
Pagi itu setelah aku memperingatkan Selena, tidak lama dia terlihat masuk kedalam kamar menemui ku untuk pamit berangkat kuliah bersama kak Jester. Tidak lupa aku kembali katakan padanya untuk selalu menjaga hati dan jangan membuat masalah lagi, dengan kesal Selena menjawab peringatanku saat itu. Tapi aku tidak percaya padanya begitu saja, aku menatapnya tajam sepanjang dia bersiap - siap didalam kamar sampai keluar dari kamar.
Aku mendengar bunyi deru mesin mobil yang menyala dan terdengar semakin jauh meninggalkan rumah, "Mereka sudah berangkat" ucapku dalam hati. Kini hanya ada aku dan Naomi yang masih tertidur, sejenak aku termenung dalam lamunanku. Entah kenapa aku merasa tubuh ini terasa makin ringan, langkah kaki yang aku gerakkan juga terasa mengambang di tanah. "Apa karena akhir - akhir ini aku semakin kehilangan berat badanku?" tanyaku dalam hati.
Tapi aku cuekin aja, fokusku kini ada pada Naomi. Aku ingin segera membuatnya bangkit kembali, tidak ada yang lain selain itu.
....
...
...
Sepertinya ada yang mengganggu pikiranku untuk ku tuangkan pada diary ini, tapi.... kenapa aku bisa lupa akan beberapa hal itu yah? Aaah aku biarkan kosong saja, setelah aku ingat pasti aku akan aku tulis lagi nanti.
Aku.... bingung harus mulai darimana...
Semuanya menjadi kacau dihari yang sama... aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi... Seingat ku, tepat pada tengah malam... Naomi berteriak begitu memilukan sampai membangunkan ku dan Selena, dengan segera aku memeluknya untuk membuatnya lebih tenang. Entah mimpi buruk apa yang dia alami, aku hanya berusaha mengucapkan apapun yang perlu aku katakan sampai pada akhirnya... Naomi memutuskan untuk meninggalkan kamar dan tidur bersama kak Jester diruang keluarga...
Yaa... disinilah masalahnya dimulai...
Setelah pintu tertutup, mataku berkunang. Aku tidak ingat apapun lagi setelah itu, mungkin karena aku pingsan. Untung saja Naomi tidak berada dikamar bersamaku dan Selena, karena jika tidak... maka semuanya akan kembali menjadi kacau balau.
Aku hanya mendengar suara Selena memanggil namaku dengan suara yang kecil dan bergumam bersamaan dengan aku kehilangan pengelihatan ku, ketika terbangun saat itu aku sudah berada diatas kasur dengan Selena yang tidur duduk disebelah kasur tepat di sebelahku. Aku membelai rambut Selena dengan perlahan untuk membangunkannya, entah kenapa tubuhku terasa begitu nyeri. Aku nyaris tidak merasakan kakiku, lagi... ini terjadi lagi...
Selena memang selalu khawatir dengan keadaanku, aku yakin dia menemaniku semalaman hingga tertidur di sebelahku dalam kondisi masih duduk. Sebenarnya aku tidak tega selalu merepotkannya, namun untuk saat ini hanya Selena lah yang mau mengerti keadaanku bahkan dia rela mengikuti keegoisanku untuk bertemu kak Jester dan mewujudkan impian terakhirku.
"Se..lena...." gumamku berusaha membangunkannya, jujur saja aku sedikit panik saat itu.
__ADS_1
Tidak lama Selena terjaga dan dia langsung kaget melihatku terbangun lebih dulu darinya, saat itulah aku baru tahu jika aku muntah darah lalu pingsan setelahnya. Semua sudah dibereskan Selena, hanya saja dia kebingungan cara untuk menyingkirkan sprei putih yang Selena pakai untuk membersihkan muntahan darahku tengah malam tadi.
Aku bertanya padanya apa Naomi tahu tentang semua ini, dan dia menjawab jika Naomi tidak kembali sejak keluar dari kamar jam satu tengah malam tadi. Sejenak aku bisa bernafas lega mendengarnya, tidak ada alasan lain atas kepanikan ku selain kak Jester ataupun Naomi mengetahui tentang penyakitku.
Selena memberikanku obat - obatan milikku dan segelas air, dengan segera aku meminumnya agar aku dapat kembali beraktifitas. Akan sangat aneh jika tiba - tiba aku tidak bisa bergerak seperti ini, kak Jester dan Naomi pasti akan mencurigai kondisi kesehatanku. Ditengah usahaku untuk dapat bergerak, Selena mulai disibukkan dengan membereskan kekacauan yang disebabkan olehku.
Dia menggulung sprei dan selimut dalam satu bulatan dan tidak membiarkan sedikitpun darah menetes dari sprei itu, saat itu aku bertanya apa kehilangan sprei dan selimut akan membuat kak Jester dan Naomi curiga? namun Selena menjawab, orang kaya tidak akan sadar jika dia kehilangan dua sampai lima sprei sekaligus. Aku tertawa mendengar jawabannya.
Perlahan aku beranjak dari kasur berusaha untuk merasakan kedua kakiku yang menyentuh lantai, aku berhasil merasakannya meski samar - samar. Selena membantuku untuk berdiri dan aku berhasil melakukan langkah pertamaku, walau tentu saja terasa kebas pada betis hingga paha. Namun setidaknya tidak sampai membuatku harus tetap berada diatas kasur seharian, itu saja sudah cukup untukku.
