
Keesokan harinya ketika jam istirahat sekolah, aku yang saat itu duduk bersama dengan Selena hendak pergi untuk menuju kantin sekolah bersama - sama. Namun ketika kami akan keluar, kak Natalie, kak Ayara, dan kak Coralia sudah menunggu kami didepan pintu kelas. Kak Natalie mendekatiku dan menarik kerah bajuku dengan kasar, Selena saat itu ingin mendorong kak Natalie namun tanganku menghalangi Selena untuk mendekat.
"Apa Justin yang meminta Jester untuk melindungi mu?!" bentak kak Natalie padaku, aku terkejut dengan pertanyaan kak Natalie karena aku tidak tahu alasan kak Jester menolongku kemarin.
Apakah selalu seperti itu ya penampilan seorang senior yang sering melakukan bullying? Sangat mengintimidasi dengan tangan yang kuat menarik kerah baju dan tatapan mata yang sangat merendahkan. Tapi aku bisa apa? tidak... aku tidak bisa melakukan apa - apa selain hanya menjawab pertanyaannya dengan jujur dan tentu saja patuh.
"Aa.. aku tidak tahu kak" jawabku terbata
"Jawab jujur!!" bentaknya lagi, aku pun menundukkan pandanganku karena rasa takut mulai menyerang.
"Woi Natalie! gak kapok - kapok kamu ya" teriak seorang pria di belakangku
"Luke!! mau apa sih kamu ikut - ikut?!!" bentak kak Natalie
"Kak Luke? kenapa dia ada disini? apa dia bersama pangeranku?" tanyaku dalam hati, aku masih tidak bisa menoleh kebelakang untuk melihat bersama siapa kak Luke saat itu karena tangan kak Natalie masih menggenggam kerah bajuku.
Tidak lama kerah baju belakangku terasa ditarik dengan kuat oleh seseorang hingga tangan kak Natalie terlepas dari kerah baju depanku, hasil tarikan itu menyebabkan satu kancing bajuku terlepas dan dengan segera aku menutupi belahan dadaku dengan kedua tanganku.
"Aku harus bawa putri bulan ini ke Jester" jawab kak Luke
Senang sih terlepas dari jeratan kak Natalie, tapi tarikan tangan kak Luke terlalu keras hingga membuat kancing bajuku terlepas dan tentu saja itu membuatku panik.
'Putri'... Aku sampai melotot karena terkejut dengan ucapan kak Luke saat itu, tidak hanya aku... saat itu aku dapati ekspresi wajah kak Natalie, kak Ayara, kak Coralia juga sama terkejutnya denganku. Perlahan kepalaku menoleh menatap Selena yang menatapku dengan heran, seakan tatapan mata Selena saat itu mengatakan "Ada apa?" kepadaku.
"Jester... mau bertemu si miskin ini?" tanya kak Coralia
Menjadi orang miskin disekolah elit memang tidaklah mudah, sekolah elit dengan mayoritas siswa dan siswinya yang merupakan anak dari orang - orang terkaya dan pejabat memanglah sulit dijauhkan dari tindakan bullying. Bahkan para guru seakan takut melawan muridnya sendiri karena pengaruh kuat dari kekayaan orang tua mereka. Sejak awal memutuskan untuk menerima tawaran keluarga Parker aku sudah tahu inilah yang akan terjadi pada gadis miskin sepertiku, menyedihkan yaa...
Perkataan kak Coralia yang menyakitkan itu dijawab oleh kak Luke dengan jawaban yang cukup Lucu bagiku, memang ada yang lebih miskin daripada aku?
"Kenapa? apa bagimu aku dan Harry lebih kaya daripada putri bulan ini?" tanya balik Luke lalu merangkulku dan menggiringku meninggalkan tempat itu
"Hei Luna, tenang aja... kalau Jester udah melindungi mu maka tidak akan ada satu anak pun disekolah ini yang berani mengganggumu lagi" celetuk kak Harry yang ternyata berada tepat disebelah kiriku
"Haa? eeh.. ii... iya..." timpal ku terbata, aku bingung harus berkata apa.
