
"Kenapa...? kenapa kamu menatapku seperti itu?!" bentak ku padanya, namun dia bergeming dan terus saja menatapku seperti itu
Aku mencoba mendekatinya namun bagaimanapun aku berjalan dan juga berlari, jarak kami tidak berubah meski ruangan gelap ini tidak terlihat luas. Nafasku pun terputus - putus karena merasa lelah ketika berusaha untuk mendekatinya, pada akhirnya aku berhenti berlari dan kembali menatapnya dengan tajam.
"Apa yang kamu inginkan?! aku sudah melakukan semua yang kamu inginkan!! Berhenti menghantuiku seperti ini!!" bentak ku padanya
Seketika itu aku melihatnya tersenyum menyeringai dan berkata...
"Pecundang..."
"Kamu tidak pantas untukku..."
"Mana mungkin aku mau menjadi pacarmu..."
"Ngaca pecundang, aku gak mau berpacaran dengan orang sepertimu..."
Suara - suara itu terdengar menggema di ruangan gelap itu, aku jadi teringat ketika aku menembak Luna diatas panggung dan saat itulah suara gelak tawa teman - teman sekolahku dulu terdengar. Aku menoleh dan ruang gelap itu berubah menjadi auditorium sekolah di SMA ku, semua terlihat sama dan tidak satu pun yang berubah bahkan aku melihat Luna yang sebelumnya menggunakan baju rumah sakitnya kini dia mengenakan seragam sekolah kami. Masih dengan posisi yang sama seperti waktu itu, aku dipermalukan didepan teman - teman sekolahku.
"Jess!! Suhu badanmu tinggi!!" ucap Naomi yang entah darimana dia mengatakannya...
Seketika itu aku tersadar dari tidurku, aku membuka mata dan melihat Naomi berlutut dekat denganku yang masih tidur diatas sofa. Aku menatap wajah Naomi yang terlihat begitu mengkhawatirkan ku, "Mimpi...?" tanyaku dalam hati. Naomi menyentuh dahiku berulang kali untuk memeriksa suhu badanku, yah... saat itu aku memang merasakan meriang dan tubuh ini juga terasa panas. Aku sakit disaat penting seperti ini, padahal aku melihat Naomi sudah siap untuk datang ke acara pemakaman Luna.
"Naomi, sudah siap? ayo kita segera berangkat" dengan nafas terengah - engah aku mengatakannya, aku pun segera beranjak dari sofa namun tangan Naomi menahan tubuhku agar aku terus merebahkan badan ini.
"Jess! istirahat dulu, suhu badanmu sangat tinggi! aku akan ambilkan obat!" terdengar panik Naomi mengatakannya seraya berdiri, disaat bersamaan tanganku menahan lengan Naomi agar dia tidak pergi.
"Naomi..." gumamku, entah kenapa nafasku semakin terasa sesak saat itu.
"Iya Jess... kamu butuh sesuatu?" tanyanya sembari kembali berlutut di sebelahku, aku kembali memejamkan kedua mataku dan berkata..
"Aku merasa sedikit lelah... aku ingin tidur sebentar lagi saja, maukah kamu menggenggam tanganku? aku akan segera bangun, sampai saat itu tiba, maukah kamu berada di sisiku seperti ini?" pintaku padanya
Disaat itu aku merasa sangat malu... kenangan buruk ku ketika menembak seorang wanita diatas panggung dengan banyak mata memandang dan berakhir dengan sebuah penolakan kembali terputar, suara - suara tawa mereka juga semakin terdengar keras didalam otakku. Aku begitu merasa malu dan tidak ingin bertemu dengan siapapun, rasa yang pernah aku lupakan itu kembali menggerogoti mentalku. Bagiku saat itu, hanya Naomi yang tidak pernah terlihat menertawakan ku karena dia... tidak ada ditempat itu...
Tidak lama aku merasakan tangan Naomi menggenggam tanganku begitu erat, ketika aku membuka mata saat itu aku melihat wajah Naomi yang begitu mencemaskan ku sudah duduk dibawah sebelah sofa tempat aku merebahkan tubuh yang terasa panas ini.
