Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 44


__ADS_3

Di dalam kamar kak Jester yang mungkin sama luasnya dengan seluruh rumahku, "aaa... kamar macam apa ini? sebuah rumah didalam rumah?" ucapku dalam hati ketika masuk kedalam kamar kak Jester. Aku duduk di sofa yang ada didalam kamar kak Jester dengan sebuah meja yang ada di hadapanku selayaknya ruang tamu, sedangkan kak Jester duduk diujung kasur menundukkan pandangannya seakan takut untuk bertatapan  mata denganku.


Canggung dan bingung, jangankan kak Jester aku pun yang memutuskan untuk menemui kak Jester ikutan bingung. Tapi kalau tidak begini..... bagaimana bisa aku memulai kembali semuanya dari awal dengan baik


"A... ada apa Luna? ka.. kamu ada keperluan apa? apa papa dan mama yang memanggilmu? atau Luke dan Harry yang memintamu menemui ku?" tanya kak Jester memecahkan keheningan diantara kami, aku menghela nafasku sebelum menjawab pertanyaannya itu.


Suara itu amat sangat kurindukan, gumaman karena malu itu dan kalimatnya yang terbata - taba itu... xixixxii...menggelitik sekali tingkah pangeranku ini.


"Aku dengar dari kak Justin kamu tidak masuk sekolah cukup lama, maaf jika aku terkesan tidak tahu diri... tapi apa benar karena ucapanku waktu itu kak?" tanyaku


"Ti... tidak, itu bukan seperti itu. A.. aku.. hanya... sedang malas saja..." jawabnya


"Benarkah?" tanyaku memastikan jawaban kak Jester, aku tahu dia sedang berbohong padaku.


"Ka.. kamu ada keperluan apa?! aku sedang ada kesibukan!" jawabnya dengan nada yang terdengar sedikit panik, mungkin karena aku langsung menembak pertanyaan yang begitu sensitif untuk dijawab oleh cowok.


Bagaimana lagi, aku bukanlah tipe wanita yang mengerti hal - hal seperti ini. Aku masih awam berhadapan dengan cinta, bahkan rasa ini pun yang membuat aku menjadi orang tidak berpendirian. Kadang aku ingin pergi jauh dari kak Jester, kadang aku ingin dia selalu berada di sisiku. Aku pun tidak paham dengan apa yang sebenarnya aku inginkan, begitu pula aku yakin ini yang terjadi pada kak Jester.


"Aku kesini karena mengkhawatirkan mu kak" jawabku


"Aku... baik - baik saja..." timpal kak Jester


Hai pangeran, apa susahnya sih berkata jujur? menggemaskan sih boleh, tapi.... jangan menyebalkan seperti ini donk. Dihantui perasaan bersalah itu tidak nyaman tahu! Agresif lah sedikit, kenapa harus selalu aku sih yang memulai semuanya.

__ADS_1


"Kak!" bentak ku, seketika tatapan mata kak Jester kini menatapku namun kami hanya terdiam.


"Aku tahu kamu sedang tidak baik - baik saja, aku..." belum selesai aku berkata, kak Jester memotongnya.


"Oke! aku seperti ini karena kamu!! setiap kali aku berangkat sekolah, aku selalu merasa sesak nafas!! hatiku terasa perih!!! lalu kamu mau aku gimana?!! terus merasakan hal itu sampai lulus nanti?!!!" bentak kak Jester, aku pun terdiam.


Untuk sejenak aku melupakan jika akulah penyebab kak Jester seperti ini, aku benar - benar wanita yang buruk... setelah aku hancurkan hatinya lalu sekarang tanpa merasa bersalah aku menghakimi tindakannya yang menutup diri dari dunia luar. Sejenak aku berpikir cara untuk membantu kak Jester agar dia bangkit kembali, "Menawarkan diri untuk tetap bersamanya? aah tidak... tidak... aku terlalu malu untuk mengatakannya" ucapku dalam hati.


"Aaa.. kak..." belum selesai aku berkata, kak Jester tiba - tiba kembali memalingkan wajahnya dan memotong perkataanku.


"Hei... mempermainkan perasaan orang lain itu... bagaimana rasanya? mempermainkan perasaan orang lain itu... aku penasaran.. apa itu... menyenangkan ya?" timpal kak Jester dan aku pun tersentak.


Aku marah dengan kalimat itu, aku juga sangat kecewa. Kalimat itu sungguh sangat menyakitkan bukan? tapi... bukankah aku memang pantas menerima semua kalimat itu?


"Kak!! aku tidak..." lagi dan lagi kak Jester memotong perkataanku


Aku pun berdiri setelah mendengar kalimat itu dan segera melangkahkan kaki ku menuju pintu keluar kamar kak Jester, entah kenapa saat itu hatiku terasa sangat emosional. Mungkin karena pertanyaan kak Jester padaku tentang rasa mempermainkan perasaan orang lain yang sebenarnya aku tidak ingin lakukan hal itu, aku merasa tersinggung dengan perkataannya.


