Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 43


__ADS_3

"Terima kasih~ mungkin ini adalah perpisahan kita untuk selamanya, dokter Richard... dokter Ellie... terima kasih untuk semuanya" ucapku pada dokter Richard dan dokter Ellie


Aku keluar dari ruangan itu setelah memberi salam perpisahan pada mereka, bertahun - tahun mereka merawat ku hingga sampai detik ini... ini bukan perpisahan yang mudah bagiku, mereka juga salah satu yang membekas didalam hatiku. Aku keluar dari ruangan itu dengan senyuman yang merekah kepada keduanya, aku harus memenuhi harapan dokter Richard bahwa aku akan... meninggal dalam senyum tanpa penyesalan.


Diluar ruangan aku melihat ayah memeluk ibu yang menangis terisak - isak, aku tahu seberapa sedih ibu mendengar apa yang telah dokter Richard dan dokter Ellie katakan. Ditambah dengan penolakan ku untuk dirawat secara intensif, rasa kecewa yang dirasakan oleh ayah dan ibu tentu dapat aku rasakan dengan sangat baik. Melihatku keluar ketika itu perhatian ayah dan ibu pun teralihkan, aku membungkukkan badanku untuk memberi hormat kepada ayah dan ibu.


"Terima kasih, ayah... ibu... maafkan aku yang egois... tapi ayah dan ibu harus paham kalau aku yang tahu bagaimana kondisi tubuhku sekarang, aku hanya... ingin hidup bahagia sampai waktunya tiba, terima kasih atas semuanya. Maaf aku tidak bisa menjadi anak yang berbak..." belum selesai perkataanku, ibu berlari lalu memelukku dengan sangat erat.


"Terima kasih kamu sudah hadir di hidup kami! Luna... terima kasih!!" ucap ibu begitu emosional, tangisannya tidak dapat terbendung dan begitu pun aku...


Aku membalas pelukan ibu dan menangis dalam pelukannya, perlahan ayah berjalan mendekati kami lalu memeluk kami bersamaan. Tangan besar dan hangat ayah membelai lembut rambutku, semakin aku tidak kuasa menahan tangisku. Ayah tidak mengatakan apapun, tapi rasa cintanya padaku begitu terasa sampai membuat hatiku terasa sesak mengingat aku akan meninggalkannya.


Perlahan ibu dan ayah melepaskan pelukannya, dalam tangisannya itu mereka menatapku dengan senyuman. Ketika itu aku tertawa kecil dihadapan mereka dan sepertinya tawa kecilku itu membuat ayah dan ibu senang mendengarnya, mereka pun perlahan tertawa sambil mengusap air mata yang masih tersisa. Ayah memberi gestur tangan ingin menggandeng tanganku dan begitu juga dengan ibu, aku menyambut tangan keduanya lalu kami bersama berjalan keluar dari rumah dokter Richard.


Di Pintu utama rumah dokter Richard saat itu aku, ayah dan ibu keluar menuju pelataran rumahnya, disana aku melihat Selena duduk di kursi yang tersedia di pelataran rumah. Dia terlihat langsung berdiri untuk menyambut ku, aku tersenyum menatapnya bersamaan dengan ayah dan ibu yang membungkuk dihadapan Selena.


"Nona Parker, terima kasih sudah menemani Luna sampai detik ini" ucap ayahku


"Tidak perlu sungkan padaku" timpal Selena panik


"Nona Parker, kami mempunyai hutang budi yang sangat besar kepada keluarga Parker... semoga kami bisa membalasnya suatu saat nanti..." ucap ibu

__ADS_1


"Tidak usah dipikirkan nyonya Lincoln, Luna.... bagaimana hasilnya?" tanya Selena padaku


Dari raut wajah yang Selena tunjukkan, sepertinya dia berharap ada kabar baik untuk kesembuhan penyakitku. Tentu saja semua itu karena Selena tidak akan pernah siap untuk kehilangan aku, persahabatan kamu yang terjalin sejak kecil adalah sesuatu yang begitu berharga dan akan menyedihkan jika harus segera terpisah. Tapi memang itulah yang harus terjadi, sampai detik ini aku masih berusaha kuat untuk menyiapkan mental Selena dengan kepergianku nanti.


"Aku pikir aku masih punya waktu lebih dari dua minggu lagi, tapi dokter Richard mengatakan aku tidak akan punya waktu sebanyak itu" jawabku


Berat sekali untuk mengatakan itu kepada Selena, hatiku pun sakit dengan kenyataan itu namun Selena harus tahu semuanya. Dialah yang akan membantuku untuk menyelesaikan daftar impian yang telah aku persiapkan sejak lama.


"Maaf... semua kejadian yang menimpaku, Naomi dan kak Jester membuat waktumu menjadi lebih sempit dan check list mu..." belum selesai Selena berkata, aku berlari kecil lalu menabrakkan tubuhku ke Selena dan memeluknya dengan sangat erat.


