
Malam itu kak Justin menemaniku dikamar hingga aku tertidur, kami tidak berbicara apapun dan dia hanya mendengarkan aku menangis sepanjang malam. Hingga pagi menjelang, aku terbangun dan ku dapati tubuhku sudah berselimut, dengan posisi yang nyaman. Aku menoleh menatap kanan kiri namun tidak aku dapati kak Justin berada disana, "Apa aku bermimpi?" tanyaku dalam hati
Aku beranjak dari kasur dan mendekati jendela kamarku, jendela itu tertutup dengan rapat dan aku pun merasa jika semalam aku hanya bermimpi sampai aku melihat coklat yang sempat aku makan berada diatas meja belajarku. "Ternyata semalam itu... nyata..." ucapku dalam hati, sejenak aku merasakan hangat dalam hatiku setelah semalaman penuh aku hanya bisa menangis.
Lamunanku terhenti ketika suara ketukan pintu terdengar, aku berjalan mendekati pintu dan membukanya perlahan. Aku menatap ayah yang berdiri mengintip ku dari celah pintu yang terbuka, sejenak ayahku terlihat kaget dengan pakaian yang aku gunakan semalaman.
"Luna, kamu gak mengganti pakaian semalaman?" tanya ayahku lembut, aku menggelengkan kepalaku tanpa menjawab pertanyaannya.
"Apa kamu baik - baik saja? mau berangkat sekolah?" tanya ayahku lagi
"Aku... malas... boleh aku bolos?" tanyaku
"Boleh... ayah mau berangkat kerja, mau titip sesuatu? cemilan? susu kemasan? roti mungkin?" tanya ayahku, aku pun menjawabnya dengan gelengan kepala.
Ayahku itu luar biasa, putrinya bolos pun masih ditawarkan makanan dan minuman, aku memang di ratu kan oleh ayah dan ibuku dan hal itu membuatku beruntung berada di keluarga ku ini walaupun sangat sederhana.
"Telpon ayah jika kamu membutuhkan sesuatu" ucap ayahku lalu berbalik untuk meninggalkanku
"Ayah..!" celetukku dan ayah pun menghentikan langkahnya lalu berbalik kembali menatapku.
"Iya sayang?" tanya ayahku lembut, aku tersenyum padanya.
"Aku sayang ayah~" jawabku, lalu ayah pun tersenyum
"Ayah juga sayang Luna" timpal ayahku lalu ayah melambaikan tangannya
Perlahan aku menutup pintu kamarku lalu berjalan dan merebahkan tubuhku ke kasur, baru ingin terlelap dalam lamunanku namun ketukan terdengar dari kaca jendela kamarku. Aku menatap jendela kamar lalu berjalan mendekatinya, aku langsung membukanya dan melihat kak Justin berdiri menyandar pada tembok dekat dengan jendela kamar.
__ADS_1
"Kak~ kamu begini terus malah terlihat seperti penguntit" celetukku padanya, namun dia hanya tertawa menanggapi celetukan ku.
"Gak sekolah?" tanya kak Justin padaku, aku menghela nafasku dan berbalik lalu berjalan mendekati kasur dan merebahkan tubuhku disana.
"Kenapa?" tanya kak Justin sembari memanjat jendela dan duduk di kusen. Memang seperti itulah kak Justin jika menemaniku, mungkin karena kita berteman sejak kecil makanya aku nyaman saja dengan tingkah kak Justin.
"Aku... masih tidak mau bertemu kak Jester" jawabku, seketika suara tawa kecil kak Justin terdengar.
"Mau bersenang - senang bersamaku?" tanyanya, aku pun terkejut atas tawarannya lalu menatapnya dengan tajam.
"Hah?! kamu juga mau bolos?" tanyaku heran
"Yah sesekali gak masalah, lagian hari ini kelas dua lebih fokus pada pengembangan bakat jadi pasti banyak jam kosong. Aku kira kamu tahu sampai memilih untuk bolos demi menghindari Jester" jawab kak Justin santai
"Aku gak tahu... sepertinya hanya beruntung saja..." ucapku lalu kembali merebahkan kepalaku, kami sempat terdiam beberapa saat karena aku kepikiran banyak hal yang semuanya adalah pemikiranku tentang kak Jester.
"Kamu mau ajak aku kemana kak?" tanyaku memecah keheningan diantara kami
"Ikutlah, kamu akan tahu saat kita sampai disana" jawabnya dengan senyum khas kak Justin kepadaku, aku membalas senyumnya lalu mengusirnya dari kamar.
Kak Justin pun kembali melompat ke taman samping rumahku, aku segera menutup jendela dan gorden lalu segera berganti pakaian. Sejenak tiba - tiba aku ragu untuk memilih pakaian yang aku akan gunakan, mungkin karena aku terpengaruh kejadian semalam... tapi aku pun akhirnya memutuskan hanya menggunakan kaos putih dengan jaket bomber berwarna hitam yang aku padukan dengan jeans, merias wajahku hanya dengan lipglass lalu aku pun keluar kamar.
