Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 4


__ADS_3

"Hah...? katakan sekali lagi... tadi kamu bilang... apa?" tanya Selena dengan wajah yang begitu terkejut menatapku, aku tersenyum padanya lalu aku genggam kedua tangannya dengan sangat erat.


"Hei... dengarkan aku, dokter memvonis umurku tidak lebih dari empat puluh hari lagi dan mungkin sudah berkurang tiga hari sejak vonis itu aku dapatkan. Aku tidak punya waktu lagi, Selena. Jadi aku mohon padamu, bantu aku untuk bertemu pangeranku" pintaku pada Selena


Ketika itu Selena terlihat sangat syok, bibirnya terlihat bergetar dan matanya pun mulai berkaca - kaca. Aku tahu dia ingin marah padaku namun bibirnya tidak dapat mengucapkan sepatah katapun di hadapanku, sebenarnya saat menerima vonis itu... aku juga berekspresi yang sama seperti Selena saat ini, aku tahu perasaannya apa lagi sepertinya Selena masih menganggap ku sebagai.... sahabatnya, atau mungkin lebih dari itu.


"Selena... aku mohon..." pintaku padanya dengan memohon, Selena menarik kedua tangannya dengan keras agar terlepas dari genggaman tanganku.


Ketika itu dia berlari menjauhiku dan mendekati kasurnya, aku berbalik dan mengikuti kemana Selena berlari ketika itu. Selena berlari sampai mendekati kasur, saat itu Selena menarik salah satu bantal dan melemparkannya kepadaku dengan sangat keras. Sangat keras saat itu Selena melemparkan bantal kepadaku, sampai membuatku sedikit terhuyung.


"Jahat!!! kamu jahat Luna!!!" bentaknya padaku dengan berteriak begitu histeris, aku tersentak mendengar bentakannya.


"Se...lena.." celetukku ketika itu, Selena menatapku dengan penuh amarah meski air mata deras membasahi kedua pipinya.


"Kamu datang hanya untuk mengabari tentang umur pendek mu itu?!!! kamu anggap aku apa?!! kamu seharusnya pergi dan tidak pernah muncul lagi di hadapanku!!! pergilah menghilang seperti yang kamu lakukan selama dua tahun ini!!" bentaknya lagi kepadaku, ketika itu aku tersadar jika aku lagi - lagi memaksakan keegoisanku mengorbankan perasaan Selena.


"Maaf Selena.... bukan seperti itu mak..." belum selesai aku berkata, lemparan bantal kembali aku terima dari Selena.


"Pergi kamu Luna!! pergi!!! aku sudah menganggap mu mati!!! aku tidak mau lagi berurusan denganmu!!! aku sudah tidak mau lagi bertemu ataupun melihat wajahmu!!!! pergi.... jangan kembali lagi...." ucap Selena terdengar lirih dengan semua air mata yang begitu deras keluar dari kedua matanya


Aku termenung menatap Selena yang seperti itu, aku tidak pernah melihatnya begitu histeris seperti ini. Tapi aku tahu apa yang Selena rasakan, aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama jika posisi kami terbalik. Dianggap seperti saudara kandungnya, diperlakukan sebaik mungkin dan menerima semua kehangatan juga kasih sayang... kemudian aku mencampakkannya... meninggalkannya dengan beban janji yang mungkin sangat membebaninya... lalu aku kembali, dengan kabar akan umurku yang sudah tidak lama lagi... jika aku menjadi Selena, aku pasti akan bersikap sepertinya...


Aku berjalan mendekati Selena yang larut dalam kesedihannya, dia menangis begitu pilu sembari berdiri dan tatapannya kini menunduk. Air matanya begitu deras jatuh membasahi lantai, tubuhnya juga bergetar hebat. Aku memeluknya dengan erat dan membiarkan kepalanya terangkat karena bersandar pada bahuku, tubuhnya yang bergetar perlahan mereda namun sesenggukannya masih begitu jelas terdengar.


"Maafkan aku... beban apa yang selama ini kamu pikul? apa janji diantara kita begitu berat untukmu? atau kamu sedang menderita hal lain? lepaskanlah... aku akan menemanimu sampai di penghujung usiaku agar kamu dapat berdiri tegak kembali seperti Selena yang aku kenal..." ucapku dengan selembut mungkin agar menjadi penenang hati untuknya


Tangan Selena memelukku dengan sangat erat, dia berteriak dalam satu tarikan nafasnya. Mungkin itu salah satu cara agar membuat hatinya menjadi tenang, aku membiarkannya menangis dalam pelukanku hingga dia dapat mengendalikan emosinya sendiri. Aku? aku mencoba untuk tidak menangis meski rasanya aku ingin menemani Selena menangis... aku hanya ingin menjadikan diriku sebagai tempat nyaman untuknya bersandar, mulai hari ini... aku berjanji untuk tidak menangis lagi apapun yang terjadi.


