
Suasana diruang makan ini terasa canggung malam itu, tatapan Selena kepadaku pun menampakkan seberapa kecewanya dia kepadaku. Mungkin jawabanku bukan yang dia inginkan, namun hatiku sudah aku tetapkan untuk memilih Naomi yang menjadi pendamping untuk kak Jester.
Udara dingin dari angin malam saat itu seakan menembus masuk kedalam ruang makan rumah kak Jester dan Naomi, entah karena memang dingin atau karena obrolanku dengan Selena yang dingin. Aku bingung harus bersikap bagaimana disaat seperti ini, mendukung Selena hanya akan menambah beban kak Jester dan juga menenggelamkan Selena kedalam jurang patah hati. Karena aku tahu, kak Jester sangat mencintai Naomi.
Cukup lama aku dan Selena saling menatap dalam diam, semua berakhir ketika Selena menunduk menatap ratatouille dihadapannya lalu melanjutkan makan dengan lahap. Setelah menyantap satu sendok, Selena terdengar menghela nafasnya sebelum mengatakan...
"Aku mengerti, aku juga sudah menduga kamu akan mengatakannya" celetuk Selena memecah keheningan di suasana yang canggung itu, mendengarnya ucapannya yang terasa kecewa itu membuat hatiku terasa sakit. Aku pun menundukkan kepalaku
"Maaf Selena... aku harap kamu mengerti tentang pilihanku" timpal ku penuh penyesalan
"Inti perjanjian kita untuk membahagiakan kak Jester, kamu juga katakan cuma khawatir dia mendapatkan wanita yang gak baik. Jadi saat kamu melihat Naomi yang menjadi pacar kak Jester, tentu kamu lebih merasa tenang daripada aku yang mendampinginya" ucap Selena seakan menjelaskan apa yang menjadi keputusanku
Aku terkejut dengan perkataan Selena, dia bicara seakan aku menganggap dirinya buruk dan tidak baik untuk kak Jester. Aku benar - benar tidak menganggapnya seperti itu, aku cuma memilih Naomi karena mereka saling mencintai dan tidak lebih dari itu. Jika pun ada penilaianku yang lain atas pilihanku, itu hanya karena Naomi memiliki sifat kurang lebih mirip denganku.
"Bukan gitu!!" bantahku padanya dengan bentakan, tapi kemarahanku saat itu dibalas dengan suara tawa oleh Selena.
"Iya aku paham, kamu melihat kuatnya ikatan kak Jester sama Naomi makanya akan lebih tenang bagimu membiarkan mereka menjadi sepasang kekasih" agak sedikit tertawa Selena mengatakannya, dia seakan sedang menyindirku tapi mendengar suara tawanya membuat hatiku merasa lega.
"Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku, jika pada akhirnya aku tidak bisa memikat hatinya... setidaknya aku pernah terikat dalam hari - hari bersamanya. Aku akan dekat dengannya sebagai Selena Parker dan bukan sebagai Selena Luna" ucap Selena terdengar sedih, namun ketika dia selesai mengatakannya aku mendengarnya kembali tertawa.
"Keras kepalamu tidak pernah berubah, aku pasti mendoakan yang terbaik untukmu dan aku berharap kamu akan bahagia. Maaf aku tidak bisa menemani dan menolong mu berjuang" ucapku, ketika aku mengatakannya jujur saja aku ingin menangis. Mataku saat itu juga sudah berkaca - kaca, tapi aku berusaha menahannya sekuat mungkin.
"Jangan katakan hal yang menyedihkan begitu" timpal Selena dengan suara yang sedikit gemetaran, sepertinya dia juga sedang menahan tangisnya sama sepertiku.
Malam itu suasana canggung berganti menjadi haru, aku melanjutkan memakan Ratatouille di hadapanku dan sesekali aku menyeka air mata yang menggenang di mataku. Aku berusaha untuk terus tersenyum ketika aku dan Selena saling pandang, saat mata kami bertemu entah kenapa aku ingin tertawa dan saat itu mungkin Selena merasakan apa yang aku rasa. Kami tertawa bersama sambil menghabiskan makanan kami, sepertinya Selena benar - benar sudah menerima takdir persahabatan kami.
__ADS_1
Setelah mencuci piring dan membereskan dapur yang berantakan itu, aku dan Selena keluar dari dapur dan menuju kamar. Selena sepertinya sudah sangat paham dengan posisi setiap ruang di rumah ini, padahal aku kira dia tidak pernah menemui kak Jester dirumahnya karena ada Naomi. Tapi sepertinya dugaanku salah, mereka pernah akrab dan mungkin pernah menginap bersama sebelum semuanya menjadi kacau balau seperti sekarang.
Ketika aku membuka pintu kamar, aku melihat Naomi duduk bersandar di dipan kasur sembari memeluk kedua lututnya. Dia terlihat sedang melamun karena tatapan matanya kosong menatap selimut dihadapannya, menyadari kedatanganku saat itu Naomi mengalihkan pandangannya dan menatapku meski hanya diam.
"Ada apa?" tanyaku begitu khawatir akan keadaannya, tapi Naomi merespon pertanyaanku dengan gelengan kepala.
"Cerita sini... aku akan mendengarkan dan beri solusi jika kamu membutuhkannya" ucapku lagi mencoba meminta kepercayaannya lagi agar mau menganggap ku sebagai temannya, namun kembali Naomi menggelengkan kepalanya untuk menjawab perkataanku.
