
Tiga orang pelayan dengan satu orang kepala pelayan mendekati kami membawa berbagai jenis makanan yang kami pesan, kepala pelayan juga menjelaskan berbagai jenis masakan itu dengan sangat detail dan aku penasaran dengan menu yang pelayan penerima pesanan pilihkan untukku. Hingga beberapa menu tersaji dan kini seorang pelayan menaruh piring berisi sayur - sayuran di hadapanku, aku termenung menatap makanan itu dan tidak sabar untuk mengetahui namanya.
"Ratatouille... jenis masakan Provence yang berasal dari daerah Nice. Dalam bahasa Prancis makanan ini umum disebut sebagai ratatouille niçoise, bahan - bahannya terdiri dari...." belum selesai kepala pelayan itu berkata, kak Jester memotong
"Sudahlah, pergi dari sini" timpal kak Jester terdengar kesal, aku pun menatap wajah kak Jester yang nampak sekali jika dia sedang marah.
"Baik tuan muda..." ucap kepada pelayan itu dan kemudian mereka berempat pun meninggalkan meja kami.
Kami terdiam namun tidak saling menatap, aku kira bercandaan ku akan membuat kencan kami akan semakin seru namun ternyata aku salah. Tapi apa yang bisa diharapkan dariku yang memang tidak memiliki pengalaman apapun dalam hal percintaan ini? aku hanya ingin membuat kencan ini berkesan dengan canda tawa, tapi aku terlalu naif yang memandang semua orang akan memiliki cara pandang yang sama denganku.
"Kak... kamu marah padaku?" tanyaku dengan nada yang begitu sedih, kak Jester mengalihkan pandangannya untuk menatapku dengan wajah terkejut.
"Eeeh.. ti.. tidak, aku tidak marah padamu. Aku.. tidak punya hak untuk... marah padamu" jawabnya lalu kembali menghindari bertatapan mata denganku, aku menghela nafas lalu kembali melipatkan tanganku di meja dan mendekatkan tubuhku hingga menempel ke meja.
"Yang aku katakan bohong, aku hanya sedang mengerjai mu saja" ucapku
Ucapanku ketika itu membuat kak Jester terkejut lalu menatapku dengan tajam, kami pun saling menatap dalam diam cukup lama karena sepertinya kak Jester tidak mempercayai kata - kataku. Perlahan kak Jester menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu kembali menundukkan pandangan, helaan nafasnya terdengar begitu berat terdengar.
"Tidak usah menghiburku" celetuk kak Jester
"Aku tidak sedang menghiburmu kak, aku bersungguh - sungguh" timpal ku dengan kesal, namun kak Jester tidak menghiraukan ku sama sekali.
Kak Jester kemudian mengarahkan kedua tangannya untuk menyantap hidangan yang ada dihadapannya, melihat kak Jester seakan sudah tidak tertarik lagi padaku membuat hatiku sakit. Aku duduk bersandar dan terus ku tatap hidanganku tanpa menyentuhnya sama sekali, "Apakah akan hancur hubungan kami ini?" tanyaku dalam hati.
"Makan lah, Luna..." celetuk kak Jester, aku menggelengkan kepalaku.
"Maaf... aku.. tidak berselera... aku akan mengganti uang untuk membeli makanan ini" timpal ku terbata dan dengan perasaan begitu sedih, aku sedih... ingin rasanya aku menangis saat itu :(
Bagaimana bisa aku berselera untuk makan jika pangeranku terlihat kesal karena ulahku, sepertinya aku harus belajar cara berkencan dengan pria muda kaya raya. Tidak hanya kesenjangan ekonomi kami yang berbeda, candaan kamipun sangat berbeda. Ayolah Luna... sadar diri, pria di hadapanmu ini adalah pria dengan pergaulan level atas.
"Luna... kenapa kamu menerima permintaan papa dan mama?" tanya kak Jester
__ADS_1
Aku terkejut dengan pertanyaan itu, tidak bisakah dia berpikir alasan aku menerima permintaan tuan dan nyonya Gates? apa tidak nampak dihadapannya jika aku juga mencintainya? sebenarnya dia lugu atau hanya memancingku saja? aku menundukkan kepalaku karena aku hampir tidak bisa lagi menahan air mataku, aku begitu menyesal sudah menggodanya seperti itu. Aku ingin memiliki mesin waktu dan merubah jawabanku saat itu.
"Maaf..." hanya itu yang bisa aku katakan padanya
Aku berdiri dan hendak pergi dari tempat itu, bukan untuk meninggalkannya... aku hanya ingin ke kamar mandi, membasuh muka, menghilangkan tanda - tanda aku ingin menangis... Aku berjalan mendekati tempat kak Jester duduk karena lewat sana kak Jester tadi menuju kamar mandi, jadi pikirku kamar mandi memang arahnya kesana. Ketika itu tangan kak Jester menggenggam lenganku, tanpa berkata apapun kami hanya terdiam untuk beberapa saat.
"Luna.. mau kemana?" tanya kak Jester padaku
"Mau ke toilet.." jawabku
Perlahan tangan kak Jester melepaskan lenganku dan aku melanjutkan kembali langkahku, aku berjalan terus dengan menundukkan kepalaku. Hingga di ujung ruangan, kepalaku menatap sebuah pintu yang tertutup. Aku mengelus kepalaku dan melihat pintu itu, di pintu itu terdapat kaca yang dapat melihat apa isi dibalik pintu itu.
Sebuah taman yang luas, dengan air mancur ditengahnya. Aku pun bingung, benarkan aku berjalan menuju toilet? aku mencari tanda arah menuju toilet dan aku dapati toilet berada dibalik pintu itu, perlahan aku membukanya dan berjalan menyusuri koridor terbuka yang dapat langsung menikmati indahnya taman itu.
