Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 1


__ADS_3

Diary....


Aku kembali setelah dua tahun memutuskan untuk berhenti menulis, tenang saja..aku tetaplah seorang Luna Lincoln yang labil..xixixixi.... Sebuah kejadian merubah keputusanku, aku bertemu dengan gadis konyol dan lucu bernama Grece, Grece Werner nama lengkapnya, pertemuanku dengannya membuatku kembali menata sebuah pemikiran tentang masa depan, yaaah...masa depan... mungkin mulai hari ini aku akan kembali menulis dan menceritakan sisa - sisa hidupku, jadi diary... bersiaplah, karena Luna Lincoln akan kembali menulis kisah hidupnya


Semua dimulai setelah dua tahun berlalu, tidak banyak hal terjadi padaku karena aku hanya hidup menyendiri, mengurung diri di rumah dan didalam kamarku. Aku tidak berinteraksi dengan banyak orang, hanya berinteraksi dengan ibu, ayah dan dokter Alora. Semua kehidupan dua tahun ku hanya aku habiskan untuk belajar berjalan kembali, berdiri, meminum obat - obatan, terapi untuk mengurangi efek buruk dari penyakit yang aku derita, dan juga... meneruskan hidup yang terasa sudah mati untukku.


Jika pun ada yang berubah... itu hanya rambutku yang kini mulai tumbuh sampai sebahu... meski sering rontok namun karena aku sudah tidak mengikuti kemoterapi... aku bisa memanjangkan kembali rambut - rambutku...


Semua hal membosankan itu berubah ketika suatu pagi menjelang siang ibu memberikan aku sebuah selebaran...


Selebaran yang menjadi titik awal kisah hidupku untuk kedua kalinya setelah sebelumnya pernah aku buang, aku menemukan arti kehidupan....


Seperti ini ceritanya....


Dua tahun sudah berjalan sejak aku pergi dari kota kelahiranku meninggalkan pangeran impianku, sahabatku Selena, teman masa kecilku kak Justin, dan orang - orang yang pernah berhubungan denganku. Aku masih menderita penyakit leukimia namun kini aku bisa berjalan normal kembali meski sesekali tetap saja akan ada saat dimana kakiku terasa kebas dan membuatku tidak sanggup berdiri, tapi itu lebih baik daripada dua tahun lalu ketika hidupku aku habiskan seutuhnya di atas kursi roda.


Dibantu dokter Alora, aku menjalani berbagai terapi untuk bisa kembali berjalan. Pembengkakan limpa yang aku derita juga semakin hari semakin mengecil, aku bisa hidup normal kembali meski kesepian memberikan aku penderitaan baru.


Disini... aku tidak memiliki teman, hanya ada ayah, ibu, dan dokter Alora yang selalu ada menemani dan mengisi hari - hariku. Tidak ada hal menarik yang bisa aku ceritakan dimasa - masa dua tahunku selain itu, namun di suatu pagi menjelang siang... aku mendapatkan sebuah pijakan baru dan seakan menjadi titik balik dalam hidupku yang hampa ini. Itu dimulai ketika...


"Ibu diberi selebaran ini tadi pagi ketika di pasar untuk menjual buah - buahan bersama ayah" celetuk ibu ketika aku masih bersama dokter Alora sedang latihan berjalan di halaman depan rumah, aku mengambil selebaran yang ada ditangan ibu kemudian membacanya.


***


Mencari bakat baru!! jadilah berlian ditengah lumpur, kami mengadakan audisi mencari penyanyi dari desa ke desa!! jangan sia - siakan kesempatan!!


Sponsor : Werner Grup


***


"Ini... seperti menghina kan?" dengan kesal aku mengatakannya, ibu dan dokter Alora pun tertawa.

__ADS_1


"Yaah... bisa gitu ya, tapi bukankah ini kesempatanmu untuk kembali bersinar?" tanya ibu padaku dengan senyumannya, aku hanya terdiam lalu kembali menatap selebaran itu.


Disaat itu aku masih tidak dapat memaafkan diriku sendiri atas apa yang sudah aku lakukan pada pangeranku, meski dua tahun telah berlalu namun... perasaan bersalah itu terus membuatku sakit hati dan juga kini aku menjadi anak pemurung dengan ekspresi datar selayaknya Alvin.


