Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 4 : Episode 6


__ADS_3

Ditengah lagu aku terhenti memainkan gitar akustik ini dan tertunduk, jari jemariku tidak mampu lagi aku gerakkan untuk terus mengiringi Luna bernyanyi karena jari - jari itu gemetaran. Mataku pun terasa buram karena air mata menggenang, aku ingin menahannya namun justru membuat tubuhku bergetar. Aku merusak penampilan terakhir Luna yang dia inginkan, betapa bodohnya aku sampai hal seperti ini saja aku tidak mampu untuk lakukan...


"Cukup... aku tidak mampu meneruskannya... maaf" terisak aku mengatakannya, lalu aku mendengarnya menghela nafas.


Tidak pernah terbayangkan bagiku akan berada di situasi yang begitu menyiksa batinku, menyaksikan dan mendengarkan suara dari sosok yang pernah begitu aku cintai dan juga memberikan aku kebahagiaan dalam kehidupan masa laluku menyanyikan lagu tentang perpisahan disaat seperti ini. Karena aku yakin Luna menyanyikan lagu ini terkhusus untukku, lagu ini juga menggambarkan suara hati Luna.


Suara indahnya terasa memberikan suasana dikamar ini menjadi terasa begitu sedih, Luna benar - benar membawakan lagu ini dengan penuh penghayatan untuk menyampaikan setiap bait dengan sangat baik di telingaku dan membuatku hanyut dalam kesedihan. Jujur saja aku berharap ini hanyalah mimpi buruk ditengah malam, cintaku mungkin sudah hilang untuknya tapi kenangan dan kebahagiaan itu masih bisa aku rasakan dengan baik.


Luna meneruskan lagu meski tanpa aku mendampinginya, aku seperti orang bodoh yang hanya bisa terdiam dengan isak tangisku sendiri didepan kamera. Sesuai yang Luna tulis sebelumnya, ini adalah salah satu kenangan yang dia inginkan seperti isi dalam lagu. Aku senang dia bahagia dengan apa yang sudah terjadi ini, meski aku harus menahan maluku sekarang ketika melihat isi dalam video itu. Yaah... aku hanya bisa menangis selama lebih dari tiga menit berlalu, memalukan...


Ketika Luna selesai bernyanyi, dia menarik nafasnya dalam - dalam lalu menepuk pundakku. Ketika aku menoleh saat itu dia menunjuk kearah ponselku tanpa berkata apapun, aku mengerti apa yang dia inginkan namun tetap tidak berkata apapun saat itu... aku tahu dia tidak bisa lagi berkata karena saat dia mengucapkan sesuatu aku langsung tahu dia sedang berusaha keras menahan tangisannya, seperti itulah Luna di depanku...


Aku berjalan untuk mengambil ponsel itu lalu memberikannya pada Luna agar dia dapat melihat penampilannya, namun tangannya memberi gestur jika dia tidak ingin melihat penampilan kami seraya berkata...


"Tidak perlu, itu pasti penampilan yang buruk. Aku cuma ingin itu menjadi kenang - kenangan untukmu, semoga kamu tidak menghapusnya.." pinta Luna padaku, aku pun mematikan layar ponsel itu lalu aku masukkan kedalam saku.


Ketika aku hendak duduk kembali, Luna kembali mengusirku dengan berkata...


"Pulang lah kak..." celetuk Luna, aku kembali dikejutkan karena dia mengusirku untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut - turut. Aku menoleh menatapnya dan ingin berkata "Biarkan aku menemanimu disini" namun belum juga itu tersampaikan, Luna mengucapkan kata perpisahan...


"Terima kasih, sampai ketemu besok~" dengan nada manja Luna mengatakannya, senyumnya yang merekah saat itu membuatku berpikir "Benarkah kamu ingin aku pergi dari sini?"


Aku bukan kehabisan kata - kata seperti yang Luna tuliskan, aku hanya tidak ingin berdebat dengannya seperti yang sudah - sudah meski berat hati ini untuk meninggalkan Luna. Hatiku menjerit bukan karena dia mengusirku, tapi karena aku tahu dia membutuhkanku disini. Tapi memang seperti inilah Luna yang aku kenal, dia selalu sok tegar dan kuat di hadapanku seakan dia tidak membutuhkanku untuk membantunya. Dari dulu dia selalu seperti ini, sudah tidak membuatku heran...


