
Perkataan Naomi tentang kotak Pandora malam itu membuatku penasaran, sejauh apa kak Jester menceritakan tentang kotak Pandora nya kepada Naomi. Tentang kotak pandora... sebenarnya aku hanya mengumpamakan saja ketika Selena bercerita tentang apa yang terjadi setelah aku menolak kak Jester di atas panggung, tapi entah kenapa apa yang menjadi perumpamaanku benar - benar diutarakan kak Jester kepada Naomi.
Tapi yang lebih utama saat ini daripada rasa penasaranku adalah kondisi hati Naomi, aku harus menenangkannya dulu setelah sebelumnya Selena memperburuk keadaan. Selena juga bersikap aneh malam ini, apa karena dia masih merasa kecewa padaku? atau karena aku yang sudah tidak mengenal sahabatku ini? dua tahun mungkin telah merubah segalanya, bahkan aku pun telah berubah. Kecuali kak Jester sepertinya...
Aaa~ entahlah... aku harus fokus dulu untuk menenangkan hati Naomi
"Itu tidak bodoh, nyatanya menghadapi masalah secara langsung terbukti menjadi cara paling ampuh untuk menyelesaikannya" timpal ku menyetujui perkataan Naomi, perlahan aku beranjak dari rebahanku dan duduk bersebelahan dengan Naomi.
"Aku paham rencanamu, kamu ingin agar kak Jester yakin kalau dihatinya sudah tidak ada aku dengan menghadirkan aku didekatnya. Karena secara psikologis, orang yang membenci seseorang maka semuanya akan dianggap salah dan akan terus membenci. Kamu licik, Naomi" dengan sedikit nada menyindir aku mengatakannya pada Naomi, mendengar perkataanku membuat Naomi mengalihkan pandangannya menatapku dengan wajah kaget.
"Aah.. Eeh... tidak! aku tidak mengatakan seperti itu!" panik Naomi mengucapkannya, aku tertawa melihat wajah paniknya saat itu. Lega hatiku melihatnya sejenak tidak sedih dan marah lagi, sepertinya pancinganku berhasil memperbaiki moodnya.
"Lalu apa donk? sini cerita... eeh tunggu, kamu bilang kotak pandora? maksudnya apa Naomi?" tanyaku, aku berusaha senatural mungkin bertanya tentang kotak pandora itu.
"Jester pernah bilang kenangan denganmu seperti kotak pandora yang terbuka ketika kalian bertemu lagi, aku jadi berpikir kalau pun aku berhasil meredamnya sekarang... tapi selamanya kotak pandora itu akan tersimpan dihatinya, dan suatu saat akan kembali terbuka entah karena apa" jawab Naomi dengan nada kesalnya, perlahan tatapan matanya beralih menatap kedua kakinya yang dia tekuk dan peluk menempel di dadanya itu.
"Setiap terbuka maka dia akan bersikap seperti sekarang, dia trauma berlebihan dan selalu over thinking kepadaku. Aku yang tinggal bersamanya seperti ini akan selalu merasa sedih melihatnya terpuruk seperti itu, melihatnya bahagia merupakan satu hal terindah yang aku punya saat ini. Asal bisa membuatnya ceria seperti dulu... berkorban apapun aku siap" ucap Naomi dengan senyum yang terlihat begitu tulus
Aku kehabisan kata - kata untuk menggambarkan cinta keduanya... mereka seperti memang sudah ditakdirkan untuk bersama, saling mencintai dan dicintai. Kali ini mungkin aku melihat Naomi yang berkorban demi kak Jester, tapi aku yakin ketika posisi mereka terbalik maka kak Jester akan berlaku yang sama. Aku... ingin berada diposisi itu, sangat ingin... jika aku bisa... :)
"Begitu ya... jadi itu alasan kenapa kak Jester sempat melupakan aku saat di mall, semua dia simpan dalam kotak pandora dihatinya" celetukku saat itu, mungkin nada bicaraku terdengar sedih sampai membuat Naomi sedikit tersentak lalu mengalihkan pandangannya untuk menatap mataku.
"Aah... Eeh... itu.. gak seperti yang kamu pikirkan! Jester gak sengaja lupa dengan..." belum selesai Naomi berkata, aku memotongnya karena aku tahu kemana arah pembicaraan Naomi. Dia berusaha untuk menghiburku.. aku peluk tubuhnya dan aku sandarkan kepalaku di bahunya.
"Selena sedikit menceritakan tentangmu dan pria bernama Daniel itu, jika aku menyandingkannya dengan perbuatanku dengan kak Jester... tidak ada perbedaannya antara aku dengan Daniel, kami sama - sama menggores hati begitu dalam. Kami adalah sekumpulan orang jahat yang tega melukai cinta suci dari orang tulus" timpal ku penuh penyesalan
"Luna!! gak seperti itu!! antara kamu dan Daniel sangat berbeda!" terdengar marah Naomi mengatakannya, aku pun tertawa kecil menanggapi kemarahannya.
