Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
season 3 : episode 10


__ADS_3

Tidak lama setelahnya, Selena terlihat lebih tenang dan nampak sudah dapat menerima takdir persahabatan kami yang akan segera berakhir karena kematianku. Kami pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan melanjutkan tidur kami, tubuhku juga terasa begitu lelah malam itu mungkin karena seharian ini aku bersenang - senang bersama Selena, bertemu Naomi, dan terakhir aku berhadapan dengan Camilla.


Dikamar, aku dan Selena kembali tidur di satu kasur yang sama. Kami tidur dengan tangan kami yang saling menggenggam, kami sempat mengobrol beberapa hal lucu yang terjadi pada hidup kami, sampai aku tertidur lebih dulu, aku ingat Selena sempat memanggil namaku untuk memastikan apa aku masih terjaga atau tidak. Aku ingin menjawabnya, namun sepertinya mata ini sudah sangat berat untuk tetap terbuka.


Pagi pun tiba, sinar matahari menembus gorden jendela kamarku dan membangunkan ku pagi itu. Perlahan mataku pun terbuka dan aku melihat Selena masih terlelap tidur di sebelahku, tangan kami juga masih bergandengan semalam penuh. Tidak ingin membangunkannya, aku hanya diam dan tak bergerak. Entah jam berapa dia tertidur tadi malam, aku merasa dia masih sangat lelap tidur.


Tapi dugaanku salah, tidak lama Selena perlahan membuka matanya. Aku menoleh dan kami bertatapan mata ketika itu, senyumku perlahan terangkat dengan suara tawa kecil yang menyertainya. Mendengar ku tertawa kecil, dengan segera Selena berbalik dan memunggungi ku. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan itu, mungkin tidur bersama seperti ini sudah cukup memalukan baginya meski dulu kami sering melakukannya.


"Pagi Selena" sapaku


"Pa.. pagi Luna, sejak kapan kamu bangun?!" tanya Selena dengan nada panik, pertanyaan itu membuatku mengerti kalau dugaanku benar. Dia malu karena aku menatapnya ketika bangun tidur, aaa~ sahabatku ini imut kan meski kadang - kadang bersikap tomboi :)


"Baru kok, Hei Selena.. aku punya rencana untuk pagi ini" seru ku ketika itu, perlahan Selena kembali berbalik untuk menatapku.


"Apa itu?" tanya Selena terdengar penasaran


"Ayo kita ke rumah kak Jester dan Naomi!" jawabku dengan antusias, seketika itu ekspresi wajah Selena langsung berubah menjadi terkejut.


"Gila kamu!! gak, gak mungkin kita mendatangi rumah mereka!" ucap Selena dengan bentakan, aku tertawa mendengarnya begitu marah padaku.


"Tidak apa, kan Naomi sudah mengatakan kalau mau membantuku" timpal ku


"Meski dia katakan itu, bukan berarti kamu bisa suka - suka hati datang ke rumah mereka! setidaknya kamu tanya dulu sama Naomi, boleh apa engga!" ucap Selena lagi masih dengan emosinya


"Sudah, ayo kita kesana setelah mandi dan sarapan" ucapku sembari beranjak dari kasur


"Luna!! gak mau aku!!" timpal Selena, tapi aku hanya menanggapinya dengan suara tawa.

__ADS_1


Pagi itu Selena tidak henti - hentinya memintaku untuk mengurungkan niat berkunjung ke rumah kak Jester dan Naomi, tapi aku tetap pada pendirianku untuk mengunjungi rumah mereka. Setelah mandi dan sarapan bersama ayah dan ibu, Selena masih juga memintaku untuk mengurungkan niat mendatangi rumah kak Jester dan Naomi. Bahkan bujukan itu masih dilayangkan Selena tepat didepan pintu rumah ketika kami sudah siap untuk berangkat, aku menoleh menatapnya dan berkata...