Tidak butuh waktu lama untukku bersiap pulang, aku juga tidak berusaha untuk menunda - nunda untuk pergi dari kamar ini meski aku berharap Luna menahan ku. Aku sangat mengharapkannya berkata jujur dan memintaku untuk menemaninya disini, tapi sampai aku diluar kamar pun Luna tidak menahan ku. Dan terjadi lagi sesuai yang aku duga... ketika aku menutup pintu kamar dan terdiam beberapa saat didepannya, aku mendengar Luna kembali menangis terisak. Beberapa kali aku mendengarnya menjerit meski dia berusaha meredamnya dengan tangan, tapi suara jeritannya masih juga dapat aku dengar dari luar kamar.


Sesuai dengan janjiku pada papa, aku beranjak pergi dari hotel karena aku yakin Luna tidak akan mencariku meski aku sudah menunggunya seharian penuh seperti hari ini. Aku beristirahat di hotel dan hanya berdiam diri didalam kamar tanpa melakukan apapun, sesekali aku menatap video hasil rekaman antara aku dan Luna yang menyanyikan lagi All I Ask itu. Mataku terpaku menatap layar dan termenung melihat wajah Luna yang terlihat begitu tegar dengan semuanya, "Kenapa kamu bisa sekuat itu? bagaimana caramu melatih semua kemampuan itu?" tanyaku dalam hati


Tidak terasa hari pun berlalu, ketika pagi menjelang ketika itu aku terbangun dengan layar ponsel masih menampilkan video hasil rekamanku dengan Luna. Aku menatap jendela kamar yang gordennya tidak aku tutup dan seketika itu aku tersadar jika pagi sudah tiba, ini adalah hari kelima kami di Paris dan bukan seperti yang Luna tulis sebagai hari ketiga.


Aku meraih ponselku dan kembali ku putar video itu, suara Luna masih saja membuatku merasa sedih. Termenung aku menatap video itu dan telingaku juga fokus untuk mendengarkan suara Luna yang tidak gemetaran sedikitpun menyanyikan lagu itu, "Betapa tegar nya kamu, Luna" gumamku ketika itu. Aku malu pada diriku sendiri dengan apa yang terjadi didalam rekaman itu, bagaimana bisa aku kalah tegar dibanding Luna yang lebih menderita dariku?


Seketika itu aku melamun sampai suara ketukan pintu kamar terdengar, aku tersentak lalu beranjak dari kasur untuk menatap pintu kamar. Sejenak aku terdiam dan memastikan itu bukan hanya halusinasi telingaku mendengar pintu terketuk oleh seseorang, sampai suara ketukan kedua pun terdengar aku segera berjalan untuk membuka pintunya.


Dari celah pintu yang terbuka itu aku melihat Naomi dengan raut wajah datarnya dia menatapku, aku pun membuka pintu lebih lebar lagi namun masih terkejut dengan kehadirannya di pagi ini.

__ADS_1


"Pagi Jess..." sapanya sedikit gemetar, sepertinya ada ketakutan didalam hatinya saat itu.


"Kenapa.. kamu disini...?" tanyaku heran, aku tidak percaya dia datang kesini tanpa pemberitahuan.


"Selena... sudah gak mampu untuk aku tahan, dia bilang akan melakukan apapun buat segera menyusul Luna. Kamu tahukan seberapa kuat ikatan mereka berdua?" jawab Naomi setalah sebelumnya dia terdengar menghela nafas, namun jawaban itu hanyalah penjelasan agar aku tidak salah paham dengan kehadirannya disini.


"Tapi... Luna ingin..." belum selesai aku berkata, Naomi memotong


"Kami tidak akan mengganggu rencana kalian berdua, kamu dan Luna bisa lanjutkan rencana kalian dan tidak usah pikirkan kami" timpal Naomi terdengar begitu tenang, ketika itu entah kenapa hatiku dihantui rasa bersalah seakan aku sedang ketahuan berselingkuh darinya.


"Kenapa? aku tidak apa - apa kok, aku... cuma mengkhawatirkan mu, semua mengkhawatirkan keadaanmu... setidaknya, izinkan aku berada di sisimu..." ucap Naomi yang terdengar begitu khawatir kepadaku


Dua wanita yang dekat denganku menunjukkan seberapa tegar hatinya menghadapi ku, seketika itu aku merasa menjadi seorang pria bodoh yang tidak dapat melakukan apapun tanpa membuat dua wanita ini mengkhawatirkan ku. Selalu saja terjadi... aku selalu mendengar dua wanita ini mengatakan khawatir akan keadaanku, dimana aku merasa aku baik - baik saja. Aku tidak paham sebenarnya apa yang mereka pikirkan tentangku, aku sampai kehabisan kata - kata...


