
Aku mendengar kak Jester menarik nafasnya dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan, tidak lama jari jemari kak Jester pun mulai memainkan gitar itu dan memasuki intro dari lagu. Suara intro lagu All I Ask saat itu langsung membuat hatiku terasa sesak, mungkin karena aku sangat mendalami arti dari lagu ini atau mungkin karena aku... tahun ini adalah detik - detik aku dan kak Jester bisa bersama...
***Adele - All I Ask***
I will leave my heart at the door
I won't say a word
They've all been said before, you know
So why don't we just play pretend?
Like we're not scared of what's coming next
Or scared of having nothing left
Look, don't get me wrong
I know there is no tomorrow
All I ask is
If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
'Cause what if I never love again?
*******************************
Ditengah lagu kak Jester tiba - tiba berhenti memainkan gitarnya, aku melihat kak Jester saat itu menopang kepala yang tertunduk menggunakan tangan kirinya. Ketika itu aku juga mendengarnya sedang menangis, nafasnya tidak beraturan yang membuat kamar ini terasa memiliki suasana yang menyedihkan.
Aku? tidak jauh berbeda, sebenarnya hatiku sejak tadi sudah merasa sesak. Beberapa kali aku menahan tangisanku dengan sebuah cubitan keras pada kedua pahaku, semua aku lakukan demi bisa melanjutkan lagu ini dengan baik. Namun pada akhirnya kak Jester lah yang tidak kuat untuk menahan kesedihannya, aku tidak menyangka ini akan berakhir seperti ini.
"Cukup... aku tidak mampu meneruskannya... maaf..." terisak kak Jester mengatakannya, suaranya terdengar begitu berat dan bergetar.
Aku menghela nafasku sejenak dan hendak meneruskan lagu itu meski kak Jester tidak lagi mengiringiku dengan petikan suara indah gitarnya, aku juga terus menatap kamera di handphone kak Jester agar kenang - kenangan ini tersimpan dengan baik dan lagu ini pun tersampaikan dengan sempurna.
Momen ini harus menjadikan aku bahagia karena aku bisa kembali mencentang list yang aku buat, dibalik semua usahaku untuk menahan tangis aku tetaplah bahagia berhasil mewujudkan impianku.
***Adele - All I Ask***
I don't need your honesty
It's already in your eyes
And I'm sure my eyes, they speak for me
No one knows me like you do
And since you're the only one that matters
Tell me who do I run to?
Look, don't get me wrong
I know there is no tomorrow
All I ask is
If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
__ADS_1
'Cause what if I never love again?
Let this be our lesson in love
Let this be the way we remember us
I don't wanna be cruel or vicious
And I ain't asking for forgiveness
All I ask is
If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
'Cause what if I never love again?
************************
Aku tidak tahu bagaimana hasilnya namun aku sudah berusaha semaksimal mungkin dengan kondisiku yang sekarang, entah itu akan bagus atau tidak tapi satu hal yang pasti adalah suara sesenggukan kak Jester pasti ikut terekam bersama dengan suara nyanyianku.
Aku menepuk pundak kak Jester dan dia perlahan mengangkat kepalanya untuk menatap wajahku, dengan derai air mata yang begitu deras mengalir saat itu kak Jester terlihat begitu sedih. Aku menghela nafasku lalu aku tunjuk handphone nya yang masih merekam, tanpa kata dan hanya dengan senyumanku kak Jester paham apa yang aku minta.
Dengan langkah yang terlihat gontai kak Jester berjalan mendekati handphonenya yang diletakkan bersandar pada vas bunga diatas meja, aku melihatnya mengoperasikan handphone itu dan sejenak dia terdiam menatap layar. Tidak lama tatapan mata kak Jester beralih padaku, tanpa kata dia memberikan handphone itu seakan kak Jester mengizinkanku untuk melihat hasilnya namun aku menolaknya.
"Tidak perlu, itu pasti penampilanku yang terburuk. Aku cuma ingin itu menjadi kenang - kenangan untukmu, semoga kamu tidak menghapusnya" ucapku, kak Jester memasukkan kembali handphone itu kedalam saku celananya lalu kembali berjalan mendekatiku.
Belum sempat kak Jester duduk, aku pun memecah keheningan dengan mengatakan...
"Pulang lah kak..." celetukku, aku melihat kak Jester begitu terkejut sampai dia langsung mengalihkan pandangannya menatapku.
Aku tersenyum padanya tanpa mengatakan apapun setelah memintanya untuk pulang, perlahan bibir kak Jester terlihat akan bergerak entah apa yang akan dia katakan ketika itu. Aku langsung memotongnya dengan berkata...
