Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 37


__ADS_3

Kak Jester membopong Naomi masuk kedalam kamar diikuti olehku dan Selena dibelakangnya, didalam kamar kak Jester membaringkan tubuh Naomi secara perlahan di atas kasur lalu segera beranjak keluar dari kamar. Aku melihat mata Naomi terbuka namun tatapan matanya terlihat kosong menatap langit - langit kamar, melihat kondisinya saat itu membuatku miris dan tidak menyangka Naomi akan mengalami hal keji seperti ini.


Masih mengenakan pakaian yang sobek - sobek karena perlakuan Daniel, tubuh Naomi terlihat basah kuyup dan ketika itu tercium wangi sabun, shampo, kondisioner, dan wewangian lain yang tercium menyengat. Entah apa yang terjadi pada Naomi sampai membuat dia basah kuyup dan begitu wangi seperti ini, aku bukan tipe orang yang mengerti tentang kesehatan mental.


Aku hanya bisa melakukan yang terbaik untuk membantu Naomi bangkit dari rasa terpuruknya, jadi pertama yang aku lakukan bersama Selena adalah membantu Naomi mengganti pakaian yang sudah tidak layak ini. Ketika itu aku melihat sebuah setelan piyama berwarna pink muda yang terlihat lucu sudah tersedia di atas kasur, mungkin kak Jester yang sudah menyiapkan sebelumnya karena tidak ada dalaman diantara piyama itu. Pria memang tidak pernah bisa memperhatikan detail kecil seperti ini, jadi aku meminta Selena untuk mengambilkan dalaman Naomi di lemari.


Naomi seperti boneka barbie ketika aku dan Selena melepaskan pakaian, mengeringkan tubuh, dan memasangkan kembali pakaiannya. Tidak ada perlawanan sama sekali, dia terasa begitu lemas dan pasrah ketika kami membantunya untuk berganti pakaian. Setelah itu tiba - tiba mata Naomi pun terpejam perlahan, sempat aku merasa khawatir dan meminta Selena untuk memanggil dokter tapi kata Selena saat itu Naomi hanya tertidur.


Perlahan kami keluar dari kamar membiarkan Naomi untuk beristirahat, begitu menutup pintu kamar aku dan Selena sempat saling tatap namun tanpa kata. Entah apa yang ada didalam pikirannya saat itu, tapi tatapan mata penuh kesedihan yang dia tampakkan di hadapanku membuatku heran.


"Ada apa?" tanyaku berbisik, namun Selena hanya menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala


"Aku tahu tatapan sedihmu itu kamu tujukan padaku bukan pada Naomi, jangan katakan tidak ada apa - apa ketika kamu menatapku seperti itu" timpal ku lagi agak kesal padanya, lalu Selena menghela nafas dan berkata..


"Bagaimana denganmu?" tanyanya


"Hah? aku? kenapa sama aku?" tanyaku balik keheranan


"Luna... waktumu tidak banyak, kejadian Naomi ini pasti akan membuat kak Jester..." belum selesai Selena berkata aku memotongnya, aku sudah mengerti kearah mana pembicaraan ini.


"Aku tidak peduli dengan list impian terakhirku, saat ini impianku hanya membantu Naomi bangkit dari keadaannya. Apa kamu tidak merasa kasihan padanya?" timpal ku sedikit menekannya


"Tapi.." belum selesai Selena berkata, aku kembali memotongnya untuk memutus pembicaraan kami.


"Tidak ada tapi, hanya ada permohonanku padamu. Tolong bantu aku untuk membangkitkan Naomi dari keterpurukannya, sebagai sesama wanita aku yakin kamu pun merasakan seberapa mengerikannya musibah yang dialami Naomi" timpal ku lalu aku berjalan menuju ke ruang keluarga untuk menemui kak Jester

__ADS_1


Diruang keluarga itu aku melihat kak Jester duduk terdiam menatap pintu masuk ruang keluarga, dari tatapannya itu aku merasakan dendam kesumat yang begitu membara. Menyadari keberadaan ku dan Selena diruang keluarga itu, kak Jester seperti tersadar dari lamunannya dan menatapku dengan raut wajah terkejut. Dengan helaan nafas, kak Jester bertanya padaku...


"Gimana keadaannya?" tanya kak Jester lalu kembali mengalihkan pandangannya agar tidak menatapku


"Dia sedang tidur, kejadian itu membuatnya sangat terpukul.... kamu harus sabar menghadapinya kak" jawabku sedih


"Apa Luke melakukan tugasnya dengan baik?" tanya kak Jester lagi terdengar tenang, tapi aku tahu dia sangat marah saat ini.


Aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu, tapi aku yakin kak Jester akan memaksa kami untuk bicara. Selain aku tidak tahu keadaan Daniel yang sebenarnya karena aku hanya melihatnya sekilas, aku juga tidak sampai hati untuk menjawab pertanyaan kak Jester. Kalau aku kembali mengingat apa yang terjadi padaku ketika kak Jester dibuat marah oleh perbuatan kak Natalie, tentu saja aku paham apa yang ingin kak Jester dengar dari kami.


"Kak Luke mematahkan tangan kiri dan kaki kanan Daniel, dia pingsan ditempat dan kak Harry yang memanggil pertolongan buat Daniel" jawab Selena dengan helaan nafas, aku terkejut mendengar apa yang Selena katakan.