Beberapa menit berlalu, Selena sudah dapat mengendalikan tangisannya. Namun kami masih saling terdiam sembari duduk berdampingan di pinggir kasur, dia terlihat melamun entah apa yang ada didalam pikirannya. Aku masih tidak ingin mengoreknya sekarang, aku ingin dia yang membuka hati untuk mulai bicara padaku.


"Luna..." celetuk Selena tiba - tiba, perlahan aku menoleh menatapnya yang masih menunduk.


"Iya, Selena?" tanyaku


"Kenapa... tiba - tiba kamu ingin bertemu... kak Jester?" tanya Selena dengan terbata

__ADS_1


Mendapatkan pertanyaan itu sontak membuat naluri wanitaku menguat, Selena sepertinya benar - benar ketakutan untuk mempertemukan aku dengan kak Jester. "Apa mereka bertengkar karena aku ya sebelum ini? mungkin kah kak Jester masih tidak bisa melupakanku, atau kak Jester tiba - tiba teringat denganku?" tanyaku dalam hati, aku tersenyum lalu sedikit tertawa.


"Kenapa tertawa, Luna?!" agak membentak Selena mengatakannya, ketika itu Selena menoleh dan menatap mataku.


"Apa kamu tahu lagu dari Adele yang berjudul All I Ask?" tanyaku padanya, saat itu Selena mengernyitkan dahinya dan menatapku dengan ekspresi heran.


"Tahu... apa hubungannya dengan pertanyaanku?" tanya balik Selena


"Ada satu liriknya yang berbunyi... It matters how this end, cause what if i never love again... karena lirik itu aku jadi begitu ingin menciptakan kenangan terakhirku bersamanya karena terinspirasi apa yang ingin Adele sampaikan lewat lagu itu" jawabku, Selena termenung menatapku.


"Ahaha... aku konyol dan kekanakan ya? tapi benar... itu yang ingin aku lakukan" ucapku sembari memberikannya note kecil berwarna merah muda yang baru saja aku beli untuk menuliskan semua keinginanku bersama kak Jester, Selena menerima note kecil itu lalu membacanya.


Setelah beberapa saat membacanya, Selena menghela nafas lalu menutup note itu dan mengembalikannya padaku. Dia tidak berkata apapun lalu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati lemari pakaiannya, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat itu namun aku hanya diam saja tanpa bertanya apapun.


"Ikut aku... aku akan ceritakan semuanya. Tentang apa yang terjadi selama dua tahun kamu tidak ada disini, tentang aku, kak Jester, dan semua orang yang secara tidak langsung jadi ikut terlibat" ajaknya sembari mengambil sebuah pakaian yang akan dia kenakan untuk keluar bersamaku, pakaiannya terlihat feminim dan aku tersenyum senang untuknya.


"Kenapa?" tanya Selena terdengar kesal melihatku tersenyum seperti itu, aku menggelengkan kepalaku untuk merespon pertanyaannya.


"Tidak ada, aku hanya senang melihat sisi feminim mu" jawabku


"Selena... Luna?" tanyaku bingung


"Namaku Selena Parker dengan sisi tomboi ku, karena janji yang aku terima darimu aku menjadi Selena Luna dengan sisi feminimnya seperti dirimu. Aku seperti ini bukan karena aku suka, aku kesal padamu" jawab Selena, aku tertawa mendengar arti dari kata Selena Luna.


Setelah tawa itu aku dan Selena pergi menggunakan mobil milik Selena menuju kesebuah mall yang ada ditengah kota, diawal perjalanan kami saat itu Selena hanya diam dan tidak bicara sepatah katapun. Sampai ditengah perjalanan kami akhirnya Selena mulai membuka obrolan, dia terdengar menghela nafas lalu berkata...


"Sejak kamu keluar dari sekolah dan tiba - tiba menghilang entah kemana... aku mulai melakukan aksi untuk memenuhi janjiku padamu. Setiap hari aku mencari kak Jester dikelasnya tapi sayang... kak Jester begitu terpuruk atas kejadian yang menimpanya, dia tidak masuk sekolah satu semester penuh ketika kita sudah naik kelas" celetuk Selena saat itu, aku terkejut mendengar ceritanya namun sepertinya Selena menganggap aku tidak paham apa yang dia katakan.


"Saat insiden kamu menolaknya kita sudah kenaikan kelas kan, setelah liburan kenaikan kelas sampai semester satu berakhir saat itu kak Jester sudah tidak pernah terlihat lagi disekolah" ucap Selena menimpali perkataan sebelumnya


"Lalu? apa yang terjadi?" tanyaku


"Aku tidak tahu pasti, ada rumor mengatakan jika kak Jester dipindahkan bahkan lebih parahnya... dia berhenti sekolah. Tapi semua rumor itu terpatahkan ketika sekolah memasuki semester dua, aku melihat kak Jester lagi saat aku mengikuti ekstrakulikuler judo. Ketika itu kak Jester menjadi sensei ku..." jawabnya, aku pun terkejut mendengarnya.


