
Pagi menjelang...
Setelah semalam aku akhirnya bisa menuntaskan semua yang mengganjal didalam hatiku bersama kak Jester, entah kenapa pagi ini aku merasa hatiku begitu ringan. Mungkin karena aku menangis semalaman dan ditemani dua orang temanku Naomi dan Selena, atau karena.... pada akhirnya hatiku sudah menerima semua keadaan ini, keadaan dimana pada akhirnya aku sudah memutuskan janji sehidup semati ku bersama kak Jester.
Aku bahagia untuknya... tidak ada penyesalan lagi... dan berharap dengan ini hati kak Jester pun sudah terobati... semoga, aku berharap...
Pagi itu aku membuka mataku dan melihat Naomi dan Selena masih tertidur pulas disebelah kiriku, sejenak aku pandangi wajah Naomi dan aku berkata dalam hati "Mungkin ini yang terbaik, dia adalah pendamping sempurna dari orang yang sangat aku cintai".
Tidak lama aku melihatnya perlahan membuka mata, ketika mata kami bertemu Naomi langsung tersentak sembari memegang pipi kanan ku dengan lembut lalu berkata...
"Kamu baik - baik saja Luna?" tanyanya padaku dengan nada panik, aku tertawa kecil mendengar perkataannya.
Bagaimana mungkin dia bertanya tentang keadaanku, sedangkan tadi malam baru saja aku menangisi kekasihnya. Entah apa yang Naomi pikirkan tentangku setelah kejadian semalam, mungkin kah dia merasakan jika aku tidak bisa untuk bersama dengan kak Jester? atau mungkin memang seperti inilah sifat Naomi, beruntung sekali kak Jester mendapatkan wanita sebaik ini.
"Aku baik - baik saja, maaf kemarin malam membuatmu khawatir" jawabku dengan tenang, aku tersenyum padanya agar dia paham jika aku memang baik - baik saja.
"Duuh~ syukurlah, kamu kemarin menangis sangat pilu. Aku takut Jester berbuat jahat padamu, dia memang kadang tidak terkontrol" terdengar lega saat Naomi mengatakannya, aku kembali tertawa kecil lalu mengalihkan pandanganku menatap langit - langit kamar.
"Tidak terkontrol ya? mungkin kamu benar, tapi kadang sisi itulah yang membuatnya menarik kan?" tanyaku
"Apa... maksudnya?" tanya Naomi heran, aku menoleh untuk menatap mata Naomi lagi lalu berkata...
"Cara kak Jester menunjukkan cinta kadang membuat kita merasa jadi wanita paling dicintai di dunia kan?" tanyaku dengan sedikit menggodanya, Naomi pun tertawa mendengar perkataanku.
Tidak lama Naomi hendak beranjak dari kasur, saat itu aku menahannya dengan cara menari lengannya agar dia menoleh menatapku. Dengan wajah bingung Naomi menatapku, tanpa berkata apapun saat itu aku tahu jika Naomi ingin bertanya kenapa aku menahannya.
"Naomi.... ini adalah saat yang tepat untukmu..." ucapku dan ucapanku itu semakin membuat Naomi kebingungan
__ADS_1
"A.. apa? saat yang tepat untuk apa?" tanyanya terdengar bingung
"Seperti yang kamu tahu, aku pernah menancapkan belati di hatinya. Saat ini aku sudah mencabut belati itu namun sayang itu masih menimbulkan luka dengan banyak darah yang keluar, jadi ini adalah saat yang tepat untukmu mengobati hati dan menutup luka itu dengan sempurna" jawabku dengan tegas, namun Naomi tertawa menanggapi perkataanku.
"Kenapa kamu tertawa?! aku serius, Naomi!" ucapku sedikit marah padanya
"Iya iya... maaf ya aku tertawa, hanya saja aku tidak terpikirkan akan ada waktu - waktu tertentu yang tepat untuk mengobati luka Jester" jawabnya masih dengan sedikit suara tawa, aku mengernyitkan dahiku mencoba untuk memahami apa yang ingin Naomi sampaikan.
"Aku dan dia sudah berjanji akan selalu bersama apapun yang terjadi dan memikul semua masalah bersama - sama, jadi tidak akan ada waktu yang lebih tepat atau waktu - waktu tertentu untukku membantunya bangkit dari rasa sakit hati yang dia alami. Sisanya serahkan saja padaku, terima kasih sudah membantuku membuatnya merasa lebih baik" ucap Naomi melanjutkan perkataannya
Aku pun tersadar betapa bodohnya aku yang ingin mengajarkan Naomi cara untuk mencintai kak Jester, cinta Naomi untuk kak Jester mungkin lebih dari apa yang aku bayangkan. Seharusnya aku sudah sadar ini sejak pertama kali Naomi mau menerima semua permintaan egoisku, semua itu karena besarnya cinta Naomi kepada kak Jester dan percaya jika kak Jester tidak akan mengkhianati cinta mereka.
Aku iri padanya....
Seharusnya aku lebih bisa mempercayai kak Jester...
Bersamaan dengan itu Selena pun terbangun dari tidurnya, dia bertanya apa yang terjadi dan kenapa kami ribut sampai membangunkannya. Naomi mengejek cara tidur Selena yang terlihat seperti kerbau, tidak terima dengan ejekan Naomi membuat Selena langsung melemparkan bantal tepat ke wajah Naomi. Mereka pun bertengkar hebat saling timpuk bantal sedangkan aku tidak ingin terlibat pertengkaran mereka sampai tiba - tiba lemparan bantal Selena meleset dan mengenai ku, barulah aku terlibat dengan pertengkaran mereka.
