
Hari berganti setelah pertemuan tidak sengaja antara aku dengan kak Jester dan Naomi di mall kemarin, terakhir aku mendengarkan cerita Selena tentang yang sudah terjadi dan berjalan selama dua tahun belakangan ini. Seharusnya hari ini aku, Selena dan tuan Parker datang ke kampus untuk memintakan aku izin berkeliling fakultas hanya sekedar ingin tahu kehidupan kampus, Selena mengatakan jika pemimpin kampus adalah sahabat tuan Parker ayah Selena jadi kemungkinan besar aku akan mendapatkan izin itu.
Tapi sayang.... saat itu suhu tubuhku meningkat dan aku juga kesakitan pada tulang - tulangku, entah apa yang terjadi padaku saat itu. Aku hampir tidak dapat bergerak dari kasurku dan hanya bisa meronta - ronta menahan rasa sakit yang menyerangku, dokter Ellie sampai datang secara khusus untuk memeriksaku dan mengatakan itu adalah efek samping dari kemoterapi yang sedang aku jalani karena ini seperti memulai dari awal lagi.
Dokter Ellie memberikan aku obat khusus yang mampu meredakan rasa sakit, setelah meminumnya aku memang merasakan jika rasa nyeri yang aku derita perlahan menghilang dan aku pun tertidur begitu saja...
Aku baru terbangun ketika sore hari, sebuah infus sudah melekat ditanganku entah kapan mereka memasangnya. Aku tidak bisa beranjak dari kasurku karena tubuh ini terasa begitu lemas, aku menatap kanan kiri untuk memastikan aku sedang dimana dan aku bersyukur karena aku ada dirumah. Sepertinya kondisiku tidak seburuk yang aku pikirkan, mungkin karena aku masih belum terbiasa dengan efek sampingnya.
Tidak lama aku mendengar seseorang membuka pintu kamarku, aku melihat Selena mengintipku dari balik celah pintu yang terbuka sedikit itu. Aku tersenyum menatapnya lalu dia seperti menghelanafas dan terlihat lega, Selena pun masuk kedalam kamar lalu menarik kursi agar dekat denganku yang terbaring lemas di kasur.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Selena padaku
"Baik... aku cuma sedikit lemas" jawabku mencoba untuk membuatnya tenang, aku yakin sedikit saja aku berkata masih ada yang sakit maka Selena akan meresponnya secara berlebihan.
"Benar.. kah?" tanyanya mencoba memastikan jawabanku
"Tentu, kemarin aku hanya kecapean. Semua gara - gara wanita tumpukan lemak yang rebutan baju denganku" ucapku dengan kesal, Selena tertawa kecil menanggapi perkataanku.
"Luna, permintaanmu sudah diterima... kamu bisa berkeliling kampus sesukamu asal kamu tidak membuat kekacauan atau keributan ketika kelas sedang berlangsung" ucap Selena, aku terkejut mendengarnya karena aku tidak bisa hadir ke kampus Selena pagi ini.
"Hah? sejak kapan? aku kan..." belum selesai aku berkata, Selena memotongnya.
"Kalau ayah yang sudah bergerak, semua akan jadi lebih mudah" timpal Selena dengan senyumnya yang terlihat menyombongkan diri padaku, aku tertawa merespon kesombiongannya.
Tidak lama dokter Ellie dan ibu masuk kedalam kamar, dokter Ellie datang untuk memeriksa kondisiku dan melepaskan infus ditanganku. Kami banyak mengobrol tentang hal - hal kecil dan menyenangkan, terasa sekali jika dokter Ellie ingin aku untuk tidak mempedulikan apa yang baru saja terjadi padaku karena siapapun pasti akan merasa terpuruk mengingat hidupnya tidak lagi lama.
Tapi aku tidak...
Tanpa bantuan dokter Ellie pun aku sudah tidak peduli lagi atas apa yang akan terjadi padaku, aku sudah menyerah pada takdirku dan tidak ingin melawannya. Jika pun umur ini masih panjang... sebenarnya yang aku inginkan sangat sederhana, aku hanya ingin berkumpul bersama teman - teman yang aku anggap mereka berharga. Tapi karena takdirku berkata lain, maka aku sederhanakan keinginanku...
Aku hanya ingin... membekas dihati teman - temanku seperti yang pernah Peter katakan
Di keesokan harinya, pada pagi hari Selena datang menjemputku. Aku sudah cukup sehat untuk dapat melakukan aktifitasku hari ini, aku berpamitan pada ayah dan ibu lalu mengatakan jika aku mau ngampus. Ayah dan ibu cukup berat hati untuk melepas kepergianku, tapi mereka tetaplah ayah dan ibu yang aku kenal selama ini. Ayah dan ibu yang selalu menuruti keegoisanku tanpa terkecuali, hal yang paling aku sesali dalam hidup karena aku tidak memiliki waktu untuk membalas kebaikan mereka.