"Aku lelah, aku akan tidur lebih dulu. Kalian lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan, anggap rumah sendiri" ucap Naomi terdengar kecewa, lalu Naomi merebahkan tubuhnya dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Sejenak aku tersadar kenapa nada suara Naomi terdengar kecewa, semua itu karena saranku padanya sebelum semua menjadi seperti ini. Meski aku masih tidak bisa meraba apa yang salah, tapi sikap kak Jester yang aneh itu membuatku berpikir jika aku harus melakukan sesuatu diluar kebiasaanku menangani kak Jester.
Aku menghela nafasku lalu berjalan mendekati kasur, disana aku merebahkan tubuhku tepat disebelah Naomi yang memunggungi ku. Aku terdiam sejenak sembari menatap langit - langit kamar, menata kata apa yang akan aku ucapkan padanya untuk mendapatkan kepercayaannya lagi setelah sebelumnya aku gagal memberinya saran yang baik.
"Disaat seperti itu biasanya aku hanya duduk disebelahnya dan diam namun tetap terus tersenyum padanya, lama kelamaan dia akan salah tingkah dan akhirnya rasa marahnya pun hilang" ucapku lagi meneruskan kalimatku yang terhenti tadi, namun Naomi tetap terdiam dan tidak memberikan tanda - tanda apapun jika dia mendengarkan perkataanku. Sampai tiba - tiba dia berkata...
"Kamu sangat memahami Jester... apa tidak pernah terpikir olehmu untuk kembali padanya?" tanya Naomi, suaranya terdengar sedih ketika dia mengatakannya.
"Dari sudut manapun kita semua tahu kalau kak Jester sangat mencintaimu dan sangat membenciku, aku tidak akan mampu bersaing denganmu" jawabku tegas dengan helaan nafas, Naomi kembali hanya terdiam tanpa kata entah apa yang dia pikirkan setelah mendengar jawabanku.
"Apa alasan kamu menerimaku? kalau kamu sangat takut denganku, kamu bisa mengusirku sejak awal" tanyaku sedikit menekannya, aku ingin tahu apa yang menjadi alasan terbesarnya menerima permintaan egoisku itu.
Namun yang aku dapat hanya kesunyian malam dikamar itu, Naomi tidak menjawab dan melakukan gerakan apapun. Dia seakan sedang berpura - pura tidur agar ada alasan jika dia tidak mendengar pertanyaanku, aku rasa memang tidak akan ada hal yang baik ketika aku memaksakan kehendak ku. Sampai tiba - tiba akhirnya Naomi memulai menjawab pertanyaanku...
"Aku menerima permintaanmu karena aku merasa hanya dengan cara ini Jester akan mampu berdamai dengan hatinya" jawab Naomi, namun sepertinya jawaban Naomi menggelitik untuk Selena sampai dia menimpali jawaban Naomi.
__ADS_1
"Konyol, kamu hanya membuka pintu untuk pesaing mu" celetuk Selena dengan sedikit suara tawa
Celetukan Selena saat itu membuatku marah, aku menoleh menatapnya yang ternyata sedang duduk di kursi meja rias. Aku memelototinya dan menunjukkan aku tidak suka dengan celetukannya itu, mungkin Selena sadar aku marah atas celetukannya sampai dia akhirnya menundukkan kepalanya terlihat menyesal.
"Aku tahu aku konyol, aku sudah katakan tadi kalau aku wanita terbodoh yang mungkin sudah dilahirkan di dunia ini!!" bentak Naomi ketika itu
Aku kembali menatap punggung Naomi lalu aku elus punggungnya agar menenangkan amarahnya karena celetukan Selena, aku tidak menyangka Selena akan seperti itu. "Apa yang terjadi pada Selena? tidak biasanya dia bersikap seperti itu ditengah pembicaraan serius ini" ucapku dalam hati, aku begitu keheranan dengan yang baru saja terjadi.
"Kenapa kamu merasa seperti itu?" tanyaku lagi mencoba memancing apa yang sebenarnya dia pikirkan sejak tadi
"Aku juga pernah berada di posisi Jester, hatiku begitu tersakiti oleh cintaku pada seseorang. Sampai tidak ingin rasanya melihat wajahnya lagi, yang terasa hanya perasaan muak dan hati semakin sakit. Tapi Jester tidak pernah memintaku untuk mengindari Daniel, dia justru menemaniku melewati semuanya hingga akhirnya sekarang aku dapat berdamai dengan hatiku. Melihat Daniel pun hatiku mati rasa, semua berjalan normal seakan aku tidak mengenalnya" jawab Naomi, namun lagi - lagi aku mendengar Selena tertawa.
"Tapi kau tidak menghadirkan Daniel ditengah kalian, kan? apa hubungannya dengan kondisi kak Jester?" sindir Selena dengan suara tawanya, aku sungguh tidak menyangka Selena akan seperti itu.
"Selena!!" bentak ku padanya sambil menatapnya tajam
Emosi Naomi kembali terpancing saat itu, dia sampai duduk dari tidurnya dan menatap Selena dengan penuh amarah.
"Iya aku tahu aku bodoh!!" bentak Naomi dengan satu tarikan nafas
"Aku hanya berpikir, jika Jester mampu membuat hatiku berdamai dengan caranya maka aku yakin cara yang sama juga akan membuat Jester mampu berdamai dengan hatinya tanpa harus memiliki kotak pandora nya!!" Naomi melanjutkan kata - katanya masih terdengar penuh emosi.
Kotak pandora? Naomi mengatakan tentang kotak pandora di depanku... apa dia tahu arti dari kotak pandora yang dimiliki oleh hati kak Jester? aku cukup terkejut ketika mendengar kata itu dari Naomi, tapi aku harus menenangkan hatinya dulu karena ulah Selena.
Pembicaraan ini semakin menarik perhatianku atas analisaku tentang kotak Pandora yang dimiliki hati kak Jester...
__ADS_1