Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 42


__ADS_3

"Be.. benarkah bu? apa itu benar - benar terjadi?!" tanyaku begitu terkejut dengan cerita ibu, tawa kecil ibu menimpali kagetnya aku saat itu.


"Itu benar, kamu bisa konfirmasi langsung kebenaran cerita ibu pada ayah besok pagi" dengan suara tawa kecil ibu menjawab pertanyaan ku


Aku kembali terdiam dan menatap wajah ibu yang masih tersenyum menatapku, tangan hangatnya masih setia mengelus lembut kulit kepalaku. Perasaanku campur aduk malam itu, perkataan ibu membuat aku kembali merasa jahat pada pangeranku. Mungkin benar jika aku terlalu keras padanya dan semua kekacauan ini disebabkan oleh kebohonganku sendiri, lalu aku mengeluh tentang kekacauan yang aku buat sendiri...


"Luna... kamu benar - benar tidak tahu diri..." ucapku dalam hati, lalu perlahan aku mengalihkan pandanganku menatap langit gelap dari balik kaca jendela kamarku.


"Setelah sehat dan bisa rawat jalan, bagaimana kalau kamu baikkan sama pangeranmu itu? katakan padanya tentang keadaanmu dan jangan lupa untuk meminta maaf padanya" celetuk ibu memecahkan keheningan diantara kami


"Aku... tidak bisa... dia pasti membenciku dan pasti tidak ingin lagi bertemu denganku..." jawabku terbata


Berlagak seperti cenayang sekali aku ini, entahlah.. aku mulai pesimis tentang kelanjutan hubunganku dengan kak Jester. Aku bingung untuk memulai lagi semua dari awal dengannya. Masih sulit rasanya menerima sikap arogannya itu.


"Tahu darimana kalau pangeranmu pasti membenci dan tidak mau bertemu dengan anak cantik ibu ini?" tanya ibu lagi kembali menggodaku, aku pun kesal mendengar suara ibu yang menggodaku disaat seperti itu.


"Ibu~" celetukku sembari menoleh menatap wajah ibu, ibu pun tertawa mendengar ku kesal padanya.


"Semua yang berjalan jangan dipikirkan menurut pemikiranmu saja, setiap orang pasti punya cara pandangnya masing - masing dan kamu tidak berhak untuk menghakimi itu. Yang perlu kamu lakukan cuma menjalani hidupmu sesuai dengan pilihanmu, tentang bagaimana Jester akan bersikap padamu... biarkan saja dia yang menentukan" timpal ibu lalu mengecup dahiku dengan lembut.


"Selamat malam sayang" ucap ibu lalu kembali berjalan menuju kasurnya


Kecupan itu seakan mencairkan semua pemikiranku, aku merasa begitu lega setelah curhat begitu panjang lebar dengan ibu. Seketika itu aku memejamkan mataku dan aku pun tertidur pulas sampai keesokan paginya, seperti biasa aku menjalani hari - hari membosankan didalam kamar rumah sakit itu dengan semua rasa nyeri yang sering menghampiriku hampir setiap jam.


Setelah menjalani hari - hari membosankan itu hampir dua minggu, aku pun dinyatakan bisa rawat jalan. Seperti biasa ketika itu kak Justin selalu menjadi orang pertama selain ayah yang menemui ku setiap aku pulang dari rumah sakit, dengan mobil milik Selena saat itu ayah dan kak Justin menjemput ku dan ibu dari rumah sakit.


Pertanyaan berapa hari aku dirawat dirumah sakit sudah tidak pernah lagi ku tanyakan pada siapapun, seakan sudah tahu akan ada waktu selama dua minggu bahkan lebih beberapa hari bagiku untuk tidur dikamar yang menyebalkan itu.


"Saatnya memulai hari - hari di rumah" celetuk kak Justin ketika melihatku menuruni anak tangga depan lobby rumah sakit


"Yeey" timpal ku datar, tawa kak Justin pun terdengar bersamaan dia berjalan mendekati ibu yang membawakan beberapa tas milikku.

__ADS_1


Aku, ibu, ayah dan kak Justin pun masuk ke dalam mobil Selena untuk pulang ke rumah ku, sangat terasa jika ayah, ibu dan kak Justin berusaha menghiburku. Mereka bertiga bercerita dan bercanda seakan sedang memancing suara tawaku, namun aku sangat berat untuk bisa merasakan kegembiraan itu karena aku berkali - kali teringat tentang penyakitku dan tentu saja pangeranku.


Sesampainya dirumah seperti biasa, aku langsung turun dan melangkahkan kaki menuju kamar dan tiduran di kasur milikku. Aku begitu merindukan kasur itu setiap aku baru pulang dari rumah sakit, rasanya seperti ada gravitasi tersendiri saat aku melihatnya.


"Kamu memenangkan lomba menjadi vokalis utama untuk sekolah" celetuk kak Justin yang baru masuk ke dalam kamarku membawakan koper dan beberapa tas milikku.


"Hah?! benarkah? tapi aku kan..." belum selesai aku berkata, kak Justin memotongnya.


"Kamu mendapatkan suara sempurna dari para guru pembina, penampilanmu saat audisi sangat apik jadi para guru memilihmu. Apa kamu senang mendengarnya?" timpal kak Justin sembari mengeluarkan barang - barang dari dalam tas ku dan meletakkannya ditempatnya.