"Terima kasih, sampai ketemu besok~" ucapku dengan nada manja, kembali kak Jester terlihat kaget dengan apa yang aku katakan.
Tidak lama kak Jester pun bersiap untuk meninggalkan kamarku, memasukkan gitar kedalam tasnya lalu menjinjing tas gitar itu untuk dia bawa bersamanya meninggalkan kamarku. Langkahnya terlihat gontai dan seakan dia ingin menungguku untuk menahannya, tapi aku tidak menahannya dan terus membiarkan kak Jester keluar dari kamarku.
Bukan aku tidak berperasaan atau bersikap jahat kepadanya, tapi aku lakukan itu semua karena aku... sudah tidak bisa menahan air mata ini lebih lama lagi. Ketika pintu tertutup, pecahlah air mata yang telah aku tahan selama ini. Mereka mengalir begitu derasnya sampai tubuh kurus ini pun bergetar hebat, bibirku pun bergumam "Maaf... maafkan aku...." sepanjang hari
Waktu berlalu dan aku masih tidak dapat menahan air mata ini bahkan ketika perawat dan dokter silih berganti mendatangiku untuk memeriksakan kesehatan dan kondisiku, aku benar - benar menangis sepanjang hari karena mungkin hatiku pun terluka dalam setelah membuat pangeranku menangis sampai seperti itu. Hari berlalu... dan kini...
Hari Ketiga...
Hari yang mengejutkanku karena... Ayah, ibu, Selena, Grece, kak Justin, kak Luke dan kak Harry datang menjengukku. Ini benar - benar mengejutkan karena mereka menjenguk sampai ke Paris, perjalanan yang tentu saja bukanlah perjalanan yang sebentar dan murah tapi pada akhirnya mereka sampai disini. Ketika aku bertanya bagaimana cara mereka sampai disini, Selena menjawab mereka menggunakan pesawat jet pribadi milik keluarga Naomi.
Yaah... tentu saja, tidak mengherankan mereka bisa sampai disini tanpa persiapan apapun seakan ke Paris seperti kamu pergi ke toko diujung perumahan mu. Tapi aku senang melihat mereka hadir disini karena setidaknya aku bisa membuat diriku menjadi lebih kuat dan gak cengeng lagi. Aku lelah harus terus menangis setiap kali bertemu sama kak Jester, setidaknya dihari ini aku bisa tertawa lepas karena tidak tahu kan aku akan meninggal kapan... Haah, setidaknya aku ingin bersenang - senang di hari terakhirku.
"Dimana Naomi?" tanyaku pada Selena
"Dia ke hotel tempat kalian menginap, katanya dia ingin memastikan kak Jester baik - baik saja sebelum menjenguk mu" jawab Selena
"Ooh seperti yang aku harapkan, dia selalu melakukan hal yang aku inginkan bahkan sebelum aku memintanya" timpal ku, Selena pun menatapku dengan raut wajah kesal.
"Apa kamu berniat menyindirku?" tanya Selena kesal padaku, aku hanya tertawa menanggapi kekesalannya.
Setelahnya aku, ibu, ayah, Selena, Grece, kak Justin, kak Luke, dan kak Harry pun mengobrolkan banyak hal, termasuk mereka bertanya tentang kondisiku hari itu. Namun ada hal yang aku sesali, semua bersikap berlebihan padaku. Mereka terlihat begitu sedih dan tidak ada satupun diantara mereka yang membuat suasana hatiku senang.
Aku tahu, aku tahu... semua karena kondisiku kan? tapi percuma saja jika mereka pun kemari hanya membawa rasa sedih, aku ingin bersenang - senang hari ini dan mungkin ini adalah hari terakhirku untuk hidup. Siapa yang tahukan? setidaknya aku ingin mereka mengajakku tertawa bersama - sama.
Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menarik suara tawa mereka masing - masing namun tetap saja gagal, mereka semua masih saja terlihat murung. Tidak ada harapan jika hanya mengandalkan mereka, jadi aku putuskan untuk...
"Selena, bisa kasih tahu aku jadwal dimulainya bioskop terbuka?" tanyaku pada Selena, semua terkejut mendengar ku bertanya tentang bioskop itu.
"Luna... bukan saatnya untuk itu kan?" timpal ibu seakan ibu ingin melarang ku untuk menonton
"Aaa~ ibu, aku tidak punya waktu lagi..." jawabku manja
"Luna, kamu lebih baik istirahat dulu. Besok kita konsultasikan masalah ini sama dokter" ucap ayah yang mendukung ibu untuk melarang ku pergi menonton.