"Luna, kamu mau ikut? kalau iya, dokter Alora yang akan mendampingi mu" timpal dokter Alora padaku, aku mengalihkan pandanganku menatap mata dokter Alora.


"Tidak, aku masih... ingin cepat tiada... aku hanya bisa merepotkan orang - orang di sekitarku saja..." ucapku lalu aku menyeret kaki kiriku untuk kembali menuju kursi rodaku


"Luna... jangan ngomong gitu donk" ucap ibu terdengar sedih, aku duduk di kursi rodaku lalu ku tatap wajah ibuku dengan datar.


"Ibu... tidak ada warna dunia lagi di mataku, aku tetap menjalani semua pengobatan ini hanya untuk menghormati keluarga Parker dan hanya ingin berterimakasih pada ayah ibu karena menerima permintaanku untuk keluar dari kota itu" timpal ku lalu segera memutar roda kursiku untuk kembali menuju kamar, namun baru beberapa putaran seketika itu dokter Alora membantuku dengan mendorong kursi rodaku.


"Dunia mungkin memang sudah tidak berwarna di matamu, tapi kamu punya pilihan untuk memberi warna kepada dunia. Kenapa tidak mencobanya? mungkin kamu akan menemukan hal baru dari audisi itu" celetuk dokter Alora padaku


Aku tidak menanggapi perkataan dokter Alora hingga kami sampai didalam kamarku, didekat kasur aku beranjak dari kursi roda lalu merebahkan tubuhku yang lemah ini di kasur. Setelah menggeser kursi roda di pojok kamar, dokter Alora duduk di pojok kasurku dan menatap wajahku dengan senyuman.


"Ayolah Luna, tidak ada ruginya kamu melakukannya kan? lagian anggap saja untuk menghabiskan waktu, kamu tidak harus menang" bujuk dokter Alora padaku


"Aku tahu kamu tidak akan mempertimbangkannya sama sekali, tapi aku harap kamu menempati perkataanmu untuk memikirkannya. Sampai jumpa besok, Luna" ucap dokter Alora


Aku hanya diam saja dan tidak lama suara pintu tertutup pun terdengar, aku memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuh. Didalam tidurku itu... aku bermimpi tentang sebuah panggung yang terang - benderang dengan lampu - lampu hias, gemuruh penonton didepan panggung dan seorang wanita yang entah siapa itu menatapku penuh kebencian. Namun saat itu aku seakan tidak mempedulikan semuanya, aku turun dari panggung dengan semangat yang meletup - letup.


Aku terjaga dan aku terbangun ketika senja, suasana sunyi khas pedesaan yang sudah akrab untukku setiap harinya membuatku memiliki waktu untuk kembali mengingat mimpi yang baru saja aku lihat. Ditengah lamunanku, tidak sengaja tanganku menyentuh selebaran yang sebelumnya ibu kasih padaku tentang audisi pencari bakat. Aku kembali mengambil selebaran itu dan kembali aku baca, seketika itu aku berpikir...


"Selebaran ini... benar - benar menghina, apa maksudnya berlian ditengah lumpur" gumamku, lalu aku lempar kertas itu entah kemana.


Perlahan aku menggeser kedua kakiku untuk beranjak dari kasur, berjalan sedikit untuk mendekati kursi rodaku dipojok ruangan, lalu duduk di sana, aku pun memutar roda kursi dan mengarahkannya menuju keluar kamar. Baru membuka pintu, aku bisa mendengar ayah dan ibu sedang mengobrol di ruang keluarga. Rumah kami memang kecil, jadi suara sekecil apapun pasti sayup - sayup akan terdengar.


"Bagaimana cara membuat anak itu bahagia? sudah dua tahun dia seperti robot, aku tidak tega melihatnya terus - menerus seperti itu" ucap ayah


"Aku juga tidak tahu, selebaran yang aku berikan padanya pagi tadi tidak bisa membuatnya bersemangat. Lagian disini tidak ada hiburan jenis apapun, jauh dari pantai, gunung, dan taman hiburan..." timpal ibu

__ADS_1


"Apa perlu kita bawa dia ke kota terdekat? aku rasa di sana ada mall meski kecil - kecilan, mungkin dia bisa memilih baju atau apapun yang bisa membuatnya merasa senang" ucap ayah lagi


"Aaah ide bagus, bagaimana kalau..." belum selesai ibu menjawab, aku memotongnya.


