
Perubahan demi perubahan dalam hidupku mulai terjadi, Selena menghindari ku... kak Justin kehilangan senyum khasnya yang selalu dia tunjukkan padaku ketika kami bertemu karena dia sangat terlihat sedih dengan apa yang menimpaku, begitu pula ibu dan ayah yang kini lebih sering mengurung diri didalam kamar... hanya suara tangisan yang selalu aku dengar samar - samar ketika aku keluar dari kamarku untuk sekedar mengambil minum ataupun kegiatan lain ku yang aku harus lakukan di luar kamar.
Tentang Selena yang menghindari ku.... semua karena perjanjian kami, tentang permintaanku padanya untuk menjadi penggantiku menjadi pacar kak Jester. Kami memutuskan menunda pembicaraan itu ketika aku sudah keluar dari rumah sakit dan mungkin Selena tahu jika aku keluar rumah sakit karena keputusanku sendiri, keputusan yang ditentang oleh dokter dan kedua orangtuaku.
Aku meneleponnya dan tidak pernah dia angkat, jadi pada akhirnya aku yang harus menemuinya lalu menjebaknya agar dia tidak bisa kembali menjauhi ku atau menghindari ku. Semua bermula di suatu pagi ketika ayah mengantar Selena untuk ke sekolah tepat disaat gladi bersih acara dies natalis sekolah sedang berlangsung, ketika itu aku sudah berpesan pada ayah untuk menjemput ku ketika ayah sudah mengantar Selena ke sekolah.
Semua berjalan baik sampai aku tiba di sekolahku, ayah mendorong kursi rodaku untuk mencari Selena di area sekolah dan aku bertemu dengannya disebuah taman. Ketika itu dia sedang duduk bersama dua orang teman sekelas kami terlihat sedang mengerjakan berbagai jenis hiasan yang mungkin akan digunakan untuk acara dies natalis nanti malam, ketika melihatku Selena langsung berdiri seakan ingin lari untuk menghindari ku.
"Selena!!" bentak ku padanya dan bentakan itu membuatnya membatu, dia hanya membuang muka untuk menghindari kami bertatapan mata.
"Luna? kamu sudah keluar dari rumah sakit?"
"Duuh kenapa kamu jadi seperti ini? apa kamu sudah baikan? apa yang terjadi padamu?"
Dua orang teman sekelas ku bertanya padaku, namun aku mengabaikan keduanya dan terus menatap Selena. Aku menghela nafasku lalu mengalihkan pandanganku menatap dua teman sekelas kami, dengan senyuman saat itu aku mengatakan jika aku ingin berbicara berdua dengan Selena. Mereka mengizinkan aku untuk berdua dengan Selena, setelah membereskan hiasan - hiasan untuk dies natalis itu dan pindah ketempat lain... kini tersisa aku, Selena, dan ayah yang masih setia berada di belakangku.
"Kamu menghindari ku?" tanyaku pada Selena, namun dia hanya terdiam dan seakan tidak ingin bicara denganku.
"Kamu janji untuk membahas permintaanku saat aku sudah keluar dari rumah sakit, kamu ingin mengingkari janji itu?" tanyaku lagi kali ini dengan sedikit menekannya, saat itulah dia menatapku dengan wajah marahnya.
"Kamu belum sembuh!! kamu keluar rumah sakit karena keegoisanmu!!" bentak Selena padaku
"Aku sudah mendingan dan menjalani rawat jalan!!" aku membentak balik
"Buktikan!! tinggalkan kursi roda itu dan ikut aku untuk pindah ketempat lain!!" Selena mengatakannya dengan bentakan, aku pun terkejut dengan perkataannya saat itu.
__ADS_1
"Nona Selena... Luna belum bisa..." belum selesai ayah berkata, aku langsung mencoba berdiri dari kursi rodaku.
Dengan sekuat tenang aku mencoba untuk berdiri, ayah hendak membantuku namun aku tepis tangannya agar dia tidak membantuku. Perlahan ekspresi marah Selena berubah menjadi menyesal... aku tidak tahu kenapa dia tiba - tiba mengubah ekspresinya seperti itu ketika melihat aku kesulitan untuk memenuhi permintaannya. Pada akhirnya aku memenangkan pertempuran kami, aku berhasil berdiri dari kursi rodaku tanpa bantuan siapapun.
"Aku memenuhi permintaanmu, mau kemana kita?" tanyaku dengan tekanan, Selena pun kembali membuang muka ketika melihatku berhasil berdiri.
"I... ikut.. aku.." terbata Selena mengatakannya
Selena pun berbalik hendak meninggalkan tempat itu, dengan susah payah aku melangkahkan kakiku yang terasa begitu sakit ketika aku mengangkat satu demi satu kakiku saat melangkah. Ayah ingin membantuku namun aku menolaknya dengan tegas, aku harus kuat agar Selena tidak memiliki alasan untuk menolak permintaanku karena aku sudah memenuhi janji diantara kami.
Hingga sampai di taman lainnya dekat dengan kelas kami, Selena tiba - tiba berhenti berjalan. Aku yang terus membuntutinya harus berjuang dengan keras melawan rasa sakit yang selalu muncul di pinggulku ketika melangkah, ada rasa lega melihat Selena berhenti ketika itu. Saat dekat dengannya aku langsung mencari tempat yang bisa aku gunakan untuk duduk, untung saja Selena memilih taman yang terdapat kursi tamannya.
