
Senja...
Matahari terlihat mulai tenggelam dan langit pun perlahan menjadi gelap, lampu - lampu di taman itu mulai menyala saling bersambut, lonceng yang tepat berada di taman itu pun mulai berdenting dengan keras begitu merdu, suasana meriah saat itu tidak mampu untuk melepaskan pandanganku dari wajah kak Jester yang tepat berdiri di hadapanku. Kami masih saling bertatapan mata dalam diam sejak perkataan terakhirku tentang pertemuan kami di taman ini untuk kedua kalinya, kak Jester masih terlihat mencari celah untuk membantah perkataanku.
"Kami berjanji untuk saling menemani dalam keadaan apapun... sedih, senang, terpuruk, hingga bangkit, sampai kematian yang akan memisahkan kita..." ucapku memecahkan keheningan diantara kami, wajah kak Jester pun terkejut ketika mendengar perkataanku.
Mungkin celetukan ku itu membuat ingatannya kembali, wajah kaget itu seakan mengatakan bahwa kak Jester teringat akan sesuatu. Aku mengabaikan ekspresinya, lalu aku kembali melanjutkan janji yang pernah kami ikrarkan ditempat ini.
"Kami berjanji..." namun belum selesai aku berkata, tiba - tiba kak Jester menyela ku
"... akan selalu saling mencintai dalam keadaan apapun... marah, sedih, kecewa, cemburu, hingga kematian yang memisahkan kami..." timpal kak Jester dengan suara yang terdengar bergetar, mataku pun berkaca mendengar kak Jester menimpali perkataanku.
Dia teringat tentang janji kami yang pernah bersama - sama kami ucapkan ditempat ini, sepertinya kotak pandora itu sudah seutuhnya terbuka. Aku ingin memeluknya dan mengatakan maaf, tapi aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk melakukannya. Bibirku mulai bergetar untuk kembali mengucapkan lanjutan dari janji itu, tapi sepertinya kak Jester pun merasakan hal yang sama.
"Kami berjanji bahwa hanya kematian yang akan memisahkan kita, demi apapun... kami mengikrarkan janji ini secara sadar dan tanpa paksaan..." secara bersamaan kami mengucapkan hal yang sama
Janji yang sama diucapkan dengan begitu lancar tanpa terlupakan satupun dari setiap kalimatnya, yang berbeda adalah caranya berbicara. Dulu, dua tahun yang lalu... kami ucapkan janji itu dengan riang gembira namun kali ini penuh dengan kesedihan dan penyesalan. Jangan tanyakan lagi tentang apa yang aku rasakan dengan hatiku... seketika rasanya ingin mempercepat kematianku karena penyesalan itu terlalu besar untukku, namun aku ingat harus melanjutkan apa yang tersisa. Benar... aku harus menyelesaikan hal yang belum terselesaikan dengan baik.
Seketika itu tangisan ini sudah tidak mampu untuk aku bendung, air mataku berderai deras membasahi seluruh pipi. Sedangkan kak Jester... dia hanya terdiam dengan wajah sedih menatapku. Tidak lama air matanya pun mengalir dengan tatapan kosong kepadaku, aku tahu dia sangat syok karena telah mengingat kembali kenangan yang sudah dia kubur dalam - dalam selama ini.
Apa lagi yang bisa aku lakukan? tidak ada... aku hanya bisa menyesal sudah memberikan luka itu padanya, aku hanya bisa menyesal sudah membuatnya patah hati, dan aku hanya bisa menyesal... karena aku membohonginya selama ini...
__ADS_1
"Maaf.... maaf.... maaf.... aku melanggar janji kita... maafkan aku..." suaraku bergetar saat mengucapkannya, tangisanku pun semakin menjadi - jadi seketika itu dan aku tidak kuasa untuk menahannya.
"Ke... napa... Kenapa kamu sejahat ini padaku?!!! Jelaskan semuanya, Luna!!" bentak kak Jester padaku begitu marah, meski begitu aku melihatnya terus meneteskan air matanya dan itu menyakitkan bagiku.
Aku pikir penolakan ku terhadap kak Jester dulu adalah hal paling menyakitkan yang pernah aku torehkan untuknya, ternyata aku salah. Hari ini aku bahkan lebih melukainya lagi dengan membuka paksa kotak pandora kak Jester. Tapi... aku juga tersiksa dengan semua ini, hatiku hancur seperti tak bisa lagi utuh dan lebur bersama semua penyesalan akan kisah cinta menyakitkan yang aku buat.
"Kak... aku cuma bisa meminta kamu untuk bisa memaafkan ku... maafkan aku...." jawabku pilu dan terbata karena sesenggukan
Seketika itu kak Jester memegang kepalanya dengan sangat kuat sembari menundukkan kepalanya seakan dia sedang melampiaskan semua kemarahannya pada remasan tangannya itu. Tidak lama kak Jester pun berteriak keras, bersamaan dengan itu aku melihat derasnya tetesan air mata kak Jester yang jatuh ke tanah. Begitu pula denganku, aku hanya bisa terdiam, menangis, dan menyesali semuanya... mungkin ini lah akhirnya, aku akan mengakhiri semua dan aku rasa tidak akan ada lagi penyesalan meski aku harus mati hari ini...
Suasana meriah festival square malam itu tidak mampu untuk menghibur perasaan sedih kami, kami hanya bisa terus larut dalam tangisan kami hingga beberapa menit berlalu....