"Selena... ayo donk, gapapa kok. Semua akan baik - baik saja" ucapku


"Luna~ gak bakal baik - baik saja, kak Jester masih benci padamu dan Naomi juga tidak tahu apa benar mendukungmu atau tidak, kali ini saja aku mohon... jangan egois" ucap Selena terdengar menyindirku, aku tertawa kecil mendengar sindiran Selena tentang keegoisanku.


"Kalau gak egois, aku tidak akan sempat menyelesaikan semuanya" ucapku dengan suara tawa kecil, setelah aku ucapkan itu lalu aku kembali berjalan mendekati mobil milik Selena yang terparkir dihalaman rumahku.


"Luna~" rengek Selena kepadaku


Meski aku tahu Selena berat hati untuk menerima rencanaku, namun pada akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan kami menuju rumah kak Jester dan Naomi. Wajah Selena cemberut sepanjang perjalanan dan bujukan ku kepadanya tidak kunjung membuat wajah cemberutnya menghilang, hingga empat puluh menit perjalanan akhirnya kami sampai disebuah gerbang masuk kompleks perumahan mewah.


Disana seorang penjaga terlihat mendatangi kami untuk menanyakan keperluan kami datang ke perumahan itu, begitu ketatnya penjagaan perumahan ini. Tapi setelah melihat tanda pengenal Selena, penjaga itu langsung memberikan izin akses untuk kami masuk kedalam komplek perumahan itu. Aku sempat bertanya padanya tentang kenapa penjaga itu dengan mudah memberi izin kepada Selena, saat itu Selena tertawa kecil lalu menghela nafas dan berkata...


"Aku, kak Jester dan Naomi pernah terlibat pertengkaran yang menarik perhatian banyak orang dan sejak saat itu mereka sangat mengenalku, ketika itu aku marah pada kak Jester karena selalu punya waktu buat Naomi tapi tidak pernah ada waktu untukku. Jadi aku merajuk menangis didepan halaman rumahnya agar kak Jester tidak punya pilihan selain menuruti permintaanku, rencana itu berhasil karena.... Naomi juga memaksa Jester untuk menuruti permintaanku" jawab Selena


"Naomi... memaksa kak Jester menurutimu? bukankah..." belum selesai aku berkata, Selena memotongnya.


"Aku mengerti, cinta tumbuh karena terbiasa" ucapku, sejenak Selena tertawa kecil kembali mendengar perkataanku.


"Entahlah... kita sampai" timpal Selena, aku segera menoleh rumah dimana Selena memberhentikan mobil tepat didepannya.


Aku melihat sebuah rumah yang unik karena terlihat aksen khas budaya jepang yang menjadi aksesoris rumah bergaya moderen minimalis itu, perpaduan yang sangat unik tapi entah kenapa terasa cocok. Aku menoleh menatap Selena dengan senyuman, namun berbeda dengan Selena yang terlihat begitu tegang setelah menatap rumah itu. Entah apa yang dia pikirkan saat itu, Selena terlihat begitu tegang menatap pintu masuk.


"Selena, tenang... aku yang akan urus ini, kamu cukup diam dan temani saja aku" aku berusaha menenangkannya, Selena hanya mengangguk lalu kami pun turun bersamaan dari mobil.


Setelah menutup pintu mobil, Selena terlihat menghela nafas sejenak sebelum dia berjalan mendekatiku untuk masuk menuju pelataran rumah kak Jester dan Naomi. Kami berjalan bersama sampai didepan pintu utama rumah, ketika itu aku mengetuk pintu itu perlahan. Jujur saja aku berharap Naomi lah yang akan membukakan pintu itu, tapi sepertinya harapan selalu tidak sejalan lurus dengan kenyataan.

__ADS_1


Ketika pintu terbuka aku melihat wajah pangeranku yang terlihat baru bangun dari tidurnya, perubahan ekspresinya yang sekejap dari datar menjadi terkejut itu membuatku yakin kedatangan kami benar - benar merusak paginya yang indah.