Senang? Apa aku senang? aku tidak tahu.. tetapi memenangkan lomba menyanyi juga merupakan impianku yang terwujud. Namun kondisiku yang semakin memburuk membuatku ragu untuk melanjutkan impianku itu.


"Entahlah... apa aku masih punya waktu untuk itu, aku rasa umurku tidak panjang lagi" timpal ku


"Kemungkinannya masih lima puluh - lima puluh, kamu masih punya peluang untuk mewujudkan impianmu" ucap kak Justin


"Benarkah?" tanyaku memastikan, suara tawa kecil kak Justin pun terdengar.


Santai sekali perkataan kak Justin itu, untung saja nenekku memang sudah lama meninggal dan warisannya pun sudah selesai dibagikan bahkan sudah habis untuk biaya pengobatanku. Jadi kak Justin tidak benar - benar berbohong tentang kematian nenek, tapi aku dibuat kehabisan kata - kata.


"Tapi sebelum itu, bukankah ada yang harus kamu lakukan dulu, Luna?" tanya ibu yang tiba - tiba masuk kedalam kamar, aku dan kak Justin serentak menatap ibu yang baru masuk kedalam kamar itu dan berjalan mendekatiku di kasur.


"Apa itu? aku rasa tidak ada" ucapku menimpali perkataan ibu'


"Tentang putra Gates, pangeranmu" jawab ibu menekan ku, mendadak wajahku pun memerah karena ibu berbicara tentang kak Jester didepan kak Justin.


"Ii..Bu~ aaa, ada kak Justin disini!! jangan bicarakan dia disaat seperti ini!" ucapku malu, kak Justin dan ibu kompak menertawai ku.


"Apa nih tante Lisa? beritahu aku donk" tanya kak Justin yang juga ikut menggodaku


"Kak Justin!!!" bentak ku marah karena aku terlalu malu, tawa ibu dan kak Justin pun terdengar keras.

__ADS_1


Aku menutup muka dengan bantal untuk menutupi wajahku yang pastinya memerah, tidak lama aku merasa seseorang duduk di pinggir kasurku dan perlahan aku menggeser sedikit bantal itu agar aku dapat melihat siapa yang sedang duduk di kasurku itu. Ibu terlihat duduk di kasurku lalu memberikan sebuah majalah remaja kuno yang entah darimana itu berasal, mataku kini tertuju pada majalah remaja kuno itu dengan penuh tanda tanya.


"Di halaman dua belas ada sesuatu yang pasti akan menarik minatmu" celetuk ibu


"Apa itu?" tanyaku sembari menerima majalah remaja itu


"Baca saja dulu, kamu pasti paham" jawab ibu


Aku pun menuruti perintah ibu untuk membuka halaman dua belas pada majalah remaja itu kemudian membaca judulnya yang tertulis "Mitos atau Fakta, taman labirin di Festival Square menentukan jodoh atau tidaknya pasangan remaja"


"Hah? apa ini?" tanyaku pada ibu


"Baca dulu artikelnya lalu baru komentar" timpal ibu, aku pun memasang wajah cemberut mendengar jawaban ibu.


Kemudian aku membacanya dengan seksama, didalam artikel itu tertulis sebuah taman labirin yang terletak di taman bermain pusat kota bernama Festival Square yang sangat terkenal. Hampir tidak ada satu pun orang yang tidak mengenal taman bermain itu, namun untuk taman labirin... aku baru tahu tentang mitos yang melekat pada taman labirin itu.


Sebuah mitos berkembang dengan sangat pesat dari jaman ibu remaja, yaitu mitos yang mengatakan jika dua orang pasangan masuk taman labirin dari arah yang berbeda lalu mereka bertemu ditengah taman dan menunggu berdua hingga lonceng Festival Square berbunyi pada saat senja tanpa ada gangguan dari orang lain... maka mereka akan berjodoh...


"Tidak masuk akal, mana mungkin ada hal seperti itu" celetuk aku ketika selesai membaca artikel itu


"Tapi mitos itu berkembang hingga saat ini, sudah banyak orang yang membuktikannya dan selalu berhasil" timpal kak Justin dengan senyum khasnya menatapku


Entah aku yang sangat udik atau memang terlalu nyaman berada dirumah sampai - sampai tidak tahu tentang taman yang viral itu, bahkan kak Justin pun lebih tahu dibanding aku. Tapi dilihat dari setiap foto lokasinya, sepertinya taman itu sangat indah.


"Kamu orang yang percaya mitos kak?" tanyaku sinis, kak Justin pun tertawa mendapatkan pertanyaan dan senyum sinis dariku.


"Anggap saja sebagai tempat untukmu dan Jester berkencan, apa salahnya kamu mengajak Jester kesana?" ucap ibu, aku pun langsung menoleh menatap wajah ibu dengan ekspresi terkejut ku.


"Hah?!! gak mungkin aku dan..." belum selesai aku berkata, kak Justin memotong ku.


"Kamu punya kesempatan itu, Jester begitu terpuruk karena kamu ingin menjauhinya. Sudah dua minggu ini dia tidak masuk sekolah, mungkin kamu bisa membantunya untuk bangkit" timpal kak Justin, aku yang terkejut langsung menoleh menatap kak Justin yang nampak begitu serius saat mengatakannya.

__ADS_1


__ADS_2