Diruang tamu rumah aku mendengar suara ibu dan kak Justin mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan karena ketika kak Justin melihatku keluar dari ruang tengah saat itu kak Justin langsung menghentikan pembicaraan dan tersenyum kepadaku. Ibu pun langsung berbalik untuk menatapku, dengan wajah khawatir ibu berjalan mendekatiku.
"Luna, kamu baik - baik saja nak?" tanya ibu lembut
"Aku baik bu, ada apa? apa yang kalian bicarakan?" tanyaku penasaran, ibu menoleh menatap kak Justin dan begitu pula kak Justin yang mengalihkan pandangannya menatap ibuku.
__ADS_1
"Justin hanya minta izinku untuk membawamu ketempat yang lumayan jauh" jawab ibu bersamaan dengan tatapan matanya yang kembali menatapku, aku pun sedikit memiringkan kepalaku menunjukkan seberapa bingungnya aku saat itu.
"Kamu mau bawa aku kemana kak?" tanyaku memaksanya
"Kejutan, kalau aku katakan sekarang maka semuanya akan menjadi tidak seru" jawabnya, aku pun kesal dengan jawaban itu namun entah mengapa aku percaya saja padanya.
Kami berdua pun berpamitan, aku menaiki sepeda motor kak Justin dan kami pun meninggalkan rumah dengan tujuan yang tidak aku ketahui. Perjalanan kami sampai setelah lima belas menit berlalu, aku melihat sebuah stasiun kereta api. Kak Justin memarkirkan sepeda motornya dan aku pun turun dengan kebingungan, "Stasiun? mau kemana kita sebenarnya?" tanyaku dalam hati.
"Nah dari sini kita akan naik kereta hingga ke kota sebelah" ucap kak Justin lalu menggandengku untuk masuk kedalam stasiun
Kak Justin membeli tiket dan menyuruhku untuk duduk, dia mengatakan jika aku jangan terlalu capek - capek agar kami bisa menikmati perjalanan itu. Aku hanya menurutinya dan membiarkan kak Justin dengan segala rencananya itu, hingga beberapa menit berlalu dan kak Justin pun sudah mendapatkan tiket untuk kami berdua.
Dia kembali menggandengku dan mengajak untuk masuk kedalam ruang tunggu kereta, tidak lama kereta pun datang dan kami langsung memasuki kereta itu. Meski bingung aku hanya diam saja menuruti semua ajakannya, aku hanya heran... untuk apa semua itu kak Justin lakukan. Entahlah... menghiburku mungkin...
Perjalanan kereta kami membutuhkan waktu sampai tiga jam lebih, kami pun turun di stasiun tujuan kami. Disana kak Justin memanggil taksi online dengan tujuan yang tidak juga dia beritahukan kepadaku, perjalanan itu juga cukup menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Kak Justin pun seakan membatasi semua obrolan yang aku lakukan, aku tahu kenapa dia seperti itu. Dia hanya menghindari keceplosan seperti yang sudah - sudah terjadi, kali ini kak Justin lebih pintar dari biasanya...
"Sudah sampai" ucap supir taksi online itu pada kami, aku pun melihat sebuah pintu masuk yang terbangun begitu indah dan tertulis taman bunga Sakura
Aku turun dari mobil dan termenung melihat pintu masuk menuju taman bunga itu, lalu kak Justin menepuk pundakku dengan lembut namun tatapannya juga melihat pintu masuk kedalam taman itu.
"Katanya bunga sakura disini sudah mekar, jarang - jarang loh. Dalam satu tahun hanya akan mekar pada Januari sampai Februari atau Agustus hingga September, apa kamu tertarik melihat kedalamnya?" tanya kak Justin padaku
Aku langsung berlari menuju pintu masuk, lalu saat agak jauh dari posisi kak Justin ketika itu aku berbalik dan menatapnya dengan senyuman terbaik yang aku miliki untuk menunjukkan seberapa senangnya aku hari ini.
"Ayo kita masuk kedalam~" ajak ku padanya
Kak Justin pun berlari mendekatiku lalu kami bersama - sama menuju loket untuk membeli tiket masuk, disana aku melihat bunga - bunga sakura yang bermekaran. Aku mengambil beberapa foto - foto disana dan menjadikan kak Justin sebagai fotografer pribadiku, dia mengambil gambar - gambarku dengan sangat baik... aku begitu bahagia dan senyumku yang ada difoto itu... aku pikir itu adalah senyum terbaikku di tahun ini... :)
__ADS_1
Untuk sejenak aku melupakan sakit ku.....