"Terima kasih sudah membelaku... jika ada kehidupan kedua, aku akan segera mencari mu dan menjadikanmu sahabatku" suaraku mendadak berat saat itu, mungkin karena aku sudah berusaha sangat keras untuk menahan tangisanku.
Obrolan hangat itu berakhir ketika aku memutuskan untuk tidur, begitu pula dengan Naomi dan Selena. Kami tidur bertiga di satu kasur yang terasa begitu empuk dan nyaman, tidak bisa dibandingkan dengan kasur milikku. Aku mengatakan pada Naomi jika sebelum ini Selena menginap di rumahku dan mungkin dia sedang sakit pinggang saat ini karena tidur di kasur yang keras dan sempit itu, kami tertawa bersama ketika Selena mengatakan jika dia tidak selemah itu.
Setelah obrolan ringan kesana kemari.... tidak lama tersisa aku sendiri yang masih tidak tidur, entah kenapa sulit sekali untuk memejamkan mata ini. Aku menoleh kananku dan aku melihat wajah Naomi tidur ke arahku, ketika aku menatap kiri aku melihat Selena yang tertidur ke arahku. Tidak lama aku kembali menatap langit - langit kamar dan memikirkan semua perjalananku sampai di usiaku yang sudah menyentuh delapan belas tahun ini, tidak aku sangka akan selama ini sejak aku memutuskan untuk meninggalkan kak Jester.
Semua sudah berjalan dan seharusnya tidak perlu aku sesali, keputusan yang sudah aku ambil akan menjadi cerita tersendiri. Perlahan aku beranjak dari kasurku agar tidak membangunkan Naomi dan Selena, aku berjalan mendekati tas genggamku yang aku letakkan dimeja rias Naomi.
Didalam tas itu aku mengambil note berwarna pink yang berisi tentang keinginan terakhirku, aku juga mengambil sebuah ballpoint didalam tas itu lalu aku keluar kamar dengan perlahan. Aku berjalan menuju ruang makan dimana terdapat meja dan kursi yang nyaman untukku menuliskan sesuatu, disalah satu kursinya aku duduk dan meletakkan note kecil itu lalu merobek salah satu halaman yang berisi tentang impian terakhirku.
Aku menulis kembali satu demi satu tentang impian terakhirku disalah satu halaman, pada bagian atas aku tulis dengan kata...
***
__ADS_1
Last Dreams :
Minta maaf sama kak Jester ✓
Menyatukan kak Jester dengan Selena
***
Ketika menulis keinginan keduaku tanpa sadar aku masih menuliskan nama Selena untuk menjadi pasangan kak Jester, aku menghela nafasku lalu ku coret nama Selena dan aku menggantinya dengan nama Naomi.
***
Menyatukan kak Jester dengan (nama Selena tercoret) Naomi ✓
Berkunjung ke festival square
Masuk kedalam taman labirin dan mengucapkan janji yang pernah terucap baik bersama maupun tanpa kak Jester
Merayakan ulang tahun kak Jester
Menyatukan Selena dengan teman - teman kak Jester dan Naomi
Liburan ke Paris berdua dengan kak Jester sesuai janji yang pernah terucap
Menonton bioskop terbuka seperti yang kak Jester ceritakan
Mengunjungi cafe - cafe populer yang pernah kak Jester ceritakan
Berlayar di sungai Seine
mengunjungi museum Modern Art Museum, Victor-Hugo and Balzac Houses, Bourdelle Museum, Carnavalet Museum, Cernuschi Museum, Marechal Leclerc Memorial, Petit Palais, Zadkine Museum, dan the Museum of Romantic Life
Berfoto di Eiffel, Museum Louvre, Arc de Triomphe, Katedral Notre Dame, dan Taman Luxembourg
***
__ADS_1
Aku tersenyum ketika melihat semua impianku akan segera terwujud karena langkah pertamaku sudah tertata dengan rapih, aku sangat optimis dengan semuanya karena aku yakin... aku sudah berada dijalan yang benar, sampai kejadian yang mengagetkan dan membuatku sedih pun terjadi...