__ADS_1
"Kapan lagi, ayah?" tanyaku menekannya, seketika itu ayah dan ibu menghela nafas bersamaan seakan mereka kesal dengan sikap egoisku.
Sejenak mereka semua terdiam, aku tahu mereka berat hati untuk membiarkanku pergi ke acara bioskop terbuka tapi disisi lain mereka sadar aku tidak mungkin bisa dihentikan saat aku sudah memutuskan sesuatu. Saat itu ayah pun berbalik hendak keluar dari kamar, "ayah marah?" tanyaku dalam hati
"A... ayah..." celetukku yang membuat ayah terhenti langkahnya, ayah pun menoleh menatapku
"Ma.. mau kemana?" tanyaku terbata, senyum ayah pun terangkat seraya berkata
"Ayah akan konsultasikan permintaanmu sama dokter" jawab ayah lalu kembali berjalan keluar dari kamar.
Setelah ayah keluar saat itu aku pun menatap Selena dengan senyum khas ku ketika meminta sesuatu padanya, senyum yang selalu berhasil membuat Selena tidak bisa menolak permintaanku. Ketika aku lancarkan serangan pertamaku saat itu Selena langsung membuang muka, aku tertawa kecil yang membuat ibu, kak Justin, kak Luke dan kak Harry menatapku dengan heran.
Belum juga kalimat pintaku terlontar, suara pintu terbuka pun terdengar. Kami semua mengalihkan perhatian kami pada pintu yang terbuka itu dan aku melihat ayah bersama tuan William masuk kedalam kamar. Betapa terkejutnya aku melihat keberadaan tuan William disini, "Sejak kapan tuan William ada disini?! apa datang bersama yang lain?!! apa yang harus aku lakukan?!!" ucapku panik dalam hati
Tuan William paham seberapa paniknya aku ketika itu, dengan segera gestur tangannya seakan memintaku untuk tidak melakukan apa - apa. Aku pun mengangguk merespon perintahnya, lalu perhatian tuan William beralih pada kak Luke dan kak Harry. Lagi dengan gestur tangan tuan William meminta keduanya untuk mendekat lalu mereka bertiga pun keluar tanpa mengatakan apapun, aku cukup bingung ada apa... tapi kini aku harus kembali fokus pada tujuanku, yaitu Selena.
"Selena~" ucapku manja, tersentak ketika Selena mendengarkan panggilan manjaku.
"Apa?!! aku tidak mau menurutimu kalau permintaanmu aneh - aneh!!!" bentaknya padaku, aku pun tertawa mendengarnya begitu kesal padaku.
"Hei hei... carikan aku jadwal bioskop terbuka untuk malam ini" pintaku padanya
"Tapi kamu kan belum dapat izin!!" timpal Selena masih dengan bentakannya
"Tidak apa kan, setidaknya aku tahu jadwalnya. Jadi ketika aku diizinkan aku bisa..." belum selesai aku berkata, Selena memotongnya.
"Gimana kalau gak diizinkan?!" timpal Selena dengan pertanyaan, aku menghela nafasku lalu aku menjawab
"Aku akan jadi hantu penasaran yang akan terus menghantui mu~" jawabku dengan nada penuh penyesalan
"Luna!!" serentak ayah, ibu, Selena, kak Justin dan Grece meneriaki namaku
"Ahaha... bercanda, tapi tolong lah~ aku cuma ingin bersenang - senang. Kalau pun tidak dapat izin aku tidak akan memaksa kok" jawabku
"Awas aja kamu maksa!" bentak Selena lagi seraya menggulir ponselnya untuk mencarikan permintaanku
Tidak lama setelahnya kami kembali mendengar suara pintu terbuka, sosok Naomi dan kak Jester kali ini yang datang untuk menjengukku. Aaaa~ betapa senangnya aku melihat wajah sahabatku ketika itu, namun sayang senyum yang aku tampakkan padanya dibalas dengan tatapan mata sedih.
"Naomi~! aku kangen~" sapaku padanya, namun suara manjaku ketika itu malah membuat tangisan Naomi pecah seketika.
"Cepat sembuh ya.." timpal Naomi seraya berjalan mendekatiku, aku mengangguk merespon perkataannya.
"Gimana keadaanmu? apa lebih baik?" tanya Naomi begitu perhatian padaku, tangannya pun menggenggam tanganku begitu erat seakan dia takut untuk kehilanganku.