Setelah lelah dengan olahraga ringan kami, barulah kami bertiga keluar dari kamar setelah sebelumnya merapihkan kamar dan juga wajah kami. Ketika sudah keluar dari kamar, aku dan Selena langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Tapi tidak dengan Naomi, dia lebih memilih untuk membangunkan kak Jester lebih dulu yang tidur diruang keluarga dalam rumah itu.
Aku melihatnya melangkah tanpa keraguan sedikitpun, seakan dia tahu betul kalau kak Jester tidak akan merasa terganggu dengan kehadirannya. Tidak seperti diriku yang dulu, ketika aku berada diposisi Naomi... aku lebih memilih untuk menghindarinya, aku seakan takut untuk bertemu dengannya dengan prasangka yang mengatakan jika mungkin saja kak Jester akan marah jika aku mengganggunya.
Selena yang melihatku menatap Naomi dari kejauhan itu seakan tahu apa yang ada didalam pikiranku, dia menepuk pundakku untuk menarik perhatianku. Ketika aku menoleh menatapnya, Selena hanya berkata...
"Ini bukan kesalahanmu, jangan lagi menyesali apapun" celetuk Selena saat itu, aku tersenyum lalu mengatakan...
"Aku mengerti, ayo kita siapkan sarapan" timpal ku
__ADS_1
Aku dan Selena pun masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan sarapan untuk kami berempat, tidak lama setelahnya aku melihat Naomi dan kak Jester pun menyusul kami di dapur yang menyatu bersama ruang makan. Di bumbui dengan sedikit pertengkaran ku dengan Naomi, sepertinya kak Jester menikmati pemandangan itu akhir - akhir ini. Tidak berhenti sampai disana, Selena pun seperti biasa tetap saja mencuri - curi kesempatan untuk bermesraan dengan kak Jester. Hal itu yang membuat aku dan Naomi mendadak akur untuk memusuhi Selena bersama - sama, ahaha... aku mulai terbiasa dengan kehidupan baruku ini :)
Momen sarapan penuh dengan drama, aku menikmati masa - masa itu... sampai aku berpikir kalau aku bisa saja terus ingin hidup dengan suasana seperti ini, sampai hal yang mengejutkan terjadi dihari ini. Aku sampai gemetar ketakutan saat menuliskannya.
Semua di mulai ketika aku, Selena, dan Naomi kembali ke kamar untuk mengobrolkan hal - hal receh sebagai sesama wanita, berbagi tips berdandan, membahas trend fashion kedepan, dan hal - hal lain yang berkaitan dengan persiapan untuk ulang tahun kak Jester yang sengaja ingin aku majukan. Sedangkan kak Jester, dia berkata ingin bersantai di ruang keluarga seharian dengan tenang dan berharap kami tidak membuat keributan apapun yang terjadi.
Ketika aku, Naomi dan Selena sedang asyik mengobrol di dalam kamar, Naomi tiba - tiba meminta kami untuk diam dengan gestur tangannya. Aku dan Selena pun terheran dengan sikap Naomi yang tiba - tiba itu, seakan sedang mencoba memastikan pendengarannya saat itu Naomi hanya diam saja sembari memejamkan kedua matanya. Tidak lama tiba - tiba dia terkejut lalu melompat dari kasur dan mendekati pintu kamar, karena penasaran aku dan Selena mencoba untuk mengikuti Naomi namun lagi - lagi Naomi meminta kami diam dan menyuruh kami tetap berada dikamar dengan gestur tangannya.
Aku dan Selena pun menganggukkan kepala bersamaan lalu Naomi keluar dari kamar dengan terburu - buru, setelah pintu kamar tertutup aku dan Selena saling menatap dengan wajah kebingungan. Kami tidak tahu apa yang terjadi, sehingga dengan segala cara kami pun mencoba mencari tahu dengan cara menguping dari balik pintu kamar.
Dari balik pintu itu aku mendengar suara wanita yang terdengar galak dan sangat mengintimidasi, wanita itu berkata pada Naomi...
"Naomi... kenapa tidak berada disebelah Jester? apa kamu ada kesibukan dikamar?" tanya wanita dengan suara mengintimidasi itu
"Maaf ibu... aku tadi..." belum selesai Naomi berkata, kak Jester memotongnya.
"Tadi Naomi aku suruh berdandan!! iya.. tadi karena wajahnya terlihat kusam sehabis memasak dan mandi, aku suruh dia segera berdandan! Be.. benarkan Naomi?!" timpal kak Jester terdengar panik
"Aah.. eeh.. i.. iya ibu, tadi Jester..." belum selesai Naomi berkata, tiba - tiba kak Jester berteriak kesakitan entah apa yang terjadi namun dia menyebut kata 'Mama'
Dalam hatiku mulai bisa meraba apa yang terjadi diluar sana, ada ibu dari Naomi dan juga nyonya Marrie dirumah ini. Aku merasa tidak akan terjadi masalah apapun seandainya kami ketahuan berada disini, namun berbeda dengan Selena yang tiba - tiba menarik lenganku untuk menjauhi pintu kamar dan berhenti menguping.
"Ada apa?" tanyaku berbisik
"ini gawat!" jawabnya agak panik
"Kenapa? ini bukan pertama kalinya kita bertemu nyonya Marrie kan? memang sudah dua tahu berlalu, tapi nyonya Marrie adalah orang baik. Aku rasa tidak..." belum selesai aku berkata, Selena memotongnya.
__ADS_1
"Kamu tidak paham! nyonya Marrie sangat marah padamu karena kamu sudah menyakiti hati kak Jester sampai dia terpuruk!! apa kamu gak sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan pada anak kesayangan keluarga Gates?!!" timpalnya dengan panik dan mencoba menyadarkan ku bahwa semuanya sedang tidak baik - baik saja