"Kamu ikut judo?!! apa tidak ada ekstrakurikuler lain yang bisa kamu ikuti?!!" tanyaku dengan sedikit bentakan

__ADS_1


"Bagaimana lagi?! aku harus memilih ekstrakulikuler yang besar kemungkinannya bertemu kak Jester!! aku bingung saat itu memilih apa yang harus aku ikuti karena satu - satunya yang aku tahu tentang kak Jester adalah dia sensei di ekstrakulikuler judo!!" bentak balik Selena padaku, aku menepuk dahiku cukup keras karena mendengar alasan bodohnya itu.


"Lalu... apa yang terjadi selanjutnya?" tanyaku


"Aku bertemu dengannya di semester kedua dan saat itu dia seperti.... lupa siapa aku..." jawab Selena terbata


"Lupa... siapa kamu?" tanyaku


"Iya... dia bersikap seperti biasa, menjadi ceria, bersikap spontan dan seperti kak Jester yang kamu kenal... tidak ada yang berubah darinya kecuali... dia seakan lupa siapa aku, dia tidak ingat jika aku adalah temanmu dan dia juga melupakan... kamu..." jawab Selena terbata, seakan dia ragu dengan apa yang baru saja dia katakan.


"Maksudmu dia seperti... kehilangan ingatan?" tanyaku mencoba memastikannya jika apa yang aku pikirkan sama dengan apa yang ingin disampaikan oleh Selena, saat itu Selena mengangguk beberapa kali lalu mengatakan...


"Benar... seperti itu, tidak lama setelah kak Jester kembali ke sekolah.... ada berita menyebar yang melarang siapapun menyebut namamu disekolah, aku tahu itu kerjaan kak Luke dan kak Harry... tapi keberadaan mu benar - benar dihapus dari sekolah dan seakan tidak pernah ada Luna Lincoln yang pernah bersekolah disana" jawabnya, aku pun tiba - tiba teringat tentang ucapan kak Jester disaat aku dan dia berbicara tentang... pengkhianatan


Ketika itu kak Jester bilang jika dia tidak mampu untuk membenci, maka sebagai salah satu cara untuk membalas perbuatan pengkhianat itu adalah dengan cara... melupakan keberadaan orang itu dari hati kak Jester, dia pernah mengatakan seperti itu di hadapanku. Ketika itu aku berjanji pada diriku sendiri jika aku tidak ingin berada diposisi itu, namun takdir berkata lain.... aku lah orang yang dihapus keberadaannya di hati kak Jester.


"Kotak pandora..." celetukku ketika itu, ditengah kemacetan jalanan tiba - tiba Selena menoleh menatapku.


"Kotak pandora? apa itu?" tanya Selena padaku


"Kotak yang menyimpan suatu kutukan.... ada sesuatu yang berharga didalam kotak itu, namun ketika seseorang membukanya... maka dia akan terkena kutukan..." jawabku, namun Selena malah semakin bingung dengan apa yang baru saja aku katakan


"Kak Jester seperti memiliki kotak pandora dihatinya, dikotak itu dia menyimpan semua kenangan seseorang didalam hidupnya lalu menguncinya rapat - rapat. Itu alasan kenapa kak Luke dan kak Harry membuat peraturan untuk menghapus keberadaan ku di sekolah" ucapku


"Agar tidak ada seorang pun yang bisa membuka kotak pandora di hati kak Jester..." timpal Selena, aku mengangguk beberapa kali menyetujui perkataannya. Selena kembali menatap jalanan dan fokus untuk menyetir, kami pun terdiam lagi beberapa saat.


"Lalu apa yang terjadi?" celetukku memulai pembicaraan lagi


"Aku kembali kehilangan jejaknya ketika kelulusan, aku tidak tahu kemana kak Jester berkuliah dan bagaimana cara agar aku bertemu dengannya. Aku sudah putus asa ketika itu sampai tiba - tiba... aku bertemu lagi dengannya saat aku mengikuti acara pengenalan kampus yang diadakan fakultasku dan lagi - lagi dia menjadi seniorku, saat itulah aku memulai kembali semua rencanaku agar dia menatapku sebagai dirimu dan memenuhi janjiku... padamu..." jawabnya lalu seakan dia menggantung jawabannya sejenak, aku tidak tahu kenapa tiba - tiba dia terdiam.


"Selena.... ada apa?" tanyaku


"Sebenarnya tidak berjalan mulus... aku terlalu memaksakan kehendak ku dan aku melakukan segala cara agar mendapatkan hatinya. Aku bahkan sampai bekerjasama dengan seseorang bernama Camilla, namun aku dikhianati olehnya... karena itulah aku dan kak Jester..." Selena kembali menggantung kalimatnya


"Kalian... bertengkar hebat?" tanyaku menekannya

__ADS_1


"Kita sudah sampai, aku lapar. Aku akan lanjutkan ceritaku nanti sambil makan" jawab Selena mengalihkan pembicaraan


__ADS_2