"Pagi Selena" ucapku ketika masuk kedalam mobil Selena
"Pagi Luna, sudah siap?" tanya Selena padaku
__ADS_1
"Kapanpun, aku sangat antusias buat ngampus" jawabku dengan suara tawa, Selena tersenyum lalu dia memutar mobilnya untuk menuju kampus.
Sepanjang perjalanan aku dan Selena mengobrolkan banyak hal yang sebenarnya tidak penting, tentang kampus, tentang kehidupan sebagai mahasiswa, dan tentang kak Jester, Naomi dan juga Camilla. Aku akan bertemu dengan mereka secara langsung, baik sengaja maupun tidak. Tepat pada hari ini, aku seperti menaruhkan batu pertama pada sebuah pondasi.
"Yak disini kampusku, bagaimana pendapatmu? apa lebih indah dibanding sekolah kita dulu?" celetuk Selena ketika mobil kami melaju perlahan menuju parkiran kampus
Tidak ada yang istimewa sebenarnya, kecuali perasaan berdebarku. Aku yang tidak terbiasa bertemu banyak orang sejak dua tahun lalu mengurung diri, kini melihat banyak orang seusiaku lalu lalang diarea kampus. Perasaan tegang dan gugup tentu akan menyelimutiku yang mulai terbiasa untuk menutup diri, tapi memang dasar Luna tidak bisa untuk menjadi seorang penyendiri.
"Aku senang! ayo kita segera melihat - lihat sekitar!!" seruku padanya, Selena sampai kehabisan kata - kata mendengar perkataanku yang begitu semangat.
"Aah.. ii.. iya ayok" timpal Selena terbata
Setelah mobil terparkir di parkiran kampus, aku dan Selena segera turun dari mobil lalu kami berdua berjalan menuju ruang dekan. Disana aku berkenalan dengan dekan sekligus meminta izin untuk berkeliling kampus, karena sudah ada permulaan dari Selena dan tuan Parker saat itu dekan tidak banyak bertanya hal - hal lainnya kepadaku. Aku mendapatkan izin dan segera berpamitan untuk memulai kegiatanku berkeliling kampus, ketika aku berjalan dibelakang Selena untuk keluar dari ruangan sesuatu terjadi.
Selena yang lebih dulu keluar dari pintu, tiba - tiba berbalik dan memaksaku untuk masuk kembali kedalam. Selena begitu panik sampai mendorongku berkali - kali, aku tidak tahu apa yang Selena lakukan karena dia tanpa bicara apapun mendorong dan memaksaku untuk masuk kembali kedalam ruang dekan. Aku malu untuk masuk lagi karena sekertaris dekan menatap kami dengan tajam.
"Hei! apa yang kamu lakukan?!" tanyaku pada Selena
"Masuk cepat~ masuuuk!" jawab Selena, tidak lama terdengar suara seseorang dari luar yang begitu aku kenal.
"Selena, ngapain kamu?" tanya seseorang pada Selena, karena aku merasa hapal akan suara itu dengan segera aku memunculkan kepalaku dari balik pintu.
Seketika itu wajah kak Jester terlihat sangat kaget melihatku, aku pun berjalan melewati Selena yang tiba - tiba membatu lalu berlari mendekati kak Jester agar kami berhadap - hadapan. Mataku berbinar saat itu menatap wajah pangeranku dari dekat, meski ekspresi kak Jester masih terlihat kaget akan kehadiranku dikampusnya.
"Senang bisa bertemu lagi denganmu kak" ucapku padanya, aku kembali mengatakan sesuatu agar suasana canggung itu segera mencair.
Namun yang aku dapat malah kak Jester cuek padaku, dia berjalan melewatiku begitu saja tanpa berkata apapun. Sikap dingin itu seharusnya tidak membuatku marah ataupun sedih, karena sikap dingin yang aku terima dari kak Jester memang pantas aku dapatkan setelah apa yang pernah aku lakukan padanya. Tapi... entah kenapa hatiku terasa sakit, mataku berkaca ketika itu dan aku tidak mampu untuk beranjak pergi dari tempat itu.
"Dia akan mengerti suatu saat nanti" celetuk Selena
Selena berjalan mendekatiku lalu menepuk pundakku dengan lembut untuk menyadarkanku dari lamunan, aku menghela nafas ketika mendengar celetukan Selena saat itu karena tiba - tiba celetukan Selena membuatku teringat akan umurku yang singkat ini.
