Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 4 : Episode 5


__ADS_3

Cinta bersemi kembali... atau hanya sekedar perasaan iba... aku tidak tahu...


Hatiku terasa sakit ketika mengingat waktuku bertemu Luna semakin sempit karena kondisinya... tidak ada satupun tanda yang ada di hadapanku tentang Luna yang mengatakan jika dia sedang baik - baik saja, kondisinya yang seperti itu membuatku merasa kasihan padanya. Tapi... perasaan sesak apa ini yang ada di dadaku? perasaan perih apa ini yang begitu aku rasakan di hatiku? aku terlalu bingung dan tidak tahu apa ini sebenarnya...


"Lalu aku harus gimana? apa yang seharusnya aku lakukan sekarang disaat kamu seperti ini?! aku bingung harus melakukan apa untukmu, sekarang katakan saja dengan jujur.. kamu mau bagaimana disaat seperti ini? katakan saja... aku pasti akan melakukannya untukmu... jangan ada rahasia - rahasia lagi diantara kita... aku tidak ingin hidup dalam penyesalanku..." ucapku padanya dengan kepala tertunduk, sebuah kata yang Luna tuliskan sebagai kalimat yang takut untuk dia dengar...


Semua karena aku tidak bisa menahan emosiku, Yah.. jujur saja aku menangis ketika mengatakannya, aku akui ada rasa takut untuk kehilangannya ketika itu.. aku hanya tidak mau lagi salah untuk melangkah seperti yang sudah - sudah, sesuatu hal yang aku benci dari Luna dan Naomi. Hal itu juga yang membuatku tidak bisa menerima Naomi di sisiku saat ini, hal itu adalah... keputusan untuk melakukan semua sendiri dengan membohongiku.


"Aku... ingin istirahat... bisa tinggalkan aku..." timpal Luna ketika itu, aku terkejut karena dia mengusirku...


Aku pikir dia marah padaku atau apapun itu sampai membuatnya mengusirku, setidaknya itulah yang aku pikirkan ketika dia mengatakan ingin istirahat. Aku mendongak dan menatap matanya, memang saat itu garis senyumnya terangkat seakan dia baik - baik saja tapi aku tahu dia akan menangis...


"Kamu... mengusirku...?" tanyaku kaget, sebenarnya jika pun dia menangis ketika itu aku tidak masalah. Tapi seperti itulah wanita yang aku cintai, mereka selalu sok tegar di hadapanku...


"Tidak kak... aku hanya sedang tidak enak badan, mungkin efek obat yang aku terima dan sekarang... aku sangat merasakan ngantuk..." jawab Luna dengan senyumannya, aku segera menyeka air mataku yang tersisa lalu segera berbalik untuk keluar dari kamar itu.


Aku bukan tidak ingin mendebatnya seperti apa yang dia tuliskan didalam buku ini, tapi aku yakin tentang apa yang aku pikirkan saat itu. Luna ingin sendiri dengan semua tangisannya, baik jika itu yang dia inginkan... aku pun memutuskan untuk memberinya ruang saat itu, segera aku langkah kan kakiku sampai ke pintu keluar namun dia memanggilku tiba - tiba ketika tangan ini sudah menyentuh ganggang pintu.


Aku menoleh menatapnya setelah dia memanggilku... dia masih tersenyum dan memintaku membawakan sebuah gitar ketika aku datang untuk menjenguknya lagi, aku katakan aku menyanggupinya dan segera berjalan keluar. Aku menutup pintu itu dengan rapat tapi aku tidak segera beranjak dari depan kamar Luna yang tertutup itu. Aku mendengarnya... sedikit berteriak dan menangis, sesuai dugaanku... dia tidak menuliskannya dibuku ini, aku tahu kamu membohongiku untuk kesekian kalinya... Luna...


Tangisan Luna terdengar pedih di telingaku... aku tahu kamu membutuhkan seseorang yang bisa membuatmu lebih tenang, tapi aku putuskan untuk tidak melakukannya agar kamu paham jika setiap manusia membutuhkan tempat untuk bersandarnya. Kita tidak boleh selalu merasa kuat, akan ada saatnya kita harus jujur pada diri sendiri jika kita membutuhkan sosok itu. Dan saat itu sebenarnya... aku ingin menjadi sosok yang bisa menjadi sandaran untukmu, lihatlah seberapa keras kepalanya kamu di hadapanku...


