
Dua hari setelah kedatangan Grece ke rumahku, kini aku sering disibukkan dengan acara pencarian bakat yang diselenggarakan oleh media Werner. Aku berkumpul bersama dengan peserta lain yang juga lolos bersamaku di gedung serbaguna milik desa, mereka terlihat saling mengenal satu sama lain tidak seperti diriku yang hanya bisa duduk menyendiri dipojok ruangan.
Yaah... ini desa yang tidak terlalu luas sebenarnya, tapi aku memang tidak pernah keluar dari rumah jadi wajar saja mereka tidak mengenalku. Bagi mereka aku mungkin orang asing yang entah datang darimana lalu ikut audisi di desa mereka, tapi ada yang menarik dari kejadian ini. Itu dimulai ketika seorang wanita yang seusiaku datang mendekatiku dengan tatapan sinis, dia berdiri di hadapanku bersama teman prianya dan mengatakan...
"Kamu orang kota?" tanyanya padaku, aku terkejut namun aku hanya diam menatap keduanya bergantian.
"Kenapa diam? aku bertanya padamu, apa orang kota tidak mengerti cara menjawab pertanyaan?" tanyanya lagi menekan ku, aku tersenyum untuk merespon perkataan sinis itu.
"Tidak, aku tinggal tidak jauh dari gedung serbaguna ini. Aku sama seperti kalian, penduduk desa ini" jawabku dengan sopan, aku tidak ingin mendapat masalah disini.
"Ooh iya? dimana rumahmu? kami tidak pernah melihatmu disini, apa kamu orang suruhan itu?" tanya pria disebelah wanita yang menatapku sinis itu, aku memiringkan kepalaku sedikit karena aku bingung dengan pertanyaannya.
"Orang suruhan?" tanyaku heran
"Jangan sok bodoh deh, semua sudah menduga akan terjadi seperti ini. Kalau kamu benar - benar penduduk sini, kamu akan tahu apa yang jadi kegelisahan kami" timpal wanita didepan ku, aku semakin bingung dengan apa yang terjadi.
"Maaf... aku benar - benar tidak tahu apa yang kamu katakan, bisa jelaskan padaku?" tanyaku lagi berharap aku tidak terus dicurigai mereka
"Dari lima belas peserta, hanya kamu yang tidak kami kenal. Selain itu, sangat aneh media sebesar Werner Grup mengadakan audisi sampai ke desa - desa dengan jumlah uang yang sangat besar bagi pemenang. Jadi kami semua beranggapan jika ini hanya akal - akalan untuk menarik jumlah penonton dengan memanfaatkan orang - orang desa seperti kami, apa kamu paham?" jawab pria itu, aku pun tertawa kecil menanggapinya.
"Kenapa kamu tertawa? kamu mengejek kami?!" bentak wanita di hadapanku
"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja kalian berpikir terlalu buruk, tapi aku mengerti... lima belas peserta hanya aku yang kalian tidak kenal. Aku tinggal di perkebunan buah Lincoln, apa kalian tahu?" tanyaku pada mereka, aku sedikit tertawa saat itu karena pemikiran mereka yang berlebihan.
"Kamu... anak tuan Lincoln?" tanya pria di hadapanku
"Luna Lincoln... salam kenal" timpal ku lalu mengajak mereka untuk berjabat tangan
"Peter West anak dari kepala desa, salam kenal" jawab pria itu sembari menjabat tanganku dengan kuat, namun jabat tangan kami segera ditepis oleh wanita disebelahnya.
"Manda Jhonson, anak pemilik supermarket Jhon tempat orangtuamu mengirim buah" celetuk Manda dengan sinis setelah menepis jabat tanganku dengan Peter.
"Manda! kasar banget" timpal Peter, Manda hanya membuang muka lalu berjalan pergi meninggalkan kami.
"Maaf ya, tidak biasanya dia begitu" ucap Peter kepadaku, aku tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
"Tidak usah dipikir, kalian pasangan?" tanyaku
"Ha? eeh bukan, kami bukan pasangan. Hanya saja kami memang sedang dekat saja" jawabnya sedikit panik, aku tertawa kecil menanggapi jawaban Peter. Bagaimana pun aku paham jika Manda menyimpan rasa suka, dekat dengan mereka hanya akan menimbulkan masalah.
"Bagaimana denganmu? apa ada anak desa yang kamu suka?" tanyanya, aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan Peter. Aku hanya diam dan membuang muka menghindari bertatapan mata, entah apa yang akan dia pikirkan dengan sikapku.
