Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 57


__ADS_3

Lagu kedua selesai dengan sangat apik, aku langsung menepuk kedua tanganku lalu diikuti oleh semua siswa dan siswi yang menonton. Tidak lama dua MC pun muncul dari balik panggung akan memandu acara namun tiba - tiba kak Justin merebut mic dari salah satu MC, perbuatan kak Justin membuatku heran. "Apa yang dilakukan kak Justin? bukankah itu akan mengganggu acara?" tanyaku dalam hati, lalu kak Justin pun tertawa kecil sebelum dia mengatakan sesuatu yang mungkin sangat penting.


"Semua... hari ini ada sesuatu yang spesial, tentu... tentu... perpisahan dengan kakak - kakak kelas sangat spesial, tapi ada yang harus diumumkan dan lebih spesial dari itu semua" seru kak Justin, aku memiringkan kepalaku dan menatap matanya dari bawah panggung dan seketika itu tatapan mata kak Justin pun beralih menatapku.


"Aku membutuhkan seorang seorang siswi yang sangat cantik untuk naik keatas panggung" ucap kak Justin


Dan ketika itu lampu sorot tiba - tiba menyorot padaku, aku pun terkejut dengan kejadian itu dan jujur saja... jantungku mendadak berdetak sangat cepat. Aku rasa saat itu mataku terbelalak dan aku juga kehilangan senyumanku, aku pun menatap kanan - kiri dan berharap yang diminta kak Justin naik bukanlah aku karena aku sangat tidak percaya semua ini adalah rencana mereka.


Seketika itu seru dan siulan siswa dan siswi begitu terdengar jelas di telinga untuk memintaku segera naik ke atas panggung, aku mengalihkan pandanganku menatap Selena yang ternyata sama kagetnya denganku. Aku berbisik padanya "Bisa antar aku keatas?" tanyaku, dan Selena pun menganggukkan kepalanya.


Aku dan Selena berjalan bersama menuju atas panggung, aku meletakkan tangan dibelakang tubuhku untuk menutupi tangan Selena yang membantu menopang tubuhku agar tetap bisa berjalan dan berdiri. Meski itu sangat menyakitkan, namun aku berusaha tetap bisa berdiri dan berjalan naik ke atas panggung.


Di atas panggung aku melihat kak Luke membawa sebuah buket bunga mawar merah yang dia berikan pada kak Jester, kini aku paham apa yang sedang direncanakan kak Jester, kak Justin, kak Luke dan kak Harry hari ini. Aku ingin menyela apa yang sedang berjalan ini, namun suaraku kalah keras dengan pertanyaan kak Justin kepadaku yang berbicara menggunakan mic.


"Luna, kamu tahu kenapa aku memanggilmu keatas panggung?" tanya kak Justin padaku, aku pun mengalihkan pandanganku menatap kak Justin lalu menggelengkan kepalaku beberapa kali.


Disaat itu aku melihat kak Jester berjalan mendekatiku lalu berlutut tepat di hadapanku, aku meremas tangan Selena yang sedari tadi menjadi sandaran tubuhku untuk tetap dapat berdiri hingga saat itu. Perlahan kak Jester memberikanku buket bunga mawar merah itu, dan dia berkata...


"Luna... mau kah kamu menjadi pacarku?"


Sebuah impian yang terwujud bukan? iyah.. benar, terwujud sudah impianku. Pangeran imajinasiku itu tepat berada di depanku dengan bucket mawar merah yang indah sedang menyatakan cintanya dengan semua keindahan yang sudah dipersiapkan dengan sempurna. Bahagia sekali bagi siapapun yang berharap menjadi aku kan?


Tapi tidak dengan aku... :( Hatiku rasanya sakit, aku harus melawan kehendak hatiku sendiri. Semua keindahan itu harus segera aku akhiri dengan sesuatu yang sangat menyakitkan.


Apa yang aku rasakan hari itu?


Bukan senang... bukan sedih... bukan bahagia... tapi...


Amarah...