Mereka membawaku sampai kesebuah tanah lapang tempat para siswa dan siswi bermain golf mini di area sekolah, dari kejauhan aku melihat kak Jester yang sedang mengayunkan stick golf nya dan memukul bola golf sangat jauh dan lurus. Ketika aku, kak Luke dan kak Harry mendekat, saat itu kak Jester mengambil ancang - ancang untuk mengayunkan stik golf itu lagi.
__ADS_1
"Hei Jester! aku membawa putri bulan mu!" teriak kak Harry
Sepertinya teriakan kak Harry mengagetkan kak Jester karena teriakan itu membuat kak Jester melepaskan stik golf itu ketika dia mengayunkannya, stik golf itu terlempar cukup jauh dan kami semua pun terdiam menatap stik golf itu melambung hingga jatuh kembali ke tanah.
"Lemparan yang bagus" celetuk kak Luke menyindir pukulan kak Jester dengan sedikit suara tawa yang kak Luke berusaha tahan.
"Itu gara - gara Harry teriak padaku!!" bentak kak Jester terdengar marah
"Hei Jester, ganti cabang olah raga lempar lembing aja. Ahahaha" timpal kak Harry dan tertawa begitu keras
"Diam kau rubah bodoh!!" ucap kak Jester, lalu dia pun menghela nafas dan menatapku dengan tajam.
Sial... aku kembali gugup, tatapan mata tajam itu seakan melumpuhkan sendi - sendiku. Debar jantung yang kembali tak beraturan kini terasa semakin parah, aarrrghhh.... rasanya ingin sekali kabur. Tapi wajah khas penampilan Harry Potter itu sungguh sangat menarik perhatianku.
Aku tidak tahu harus berkata apa saat itu, antara takut, senang, bingung dan kaget yang semuanya bercampur jadi satu dalam kepalaku. Meski kak Harry dan kak Luke tertawa, namun aku terlalu takut untuk ikut tertawa. Aku pun memutuskan untuk menundukkan kepalaku, untuk sejenak kami berempat terdiam.
"Kamu ada masalah apa sama Natalie?" tanya kak Jester memecah keheningan diantara kami, pertanyaan yang cukup mengejutkan untukku.
"Aa.. aku... tidak tahu.." jawabku terbata
"Dia anak kelas dua sama sepertiku, tapi karena kekayaan orangtuanya membuat dia berkuasa disekolah ini. Bahkan anak kelas tiga pun enggan berurusan dengannya" ucap kak Jester
Bukan tanpa alasan aku bertanya tentang hal itu, aku hanya tidak ingin salah menempatkan diriku. Bagaimanapun aku sadar diri aku hanyalah anak seorang sopir pribadi keluarga Parker, meski keluarga Parker menganggap ku seperti keluarganya sendiri. Tapi untuk berteman dengan orang kaya lainnya... aku rasa itu yang disebut sebagai manusia tamak.
"Tidak tidak... aku bahkan tidak tahu kenapa dia begitu takut padaku" jawab kak Jester dengan muka masam dan bingung sembari memberi gestur tangan seakan mempertegas kesalahan pemikiranku.
"Aku cuma anak dari pemilik jaringan hotel sedangkan dia anak dari CEO perusahaan impor paling berkuasa di negara ini" ucap kak Jester menjelaskan posisi mereka, aku pun sedikit memiringkan kepalaku karena heran dengan perkataan kak Jester.
"Mungkin karena dia suka padamu" timpal kak Luke dengan suara tawa menggoda
"Tidak tidak... aku tidak suka dengannya, bukan tipeku" ucap kak Jester dengan tegas lalu mengalihkan pandangannya menatap langit cerah siang itu
"Lalu seperti apa tipemu?" tanya kak Harry
"Entahlah... aku juga bingung" jawab kak Jester
Saat itu kak Luke mencerca kak Jester dengan banyak pertanyaan dan aku hanya bisa memandangi tingkah lucu mereka. Pertemanan yang seperti itu tampaknya sangat seru.