"Kamu sama siapa saja kesini?" tanyaku


"Aku, Selena, kedua orang tua Luna, Luke, Harry, Justin dan Grece... mereka saat ini menjenguk Luna langsung di rumah sakit. Papa yang memberitahu kami dimana Luna dirawat, mereka saat ini bersama papa" jawab Naomi, lalu aku mempersilahkan Naomi untuk masuk kedalam kamarku.


Saat Naomi sudah masuk kedalam kamar, aku pun menutup pintu kamar itu. Aku melihat punggung Naomi dari belakang yang sedang berjalan menyusuri kamar dan dia terhenti ketika berdiri tepat didepan kasur, matanya menoleh kearah kiri dan terpaku ketika itu. Aku tidak tahu apa yang menarik perhatiannya sampai Naomi meraih ponselku dan dia menatap apa yang ditampilkan didalam layar itu, "Aaah Sial, itu video ketika aku dan Luna" ucapku dalam hati.


"Kamu... baik - baik saja?" tanya Naomi dan itu mengagetkanku, kembali aku tatap matanya dengan raut wajah terkejut ku.


"Apa?" tanyaku karena aku tidak percaya dengan yang aku dengar, disaat seperti ini pun dia masih mengkhawatirkan ku. Tidak ada kecemburuan sama sekali dari suara yang Naomi lontarkan untukku setelah melihat video itu, dia malah bertanya tentang keadaanku.


"Aku bilang... apa kamu baik - baik saja?" Naomi mengulang pertanyaannya dengan nada yang terdengar lebih tegas lagi, aku hanya terdiam dengan tatapan mata yang tajam menatap Naomi.


"Kamu terlihat... gemetaran, sampai membuatmu tidak mampu untuk terus memainkan gitar itu. Hatimu pasti sakit saat ini.. bagaimana perasaanmu? apa benar kamu baik - baik saja seperti yang kamu katakan padaku?" tanya Naomi lagi karena mungkin dia melihatku hanya membatu seperti orang bodoh


"Aku... baik - baik saja... Naomi" jawabku terbata


"Kalau hatimu lelah... kamu tidak perlu berjuang terus sendirian, bersandar lah padaku. Istirahatlah dan pulang sejenak" dengan lembut Naomi mengatakannya


Entah kenapa beban di hatiku kini terasa begitu berat seketika itu, aku berjalan lalu memeluknya dengan erat meski aku tidak mengatakan apapun. Kami saling berpelukan cukup lama ketika itu dan benar - benar hanya terdiam tanpa suara sedikitpun, tidak lama Naomi pun melepaskan pelukannya dan dia duduk bersandar di kasur. Dengan gestur tangan dia memintaku untuk merebahkan tubuh dengan paha Naomi sebagai bantal untukku, aku hanya menurutinya dan aku lakukan perintahnya.


Tangan lembutnya mengelus kepalaku perlahan, dia menemaniku sampai hatiku terasa siap untuk kembali bertemu dengan Luna di rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang membuat Naomi yakin aku sudah siap, seakan dia tahu jika aku siap dan saat itu tangannya berhenti membelai lembut rambutku. Aku bangun dari rebahanku, dengan tatapan mata dan gestur tangan aku mengatakan pada Naomi jika aku ingin kerumah sakit untuk bertemu Luna.

__ADS_1


Kami pun berjalan keluar kamar untuk menuju rumah sakit, didepan lobby aku hendak memanggil taksi namun Naomi menolaknya dengan mengatakan dia ingin menikmati perjalanan menuju rumah sakit dengan jalan kaki. Sebenarnya saat itu aku tidak tahu kenapa dia meminta hal melelahkan seperti itu, tapi dipertengahan jalan akhirnya aku paham kenapa Naomi menyarankan kami berjalan. Udara pagi hari saat itu seakan memberiku tenaga baru untuk bisa menenangkan gejolak emosi yang ada di hatiku, ini seperti yang pernah aku ajarkan padanya dulu dipuncak bukit pinggir kota di negara kami.


Memang membutuhkan waktu agak lama ketika itu, namun pada akhirnya kami pun sampai juga. Kini hatiku terasa lebih kuat dengan semua perlakuan yang Naomi berikan padaku, aku merasa lebih siap untuk bertatapan mata dengan Luna.


