
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya giliran Peter yang akan tampil. Aku menyaksikan penampilan Peter dari sebuah televisi yang tersedia di ruang make up, dia membawakan lagu dari Sam Smith dengan judul I'm Not The Only One. Cukup baik.. tapi sepertinya itu bukan penampilan terbaik dari Peter, aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu untuk tantangan ke depan.
Dia mendapatkan komentar yang positif meski mendapatkan sedikit kritik dari tuan Jhonson dan Yohan, sedangkan Grece... dia terlihat tidak bersemangat, tidak seperti kompetisi pertama dimana Grece nampak antusias menilai para peserta. Aku tertawa kecil melihat tingkah Grece dari balik layar kaca, "Ya ampun Grece, ketahuan banget kalau kamu sudah tidak punya semangat jadi juri" ucapku dalam hati
"Peter sedang menahan diri, aku harap kamu tidak lengah" celetuk Manda yang tiba - tiba ada di belakangku, aku langsung berbalik dan menatap Manda yang menatapku tajam.
"Aku harap kamu juga tidak meremehkan peserta lain, kadang yang tidak mencolok akan menggebrak dibelakang" timpal ku dengan senyuman, Manda menghela nafasnya lalu tersenyum sinis.
"Apa kamu sedang membicarakan diri sendiri? kamu ingin bilang kalau hari ini kamu ingin melakukan sesuatu untuk merebut peringkat satu milikku? apa itu ancaman?" terdengar sinis Manda saat mengatakannya, aku tertawa kecil lalu kembali menatap layar televisi dimana kini acara diisi oleh Aiko dan tuan West sebagai pembawa acara.
"Manda, aku tidak peduli aku bisa menang atau tidak. Tapi jika harus, maka aku akan keluarkan semua kemampuanku untuk memenangkan kompetisi ini. Ini bukan demi aku, tapi aku melakukannya untuk desa ini" timpal ku
"Demi desa? apa maksudmu?" tanya Manda heran, aku menoleh menatapnya dengan senyuman.
"Kamu akan tahu jika saatnya tiba, jadi aku mohon jangan menahan diri dan keluarkan semua kemampuanmu. Ayo kita berkompetisi dengan seluruh kemampuan yang kita miliki" jawabku, Manda pun terdiam dan tidak lama Peter kembali masuk kedalam ruang tunggu peserta.
Peter mengatakan pada Manda jika dia dicari tim pengiring lagu, dengan segera Manda berjalan menuju pintu penghubung antara ruang tunggu peserta dengan panggung. Aku kembali menatap layar kaca televisi dan menatap tuan West dan tuan Jhonson bergantian, "Aku benar - benar berpikir buruk kepada kalian, maaf sudah memandang negatif tanpa alasan yang jelas" gumamku
"Ada apa?" tanya Peter
"Tidak ada, aku sedang bersiap mendengarkan apa yang akan Manda tampilkan di tantangan kali ini" jawabku
"Eemm Lunar, aku masih tidak tahu siapa dalang dibalik..." belum selesai Peter berkata, aku memotongnya.
"Tidak perlu kamu cari" timpal ku, lalu aku menatap wajah Peter yang heran itu.
"Aku tidak peduli, ayo kita buat kompetisi ini menjadi lebih seru. Aku menantikan penampilan terbaikmu, jangan biarkan aku menang dengan mudah" ucapku lagi dengan senyuman menatapnya, Peter membalas senyumku lalu kami menatap layar televisi bersama - sama.
"Jangan menyesal ya sudah menantang ku" celetuk Peter, lalu kami tertawa bersama.
Giliran Manda yang akan tampil, dia membawakan lagu dari Evanescence dengan judul Bring Me To Life. Lagi dan lagi Manda memaksakan diri menyanyikan lagu yang menurutku tidak sesuai dengan karakteristik suaranya, aku tahu dia sedang ingin pamer kemampuan pengolahan nafas namun kadang itu malah akan menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Sesuai dugaanku, Yohan dan Grece mengkritik pemilihan lagu yang dipilih oleh Manda. Tidak seperti tuan Jhonson yang memuji habis - habisan putrinya, yaah... tidak heran kan? aku dan Peter kembali menertawakan perdebatan diantara Grece, Yohan dan tuan Jhonson ketika itu, celetukan Peter tentang nepotisme kembali terdengar.
"Hei kamu tahu, penonton didepan panggung bertambah banyak. Aku tidak menyangka kita akan mendapatkan penonton sebanyak itu" celetuk Peter, aku menoleh menatap wajah Peter.
"Benarkah?" tanyaku heran
Perkataan Peter saat itu membuatku cukup heran, bagaimana pun kompetisi ini baru saja dimulai dan tidak mungkin akan menarik penonton secepat itu. Tapi jika itu benar, apa itu akan membuat tuan West dan tuan Jhonson senang? apa ini juga ada campur tangan dari tuan Paul?
"Iya, sebagian besar dari mereka ingin melihatmu secara langsung" jawab Peter
"Kamu sedang memuji atau mengejekku?" tanyaku dengan sindiran, Peter pun tertawa mendengar pertanyaanku itu.
"Ayolah Lunar, kamu terlalu memandang rendah dirimu sendiri. Penampilanmu waktu itu benar - benar diluar ekspektasi kamu tahu?" dengan sedikit suara tawa Peter mengatakannya, aku tersenyum dan tidak menanggapinya.