"Pagi kak" sapaku bersamaan dengan Selena, bersamaan dengan sapaan kami pada kak Jester saat itu aku mendengar suara nafas kak Jester tiba - tiba tidak beraturan dan matanya terbelalak menatap ku.


"Mau apa kamu?!" bentak kak Jester padaku


"Kak, tunggu... kamu harus izinkan Luna untuk bicara" timpal Selena tiba - tiba, aku terkejut melihat respon Selena karena sejak awal tadi dia seakan tidak ingin terlalu banyak berperan.


"Katakan aku hanya bermimpi buruk kembali bertemu denganmu!!" ucap kak Jester kembali dengan bentakannya, dia mengatakannya sembari menutup mata dengan tangan kanannya.


Bersamaan dengan bentakan itu, dibelakang kak Jester aku melihat Naomi keluar dari pintu yang terletak ujung koridor lalu dia berlari mendekati kami. Wajah kaget Naomi melihat kedatangan kami yang tiba - tiba itu tergambar jelas di ekspresi wajahnya, yaah... tentu saja dia kaget karena kami belum janjian kalau aku akan datang menemui mereka seperti ini, aku balas wajah kagetnya dengan sebuah senyuman.


"Kalian..." celetuk Naomi terdengar syok


"Pagi Naomi, senang bisa bertemu denganmu" sapaku pada Naomi, aku berusaha menggunakan nada selembut mungkin untuk menarik respon positif mereka. Namun ketika itu yang aku dapati adalah tatapan tajam nampak marah dari Naomi, tapi tidak apa... aku mengerti mengapa dia seperti itu.


Tiba - tiba kak Jester berbalik dan berlari menuju sebuah ruangan yang berada di kiri koridor, dia menutup pintu ruangan itu dengan sangat keras sampai suara pintu tertutup itu mengagetkanku, Naomi dan Selena. Melihat respon kak Jester yang tidak pernah aku duga itu, aku pun kembali menimbang tentang apa yang aku lakukan hari ini.


"Apa yang aku lakukan sudah benar? aku takut berbuat salah lagi menghadapi kak Jester..." gumamku ketika itu


"Apa ini?! kalian tidak bicara padaku akan datang sepagi ini!!" tanya Naomi dengan suara pelan namun sangat terasa kemarahan Naomi di setiap kalimatnya yang dia tujukan padaku, aku kembali meresponnya dengan senyuman.


"Tidak banyak waktu tersisa, aku harus selesaikan kesalahpahaman ku dengan kak Jester... aku harus menyembuhkan luka dalam yang sudah pernah aku goreskan dihatinya, atau aku akan menyesalinya seumur hidupku" jawabku


Jawabanku terdengar egois? aku tahu... memang nyatanya aku sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk memperbaiki semua kerusakan yang sudah aku ciptakan, aku harus egois lagi kali ini agar semua dapat berjalan sesuai dengan apa yang aku harapkan.


"Duuh... kamu seharusnya diskusikan dulu denganku, Jester pasti sangat terpukul saat ini. Kalian masuk dulu aja deh, aku akan tenangkan dia" terdengar sangat kesal ketika Naomi mengatakannya

__ADS_1


Aku dan Selena mengikuti Naomi menuju dapur rumah itu, kami diminta Naomi untuk menunggunya ditempat itu selama dia menenangkan hati kak Jester. Ketika aku masuk kedalam ruang makan yang menyatu dengan dapur itu, Naomi perlahan menutup pintu dan membiarkan kami berada diruang makan itu. Selena menatapku penuh kekecewaan, seakan dia ingin mengatakan padaku jika yang sedang aku lakukan ini adalah salah.


Aku tersenyum kepadanya dan mencoba untuk membuatnya tenang, aku yakin semua akan baik - baik saja dan kak Jester akan memahami semuanya.... aku yakin, karena aku sudah... tidak memiliki waktu lagi...


__ADS_2