__ADS_1


Seorang Luna Lincoln lah yang seharusnya menjadi bintang sekolah hari ini, Luna dengan suaranya yang indah dan performanya yang bagus membawakan lagu terbaiknya, menjadi bintang pada acara dies natalis hari ini. Seorang Luna yang dihadapan semua siswa sekolah favorit ini mendapatkan pernyataan cinta dari idola para wanita sekolah. Jester Gates dengan ketulusan hatinya memintaku untuk menjadi kekasihnya, membuat banyak wanita cemburu dengan kejadian itu. Bukankah hari ini begitu sempurna bagiku? bahkan sangat sempurna... Andai saja... aku tidak memiliki leukimia dalam diriku.


Buket mawar merah yang indah itu aku ambil perlahan dengan tatapan mata yang kosong, sesaat ku lihat wajah tampan dan tulus pangeranku itu sebelum akhirnya aku lemparkan dengan sangat keras buket bunga itu tepat diwajahnya...


"Kamu pikir kamu siapa?!! memalukan!! Apa - apaan kamu melakukan hal seperti ini?!! kamu mau aku jadi pacarmu?!! jijik!! ngaca dulu sebelum kamu melakukannya!! kamu itu pecundang!! berhenti mendekatiku!!" bentak ku padanya setelah melempar buket bunga mawar merah yang kak Jester berikan


Aku segera berbalik dan mengerahkan semua tenaga tersisa untuk berlari keluar dari auditorium tanpa mempedulikan apapun, telingaku berdengung keras sampai aku tidak mendengar apapun ketika itu... tapi aku paham jika pangeranku.... di ejek satu sekolah atas kejadian ini... Aku tidak ingin berbalik untuk menoleh menatap kak Jester, sungguh hatiku akan lebih hancur karena itu.


Aku berlari dengan berlinang air mata sampai kesebuah taman dekat parkiran sekolah, aku terjatuh ketanah karena kakiku tiba - tiba tidak dapat kembali digerakkan. Aku menangis dalam keadaan masih terlentang di tanah sampai Selena membantuku untuk berdiri, namun... aku menepis tangannya dengan sangat keras sampai membuatnya merintih kesakitan.


Aku marah pada diriku, aku marah pada tubuhku... dan aku marah pada takdirku....


Ada gejolak aneh didalam hati yang membuatku ingin melampiaskan semua beban berat yang aku pikul beberapa minggu belakangan... sebuah gejolak aneh di hatiku yang ingin aku lampiaskan dalam satu tarikan nafas... beban senyum palsuku selama ini... beban tubuhku menahan semua rasa sakit yang aku derita...


Aku... menyesal...


Aku menyesal melampiaskannya pada pangeranku....


"Jangan bantu aku!!! jangan bantu aku!!!" bentak ku pada Selena.... aku terduduk dan membiarkan semua air mataku jatuh ke tanah...


Sakit.... sakit hatiku karena telah mempermalukan orang yang aku cintai di depan publik... aku ingin menyesali semua yang aku lakukan, tapi... aku harus melakukannya untuk membuat kak Jester membenciku agar Selena dapat menjadi pacar kak Jester...


"Luna!! biarkan aku membantumu berdiri!! kamu harus segera istirahat!! hidungmu mimisan!!!" bentak Selena padaku, aku pun menatap tanah dimana air mataku terjatuh di sana dan ternyata juga tetesan darah yang keluar dari hidungku...


"Biarkan aku sendiri... aku orang jahat... jangan bantu orang jahat sepertiku!! tinggalkan aku sendiri!!!" bentak ku lagi pada Selena


"Luna!! hentikan bersikap seperti anak - anak!! kamu harus..." belum selesai Selena berkata, aku memotongnya.


"Apa itu sudah benar? apa aku sudah melakukan hal benar? dia.... kak Jester pasti akan membenciku sekarang kan? kamu... kamu bisa menggantikan aku lebih mudah sekarang, Selena... buat dia bahagia... aku minta tolong padamu.... aku mohon padamu..." timpal ku

__ADS_1


Aku berusaha berdiri namun aku kembali terjatuh dan aku ulang terus - menerus seperti itu, kakiku mungkin sudah benar - benar pada batasannya. Di usahaku yang kedelapan kali untuk berdiri, Selena membiarkan tubuhnya menjadi tumpuan untukku. Darah yang keluar dari hidungku pun mengotori bajunya, aku dengan paniknya berusaha untuk membersihkan seragam sekolah Selena namun tanganku langsung ditepis oleh Selena lalu dia memelukku dengan erat.