Tidak lama Manda berjalan dengan lesu mendekati kami, Manda mengatakan jika tim pengiring lagu mencariku. Aku pun segera berjalan menuju pintu penghubung antara ruang tunggu dengan panggung, namun ketika aku melewati Manda saat itu dia berkata...
"Lakukanlah yang terbaik, kamu mungkin bisa menggeser ku hari ini" celetuknya, aku tertawa kecil lalu aku cubit pipinya yang tembam itu.
"Berusahalah untuk merebutnya kembali di tantangan ketiga" timpal ku, Manda pun terlihat kesal meski dia tidak menepis tanganku yang mencubit pipinya.
Aku melepaskan tanganku dari pipi Manda lalu berjalan mendekati seorang pria yang menjadi panitia acara, dia bertanya padaku tentang lagu yang akan aku bawakan. Aku menjawab aku akan menyanyikan lagu dari Celine Dion dengan judul Surrender, dia terkejut ketika itu dan menatapku sejenak dalam diam. Aku memiringkan kepalaku karena bingung kenapa orang ini hanya diam, lalu pria ini pun tertawa.
"Akhirnya kamu serius ya" celetuk pria ini, aku pun tertawa karena celetukannya atau mungkin karena tertular suara tawanya.
Dengan segera pria itu berlari mendekati tim pengiring lagu, tidak lama pria itu kembali padaku dan berkata...
"Kami akan memainkan lagu dengan nada dasar aslinya, apa kamu ingin diturunkan atau dinaikkan?" tanyanya padaku, aku tersenyum dan aku jawab
"Seperti biasa, mainkan sama persis dengan penyanyi aslinya" jawabku, pria itu mengacungkan jempolnya ke arahku.
"Semoga berhasil, aku mendukungmu" ucap pria itu lalu kembali berlari mendekati tim pengiring lagu.
__ADS_1
Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, jantungku terasa berdetak sangat cepat, tubuhku bergetar dan keringat dingin mulai keluar dari sekujur tubuhku. "Kamu bisa Luna, kamu bisa menampilkan penampilan terbaik hari ini" gumamku untuk menghilangkan rasa gugup ku.
Tidak lama Aiko dan tuan West menyebut namaku, aku berjalan mendekati balik tirai dan tidak lama tirai itu terbuka. Suara tepuk tangan yang menggema di ruangan itu terasa begitu menggetarkan hatiku, penonton kami mungkin sudah bertambah dua kali lipat dari pertama aku tampil disini. Dari atas panggung aku dapat melihat Grece yang kaget melihatku, Yohan yang tersenyum senang, dan tuan Jhonson yang bertepuk tangan.
Kini lampu diruang itu pun padam, hanya tersisa lampu sorot yang mengarah padaku. Suara penonton dan tepuk tangan itu seketika menghilang, ruangan ini tiba - tiba menjadi sunyi seakan mereka sudah siap untuk mendengar dan melihat penampilanku. Aku tersenyum dan aku tatap langit - langit, lalu tidak lama... suara musik pengiring mulai berbunyi memecah keheningan.
***Celine Dion - Surrender***
There's so much life I've left to live
And this fire's burning still
When I watch you look at me
I think I could find the will
To stand for every dream
And forsake the solid ground
And give up this fear within
Of what would happen if they ever knew
I'm in love with you
'Cause I'd surrender everything
To feel the chance to live again
I reach to you
I know you can feel it too
We'd make it through
A thousand dreams I still believe
I'd make you give them all to me
I surrender
I know I can't survive
Another night away from you
You're the reason I go on
And now I need to live the truth
Right now, there's no better time
From this fear I will break free
And I'll live again with love
And no, they can't take that away from me
And they will see, yeah
I'd surrender everything
To feel the chance to live again
__ADS_1
I reach to you
I know you can feel it too
We'd make it through
A thousand dreams I still believe
I'd make you give them all to me
I surrender
Every night's getting longer
And this fire is getting stronger, baby
I'll swallow my pride
And I'll be alive
Can't you hear my call?
I surrender all
I'd surrender everything
To feel the chance to live again
I reach to you
I know you can feel it too
We'll make it through
A thousand dreams I still believe
I'll make you give them all to me
I'll hold you in my arms and never let go
I surrender
Right here, right now
I give my life to live again
I'll break free, take me
My everything I surrender all to you
Right now (right now)
I give my life to live again (I give my life)
I'll break free, take me (take me)
My everything, I surrender all to you
Right now (right now)
I give my life to live again (I give my life to you, baby)
****************************************************
__ADS_1
Begitu musik berhenti dan aku menyelesaikan nyanyianku, suara tepuk tangan dan sorakan dari para penonton begitu menggema di ruangan ini. Aku tersenyum sembari berusaha mengatur nafasku yang terengah - engah itu, tidak lama lampu - lampu dalam gedung mulai menyala sehingga membuatku dapat menatap para penonton juga juri.
Mereka berdiri dan memberikan tepuk tangannya padaku, aku begitu bahagia ketika lalu aku pun memberikan gestur terima kasihku pada mereka. Sungguh tidak aku sangka akan menerima kebahagiaan seperti ini, aku pikir hidupku sudah berakhir ketika aku memutuskan untuk meninggalkan cinta pertamaku, sahabat - sahabatku, dan juga kota kelahiranku. Namun benar kata ayah, kebahagiaan hanya bisa digapai oleh orang yang mau menerima keadaannya.