"Aku akan disini... kamu tidurlah..." jawab Naomi, aku tersenyum padanya lalu perlahan kembali menutup kedua mataku
"Terima kasih..." timpal ku lalu aku pun kembali terlelap tidur.
Mimpi yang sama kembali terputar, aku kembali ke Auditorium sekolah bersama Luna dan juga teman - teman masa SMA ku dulu. Suara tawa mereka juga kembali terputar, begitu juga perkataan jahat Luna kepadaku. Aku menutup telingaku namun semua percuma, suara itu terasa menembus kedua tanganku yang sedang berusaha untuk menutup telinga. Aku menutup kedua mataku dan semakin larut dalam kegelapan itu, aku kembali hanyut dalam perasaanku yang dulu...
"Kak!!"
"Diam!!"
__ADS_1
"Kak Jester!!"
"Diam!! diam!!! Diam!!!!"
"Kak Jester!!" suara yang begitu aku kenal memanggilku, bersamaan dengan itu sebuah tangan terasa menepuk pundakku begitu keras dari arah belakang.
Aku menoleh menatapnya dan aku melihat Luna disana... wajahnya terlihat begitu sedih, matanya berkaca - kaca, dan terlihat iba padaku.... berbeda dengan Luna yang ada di depanku, yang masih saja tersenyum menyeringai menatapku.
"Itu bukan aku!!" bentak Luna yang ada dibelakang ku, aku termenung menatapnya dan dia menamparku cukup keras.
"Sadarlah!! itu bukan aku!! itu hanya bayangan buruk mu!!" bentaknya lagi, air mataku mengalir saat itu...
"Tidak... itu bukan bayangan... itulah yang aku lalui dan itu nyata... kamu membenciku..." gumamku
"Kak Jester!!! aku mencintaimu!! maafkan aku telah memberi kenangan buruk padamu!!!" teriaknya, perlahan tatapan mataku kembali menatap wajah Luna.
Air matanya terlihat mengalir deras, raut wajahnya itu... aku belum pernah melihatnya menangis sampai seperti itu, perlahan tangannya menyentuh pipiku dan terasa begitu hangat.
"Bangun... bangun kak... aku mohon, kamu tahu aku tidak seperti yang ada didalam bayanganmu... maaf aku mengingkari janji kita, tapi ada satu janji yang aku tepati... aku sudah memenuhi janji itu untukmu, karena hanya itu yang bisa aku lakukan..." ucapnya dan aku pun terbangun...
Aku tersentak dari tidurku, nafasku terengah - engah saat itu dan mataku juga terasa berkunang - kunang. Ketika aku menatap sekeliling saat itu aku tidak mendapat Naomi ada di sebelahku, disini sepertinya aku sedang sendirian. Tapi rasa hangat tangan Luna saat di mimpi tadi masih terasa begitu nyata untukku, aku menyentuh pipi kananku dimana Luna menyentuhnya tadi.
"Janji... apa janji yang kamu tepati?" gumamku
Aku berpikir keras untuk mengingat semua janji kita yang pernah terucap, aneh... dia mengatakan ada satu janji yang sudah dia tepati, tapi aku tidak merasa ada satu hal pun yang pernah dia tepati. Perlahan mata ini tertuju pada meja di sebelahku, ada sebuah catatan kecil disana yang sepertinya ditinggalkan oleh Naomi. Perlahan tanganku meraih kertas kecil itu dan membaca isinya, "Jess, maaf tadi papa dan mama datang kerumah. Mereka memintaku untuk ikut ke acara pemakaman Luna, papa mama bilang kalau kamu akan baik - baik saja. Semoga aku datang lebih dulu dan kamu tidak sempat membaca catatan ini"
Aku kembali menangis ketika itu, menangisi wanita lain ketika aku sudah memiliki wanitaku sendiri saat ini... "Apa ini tindakan yang diperbolehkan? kenapa aku merasa sesakit ini kehilangannya?" tanyaku dalam hati...
Aku menarik nafasku dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan, berulang kali aku melakukan itu agar aku bisa berhenti menangis. Namun percuma, begitu sulit untukku merelakan kepergian Luna dari hidupku, suara - suaranya terdengar semakin keras di telingaku terlebih kami pernah tinggal satu rumah bersama Naomi dan Selena disini. Kenangan itu semakin membuatku sulit untuk melupakannya, namun aku sadar aku tidak boleh seperti ini terus.