"Akan memakan waktu menunggu kak Jester mengerti, tidak ada pilihan lain selain aku harus menemui Naomi" timpalku
Aku menyeka air mata yang terbendung di kantung mataku, aku berusaha untuk tidak lagi meneteskan air mata apapun yang terjadi. Selena mengelus punggungku lalu kami berjalan bersama untuk menuju kelas pertama Selena.
Diperjalanan kami menuju kelas... Selena mengatakan jika aku akan bertemu Naomi dengan penampilan berbeda dari yang aku lihat di mall dua hari yang lalu. Selena bilang Naomi selalu menyamar ketika dia berada di kampus, bahkan Naomi juga merubah nama di absensinya untuk menutupi keberadaannya dari mahasiswa lain. Semua Naomi lakukan agar dirinya tidak menjadi pusat perhatian dan menyebabkan keributan seperti yang pernah terjadi ketika aku bertemu dengannya di mall, "Sepertinya kehidupan selebgram terkenal tidak aman ya" celetukku dalam hati.
__ADS_1
Didalam kelas yang terlihat ramai oleh mahasiswa dan mahasiswi, aku dan Selena masuk kedalam dan berjalan mendekati seorang wanita yang sedang duduk disalah satu kursi dan tidak aku kenal. Wanita itu terlihat sibuk dengan handphone miliknya dan seperti hidup dengan dunianya sendiri, karena ketika kami sudah berada disebelahnya pun wanita itu tidak mempedulikan kami.
"Aoi" sapa Selena, barulah wanita itu mendongak menatap kami.
Ekspresinya tiba - tiba terlihat kaget seketika setelah menatap wajahku, dia seakan mengenalku dan punya pengalaman buruk mungkin denganku. Karena saat itu tiba - tiba dia berdiri dan menggebrak meja, aku tahu dia sangat marah saat itu.
"Kamu?!" ucapnya dengan bentakan
"Selena... siapa dia?" tanyaku
"Dia orang yang ingin kamu temui" jawab Selena, seketika aku tersadar jika wanita dihadapanku ini adalah Naomi.
"Kamu Na..." belum selesai kalimatku, Selena dan Naomi kompak menutup mulutku dengan tangan kanan mereka dan memberi gestur agar aku tidak menyebutkan nama itu dengan tangan kiri mereka.
Mereka... kompak ya... :)
"Ma...aaf..." celetukku, Naomi pun menghela nafas dan menarik tangannya dari mulutku.
"Mau apa kamu?!" tanya Naomi padaku
"Eeh... sebelumnya aku mau perken.." belum selesai aku berkata, Naomi memotong
"Luna kan? Luna Lincoln, aku tahu siapa kamu dan semua ceritamu dengan pacarku" timpal Naomi ketus, aku tertawa kecil mendengar perkataannya.
"Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri, baiklah... boleh aku bicara denganmu?" pintaku padanya, Naomi terdiam sejenak sembari terus menatapku dengan tajam.
"Apa ini tentang.... Jester?" tanya Naomi, aku mengangguk beberapa kali untuk merespon pertanyaannya.
"Aku memang ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu, aku ingin membebaskan Jester dari rasa sakit hatinya. Kalau kamu yang meminta duluan malah bagus, aku tidak perlu repot - repot untuk mencarimu" ucap Naomi masih terdengar ketus
"Kalau begitu kita saling membutuhkan, bagaimana? berteman?" tanyaku padanya sembari mengajaknya untuk bersalaman, Naomi terkejut melihatku mengajaknya untuk bersalaman saat itu.
Aku tahu dia pasti kaget dengan apa yang aku lakukan, jika memang kak Jester sudah menceritakan semua tentangku pada Naomi maka ini seperti pertemuan antara pacar dengan mantan pacar bagi kak Jester. Rasa cemburu dan curiga tentu menguasai hati dan pikiran Naomi sebagai pacar kak Jester, aku pun datang tiba - tiba setelah apa yang terjadi pada Naomi dan Selena.
Tapi... Naomi adalah orang baik seperti yang aku duga ketika kami masih anak - anak...
Aku masih ingat penilaianku terhadap Naomi disaat aku pertama kali bertemu dengannya... lebih tepatnya ketika aku, Selena dan Naomi berumur enam tahun.... Selena dan Naomi bermusuhan saat itu dan entah kenapa keinginanku sangat kuat untuk mendamaikan keduanya, aku berhasil... aku berhasil mendamaikan mereka, tapi aku menghancurkan lagi hubungan mereka dengan keegoisanku.
__ADS_1
Ketika Naomi menjabat tanganku... aku merasa kembali menjadi anak berumur enam tahun, aku menatap Naomi juga seperti dia berusia enam tahun... aku sangat ingin berteman dengannya ketika kami masih berumur enam tahun namun aku terlalu minder untuk dekat dengannya....
Salah satu impianku.... terwujud ketika umurku sudah tidak lama lagi... :)