha melacak mu dengan semua fasilitas yang aku miliki, tapi tetap saja aku tidak berhasil menemukanmu... hanya tersisa rumah sakit Scott, namun aku tidak memiliki akses kesana..." jawabnya, aku pun terkejut dengan jawaban kak Jester lalu aku mendengar suara helaan nafas beratnya.


"Lucu... ketika aku melihat rumah sakit Scott aku merasa kamu ada disana, tapi mana mungkin kamu berada ditempat seperti itu... aku pun mengabaikan intuisiku dan sekarang ketika kamu berada di hadapanku setelah sekian lama... kamu ingin mengakhiri semuanya..." ucap kak Jester dengan suara yang terdengar begitu sedih


Yang benar saja, apa itu yang disebut ikatan cinta? tapi.. dia bahkan belum memintaku menjadi kekasihnya, mana mungkin hal itu terjadi?! Jangan - jangan... ini benar - benar takdir dari Tuhan. Oh pangeran, jika memang kamu mencintaiku kenapa tidak segera kamu memintaku menjadi kekasihmu? Aduuuh masih saja berharap :( ... Aku kan masih kesal kepadanya!


"Ka... kamu tidak harus melakukan hal tidak berguna seperti itu! kamu hanya... merugikan dirimu sendiri" timpal ku, namun suara tawa kecil kak Jester pun terdengar setelah mendengar perkataanku.


"Aku tahu kamu akan mengatakan hal itu ketika mendengar alasan kenapa aku tidak ikut ujian semester, jangankan kamu... aku pun tidak paham kenapa aku begitu keras berusaha untuk mencari mu... aku seperti kehilangan sesuatu yang tidak mampu untuk aku relakan hilang dari hidupku..." ucap kak Jester


Entah apa yang harus aku katakan untuk menanggapi ucapan kak Jester, kenapa aku yang kini menjadi penjahatnya? kenapa aku yang kini menjadi orang tanpa perasaan? di depanku adalah sosok pria yang sangat mencintaiku namun aku melukai hatinya dengan perkataanku, betapa jahatnya aku padanya....


"Tapi kamu benar... aku memang tidak pantas untuk menjadi pendampingmu, dua kali aku mengecewakanmu dan itu sudah sangat menunjukkan seberapa buruknya aku sebagai seorang pria yang mengaku jatuh cinta padamu" ucap kak Jester sembari kembali menatapku dengan wajah sedihnya, kini aku sudah tidak mampu lagi menahan air mataku.


Wajah kak Jester pun terlihat kaget melihat aku kini berlinang air mata, tapi sekeras apapun aku mencoba untuk menahan tangisanku... air mata ini sudah tidak mampu aku tahan lagi. Aku merasa sebagai seorang pembunuh yang telah menancapkan pisau tepat pada jantung korbanku, kini hanya tersisa penyesalan yang menghantui hati dan pikiranku.


"Lu... Luna, kenapa kamu menangis?" tanya kak Jester


"Kamu gak tahu apa yang sebenarnya terjadi kak... aku yang tidak pantas untuk menjadi pendampingmu, kamu berhak untuk mendapatkan yang lebih baik dariku... jika saja aku bisa tarik kutukanku, aku akan melakukannya sekarang juga walau itu harus mempertaruhkan nyawaku...." ucapku terbata, aku menangis terisak - isak ketika itu...


"Ta...tapi aku cuma ingin kamu, aku tidak ingin yang lain..." timpalnya sembari berusaha mendekatiku, aku pun memberinya gestur tangan agar dia tidak semakin mendekatiku.


"Kamu gak ngerti... kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu hadapi ke depannya... aku hanya akan menjadi duri dalam hatimu, kamu tidak pantas untuk itu kak... tolong mengerti lah..." ucapku lagi mencoba meminta pengertiannya, tiba - tiba kak Jester menggenggam kedua tanganku dan menunduk dan meletakkan dahinya di tanganku dan tangannya yang kini bergenggaman.


"Aku tidak peduli.... hatiku terasa sakit saat kamu jauh dari aku, aku terlalu candu denganmu... tolong jangan jahat seperti ini padaku..." suara kak Jester terdengar bergetar ketika mengatakannya...


Tahukah hatiku juga terasa sakit ketika mendengarnya begitu merendahkan dirinya di hadapanku? aku tidak tega melihatnya begitu merendahkan diri hanya untuk wanita berpenyakitan ini... dia pantas mendapatkan yang jauh lebih baik daripada aku... dia sangat pantas dan suatu saat dia akan mendapatkannya...

__ADS_1


__ADS_2