Pagi hari aku terbangun ketika aku merasa seseorang bergerak tepat disebelah kananku, Naomi terlihat baru bangun dari tidur dan dia duduk di pinggir kasur. Mataku langsung menatap sebuah jam weker yang ada di meja kecil disebelah kasur, saat itu jam menunjukkan pukul 05.00
"Pagi sekali kamu bangun, Naomi..." ucapku dengan suara serak
"Aah.. Eeh.. aku... harus menyiapkan sarapan untuk Jester, kamu tidurlah dulu" timpal Naomi yang kaget mendengar suaraku
Aku meregangkan tubuh dan tidak sengaja kakiku menendang kaki Selena sampai membuatnya terbangun, Selena sempat merintih kesakitan dan aku segera minta maaf padanya. Setelah beberapa saat bersiap, kami bertiga memutuskan untuk membuat sarapan bersama. Ketika itu mata Naomi tertuju pada pintu ruang keluarga yang masih tertutup, aku tahu dia mengkhawatirkan keadaan kak Jester.
"Hei... ayo masak dulu. Nanti setelah siap, kamu bisa membangunkannya" celetukku sambil menepuk pundaknya, Naomi menoleh menatapku lalu tersenyum sembari menghela nafas.
"Kamu benar... kemarin dia tidak makan malam, mungkin saat bangun dia sudah sangat lapar" timpal Naomi
Kami berjalan ke dapur dan saat itu kami berdiskusi tentang menu sarapan hari ini, tidak banyak yang bisa kami pilih karena bahan yang ada juga tidak banyak. Pada akhirnya kami hanya membuat omelet, roti toast dan teh hijau buatan Naomi. Setelah semua sudah tersedia di atas meja makan, aku menatap Naomi yang masih terdiam menatap masakan kami.
"Kenapa diam?" tanyaku memecah lamunan Naomi, agak tersentak Naomi saat itu menatapku.
"Aah... Eeh... tidak, aku cuma... memastikan semuanya sudah... ada di meja..." jawab Naomi terbata, tatapan matanya kembali tertunduk dan terlihat begitu sedih.
"Hei... temui kak Jester, bangunkan dia" timpal ku
"Entahlah Luna... apa dia akan senang... kalau aku membangunkannya setelah pertengkaran kami semalam" ucap Naomi dengan helaan nafas, aku tersenyum lalu berjalan mendekati Naomi untuk menepuk punggungnya agar dia segera berjalan untuk membangunkan kak Jester.
Naomi persis sekali dengan aku yang dulu, dia penuh keraguan untuk memutuskan sesuatu...
"Tidak ada waktu untuk ragu, dia pasti akan senang melihatmu" ucapku sembari menepuk punggungnya, Naomi menoleh menatapku lalu tersenyum
"Kamu benar... aku akan bangunkan dia" sambil berjalan Naomi mengatakannya
Aku menatap Selena yang hanya terdiam menatapku, tapi saat itu Selena berwajah datar tanpa ekspresi apapun. Saat aku bertanya dengan gestur wajah, dia hanya menggelengkan kepala lalu mengajakku berdiri didekat pintu keluar dari ruang makan. Sepertinya saat itu Selena ingin mengajakku untuk menguping, aku sempat menolak ajakannya tapi ketika itu aku melihat kak Jester melewati pintu ruang makan.
"Jester!! kamu kenapa?! kalau kamu marah padaku, katakan alasannya dan jangan seperti ini!!" bentak Naomi sesaat ketika aku melihat kak Jester berjalan melewati pintu dapur, aku agak berlari dan mendekati pintu agar suara mereka dapat terdengar.
"Katakan saja kapan kamu akan meninggalkanku" jawab kak Jester
"Apa maksudmu? aku tidak pernah terpikirkan akan meninggalkanmu" ucap Naomi terdengar bingung dengan perkataan kak Jester, aku pun bingung apa yang sebenarnya kak Jester katakan kepada Naomi saat itu.
Meninggalkan? Naomi tidak pernah mengatakan akan meninggalkan kak Jester, dia yang begitu mencintai kak Jester tidak akan mungkin meninggalkannya. Apa yang sebenarnya kak Jester pikirkan? apa ada omongan dari seseorang yang mempengaruhinya? aku... tidak tahu kenapa dia menjadi... berbeda...
__ADS_1
"Luke dan Harry melihat kalian bertiga di taman kampus, sepertinya memang kalian bertiga saling mengenal ya sampai merencanakan sesuatu bersama" timpal kak Jester, meski nadanya terdengar datar tapi aku merasakan gejolak emosinya.
Seketika itu semua menjadi jelas, kak Luke dan kak Harry yang membenciku telah mempengaruhi kak Jester entah apa yang dikatakan keduanya pada kak Jester. Aku memahami mengapa mereka berdua membenciku, tapi mengatakan aku dan Naomi bekerjasama untuk meninggalkan kak Jester... itu sangat tidak masuk akal, sepertinya ada hal lain lagi yang harus aku segera selesaikan. Aku harus meredam amarah kak Luke dan kak Harry, karena mereka berdua sangat berpengaruh untuk kak Jester.