"Aku merasa sehat dan lebih bertenaga, perawat disini juga lebih baik daripada dirumah sakit ku yang dulu. Sayangnya kadang aku tidak mengerti apa yang perawat dan dokter katakan, jadi aku hanya bengong aja saat mereka berbicara padaku" jawabku dengan sedikit suara tawa, aku sengaja terus tertawa agar mereka tidak bersedih terus - menerus karena aku.
"Luna... ini jadwal dan tempat bioskop terbuka musim panas, tidak jauh dari sini tapi... kamu beneran mau pergi hari ini?" timpal Selena menyela obrolanku dengan Naomi, tangannya juga mengarah padaku untuk memberikan handphone miliknya dengan jadwal yang aku minta.
"Hah?! gak boleh!! kamu masih sakit!!" bentak Naomi terlihat marah dan kaget yang menjadi satu, aku hanya membalas amarahnya dengan sebuah tawa kecil.
"Aku sudah izin dokter kok dan dokter mengizinkannya" timpal ku, meski aku berbohong sedikit tentang izin itu namun aku yakin akan mendapatkan izinnya.
"Aku akan temui dokter" celetuk kak Jester seraya berjalan keluar dari kamarku
Sejenak kami pun terdiam semua, aneh.. disini penuh dengan orang namun terasa sangat sepi, tidak ada bedanya dengan aku yang selama dua hari ini berada dikamar tanpa kehadiran mereka. Secara bergantian aku tatap wajah mereka, dimulai dari wajah ayah, ibu, Naomi, Selena, kak Justin, dan Grece, mereka sama saja... semua menatapku dengan sedih dan iba...
Aku tidak suka ini, ini bukan saatnya kami semua diselimuti dengan kesedihan kan? seharunya kami bersenang - senang sekarang, aku pun menarik nafasku panjang - panjang untuk bersiap mengatakan sesuatu pada mereka semua. Kebetulan ketika itu kak Jester pun kembali masuk kedalam kamar, aku mengalihkan pandanganku padanya lalu tersenyum seraya berkata...
"Dengarkan aku~ aku senang kalian datang kesini dan menjengukku... Tapi, kalau hanya untuk menangisi keadaanku... lebih baik kalian pulang, karena tujuanku disini adalah untuk menikmati hari - hari dengan bahagia. Aku ingin menuntaskan impianku dengan senyuman" tegas aku saat aku mengatakannya dan mungkin akan terdengar jutek, tapi aku sudah tidak tahan lagi dengan mereka.
Aku pun cemberut ketika itu seraya menatap mereka semua secara bergantian, perlahan dimulai dari Naomi dan Selena saat itu keduanya memaksakan diri untuk tersenyum dan saling menatap. Setelahnya aku juga melihat ayah dan ibu yang juga saling menatap, lalu diikuti Grece dan kak Justin yang pada akhirnya juga saling bertatapan mata. Tidak lama suara tawa kecil Naomi terdengar, lalu dia berkata...
"Itu senyum terburuk yang pernah aku lihat darimu, Selena" ejek Naomi pada Selena, dia pun tertawa kecil ketika mengatakannya.
"Kamu harus ngaca dan melihat senyum palsu mu itu sebelum menyindir seseorang" timpal Selena terdengar kesal
"Kalian berdua seharusnya meniru ku, senyum palsuku tetap menawan seperti biasa!" Grece pun menyela pertengkaran Naomi dan Selena, keduanya tiba - tiba menatap Grece lalu berkata...
"Itu lebih buruk dari apa yang sudah aku tunjukkan!" serentak Naomi dan Selena mengatakan hal yang sama, suara tawa kak Justin, ayah dan ibu pun pecah seketika.
Suasana pun menjadi begitu hangat dengan tawa kami semua, ketika itu hanya kak Jester yang masih terlihat murung menatapku dari kejauhan. Dia masih saja mematung dan berdiri didekat pintu, matanya yang terlihat berkaca itu terus dia tampakkan di hadapanku. Perlahan aku mengalihkan pandanganku menatap Naomi, Selena, dan Grece secara bergantian karena mereka bertiga masih saja saling ejek, aku tidak ingin lagi membuat kak Jester menangis karena keadaanku.
Di hari ketiga ini aku akan tunjukkan padanya jika aku baik - baik saja dengan semua keadaanku...
Dan yang lebih baik dari itu adalah, aku akan menonton bioskop terbuka nanti malam!!
__ADS_1
Aku tidak sabar menanti matahari tenggelam dan digantikan oleh cahaya rembulan, aku sangat bersemangat untuk itu!
***TULISAN LUNA BERAKHIR***