Aku beranjak pergi ketika suara tangisan Luna semakin sayup - sayup aku dengar, aku rasa dia tertidur atau mungkin dia sudah bisa mengendalikan emosinya. Pemikiran itu aku yakini karena alat pengukur detak jantung Luna terdengar stabil dari luar kamarnya, karena itulah aku pun memutuskan untuk pergi.


Pergi... tidak, aku tidak bisa kembali ke hotel... bukan karena aku tidak ingin, tapi aku tidak takut tiba - tiba kamu membutuhkanku. Aku ingin selalu ada di sekitarmu meski kamu tidak tahu, kamu pun tidak perlu tahu jika aku saat itu menunggumu seharian di ruang tunggu rumah sakit. Hingga pagi menjelang aku masih setia menunggumu di ruang tunggu rumah sakit, sampai membuat papa mungkin merasakan khawatir karena aku tidak juga kunjung pulang ke hotel.


Di Pagi pada keesokan harinya aku melihat papa datang kerumah sakit, kami bertemu di depan tempat pendaftaran pasien dimana menjadi tempat para pendamping pasien menunggu. Ketika itu papa berjalan mendekatiku lalu duduk tepat di sebelahku, sempat saling terdiam sampai suara helaan nafas papa terdengar.


"Kenapa? bukankah seharusnya kamu senang Luna sudah bangun dari koma?" tanya papa dengan nada yang terdengar begitu santai


"Kenapa wanita selalu tidak bisa jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" balikku bertanya pada papa, pemikiran itu sangat menggangguku sampai membuatku marah pada Luna dan Naomi.


"Kenapa mereka selalu memaksa kita untuk mengerti kode - kode dari mereka?! kenapa mereka tidak langsung jujur saja pada kita tentang apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?!!" tanyaku semakin emosi karena papa hanya terdiam dengan pertanyaan pertamaku, aku menatap wajah papa dan melihatnya memutar kepala beberapa kali seakan dia sedang mencarikan jawabannya untukku.


"Papa juga tidak paham kenapa wanita selalu melakukan hal itu, mereka selalu merasa bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan kita para pria ini. Tapi... memang sering kali mereka berhasil melakukannya... Nak, dengarkan papa..." jawab papa lalu dia menatapku dengan tajam dan begitu serius, tapi ketika itu aku malah menundukkan pandanganku menatap lantai.


"Bertemu dengan seseorang kemudian berpisah dengannya itu sudah menjadi hal yang wajar didalam hidup manusia, tidak akan ada seorang pun yang mampu mempertahankan janji untuk selamanya. Menderita, sakit hati, dan sengsara itu juga bagian dari hidup, hidup itu berat ya..." ucap papa lalu dia menghela nafasnya sejenak, bersamaan dengan itu aku kembali menatap mata papa.


"Pokoknya bertahanlah hari ini dan kamu suatu saat akan menemukan titik kebahagiaanmu sendiri, sama seperti papa yang akhirnya bertemu sama mama mu dan kamu yang hadir didalam hidup papa" begitulah papa melanjutkan perkataannya, tangannya yang besar dan hangat itu pun mengelus kepalaku beberapa kali dengan lembut.

__ADS_1


"Kata - kata papa membuat aku semakin terpuruk" timpal ku kesal, meskipun keren namun kalimat itu tidak memberikanku semangat sama sekali. Terlebih itu tidak menjawab apapun dari pertanyaanku, dasar papa yang aneh.


"Yah mau gimana lagi, memang itu adanya dan karena kamu sudah dewasa maka kamu harus menyadari pahitnya hidup ini" terdengar berat hati ketika papa mengatakannya, aku mengerti semua itu karena memang begitulah hidup...


"Aku mengerti, terima kasih nasehatnya papa" celetukku lalu aku pun berdiri untuk membeli sebuah gitar sesuai yang Luna inginkan.


