Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
season 3 : episode 24


__ADS_3

Pagi menjelang siang yang begitu cerah, matahari terasa begitu menyengat dan menembus dress lengan panjang yang aku kenakan hari itu. Sinar matahari itu juga terasa menembus kulit kepalaku yang sudah aku tutupi dengan bandana yang menghiasi rambutku, keringat mulai bercucuran sangat deras saat aku dan kak Jester mengantri untuk membeli tiket masuk festival square.


Ketika tiba giliranku, aku segera mengatakan kepada petugas jika aku menginginkan tiket terusan agar aku dapat menaiki semua wahana yang ada ditempat ini. Tidak lama petugas memberikan dua gelang tiket kepadaku, aku pun segera merogoh sling bag ku untuk membayar tiket itu namun disaat bersamaan tangan kak Jester meletakkan sejumlah uang di atas meja loket. Tidak lama tangan kak Jester mengambil kedua gelang tiket itu lalu berbalik menatapku dengan wajah datarnya, dia memberi gestur tangan agar aku segera menjulurkan tanganku kearahnya.


Perlahan aku menjulurkan tangan kananku dengan tatapan mata yang terus menatap wajah datar kak Jester, disaat itu kak Jester memasangkan tiket gelang itu di pergelangan tanganku. Aku sungguh tidak menyangka dia akan melakukan hal manis seperti ini ditengah apa yang sudah terjadi diantara aku dan dia, aku termenung menatapnya dengan perasaan bahagia.


Namun termenung nya aku tidak membuat kak Jester merespon apapun, setelah memasang gelang tiket itu di pergelangan tanganku dia langsung mengalihkan pandangannya untuk memasang gelang tiket miliknya di pergelangan tangannya sendiri. Masih tanpa berkata apapun tiba - tiba kak Jester berjalan masuk kedalam gerbang meninggalkanku yang masih tersipu malu dan juga sangat bahagia itu, sikap gentle kak Jester tidak pernah berubah meski kak Jester masih menyimpan amarah yang meletup - letup kepadaku.


Aku segera berlari untuk menyusul kak Jester masuk kedalam gerbang festival square, jujur saja saat itu langkah kakiku terasa begitu ringan. Mungkin aku sedang sangat bahagia, atau mungkin... karena aku sudah tidak memiliki lebih banyak waktu lagi saat itu. Aku merasakan pusing yang teramat sangat, tapi aku berusaha untuk terus mengabaikan rasa sakit itu sebisa mungkin karena ini bukanlah yang pertama kali aku lakukan selama hidupku.


Dengan tiket terusan itu aku dan kak Jester memainkan semua wahana yang berada disana bersama - sama, kak Jester juga benar - benar memerankan perannya dengan baik sesuai janji kami. Dia terlihat bahagia ketika aku menatap wajahnya baik sebelum maupun sesudah menaiki satu per satu wahana, tapi.... itu hanya terjadi ketika aku menatap wajahnya. Saat tatapanku teralihkan, aku sangat merasakan jika kak Jester ingin segera mengakhiri momen berduaan denganku saat ini.


Aku sangat tahu kenapa kak Jester bisa memainkan perannya dengan sangat baik, itu tidak lebih karena rasa penasarannya tentang apa yang sudah terjadi diantara aku, dia, dan juga sikap Selena yang meniru ku dengan sangat baik. Namun aku berusaha untuk tidak mempedulikan itu, meski sering kali aku ingin bertanya padanya 'apa kamu ingin pulang?'. Tapi jika aku sampai mengucapkannya, momen ini akan benar - benar berakhir saat itu juga kan?


Biarkan aku egois untuk terakhir kalinya.... maafkan aku kak Jester...


Tidak terasa siang pun berganti senja, seperti janji yang sudah disetujui kak Jester saat itu aku dan dia pun berjalan bersama menuju taman labirin yang berada di area festival square. Ketika kami sampai disalah satu pintu masuk menuju taman labirin, wajah kak Jester pun terlihat semakin berat hati. Aku merasakan dengan sangat baik jika sebenarnya kak Jester tidak ingin aku dan dia masuk kedalam lalu bertemu di taman tengah labirin itu, namun ketika menyadari aku menatapnya saat itu kak Jester langsung tersenyum menatapku.

__ADS_1


Kami pun memutuskan untuk berpisah di pintu barat, kak Jester mengatakan jika dia akan mencari pintu lainnya untuk masuk. Aku mengatakan semoga kita bertemu di taman tengah, namun kak Jester hanya membalas perkataanku dengan sebuah senyuman lalu berjalan begitu saja meninggalkanku disana.


Aku menghela nafasku bersamaan ketika mata ini sudah tidak mampu untuk melihat punggung kak Jester ditengah orang - orang yang terlihat lalu lalang, lalu aku melangkahkan kakiku untuk masuk kedalam taman labirin itu bersama dengan beberapa orang lainnya. Aku yakin diantara orang - orang ini pasti ada yang ingin mencoba untuk membuktikan mitos itu, bagaimanapun memang itulah daya tarik dari taman labirin yang begitu melegenda di kota.