Air mataku kembali menetes ketika aku teringat semua kenangan masa kecilku bersamanya, semua kenangan yang selalu terpatri dalam hatiku membuatku berat jika mengingat aku akan segera meninggalkannya untuk selamanya. Beban janji yang pernah terucap juga sudah membuatnya menderita selama ini, namun sayang aku tidak punya waktu lagi untuk membantunya bangkit dari rasa sakit hatinya.


Berbicara setenang mungkin dengan sisa Air mata yang masih menggenangi pelupuk mata ternyata bukan hal yang mudah ya? Aaaah Selena.... aku harus kuat dan tegar dihadapannya.


Perlahan aku merasakan tangan Selena memeluk tubuhku, air matanya juga terasa deras menetes yang membasahi baju bagian bahuku. Gelengan kepala Selena ketika itu terasa begitu menyakitkan hatiku, tanpa berkata apapun aku tahu dia tidak mau menerima keputusanku dan juga takdir yang menanti ku.


"Berkas Ku sudah siap semua, bisa antarkan aku untuk mengurus paspor? dengan jaringan keluargamu, bisakah aku dapatkan paspor itu dengan cepat?" ucapku, Selena menganggukkan kepala beberapa kali didalam pelukanku.


"Aku akan hubungi papa agar paspor mu segera bisa diselesaikan dalam hitungan jam" jawab Selena, lalu kami saling melepaskan pelukan.


"Terima kasih, maaf merepotkan mu terus" ucapku dengan senyum menatapnya

__ADS_1


Setelahnya aku dan Selena pun berpisah dengan ayah dan ibu, aku katakan pada mereka jika mungkin aku segera pulang karena kondisiku sudah tidak baik dan mungkin saja kak Jester dan Naomi akan menyadari penyakitku. Di Perjalananku bersama Selena menuju kantor pemerintahan untuk mengurus paspor, aku dan Selena hanya terdiam. Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihanku, begitu pula dengan Selena yang tiba - tiba kembali menangis ditengah kemacetan jalan perkotaan.


"Kenapa menangis lagi? aku baik - baik saja kok" dengan lembut aku mengatakannya pada Selena untuk menenangkannya, namun air mata Selena masih juga tidak terbendung.


"Entah kenapa... aku teringat semua kenangan kebersamaan kita dulu... aku ingin kamu tetap ada disini..." suara Selena terdengar sangat pilu, aku pun menghela nafasku karena aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan disaat seperti ini.


Selena... Gadis tomboy yang rela merubah penampilannya demi permintaanku, gadis tomboy yang anti menangis dan juga anti cowok itu. Ketika menangis tangisannya menjadi begitu memilukan, Ayolah Selena kamu pasti bisa kuat dengan kepergianku!


"Selena... kita sudah janjikan kalau tidak boleh ada air mata lagi diantara kita?" tanyaku, Selena pun menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Semua akan baik - baik saja, kamu punya sahabat yang baik. Hubunganmu dengan kak Jester, kak Luke, dan kak Harry pun sudah membaik, begitu pula dengan kak Justin dan Grece pasti akan menemanimu juga kalau kamu merasa kesepian. Kamu sudah tidak sendiri lagi..." ucapku lagi, namun air mata Selena malah semakin deras keluar.


"Maaf... aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menenangkan mu... semua ini tidak dapat dihindari" ucapku, perlahan aku menarik nafasku dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Dalam kehidupan ini manusia datang dan pergi... teman, kekasih, sahabat, maupun orang - orang terdekat. Yang dulu sedekat nadi, kelak akan sejauh matahari, momen yang pernah tercipta pun hanya akan menjadi memori. Kita nyatanya tidak pernah saling memiliki namun kita hanya saling dipinjami" ucapku dengan lembut mencoba untuk memberi pengertian pada Selena, ketika itu Selena meminggirkan mobilnya karena dia semakin tidak mampu untuk menahan tangisannya.


Aku membiarkan Selena menangis untuk memberikannya waktu agar dia dapat menata hatinya, aku hanya bisa terus berada disampingnya sembari membelai lembut rambut pendeknya saat itu. Tangisan Selena sampai membuatnya sesenggukan, aku tidak pernah melihatnya menangis sampai seperti ini sebelumnya. Aku? aku tidak bisa lagi untuk menangis... rasanya air mata ini sudah kering, atau mungkin aku sudah rela dengan takdir yang aku dapatkan.


Beberapa saat akhirnya Selena mampu untuk menahan tangisnya, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju kantor pemerintahan untuk mengurus pasporku. Di kantor itu aku bertemu tuan dan nyonya Parker, ternyata Selena sudah lebih dulu menghubungi orang tuanya untuk meminta bantuan membuatkan paspor untukku. Semua berjalan sangat baik dan cepat, sampai pada saat sesi foto... semua kembali menjadi kacau balau, itu terjadi karena ketika aku selesai di foto... aku batuk dan memuntahkan darah yang membuat semua orang yang ada disana menjadi panik, lalu aku pingsan setelahnya sampai membuatku harus dirujuk kerumah sakit.


Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya....

__ADS_1


__ADS_2