Namun baru aku memegang ganggang pintu kamar kak Jester, aku teringat pesan ibu jika semua kekacauan diantara kami adalah hasil dari kebohonganku kepadanya. Aku kembali berpikir jika akulah penyebab hubungan kami menjadi seperti ini, sebenarnya aku lah penyebab masalah dalam hubungan ini namun aku selalu saja menyalahkan kak Jester atas kemelut yang menimpa kami.


"Ada satu hal yang tidak perlu kamu tahu, tapi itu sangat mempengaruhi bagaimana cara pandangku kepadamu kak" celetukku ketika aku masih belum juga menarik ganggang pintu itu, aku berbalik dan menatap wajah kak Jester yang kini mulai menatapku dengan wajah bingung namun aku tahu dia sedang bersedih.


"Aku kecewa dengan semua hidupku, aku benci hidupku dan jika bukan karena cinta kedua orang tuaku... aku berharap aku tidak pernah dilahirkan di dunia ini..." ucapku lagi

__ADS_1


"Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, karena itu aku memintamu untuk menuliskannya dalam diary yang pernah kita beli bersama" timpal kak Jester


"Ibu, kak Justin dan Selena bilang aku harus mengatakan kebenaran ini padamu, tapi aku memutuskan untuk tetap menyimpannya. Aku tidak yakin dengan respon mu setelah mendengar apa yang aku sembunyikan darimu, tapi yang perlu kamu tahu... aku tidak pernah berpikiran untuk mempermainkan perasaanmu" ucapku


"Lalu apa yang kamu inginkan dariku?! kamu pergi lalu datang terus seperti itu berulang - ulang!!" bentak kak Jester kepadaku, aku menghela nafasku sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Aku tidak pernah menginginkan apapun... jika pun itu harus... aku katakan saja semua keinginanku dalam hidupku ini...." ucapku terbata, aku tersenyum menatapnya dan senyumku itu membuat ekspresi wajah kak Jester yang semula terlihat marah kini berganti menjadi ekspresi bingung.


"Dalam hidup aku ingin dibilang cantik, aku ingin dibilang keren oleh banyak orang, aku juga ingin makan banyak tanpa membuatku menjadi gendut dan aku ingin menjadi penyanyi terkenal. Apa itu terlalu banyak? baik, aku katakan satu hal yang sangat ingin aku dapatkan dari hidupku ini..." aku mengucapkannya begitu cepat seperti seorang rapper yang sedang menyanyikan lagunya lalu menggantung kalimat akhirku sejenak


"Aku ingin.... disukai olehmu..." ucapku meneruskan kalimat yang sempat aku gantung tadi


"Kak... aku orang yang terlalu perasa dan juga pemikir... hal kecil saja aku akan langsung berpikir berlebihan, namun... aku kesulitan untuk mengungkapkannya dengan baik..." ucapku lalu berjalan mendekati posisi kak Jester yang masih duduk di pinggiran kasur dengan ekspresi terkejutnya menatapku, didekatnya aku berlutut dan memegang kedua tangannya.


Mata kami saling bertemu saat itu, dengan sedikit mendongakkan kepala aku menatap mata kak Jester yang sedikit menunduk menatapku. Senyumku pun tidak aku lepas dari wajahku, aku sudah pada tahap hanya ingin bersamanya... aku ingin membuang semua egoku dan pemikiranku yang berlebihan padanya.


"Aku tidak bisa memberitahu apapun tentangku, tapi aku tetap akan memenuhi janjiku untuk menulis semua yang aku sembunyikan darimu di buku diary itu. Jika kamu mau menerima keadaan itu... aku akan tarik semua ucapanku yang mengatakan jika aku ingin pergi dari hidupmu, begitu pun aku... aku akan mencoba lebih mengerti tentangmu karena ini adalah cinta pertamaku, aku tidak berpengalaman dalam hal ini" ucapku dan seketika itu kak Jester memelukku dengan erat.


"Terima kasih mau bertahan denganku, ini juga menjadi pengalaman pertamaku merasakan cinta... maaf jika aku tidak memperlakukanmu dengan baik..." ucap kak Jester lalu aku menggelengkan kepalaku beberapa kali.


"Bukan begitu... akulah yang sebenarnya menarik mu dalam hidupku, aku yang sebenarnya harus berterimakasih padamu. Kalau kamu tidak ada disini, aku mungkin hanya seorang diri dan mungkin hanya bisa menangisi hidupku" timpal ku


Pelukan kak Jester kepadaku semakin erat, bersamaan dengan pelukan itu aku merasakan hatiku yang terasa begitu hangat. Seperti itu rasanya kehangatan pelukan dari orang asing yang mencintai ya? terasa begitu nyaman dan tidak ingin untuk terlepas walau sedetik.

__ADS_1


Sedikit lagi Luna... sedikit lagi pasti akan kamu peroleh kebahagiaanmu bersama pangeranmu. Ayoo semangat untuk sembuh, jika tidak bisa sembuh setidaknya berjuanglah untuk membuatnya bahagia.


Diary... tentang diary itu, tentu saja aku menulisnya dan sudah banyak yang ku tulis termasuk kisah cinta yang aneh yang terjadi hari ini. Dear diary..... Luna Lincoln sangatlah berbahagia saat ini.. Terima kasih pangeranku.


__ADS_2