Aku sempat pesimis untuk dapat bertemu dengan kak Jester di taman tengah, jika dulu aku tidak berharap dan mengacuhkan mitos itu namun kali ini semuanya berbeda. Kini aku berharap bisa bertemu dengannya meski aku bukan lagi jodoh untuk kak Jester, dengan semua yang sudah terjadi... bagaimana mungkin labirin ini akan tetap mempertemukan ku dengannya, yakan?


Tapi.... takdir itu adalah sesuatu yang lucu...


Disepanjang perjalanan aku hanya melamun sampai aku tidak sadar sejak kapan aku tinggal sendirian saja saat itu, aku melihat sebuah jalan yang tertulis 'Pintu Selatan'. "Aku.. sampai taman tengah?" tanyaku dalam hati, aku pun berharap jika didepan sana aku bisa melihat kak Jester sedang menungguku. Aku sedikit berlari agar aku dapat segera melihat sebuah air mancur dengan sebuah kursi berhias karangan bunga berbentuk lambang cinta disebelahnya, aku juga berharap... ada kak Jester didekat air mancur itu.


Betapa bahagianya aku ketika mata ini menatap punggung seorang pria yang begitu aku kenal, ya... itu punggung dari kak Jester. Begitu tegap, bidang dan juga terlihat berwibawa jika dipandang, sebuah punggung yang berhasil merobohkan tembok pesimis ku jika seorang berpenyakitan sepertiku pun akan merasakan cinta di penghujung usianya.


Tubuhku bergetar...


Bibirku tidak dapat terkontrol dengan mengucapkan "Aku ingin menemanimu semampuku, siapapun nanti yang akan menjadi pendampingmu kelak... semoga dia benar - benar mampu membuatmu bahagia..."


Aku berjalan perlahan mendekatinya, ketika aku merasa suaraku akan sampai dan terdengar olehnya... aku pun segera mengatakan...

__ADS_1


"Mitosnya siapapun yang sampai di taman tengah labirin festival square saat senja dan menunggu disini sampai lonceng berbunyi tanpa ada gangguan dari siapapun, maka mereka akan berjodoh" ucapku untuk menyapanya, kak Jester pun memutar tubuhnya untuk menatapku yang tepat berada dibelakangnya.


"Mitos yang tidak berdasar, aku tidak pernah mempercayai mitos" timpalnya sinis, aku tersenyum dengan sedikit suara tawa kecil.


Kini kami berdiri cukup dekat dan berhadap - hadapan dengannya, senyumku tidak dibalas kak Jester namun apa lagi yang mau aku harapkan? akan terlalu tamak jika aku masih berharap kak Jester bersikap manis padaku, ini saj sudah cukup untukku. Tidak lama kak Jester tertawa kecil seakan geli akan sesuatu, aku pun bingung dibuatnya.


"Hei... hei.. sudah berapa kali kak Jester sampai ditempat ini?" tanyaku mencoba untuk memancing apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan.


"Terhitung sama hari ini, aku sudah dua kali sampai di taman ini" jawabnya dengan sedikit suara tawa yang menyertai


Aku cukup terkejut dengan jawabannya, "Dua kali termasuk hari ini? tapi dari cerita Selena, dia mengatakan jika kak Jester dan Naomi sudah pernah bertemu disini dan itu adalah awal mula dari hancurnya pertemanan antara Naomi dan Selena. Apa kak Jester lupa sudah pernah bertemu denganku sebelum ini?" tanyaku dalam hati, tapi aku tidak ingin terbawa suasana sedih atas jawaban kak Jester. Aku pun menanggapi jawabannya dengan sebuah tawa, lalu aku katakan padanya...


"Tidak... tidak.. kamu salah menghitungnya kak" timpal ku masih dengan sedikit suara tawa, seketika itu tawa kak Jester menghilang dan ekspresi wajahnya pun terlihat bingung.


"Apa maksudmu?" tanya kak Jester dengan nada keheranan, dahinya pun mengerut seakan dia sedang mencoba untuk mengingat kembali.


"Jika dihitung dengan sekarang.... maka total kamu sudah tiga kali sampai disini, saat kencan pertama kita, saat kamu bertemu Naomi secara mengejutkan sesuai cerita Selena, dan hari ini kamu bertemu lagi denganku" jawabku, aku tersenyum menatapnya.

__ADS_1


Seketika itu kak Jester terkejut mendengar jawabanku, ekspresi wajahnya terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan padanya. Aku begitu merasakan jika kak Jester terus berusaha untuk mengingat kejadian kencan pertama kami, matanya kesana kemari seakan sedang membuka satu per satu laci memori didalam kepalanya untuk membantah jawabanku.


__ADS_2