Aku mengalihkan langkahku ke pintu yang menghubungkan area kolam renang dengan ruang keluarga, bersamaan dengan itu aku mengurungkan niatku untuk menyusul ke pemakaman. Ketika aku membuka pintu, aku melihat awan mendung menghalangi matahari. Anginnya terasa begitu lembab dan dingin, sepertinya hujan akan segera turun. Tapi entah kenapa, cuaca hari ini terasa menenangkan hatiku...
Aku berdiri bersandar pada kusen pintu menikmati angin sepoi - sepoi yang menabrak tubuhku... tidak lama aku mendengar suara pintu utama yang terbuka dan tertutup, lalu langkah kaki terdengar mendekatiku dan sepertinya Naomi sudah pulang dari acara itu. Ketika aku memutar kepalaku, aku melihat Naomi berdiri di pintu masuk ruang keluarga dengan raut wajah khawatir.
"Sudah pulang?" tanyaku dengan tersenyum menatapnya
"Maaf... tadi aku terpaksa pergi karena papa dan mama menjemput ku..." terdengar penuh penyesalan Naomi mengatakannya, aku tertawa kecil mendengar jawabannya sembari kembali menatap kolam renang di depanku.
"Tidak apa, kamu sudah menemaniku sampai aku tertidur.... terima kasih" timpal ku
"Kamu... baik - baik saja, Jess?" tanya Naomi terdengar khawatir
"Aku baik - baik saja, tadi aku sempat ingin menyusul ketika kamu tidak ada di sampingku tapi..." aku menggantung kalimatku sejenak, tidak mungkin untukku mengatakan alasannya... tapi, aku tidak menemukan alasan apapun lagi... mungkin saat inilah waktu yang tepat untuk meminta maaf padanya...
"... aku tidak sanggup... bodoh sekali, aku bahkan tidak bisa merelakan kepergiannya... pria macam apa aku ini? menangisi wanita lain padahal aku sudah memilikimu... maafkan aku, Naomi..." ucapku penuh perasaan bersalah, tidak terasa air mataku kembali menetes.
__ADS_1
Perlahan tangan Naomi terasa akan memeluk tubuhku dari belakang, dia memelukku begitu erat ketika tangannya sudah melingkari pinggangku. Saat itu dia berkata...
"Tidak apa... kehilangan seseorang itu memang berat... tidak ada satupun manusia yang rela begitu saja jika terpisah oleh kematian... kamu tidak harus bersikap kuat di depanku, aku sangat memahami perasaanmu, Jess" lembut suara Naomi ketika mengatakannya, aku tersentak saat itu...
Dia bisa memaklumi kesedihanku yang disebabkan oleh wanita lain, seberapa besar hati Naomi sebenarnya? tapi saat itu aku tidak bisa berpikir dengan baik, aku malah semakin menangis sampai terisak - isak. Kata - kata Naomi seakan membuka pintu bendungan air mataku, entahlah... tapi ya memang itu yang aku rasakan.
"Terima kasih atas pengertianmu selama ini" timpal ku
Butuh waktu lama untukku bisa menuntaskan semua air mata ini agar hatiku terasa lega, selama itu juga kami masih berdiri didepan pintu penghubung ruang keluarga dengan area kolam renang dengan hembusan angin dingin juga lembab karena cuaca sedang mendung. Merasakan aku yang sudah jauh lebih tenang, saat itu Naomi mengajakku untuk makan siang bersama. Rasa lapar juga langsung menyerang ku, aku lupa kapan terakhir makan sejak kemarin bahkan ketika kami masih di Paris.
Di Dapur kami mempersiapkan menu makan siang kami bersama - sama, tidak baik juga bagiku untuk terus terpuruk seperti itu. Jadi aku memutuskan untuk membantu Naomi demi melewati waktu agar tidak terasa, sayangnya aku hanya melewati waktu tiga puluh menit dengan kegiatan masak bersama siang itu. Kami menikmati menu makan siang berdua dengan obrolan ringan tanpa sedikitpun membahas tentang pemakanan dan juga Luna, sepertinya Naomi menghindari kedua hal itu untuk dibicarakan sekarang.