Papa bertanya mau kemana aku dan aku katakan tujuanku, pada akhirnya aku berdua bersama papa pergi ke toko musik untuk membeli sebuah gitar akustik. Entah kenapa papa tahu toko musik terdekat dan kami segera kesana, aku pun tidak bertanya kenapa dia begitu menghapal setiap sudut kota Paris. Padahal aku yakin papa bukanlah orang Paris atau dia pernah tinggal lama disini sebelumnya, tapi mungkin karena aku lelah setelah seharian tidak tidur membuatku kurang bisa berpikir dengan jernih.


Di Toko musik yang dipilihkan papa, aku membeli sebuah gitar akustik yang cukup indah bentuknya. Papa yang sebenarnya memilihkan untukku setelah sebelumnya mencoba semua gitar yang ditawarkan oleh penjaga toko, tanpa berdebat apapun aku langsung menerima gitar itu dan papa sendiri yang membayarkannya untukku. Didepan toko musik itu aku berpisah dengan papa, saat itu papa bilang ingin kembali ke hotel dan memintaku segera kembali jika urusan dengan Luna sudah selesai hari ini.


Aku mengangguk lalu segera berjalan kembali ke rumah sakit tempat Luna dirawat, tidak butuh waktu lama hingga aku sampai didepan kamar Luna karena jaraknya yang memang sangat berdekatan. Dengan udara yang termasuk dingin membuatku tidak merasakan capek ketika berjalan di Paris ini, tubuhku juga tidak mengeluarkan keringat sama sekali.


Didepan pintu kamar Luna ketika itu aku mengetuknya perlahan, suara Luna pun terdengar mempersilahkan aku masuk. Aku membuka pintunya perlahan dan melihatnya sedang menikmati sarapan yang ada diatas meja lipat yang menjadi satu dengan brankar, tapi ketika itu aku tidak melihatnya menyentuh makanan itu. Sepertinya dia sudah kehilangan nafsu makan, dalam hati ingin aku bertanya padanya tentang makanan apa yang ingin dia makan tapi entah kenapa mulut ini begitu sulit untuk bertanya.


Mata Luna terlihat berbinar ketika aku sudah masuk bersama gitar dibelakang punggungku, Luna mengucapkan terima kasih sembari mendorong meja makan untuk menyingkirkan menu sarapan paginya. Senyum itu entah kenapa membuatku merasa lega, aku merasa berhasil setidaknya membuatnya bahagia meski ini adalah hal kecil yang bisa aku lakukan untuknya.


"Aaa terima kasih! tunggu, aku harus bersiap dulu" begitulah Luna mengatakannya seraya hendak merapihkan rambutnya...


Ya... rambutnya yang sudah tidak ada di kepalanya, seketika itu senyumnya pun menghilang dan nampak dia sangat bersedih. Aku tahu itu, tapi aku tidak tahu harus bagaimana cara untuk menghiburnya...


"Eee Luna... tidak usah dipikirkan.." itulah kalimat bodoh yang aku lontarkan ketika itu...


"Aaa dokter tidak mengizinkanku pake rambut palsu... aku kan jadi jelek kalau seperti ini di penampilan terakhirku..." timpal Luna dengan nada yang terdengar sedih, aku merasa geli mendengarnya berkata seperti itu...


"Hei hei kak, rekam penampilanku pakai handphone mu donk" pinta Luna padaku, aku menurutinya meski tidak mengatakan apapun.


Disebuah meja yang berada dibawah televisi, aku meletakkan handphone disana bersandar pada vas buka agar kamera dapat mengambil gambar kami berdua. Setelah menekan tombol 'rekam', aku segera berjalan mendekati kursi yang berada disebelah brankar Luna. Ketika itu aku masih sibuk untuk menyelaraskan nada di tiap senar gitar, kami pun terdiam sampai Luna tiba - tiba berkata sesuatu yang menyedihkan bagiku...


"Di penampilan terakhirku... aku sudah menyanyikan dua lagu dan tinggal satu lagu lagi yang tidak dapat aku nyanyikan saat itu..." celetuk Luna memecah keheningan dikamar ini, perkataannya saat itu menarik perhatianku.