Aku terkejut bukan karena itu sebuah pertanyaan yang sensitif untukku, tapi karena... saat pertanyaan itu terlontar aku tiba - tiba terbayang wajah pangeranku... Jester Gates, sebuah nama yang sampai detik ini pun tidak dapat aku lupakan... mungkin karena cintaku padanya terlalu besar, atau karena kesalahanku padanya terlalu jahat...
"Na? Luna?!" agak berteriak Peter mengatakannya, tidak terasa aku tiba - tiba melamun saat itu.
"Hah? aaa... maaf, aku melamun tadi" timpal ku
"Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Peter padaku, aku hanya menggelengkan kepala beberapa kali.
Pembicaraan kami terpotong ketika panitia berteriak meminta kami untuk berkumpul di atas panggung, aku dan Peter berjalan berdampingan menuju atas panggung dan aku merasa jika tatapan sinis beberapa orang tertuju padaku. Sekilas aku teringat tentang kenangan buruk ku saat masih di SMA dulu, "Apa itu akan terjadi lagi? tapi gak mungkin lah... aku disini cuma beberapa jam saja, jangan cari masalah Luna" ucapku dalam hati.
"Halo semua, aku rasa kalian sudah mengenalku kan? tentu saja, aku yang memiliki ide dan rencana mencari mutiara ditengah lumpur loh. Ahahaha..." ucap Grece kepada kami
Grece terlihat duduk dibawah panggung menatap kearah kami semua, namun entah kenapa aku merasa jika tatapan mata Grece lebih tertuju padaku. Mengingat isu yang berkembang diantara kami para peserta... aku rasa apa yang Grece lakukan bukanlah hal yang baik untukku, "Aaah Grece... kenapa kamu menatapku seperti itu? apa kamu gak mendengar isu - isu ditengah kami" ucapku dalam hati dengan wajah kesal menatap Grece.
"Maaf, bukan seperti itu maksudnya! nona Werner jangan membuat gaduh donk!!" dengan panik Aiko mencoba untuk menenangkan suasana
"Nona Werner, segera minta maaf!! sudah aku bilang slogan itu buruk!!" timpal Yohan yang juga panik karena kami para peserta mulai menunjukkan protes kami
Namun Grece terlihat tidak ingin minta maaf bahkan tidak merasa bersalah, peserta lain mulai sedikit menunjukkan protes mereka kepada panitia. Sedangkan aku... aku hanya bisa menahan tawa sembari menatap Grece yang kekanakan itu dan merasa kasihan pada Aiko dan Yohan yang terlihat mati - matian mencoba meminta agar Grece meminta maaf pada kami para peserta.
Setelah debat panjang yang melelahkan dan tidak bermanfaat, akhirnya Grece dengan berat hati mau untuk meminta maaf. Disana kami diberitahu jika proses eliminasi akan divideokan, diunggah ke website resmi media Werner, dan akan disebar ke seluruh penjuru negeri. Mendengar penjelasan Aiko dan Yohan membuat kami para peserta menjadi antusias, Grece? dia disuruh diam saja di kursi juri karena Yohan dan Aiko sepakat mengambil alih semuanya mulai dari sini.
Semua detail - detail kecil sudah dijabarkan secara gamblang oleh Aiko dan Yohan, termasuk hari pertama kami akan berkompetisi. Saat dinyatakan sudah selesai, kami pun membubarkan diri. Tidak seperti peserta lainnya yang berjalan keluar gedung bersama teman - teman mereka, aku berjalan sendiri menuju parkiran untuk menemui ayah yang akan menjemput ku.
Tapi disana ayah tidak ada, sepertinya saat itu ayah telat untuk menjemput ku. Jadi aku memutuskan untuk duduk disebuah kursi taman tidak jauh dari parkiran. Ooh iya.. aku tidak menggunakan handphone sejak memutuskan menghilang dari kak Jester, handphone pemberian Selena aku letakkan di sebuah kotak khusus bersama dengan semua benda - benda kenanganku lainnya.
Aku berusaha untuk mengubur semua kenangan - kenangan itu agar dapat hidup kembali tanpa merasa bersalah pada kak Jester, kak Luke, kak Harry, dan keluarga besar kak Jester... tuan William dan nyonya Marrie, tapi sepertinya aku terlalu naif... rasa bersalah itu hanya bertambah besar dan menjatuhkan ku pada jurang kesepian tiada dasar, mungkin orang jahat sepertiku pantas untuk mendapatkan ini.