Setelah selesai dengan makan siang, Naomi memintaku untuk tetap berada di tempatku sedangkan dia tiba - tiba berlari keluar dari ruang makan entah kemana. Tidak lama Naomi kembali membawa dua barang yang dia letakkan disebelah tanganku ketika dia sudah duduk kembali tepat di depanku, mataku terpaku menatap dua barang itu yang ternyata adalah Diary Luna dan sebuah surat.
"Itu milik Luna, ayah dan ibu Luna yang memberikannya padaku... katanya kamu yang seharusnya memiliki buku diary itu dan tentang surat... katanya Luna menuliskannya saat kami baru tiba di Paris" celetuk Naomi karena aku hanya diam membisu menatap kedua benda itu, aku mematung saat itu..
Pada akhirnya aku menyadari apa yang Luna katakan tentang janji yang sudah ditepati, itu adalah janjinya untuk menulis semua keseharian didalam buku diary itu. Saat itu aku tidak tahu apa isi dari buku Diary Luna karena aku masih tidak yakin aku mampu untuk membacanya, bagaimanapun ini adalah hari pemakaman Luna dan masih terasa sangat baru untukku berpisah dengannya. Lalu tentang surat yang ditinggalkan untukku, tidak.. itu bukan hanya untukku, aku yakin Luna meninggalkannya untuk kami semua.
"Kamu tidak harus membukanya sekarang... aku tahu kamu pasti butuh waktu, untuk sementara izinkan aku menyimpannya sampai hatimu siap untuk membacanya" ucap Naomi kembali memecahkan keheningan, ketika itu aku mengalihkan pandanganku menatap Naomi.
"Aku baik - baik saja, kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan ku seperti itu..." timpal ku dengan nada kesal, Naomi tersenyum padaku sembari menghela nafasnya.
"Gimana aku gak khawatir, kamu terlihat sangat sedih..." ucap Naomi
"Surat dan diary ini.. aku titipkan dulu padamu, sebelum itu... aku ingin mencetak foto - foto saat aku di Paris" aku mengatakannya sembari mengoperasikan ponselku, aku menelepon nomor Luke saat itu.
***
"Halo Jester!! apa kamu butuh aku?!! aku akan segera kesana!!" ucap Luke ketika teleponku terangkat
"Apa - apaan kau ini? aku baik - baik saja" timpal ku kesal pada respon berlebihan itu
"Hah?! gak mungkin, kamu saja gak datang ke pemakaman..." belum selesai Luke berkata, aku mendengar suara keributan dibalik telepon. Aku mendengarnya sedang berdebat sengit dengan seorang wanita, sepertinya itu Sarah.
"Halo Jester, apa kamu membutuhkan Luke? aku yakin kamu akan lebih membutuhkanku saat ini, temanmu ini terlalu bodoh untuk membantumu disaat seperti ini" ucap Sarah, benar dugaanku jika saat ini Luke sedang bersama Sarah.
"Aaa Sarah, Ahaha... kamu benar, mungkin aku lebih butuh kamu saat ini" timpal ku
"Katakan saja, aku akan usahakan semampuku" dengan tegas Sarah mengatakannya
"Aku ingin mencetak foto - fotoku saat berada di Paris, sebenarnya hal sederhana tapi aku ingin foto yang mampu bertahan dari air, warnanya tahan lama dan... tidak cepat rusak" pintaku, sejenak antara aku dan Sarah pun terdiam...
"Baik, itu mudah... aku akan segera kerjakan, kamu kirim saja foto - foto itu padaku" celetuk Sarah memecah keheningan
"Terima kasih, Sarah" timpal ku lalu aku menutup teleponnya.
__ADS_1
***
Setelahnya aku menghabiskan waktuku mengobrol dengan Naomi sepanjang hari, aku berusaha untuk bangkit dari keterpurukan ku. Menata hati lebih sulit daripada membuatku bangkit dengan semua kenangan buruk ku, terlebih sebenarnya aku ingin segera mengunjungi makam Luna secepatnya meski aku sadar hatiku masih belum siap. Tepat satu minggu sejak hari pemakaman Luna, aku akhirnya memutuskan untuk mengunjungi makamnya.