"Sudah? apa aku sudah membuktikan jika aku sudah sehat?" tanyaku padanya ketika aku sudah duduk di kursi taman terdekat denganku, namun Selena masih memunggungi ku.
"Ma... maaf..." celetuknya dengan suara yang bergetar, aku terkejut mendengar permintaan maafnya.
Aku memahami kenapa dia melakukan itu... aku juga paham apa yang ingin Selena coba paksakan kepadaku, semua bermula ketika aku meminta ayah untuk resign dari pekerjaannya di keluarga Parker. Aku meminta pada ayah dan ibu untuk pindah rumah yang jauh dari tempat kami berada sekarang, aku ingin menghilang dari semua teman - temanku, aku ingin hilang dari Selena, kak Justin, kak Jester, kak Luke dan kak Harry.
"Selena..." celetukan ku pun langsung dipotong Selena, dia memutar badannya yang masih terduduk di tanah itu dan menatapku dengan wajah penuh air mata.
"Kenapa?!! kenapa kamu juga ingin menghindari ku?!! aku... aku... sudah menganggap kamu seperti saudaraku sendiri... kita sudah bersama bahkan ketika kita masih bayi... kenapa kamu menjauhiku juga?! kenapa Luna!!" begitu emosional Selena mengatakannya padaku, kini air mata juga keluar dari kedua mataku meski aku terus berusaha menahannya...
Sakit... sakit rasanya hatiku mendengar apa yang dikatakan Selena... tapi ini satu - satunya yang bisa aku lakukan untuk menghindari kak Jester, dia pasti akan mencariku dan Selena adalah salah satu kunci untuk menemukanku. Aku tidak ingin itu terjadi agar... agar bayang - bayangku di hati kak Jester bisa segera terhapus dan Selena yang menjadi satu - satunya wanita di hati kak Jester.
"Aku yakin kamu tahu apa yang menjadi alasanku, Selena. Aku tahu kamu tahu..." ucapku padanya
__ADS_1
Kami pun terdiam beberapa saat... hanya ada suara tangisan diantara kami yang tersisa menghiasi pertemuanku dengan Selena pagi itu, hingga beberapa saat Selena mulai dapat mengatur emosinya. Dia perlahan berdiri dan berjalan mendekati kursi yang berhadapan denganku, kami pun duduk berhadapan namun tidak saling menatap. Rerumputan menjadi pemandangan ku ketika itu, bersama dengan kedua kakiku yang sudah tidak berguna ini menambah rasa kesedihanku .
"Apa yang kamu inginkan dariku?" celetuk Selena memecah keheningan diantara kami
"Kamu tahu apa yang aku inginkan" timpal ku padanya
"Tidak, aku tidak bisa memahami apa yang sebenarnya kamu inginkan" ucapnya, aku menghela nafasku ketika mendengar perkataannya itu.
"Selena... aku ingin kamu menjadi pacar kak Jester, jika kamu kesulitan untuk mendekatinya... kamu bisa mencoba untuk menjadi diriku ketika berada dihadapannya. Penampilan, cara bicara, sikap, dan juga ketika kamu bertemu kak Jester. Berpura - pura lah menjadi diriku demi aku..." ucapku
"Untuk apa?" tanyanya lagi
"Untuk mengisi kekosongan hati kak Jester.... untuk membuat sisa hidupku jauh dari rasa khawatir ketika aku tidak berada disampingnya... untuk... untuk memenuhi keegoisanku, seperti yang kamu katakan padaku" jawabku sembari mengalihkan pandanganku menatapnya, Selena perlahan mengangkat kepala dan kami pun bertatapan mata.
"Itu permintaanku Selena, bisa kan? aku mohon~" ucapku sembari tersenyum semanis mungkin untuk membuatnya tidak dapat menolak ku
"Luna?!" tiba - tiba suara yang tidak asing memanggil namaku dari arah belakang, aku tersentak lalu perlahan aku menoleh menatap belakangku.
Agak jauh dari tempatku berada... aku bertemu kak Jester, dia menatapku dan tersenyum padaku. Sebuah senyuman yang selalu aku dapatkan di setiap aku bertemu dengannya, tidak ada yang berubah dengan pangeranku itu... pangeran impianku yang aku cintai....
"Apa yang akan kamu lakukan? pangeran yang kamu ingin jaga hatinya sudah tepat di hadapanmu, kelumpuhan mu sudah tidak akan bisa kamu sembunyikan lagi" tanya Selena, aku kembali dibuat bingung dengan apa yang harus aku lakukan.
"Aku tidak tahu..." jawabku terbata
Kak Jester terlihat berjalan semakin mendekatiku, bersamaan dengan itu jantungku terasa berdetak dengan cepat... aku bingung harus bersikap dan berkata apa ketika pangeranku sudah dekat denganku, namun satu hal yang bisa aku pastikan akan aku lakukan... mengenakan topeng palsuku, sebuah senyum yang mengatakan jika aku... baik - baik saja... aku hanya berharap kedua kakiku bisa bekerjasama dengan hatiku untuk satu kali ini saja...
__ADS_1
Tolong... satu kali lagi saja tubuhku... bekerja sama lah...