Hingga diujung koridor aku kembali kebingungan, aku melirik kanan - kiri dan aku dapati petunjuk arah menuju toilet adalah ke kiri. Aku kembali berjalan hingga aku menemukan toilet itu, aku masuk kedalamnya dan langsung mengarah pada wastafel yang terdapat kaca di hadapanku.
Aku pandangi wajahku dengan mata yang memerah itu, dengan air secukupnya aku membasahi mataku dan membiarkan air bersama air mataku keluar secara bersamaan. Hingga beberapa saat aku sudah dapat mengontrol emosiku, aku kembali menatap wajahku dari pantulan kaca dan memperbaiki sedikit dari riasanku.
Aku baru sadar ruangan itu sangat luas, dengan banyaknya orang didalam aku hampir tidak tahu dimana mejaku berada. "Tenang Luna.. tenang, kamu tadi hanya berjalan lurus... yakan?" ucapku dalam hati.
Aku berjalan lurus saja dan kepalaku menoleh kanan - kiri berharap bertemu kak Jester di perjalananku itu, namun aku berjalan hingga ujung ruangan dan aku dapati di hadapanku hanya sebuah jendela yang besar. "Hah? dimana kak Jester?" tanyaku, lalu aku berputar dan kembali berjalan menyusuri langkahku tadi.
Pengunjung lain pun menatapku dengan heran, aku tahu isi pikiran mereka... mereka berpikir tentang sedang apa aku mondar - mandir ditempat seperti itu. Aku berusaha menghiraukan semua pandangan negatif itu, namun itu sulit karena semakin aku berjalan maka semakin banyak pula mata yang menatapku dengan sinis. Aku berjalan sampai pintu keluar, disana aku berpapasan dengan pelayan yang tadi bertugas sebagai penerima tamu.
"Ada apa nona?" tanya pelayan itu padaku
Lega karena bantuan datang? tidak, justru itu adalah saat dimana akhirnya aku sadar jika aku memang tidak bisa berada ditempat seperti ini. Aku tidak pantas berada ditempat ini, yaah mungkin itu kalimat yang lebih tepat. Sejak awal mereka sinis dan memandangku buruk, bagaimana bisa aku berharap mereka akan membantuku. Bodoh sekali aku...
"Aaa.. anu maaf, aku tersesat.. bisa minta tolong antar aku ke mejaku tadi?" pintaku padanya, yang aku dapati malah senyum sinis...
"Nona ini hanya ruangan kecil dan anda tersesat? apa ini menjadi kali pertama anda berada ditempat elit seperti ini?" tanyanya dengan sinis sekali, aku pun menundukkan pandanganku dan hendak pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Nona tidak bisa masuk dan berjalan - jalan seperti itu, itu akan mengganggu tamu lain" celetuknya, aku pun kembali berbalik namun tidak menatap mata pelayan itu.
"Lalu aku harus gimana?" tanyaku
"Tunggulah disini nona, seseorang akan memanggilkan tuan muda Gates kemari" jawab pelayan itu dan bodohnya aku menurutinya...
Dua puluh menit aku hanya berdiri didepan pintu masuk tanpa kejelasan kapan aku akan dijemput oleh kak Jester, memang mereka yang tidak ingin membantuku dan seakan mereka mengusirku pelan - pelan. Beberapa pengunjung yang pulang pun melihatku dan saling berbisik yang aku yakini mereka sedang mengomentari ku, hingga tidak lama suara seorang pria terdengar memanggil namaku.
"Luna?" ucap kak Jester dari belakang, aku berbalik dan menatapnya dengan tatapan lega akhirnya aku bertemu dengannya setelah sekian lama.
"Kak.. syukurlah kamu menjemput ku, aku tadi tidak bisa menemukanmu" ucapku lega, namun kak Jester menatapku dengan heran.
"Apa.... maksudmu? aku pikir kamu sudah pulang..." ucap kak Jester dan aku pun sedikit memiringkan kepalaku menandakan aku kebingungan.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu, aku tidak akan melakukan itu" jawabku lalu kak Jester menoleh menatap pelayan penerima tamu yang tiba - tiba menundukkan pandangannya menatap buku.
"Hei kamu.." celetuk kak Jester kepada pelayan itu
"Iya tuan muda Gates?" tanya pelayan itu bergetar
"Sejak berapa lama kamu melihat pasanganku ini berdiri disini?" tanya kak Jester dengan menekan
Suara itu... aku sangat tahu jika kak Jester akan marah, aku pun segera berlari mendekatinya dan menarik lengannya agar dia menatapku. Aku harus berusaha menenangkannya kali ini, kejadian tadi saat kami memesan makanan saja sudah sangat membuatku ketakutan.
"Kak, sudah.. ayo kita pulang saja" ajak ku padanya dengan sedikit memaksa
"Maaf tuan muda Gates, beberapa tamu komplain tentang nona ini berkeliling didalam dan..." belum selesai pelayan itu berkata, kak Jester memotong.
"Lalu kenapa tidak kalian antar pasanganku ini kepadaku?!!" bentak kak Jester kepada pelayan itu begitu marah.
Pandangan orang kini semuanya menatap kami, aku begitu malu dan berpikir jika aku harus segera pergi dari tempat itu. Sedangkan pelayan itu hanya bisa menundukkan kepalanya terlihat menyesali perbuatannya padaku, namun aku tidak peduli. Bahkan jika dia tidak pernah menyesali perbuatannya itu padaku, aku tidak akan mempedulikannya karena aku bisa memahami sikapnya kepadaku.
__ADS_1