"Lagu apa itu?" tanyaku, meski saat itu aku terus menyetel gitar agar tidak mengeluarkan suara yang sumbang.


"Adele... All I Ask..." jawabnya dan aku pun terkejut, jari jemariku terhenti sejenak untuk menyetel gitar itu.


All I Ask...? itu lagu yang menandakan sebuah perpisahan... lagu itu dibuat oleh Adele yang bercerita tentang seseorang yang tidak bisa bersama lagi dengan kekasihnya dan akan berpisah untuk selama - lamanya. Pada malam terakhir mereka, dia meminta pada kekasihnya untuk berpura - pura bahagia agar hubungan mereka bisa berakhir dengan manis...


Bagaimana hatiku tidak hancur ketika mendengarnya kami akan menyanyikan lagu itu? apa aku sanggup? bukankah ini seperti pesan terakhir darinya untuk berpisah denganku? apa ini semacam firasat kami akan segera berpisah tidak lama lagi? itulah yang ada di kepalaku ketika mendengarnya mengatakan tentang lagu yang tidak bisa dia nyanyikan, Luna benar tentang aku yang memiliki pemikiran sama dengannya.


"Nama panggung yang aku gunakan saat itu adalah Lunar karena aku selalu merasa sebagai bulan yang terlihat indah ketika malam namun aku tidak bisa terlihat indah jika hanya mengandalkan kekuatan sendiri, aku membutuhkan matahari agar terlihat indah pada malam hari namun sayang aku sudah kehilangan sinar matahariku... aku mengatakan itu pada mentorku dan dia langsung memilihkan ku lagu itu dengan alasan aku dapat menyanyikan lagu itu dengan sangat baik jika melibatkan perasaan... cinta... pada matahariku" terdengar sedih saat Luna mengatakannya

__ADS_1


Aku hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, yang aku pikirkan ketika itu hanyalah aku tidak ingin merusak penampilannya didepan kamera. Sehancur apapun hatiku ketika mendengarnya menyanyikan lagu itu, aku harus bertahan.


"Kak... apa kamu bisa mengiringiku dengan gitar itu?" tanya Luna seakan dia memastikan kesiapan hatiku untuk membawakan lagu ini berdua, aku tidak setegar itu...


"Aku.. akan lakukan yang terbaik" begitulah jawabku untuk meyakinkan Luna jika semua akan baik - baik saja...


Aku segera memulai masuk kedalam intro lagu, bersamaan dengan itu aku mendengar Luna menarik nafasnya untuk bersiap menyanyikan lagu itu... All I Ask... dari Adele..


***Adele - All I Ask***


I will leave my heart at the door (Aku akan mengikhlaskan semuanya)


I won't say a word (Tak ada penyesalan lagi didalam hidupku)


They've all been said before, you know (Semuanya sudah jelas, kau tahu)


So why don't we just play pretend (Mari kita berpura - pura semua baik - baik saja)


Like we're not scared of what's coming next (Seolah kita tak takut pada apa yang akan terjadi)


Or scared of having nothing left (Atau takut tak memiliki apa - apa lagi)


Look, don't get me wrong (tolong, jangan salah paham dengan sikapku)


I know there is no tomorrow (Aku tahu hubungan ini akan berakhir)


All I ask is (Yang aku minta hanyalah...)


If this is my last night with you (Jika memang ini adalah malam terakhirku bersamamu)


Hold me like I'm more than just a friend (Peluk aku seakan kita masih sepasang kekasih)


Give me a memory I can use (Beri aku kenangan yang bisa aku ingat)


Take me by the hand while we do what lovers do (Pegang tanganku seperti yang dilakukan sepasang kekasih)


It matters how this ends (Sangat penting untuk menciptakan kenangan terakhir)


'Cause what if I never love again? (Karena bagaimana jika kita tidak pernah bisa bersatu kembali?)

__ADS_1


*********************


Ditengah lagu pun aku terhenti.... air mataku tidak bisa lagi aku tahan dan seketika itu jari jemariku bergetar hebat bersamaan dengan tubuh ini, suara Luna dengan lagu itu membuatku.... tidak sanggup untuk meneruskannya...


__ADS_2