Entah sudah berapa banyak obat yang aku habiskan selama berada dirumah kak Jester, hingga rasanya pengaruh obat pun seperti mulai berkurang atau bahkan kondisi tubuhku lah yang sebenarnya mulai memburuk? Tapi aku harus melakukan ini, obat adalah satu - satunya cara agar aku masih bisa melanjutkan aktivitasku.
Aku memberikan gestur jempol agar Selena tahu aku sudah baik - baik saja, setelah memastikan aku benar - benar membaik.. saat itu Selena memulai aksinya untuk menyingkirkan bekas darah yang menempel pada sprei, dia harus berhati - hati agar tidak sampai ketahuan kak Jester maupun Naomi.
Perlahan aku melihat Selena membuka pintu kamar secara perlahan, lalu dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa keadaan. Mungkin dia merasa sudah aman, ketika itu Selena berbalik lalu membawa bola sprei dan selimut yang dia masukkan dalam sebuah plastik hitam yang entah dia dapatkan darimana. Kemudian Selena berlari keluar kamar secara tergesa - gesa, namun saat pintu belum tertutup rapat ketika itu aku melihat Selena kepergok kak Jester yang baru saja keluar dari ruang keluarga.
"Gawat!!" panik aku katakan itu, aku berlari sebisaku untuk mendekati pintu agar bisa menguping apa yang Selena dan kak Jester bicarakan.
"Aaa... anu.. ini sampah..." jawab Selena terbata, aku bisa merasakan kepanikannya.
"Kamu bisa taruh aja sampah itu didekat dapur, seseorang dari divisi kebersihan cluster akan membuang kan sampah itu untukmu" timpal kak Jester memberikan sarannya, aku pikir Selena terpojok saat itu namun dia berhasil berkelit dan mengatakan...
"Aaa iya.. kamu benar, tapi aku cuma tidak ingin... merepotkan saja, aku akan bawa ini sendiri" ucap Selena lalu aku mendengar suara langkah kaki yang terburu - buru.
Ketika itu aku bisa bernafas lega, ternyata Selena lebih pandai berbohong dari yang aku duga sebelumnya. Aku menyandarkan tubuh pada tembok dibalik pintu karena kakiku mulai terasa nyeri kembali, namun baru juga aku bersandar ketika itu aku mendengar gumaman kak Jester dari balik pintu. Dia berkata...
"Apa ini?" tanya kak Jester
__ADS_1
Entah apa yang dia temukan, tapi hal itu pasti membuatnya panik karena... setelah mengatakan itu aku mendengar suara langkah cepat kak Jester seakan dia menyusul Selena. Aku segera membuka pintu kamar dan benar saja, aku tidak melihat kak Jester di koridor rumah. Aku yang panik pun segera berlari kecil sekuat ku untuk menyusul keduanya, tapi belum juga sampai aku mendengar suara kak Jester yang sedikit berteriak.
"Kamu terluka?!" tanya kak Jester panik
"Hah? kenapa?" tanya balik Selena panik
"Ada setetes darah tadi di lorong!! itu masih segar dan pasti bukan dari sebuah luka yang dangkal!!" jawab kak Jester terdengar khawatir
Meningkat lah kepanikan ku saat itu, aku kemudian memutar otakku sekuat mungkin agar bisa membantu Selena untuk mengelabui kak Jester. Entah setan apa yang merasuki ku, aku mendapatkan ide jahat tapi pasti Selena akan marah besar padaku. Namun disaat seperti ini, apa lagi yang bisa aku lakukan selain ide 'itu'.
Aku berbalik kemudian berlari menuju kamar meski tertatih - tatih, aku harus cepat karena aku tidak bisa membayangkan seberapa lama Selena berhasil menahan kak Jester agar dia tidak membuka isi dari plastik hitam itu. Didalam kamar aku segera membongkar tas milik Selena dan mencari benda pendukung ideku, setelah mendapatkan benda itu aku tidak membuang waktu dan langsung kembali berlari untuk menyusul Selena di garasi.
Dugaanku benar, Selena sudah benar - benar terpojok ketika aku hampir sampai di pintu utama rumah. Aku mendengar kak Jester berkata...
"Apa yang terjadi? kamu berbohong?" tanya kak Jester terdengar begitu menekan Selena, aku segera muncul dari balik pintu utama rumah dan aku katakan...
"Aku mencari mu dari tadi, ternyata kamu disini! nih plester yang kamu minta" ucapku sedikit berteriak agar perhatian kak Jester teralihkan
Hampir bersamaan kak Jester dan Selena menoleh menatapku, aku tersenyum menatap Selena seraya memberikan sebuah pembalut wanita kepada Selena. Memerah lah wajah kak Jester dan Selena, aku tertawa terbahak - bahak melihat keduanya memiliki ekspresi yang sama.
"Sepertinya lebih baik kamu segera mencuci tangan dan kakimu deh kak" godaku lalu kembali tertawa terbahak - bahak
Kak Jester langsung berlari masuk kembali kedalam rumah begitu tergesa - gesa dengan wajah yang memerah itu, aku semakin tertawa melihat responnya. Hanya saja... Selena benar - benar sesuai dengan dugaanku, dia marah... ketika aku menoleh menatapnya, dia menatapku dengan tajam.
"Aahaha... duuh ya ampun kak Jester" celetukku untuk memancing tawa Selena
"Puas?!" bentaknya padaku, aku tersenyum padanya lalu aku katakan...
__ADS_1
"Maaf ya..." jawabku, suara helaan nafas Selena pun terdengar bersamaan dengan permintaan maafku.
"Sudahlah, asal kamu senang" timpal Selena