Saat kami dapat menguasai kesedihan kami masing - masing, kami pun duduk bersebelahan disebuah kursi yang berhiaskan kerangka bunga berbentuk hati dibelakangnya. Kami masih terdiam untuk beberapa saat meski kami sudah tidak lagi menangis, aku pun bingung harus berkata apa saat itu. Sampai aku teringat jika inilah saatnya untuk aku katakan sejujurnya apa yang terjadi padaku hingga semua ini bisa berakhir seperti ini, aku sudah berjanji padanya dan aku sudah bertekad untuk mengakhiri ini semua apapun yang terjadi.
"Aku memang penasaran namun sekarang rasa penasaranku hilang dalam sekejap" timpal kak Jester dengan helaan nafas, mendengar jawabannya aku pun mengalihkan pandanganku menatap gelapnya langit malam itu.
"Kalau begitu aku sudah tidak perlu mengatakannya padamu... aku hanya bisa berharap hatimu telah terobati sejak malam ini" ucapku dengan sedikit suara tawa, kami pun terdiam sejenak untuk beberapa saat.
"Apa kamu percaya dengan mitos ditempat ini, kak?" tanyaku ditengah keheningan diantara kami, suara tawa kak Jester pun tiba - tiba terdengar.
"Tidak, kalaupun aku memaksakan diri untuk mempercayainya... pada kenyataannya pertama kamu pergi meninggalkanku, kedua aku dan Naomi juga bertemu di taman ini, dan apa menurutmu aku akan mempunyai dua istri?" jawab kak Jester dengan suara tawa seakan sedang mengejekku jika aku percaya akan mitos itu, aku menghela nafasku sejenak sebelum menimpali perkataannya.
__ADS_1
"Aku percaya sama mitos itu... mungkin sebenarnya aku akan menjadi istrimu jika aku masih punya waktu, tapi ketika aku tidak punya waktu itu maka jodohmu yang lain pada akhirnya dipertemukan kembali di taman ini menggantikan aku" jawabku dengan setenang mungkin agar apa yang ingin aku sampaikan bisa diterima dengan baik olehnya.
"Lalu kamu mau apa sekarang? aku memang pernah mencintaimu begitu dalam, tapi sekarang ruang di hatiku ini sudah tidak bisa lagi diisi oleh dirimu" tanya kak Jester dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun, aku tertawa kecil mendengar perkataannya.
"Maaf... itu semua salahku..." jawabku dengan penuh penyesalan
"Bukan, ini bukan salahmu. Aku hanya merasa ada yang kosong didalam hatiku dan seperti ada yang kurang saat kamu tidak ada, tapi sekarang Naomi sudah mengisi kekosongan itu" timpal kak Jester, mendengar perkataannya jujur saja membuatku sedih tapi aku tetap berusaha untuk terus tersenyum agar tidak menjadi beban untuk kak Jester jika dia tahu aku sedih dengan kenyataan itu.
"Aku mengerti.." ucapku dengan pasrah
"Aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan setelah kejadian ini, tapi aku tidak ingin memberikan harapan palsu kepadamu. Terima kasih atas segalanya" ucap kak Jester lalu dia pun berdiri dari duduknya hendak meninggalkan tempat ini.
Jawaban itu begitu sakit aku rasakan, aku benar - benar kehilangan cinta kak Jester namun saat itu juga aku merasa lega karena kak Jester akhirnya berhasil kembali mencintai seseorang. Naomi adalah gadis yang baik dan sangat tepat untuk kak Jester, aku rasa... aku akan benar - benar tenang untuk meninggalkan kak Jester dengan kematianku sebentar lagi.
Aku pun berdiri lalu membuntuti kak Jester untuk keluar dari taman labirin itu, beberapa kali kami tersesat dan kebingungan untuk mencari jalan keluar namun pada akhirnya kami berhasil keluar dari taman labirin itu dengan meninggalkan semua kenangan kami disana. Dengan gestur tangan kak Jester meminta untuk pulang, aku pun hanya menganggukkan kepala menyetujui permintaannya.
Di malam itu perjalanan pulang kami terasa begitu memilukan, penuh perasaan sedih, kecewa, dan juga penyesalan. Kami berdua hanya bisa terdiam sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu cukup lama... cukup lama ya? bukan... sebenarnya tidak terlalu lama, tapi suasana sedih ini yang membuatku merasa perjalanan kami begitu lama.
Ketika kami sampai dirumah kak Jester dan Naomi, secara kebetulan aku melihat Naomi dan Selena juga baru sampai dirumah. Aku melihat Naomi dan Selena tersenyum menyambut kedatangan kami, namun ketika mobil sudah terparkir sempurna saat itu aku dan kak Jester tidak membalas senyum keduanya sampai membuat Naomi dan Selena kehilangan senyum mereka dan menatapku dengan khawatir.
Tanpa berkata apapun Naomi langsung membukakan pintu masuk rumah untuk kak Jester dan kak Jester pun masuk kedalam rumah tanpa mengatakan apapun, ketika aku hendak menyusul kak Jester untuk masuk kedalam rumah saat itu tangan Selena menghalangiku dan menahanku diteras rumah. Selena langsung memeluk tubuhku dan entah kenapa pelukan itu kembali membuat tangisanku pecah, aku menangis didalam pelukan Selena sejadi - jadinya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, tangan Naomi terasa begitu lembut menyentuh kepalaku yang terbalut rambut palsu. Kami bertiga berada ditempat itu sampai tangisanku berhasil reda, perlahan Selena melepaskan pelukannya lalu kami saling bertatapan mata. Aku tahu mereka penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi diantara aku dan kak Jester, tapi keduanya sangat memahami jika aku tidak ingin membicarakan apapun.
Kami pun masuk kedalam rumah lalu memutuskan untuk segera beristirahat dan membiarkan malam berlalu begitu saja hingga pagi menjelang...