"Luna? kamu gak pulang?" suara seorang pria terdengar ditengah lamunanku, aku sedikit tersentak lalu mencari darimana sumber suara itu. Aku melihat Peter berdiri di belakangku entah sejak kapan, mungkin karena wajahku yang terlihat terkejut saat itu sampai membuat Peter merasa bersalah padaku.
__ADS_1
"Maaf, aku gak maksud buat kamu kaget" timpalnya lagi
"Aaah.. gak kok, gakpapa. Aku aja yang melamun sampai gak sadar kamu ada di belakangku" jawabku, lalu dia berjalan mendekat dan duduk di sebelahku.
"Nunggu jemputan?" tanya Peter lagi, aku hanya menganggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku lihat dijadwal kompetisi... kamu pakai nama Lunar, kenapa?" tanya Peter, aku tertawa kecil mendengar pertanyaannya itu.
"Hmm... karena... aku tidak ingin identitas asliku diketahui, aku melakukan ini cuma karena ingin membuat orangtuaku bangga padaku" jawabku
"Yaah... semua juga melakukan hal yang sama, tapi itu gak menjawab apa yang aku tanyakan" timpal Peter mencoba untuk memancing alasan utamaku merubah nama, aku berhenti tertawa dan menatapnya dengan tajam.
"Waah... sepertinya pertanyaanku salah ya, maaf aku gak bermaksud membuatmu membicarakan hal yang sensitif untukmu" celetuk Peter, aku mengalihkan pandanganku menatap depanku.
"Aku cuma tidak ingin nama Asliku diketahui, hanya itu..." timpal ku datar, lalu kami terdiam beberapa saat.
"Kamu... berbeda dari kebanyakan anak disini, apa benar kamu berasal dari sini?" tanya Peter lagi memecah keheningan, aku kembali menoleh menatapnya.
"Berbeda?" tanyaku heran
"Yaah kamu tahu... cara berpakaian, logat bicaramu, termasuk penampilan keseluruhan mu... kamu tidak terlihat dari desa, mungkin kota besar lebih cocok untukmu" jawabnya, aku menghela nafas lalu kembali mengalihkan pandanganku ke depan.
"Kenapa kamu tertarik dengan hal seperti itu? mengetahui aku darimana tidak memberikan keuntungan apapun untukmu, jadi saranku cobalah untuk tidak mempedulikan ku. Dan tentang isu itu, aku tidak terlibat apapun dan aku akan berkompetisi secara jujur" ucapku dengan sedikit nada tinggi, namun Peter menanggapi ku dengan suara tawa kecil.
"Aku jadi semakin yakin kamu memang bukan asli dari desa ini, tapi semoga dugaan kami semua tentang kompetisi setingan tidak terbukti" dengan sedikit suara tawa Peter mengatakannya, aku hanya diam saja mencoba untuk mengabaikannya.
"Lunar... aku akan panggil namamu dengan nama itu, semoga kamu tidak keberatan" ucapnya lagi
Aku menoleh menatap wajahnya dan dia tersenyum padaku, aku hanya berwajah datar saja menatapnya sampai suara klakson mobil terdengar. Ayah sudah sampai untuk menjemput ku dan aku langsung berdiri untuk mendekati mobil diikuti Peter di belakangku, tidak lama ayah turun dari mobil dan menyambut Peter yang berjalan mendekati ayah.
Mengetahui Peter yang berjalan di belakangku membuat aku terkejut, aku tidak sadar dia berjalan mengikuti ku untuk menemui ayah. Namun sepertinya ayah dan Peter bukan orang yang pertama kali bertemu, mereka berbicara terdengar akrab satu sama lain. Percakapan yang cukup singkat pun selesai, ayah berpamitan pada Peter dan kemudian kembali masuk kedalam mobil. Aku berjalan memutari depan mobil untuk masuk kedalam kursi penumpang depan, namun sebelum masuk tiba - tiba Peter berkata...
"Aku ingin bisa akrab denganmu, semoga kita bisa berteman dengan baik... Lunar" celetuknya sembari tersenyum dan melambaikan tangan
Dia berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu tanpa menunggu jawaban dariku, aku merasa ini akan menjadi masalah baru untukku... tapi aku tidak ingin terlalu memikirkannya secara berlebihan karena tujuanku hanya terletak pada kompetisi menyanyi yang aku impikan.
__ADS_1