Didepan kamar Luna tanganku membuka pintu perlahan, disana aku melihat Luna, Selena, kedua orang tua Luna, Justin dan Grece berdiri mengelilingi brankar Luna. Mataku dan mata Luna sempat bertemu dan aku melihatnya terkejut entah kenapa, sebelum pada akhirnya tatapan mata Luna berpaling menatap Naomi dan dia berkata...


"Naomi~ aku kangen~" seketika itu suara Luna membuat Naomi menangis, Naomi sedikit berlari mendekati Luna dan berkata...


"Cepat sembuh ya..." timpal Naomi, saat itu Luna hanya mengangguk beberapa kali.


"Gimana keadaanmu? apa lebih baik?" tanya Naomi


"Aku merasa lebih sehat dan lebih bertenaga, perawat disini lebih baik daripada dirumah sakit ku dulu. Sayangnya kadang - kadang aku tidak mengerti apa yang mereka katakan, jadi aku hanya tersenyum dan mengangguk saja ketika mereka mengatakan sesuatu padaku" dengan sedikit suara tawa Luna menjawabnya


"Luna.. ini jadwal bioskop terbuka musim panas, tidak jauh dari sini tapi... kamu beneran mau pergi hari ini?" celetuk Selena ketika itu, seketika itu aku pun terkejut dengan apa yang Selena katakan.


"Hah?!! gak, gak boleh!! kamu masih sakit!!!" terdengar marah Naomi mengatakannya, aku merasa senang Naomi yang mengatakannya karena jika itu aku pasti Luna akan membantahku.


"Aku sudah izin dokter kok dan dokter mengizinkanku" timpal Luna dengan nada yang terdengar senang tanpa beban sedikit pun, aku segera menoleh menatap ayah dan ibu Luna yang berbanding terbalik dengan ekspresi Luna ketika itu.


Ayah dan ibu Luna seperti tertekan dan juga terlihat jelas begitu khawatir dengan permintaan Luna, dari sana aku semakin yakin aku harus turun tangan untuk menghentikannya. Ini tidak boleh dibiarkan, Luna sudah terlalu egois dengan semua keinginannya sampai membuat kedua orangtuanya menjadi sedih. Aku segera berbalik dan ingin berbicara degan dokter, apa benar Luna sudah mendapatkan izin itu.


"Aku akan temui dokter" celetukku ketika itu seraya keluar dari kamar Luna.


Di koridor tepat didepan kamar Luna, aku melihat papa, Luke, dan Harry berjalan bersama mendekatiku, aku melihat Harry melambaikan tangannya ketika melihatku. Ketika kami sudah berdekatan, saat itu Harry bertanya padaku...


"Hei Jester, mau kemana?" tanya Harry


"Aku mau menemui dokter yang menangani Luna, kata Luna dia mendapat izin untuk datang ke festival bioskop terbuka hari ini" jawabku agak kesal, ketika itu aku melihat Harry menatap papa.


"Yah memang benar yang dikatakan Luna, dia dapat izin khusus buat melakukannya" timpal papa terdengar tanpa beban, mendengar ucapan papa ketika itu aku menjadi semakin heran sampai dahiku terasa mengerut.


"Kenapa dokter memberinya izin? apa itu bukan tindakan..." belum selesai aku berkata, papa memotongnya.


"Dokter bilang satu - satunya keajaiban agar Luna sembuh hanyalah pikirannya sendiri, kamu tahu kan tentang kekuatan pikiran positif, nak? jika semangat hidup Luna tinggi, bukan tidak mungkin dia bisa melewati masa kritisnya. Memang diluar dari hal yang berbau ilmiah, namun bukan berarti dapat disepelekan" timpal papa, perkataan papa membuatku tertegun memandangnya.

__ADS_1


Kekuatan pikiran positif, akan kah itu bekerja? itu hanyalah sebuah mitos menurutku, bukan sesuatu yang pantas untuk dijadikan sebuah pertaruhan nyawa. Luna kondisinya sudah sangat kritis, kita tidak bisa melakukan hal coba - coba dengan sesuatu yang berurusan dengan nyawa. Setidaknya itulah yang ada di kepalaku ketika itu. Tapi... jika itu berhasil, akankah Luna akan bisa hidup lebih lama.... aku bimbang saat itu...


__ADS_2