"Tidak perlu, hal seperti itu hanya membuang waktu dan uang" timpal ku sembari membuka pintu kamar semakin lebar


"Luna... tapi..." ucapan ibu kembali aku potong


"Ibu... aku benar - benar tidak membutuhkan itu..." aku menimpali perkataan ibu dengan sebuah tolakan


"Luna, ayah dan ibu sudah menurutimu banyak hal. Setidaknya, turuti kami satu kali saja" ucap ayah, seketika itu emosiku tersulut mendengar perkataan ayah.


"Aku sudah menuruti kalian dengan tetap berusaha bertahan hidup!!! apa lagi yang bisa dilakukan gadis berpenyakitan sepertiku?!! berhenti untuk meminta hal lain dariku!!!" bentak ku pada mereka


Seketika suasana rumah menjadi sunyi, hanya terdengar suara nafasku yang terengah - engah setelah membentak kedua orangtuaku. Seketika itu aku merasa menyesal telah membentak kedua orang tua yang sangat mencintaiku, aku pun mendadak menangis... air mata deras keluar dari kedua mataku...


"Maaf... maafkan aku.... aku tidak bermaksud membentak.... maafkan aku..." ucapku, aku pun menundukkan kepalaku untuk memohon maaf pada mereka


Ayah dan ibu berlari mendekatiku lalu memelukku dengan erat, tepukan tangan ayah di punggungku dan tangan ibu yang mengelus lembut rambutku seakan menjadi penenang untuk hatiku yang penuh dengan gejolak emosi dan tidak stabil. Aku masih labil... hal kecil saja kadang bisa membuatku menangis ataupun marah begitu saja...


Setelah tangisanku mulai tenang... perlahan ibu dan ayah melepaskan pelukan mereka, ibu menyeka air mataku yang masih tersisa di wajahku. Setelah itu ibu mengajak kami untuk makan malam bersama, sudah menjadi kebiasaan keluarga kami untuk makan bersama - sama ketika malam telah tiba.


Ibu memasakan makanan kesukaanku, sepertinya ayah dan ibu masih tidak menyerah untuk membuatku melakukan aktifitas lain selain yang aku biasa lakukan dua tahun ini. Bangun, terapi jalan, mandi, sarapan, melamun dihalaman depan rumah dengan duduk kursi rodaku, tidur siang, bangun, terapi jalan lagi, mandi, duduk melamun lagi dihalaman depan rumah, makan malam bersama, lalu kemudian tidur...


Dua tahun sudah aku lakukan itu, bosan? tentu... tapi aku memang tidak memiliki tujuan hidup, jadi untuk apa aku melakukan hal lain? namun malam ini... aku merasa aku harus membuat ayah dan ibu bangga padaku, aku terdiam ketika ibu memberikan sepiring ratatouille padaku. Tangan besar ayah menyentuh kepalaku dan mengelusnya dengan lembut, mungkin mereka pikir aku sedang melamun namun tidak... aku sedang memantapkan hati untuk...


"Aku akan ikut audisi itu, aku minta tolong ayah sampaikan ke dokter Alora jika aku membutuhkan pendampingannya saat aku mengikuti audisi" ucapku tegas sembari menatap wajah ayah dan ibu yang terkejut dengan perkataanku


Seketika senyum merekah ayah dan ibu terlihat, mereka berdua tiba - tiba menjadi penuh semangat dan heboh sendiri. Ayah menelepon dokter Alora, sedangkan ibu langsung mencarikan aku baju dan beberapa aksesoris untuk mendukung penampilanku di audisi... tapi...


"Ayah... ibu... audisi masih satu minggu lagi... kenapa kalian heboh sekarang?" gumamku tapi ayah dan ibu tidak ada yang peduli dengan apa yang baru saja aku katakan.

__ADS_1


__ADS_2