__ADS_1
"Apa dia berambut hitam panjang terurai?" tanya kak Luke
"Iya iya, yang seperti itu terlihat cantik" jawab kak Jester
"Setinggi bahumu? dan bertubuh seperti model?" tanya kak Luke
"Iya iya... sekitar 170 sentimeter sudah sangat cukup untukku yang 180 an dan dia harus memiliki berat badan yang proporsional" jawab kak Jester
"Bagaimana warna kulitnya? terus tipe bentuk wajah yang gimana yang kamu suka?" tanya kak Luke
"Berkulit putih dengan bentuk wajah oval dagu runcing, bibir tipis dan mata ala artis korea juga boleh, kalau bisa pupil mata berwarna kehijauan yang langka itu" jawab kak Jester
Aku pun hanya bisa bengong menatap kak Jester yang berdiri tegak sembari menatap langit cerah, sedangkan kak Luke dan kak Harry serentak mereka tertawa terbahak - bahak. Suara tawa itu menarik perhatian kak Jester yang langsung menoleh menatap kedua temannya itu, masih dengan wajah terlihat bingung kak Jester menatap kak Luke dan kak Harry.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya kak Jester
"Hei Jester! yang kamu minta semuanya ada pada diri anak ini" jawab kak Harry lalu dia kembali tertawa
Jawaban kak Harry saat itu membuat kak Jester untuk pertama kalinya menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala, kemudian wajahnya terlihat memerah karena dia tersadar akan semua jawabannya ada pada diriku.
Jika kak Jester saja memperlihatkan wajahnya yang memerah, tentu saja aku lebih dari itu. Aku tersipu malu tetapi juga terkejut. Apa mungkin kisah cintaku akan semudah itu? tidak seperti kisah dalam dongeng antara pangeran dan rakyat jelata yang sulit untuk bersatu. Jika memang iya... beruntung sekali aku ini.
Entah itu adalah sebuah rekayasa mereka bertiga atau memang seperti itulah wanita idaman kak Jester, aku tidak dapat menerkanya... Mungkin karena aku masih terlalu tegang dengan semua bullying yang menimpaku seminggu terakhir ini atau karena.... aku terlalu senang semua kriteria yang kak Jester inginkan ada pada diriku...
"Aaa... anu.. Tidak begitu maksudku! Yang tadi itu cuma jawaban spontan!!" ucap kak Jester mencoba untuk membantah perkataannya sendiri, namun bantahan itu semakin membuat kak Luke dan kak Harry tertawa terbahak - bahak.
"Berarti itu perkataan jujur" ucap kak Luke dengan suara tawanya
"Hei Jester! benarkah ini pengalaman pertamamu mendekati wanita? kenapa aku melihat kamu sudah sangat berpengalaman?" sindir kak Harry masih dengan suara tawanya
"Diam kalian bodoh!! kenapa malah jadi begini?!!" teriak kak Jester lalu berlari meninggalkan kami dengan wajah yang terlihat begitu memerah karena malu.
Dalam hatiku berkata "Benarkah? ya ampun kak Jester~" lalu aku tertawa kecil bersamaan dengan tawa kak Luke dan kak Harry yang tidak ada henti - hentinya itu.
Sumpah serapahku seakan kembali terbukti, pangeranku menjadi pria aneh ketika berhadapan denganku. Terlihat gak keren? aah apa peduliku, aku yang menginginkan pria seperti ini dalam hidupku yang singkat ini... Aku ingin dia menemaniku.... Aku ingin mengejar dan memeluknya dengan erat dan tidak ingin aku lepaskan selamanya...
Selamanya?
__ADS_1
Tidak.... maksudku, sampai di penghujung usiaku... :)