"Aku akan membantumu, aku akan coba sebisaku untuk memenuhi permintaanmu. Jadi kamu tenang saja, tentang kak Jester... serahkan padaku" celetuk Selena ketika itu


Aku terkejut mendengarnya namun aku juga lega mendengar permintaanku diterima oleh Selena, aku pun memeluknya dengan erat sebagai ungkapan rasa terima kasihku padanya. Ditengah tangisanku itu, kedua tangan Selena terasa semakin erat memelukku. Lalu dia berkata....


"Tapi jika aku menjadi kamu... aku akan memilih untuk mendampingi kak Jester disisa - sisa umurku, aku tidak ingin menghakimi keputusanmu. Luna... aku harap kamu bisa bahagia dengan pilihanmu" ucap Selena denganĀ  nada suara yang bergetar, samar - samar aku mendengarkan suara isakan tangis dari Selena.


Dari kejauhan aku melihat ayah berlari mendekatiku, perlahan pelukan Selena melemah dan pandanganku semakin kabur. Aku tidak tahu apa yang kemudian terjadi setelahnya, karena aku pingsan seketika...


Ketika terjaga, aku sudah berada disebuah kamar yang asing untukku, aku yakin aku tidak berada di rumah sakit tapi ada infus, beberapa peralatan kedokteran, dan bau kaporit yang menyengat. Aku juga tidur di kasur biasa seakan aku memang sedang berada di rumah, aku menatap sekelilingku dan aku benar - benar yakin jika aku berada ditempat yang tidak aku ketahui.


"Dimana... aku?" tanyaku


Perlahan aku ingin beranjak dari kasurku untuk keluar dari kamar ini, setelah berhasil duduk dipinggir kasur saat itu kini aku ingin menggapai kursi rodaku yang berada tidak jauh dari kasur. Susah payah aku berhasil menggapai kursi rodaku dan kini aku disibukkan untuk membawa infus yang menggantung di dudukannya, setelah berhasil melepaskan botol infus dari dudukannya aku memutar roda kursi menuju pintu keluar kamar.


Aku membuka pintu kamar itu secara perlahan dan aku dapati aku memang berada disebuah rumah sederhana yang terletak disebuah pedesaan, tepat didepan kamarku ada pintu utama rumah yang terbuka dan aku dapat melihat kebun buah - buahan yang terawat dengan baik.


"Dimana aku? ayah?!! ibu?!" teriakku, namun tidak satupun yang menyahut teriakanku itu.


Aku kembali memutar roda kursi itu sampai menuju pintu keluar, di sana aku melihat ayah dan ibu sedang berkebun merawat tanaman didepan rumah. Ketika melihatku keluar dari rumah, ayah dan ibu membuang barang yang mereka pegang dari tadi dan berlari mendekatiku. Ayah dan ibu memelukku bersamaan dan mereka mengucapkan syukur karena aku bisa bangun dari koma ku lebih cepat dari prediksi dokter, aku kurang paham dengan apa yang sebenarnya terjadi dan berapa lama aku pingsan sampai kehidupan berjalan begitu cepat tanpa aku tahu apa yang terjadi.


"Dimana kita? apa yang terjadi?" tanyaku


"Sayang, kami memenuhi apa yang sudah kamu minta. Ini rumah baru kita yang jauh dari kota, disini kamu bisa hidup tenang tanpa mempedulikan apapun kecuali kesehatanmu" jawab ayah sembari melepaskan pelukannya, tangan besarnya mengelus lembut kepalaku yang kini mulai ada rambut di sana.


"Be... benarkah?" tanyaku mencoba memastikan apa yang baru saja ayah katakan, kali ini ibu yang perlahan melepaskan pelukannya dan beralih mengelus lembut pipi kananku.


"Apa yang terjadi... selama aku pingsan?" tanyaku lagi, mendengar pertanyaanku saat itu hampir bersamaan ayah dan ibu menghela nafas bersama.

__ADS_1


"Kita masuk dulu yuk, ayah dan ibu akan ceritakan semua dan kamu juga sudah waktunya untuk makan..." jawab ayah sembari mendorong kursi rodaku untuk masuk kedalam rumah.


__ADS_2