Dalam hati aku bertanya "Separah itu kah? darimana Selena tahu? apa dia mengarangnya?" tapi tidak mungkin Selena mengarang hal mengerikan seperti itu kan, mungkin ketika pandanganku kabur dan suara - suara dengungan ditelinga membuatku tidak sadar jika Selena sempat memeriksa keadaan Daniel.


"Kenapa Harry memanggil pertolongan? dia memihak siapa?" tanya kak Jester, tersirat amarahnya yang tertuju pada kak Harry saat itu.


"Dia mau memperkosa calon istriku!!!" bentak kak Jester ketika itu dan menatap Selena begitu tajam


Aku hanya bisa terdiam dan tak dapat berkata - kata, tapi berbeda dengan Selena. Meski harus mendapatkan tatapan penuh amarah dari kak Jester ketika itu, Selena tetap terlihat tenang dan tidak ketakutan sama sekali. Aku tidak tahu kalau Selena yang hampir selalu menangis ketika membayangkan tentang keadaanku bisa tegar ketika menghadapi amarah kak Jester, mungkin aku perlu belajar darinya untuk mengendalikan rasa takutku.


"Kamu sedang emosi, jangan pikirkan masalah ini dulu" timpal Selena terdengar kesal, seketika itu kak Jester beranjak dari duduknya dan hendak pergi dari ruang keluarga.


"Kak!! kamu mau kemana?!!" tanya Selena dengan bentakan


"Aku akan pastikan dia kehilangan nyawanya hari ini" jawab kak Jester dengan tenang, aku pun mulai tersulut emosi mendengar kak Jester dengan ringannya mengatakan tentang mencabut nyawa seseorang. Namun tetap saja, aku tidak bisa melakukan apapun ketika itu selain menahan amarahku.

__ADS_1


"Kalau kamu lakukan dan kamu masuk penjara, Naomi akan semakin dihantui rasa bersalah!!" bentak Selena namun kak Jester tidak menghiraukannya, aku tidak ingin kak Jester melakukan hal buruk dan pada akhirnya aku memberanikan diri untuk mendukung perkataan Selena.


"Kak!! kamu harus tenang!! fokus mu seharusnya pada Naomi dan bukan dendam sesaatmu!" bentak ku padanya


Mendengar perkataanku membuat kak Jester menghentikan langkah kakinya, sejenak kami saling terdiam entah apa yang ada didalam pikiran kak Jester ketika itu. Aku dan Selena memiliki beban berat, ketika kami ingin segera mencari cara untuk memulihkan kondisi mental Naomi dan berharap kak Jester dapat andil tapi yang kami dapati adalah kak Jester yang emosinya tidak terkendali. Kali ini beban pikiran kami pun juga tertuju pada bagaimana cara untuk meredam emosi kak Jester, bukan hal yang mudah tapi kami harus melakukan hal ini sebaik mungkin agar kak Jester tidak melakukan hal bodoh yang tentu tidak diinginkan.


"Naomi sangat membutuhkan sosokmu untuk terus berada disampingnya, saat ini mentalnya terguncang!! kamu sendiri sudah dengar, dia meneriakkan namamu untuk meminta pertolongan dan tentu saja dia sangat berharap ditolong olehmu kapanpun dia membutuhkannya!!" timpal ku lagi berusaha untuk memberinya pengertian, aku berjalan mendekatinya lalu aku tepuk pundaknya dengan keras hingga membuatnya menoleh padaku.


"Naomi membutuhkan kamu untuk berada disisinya dan bukan membutuhkan kamu untuk membalaskan dendamnya, jangan sampai kamu salah mengartikan permintaan Naomi dan membuatmu menyesal dikemudian hari" tegas aku mengatakannya agar bisa meyakinkan kak Jester sekaligus meredam emosinya, seketika itu tatapan mata penuh dendam kak Jester pun berangsur menghilang.


"Aku mengerti..." dengan helaan nafas kak Jester mengatakannya, kepalanya pun perlahan menunduk dan dia nampak lebih tenang.


"Pergilah ke kamar dan temani dia, saat bangun dia pasti senang melihatmu berada disisinya" ucapku memberi saran padanya, aku tidak tega melihatnya tiba - tiba menjadi murung seperti itu dan mungkin menatap wajah Naomi akan membuatnya lebih baik.


Kak Jester hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun, tapi dia menerima saranku dengan baik. Langkah kaki kak Jester pun kini mengarah pada kamar dan meninggalkanku dengan Selena diruang keluarga, aku lega bisa membuatnya mengerti sekaligus meredam amarahnya yang begitu bergejolak. Ini merupakan sebuah kemajuan untukku, kan? :)


"Gimana ini? waktumu semakin sempit dan kejadian ini akan mengganggu rencanamu" celetuk Selena memecah keheningan diantara kami, suaranya terdengar sangat mengkhawatirkan ku.


"Masih ada dua puluh hari lagi, aku masih punya banyak waktu untuk melakukan semua check list ku" jawabku lalu tersenyum menatap Selena


"Bukankah sekarang jadwal mu untuk konsultasi? apa perlu kita berangkat sekarang?" tanya Selena lagi masih dengan nada bicara penuh kekhawatirannya, aku menghela nafasku lalu mengalihkan pandangan mata menatap langit - langit.


"Tidak perlu, dokter Richard juga pasti sudah berangkat bekerja dan aku menolak untuk menemuinya ditempat kerja. Biarkan saja, nanti aku telepon ayah buat atur ulang jadwal. Aku pinjam ponselmu lagi, yak" jawabku dengan sedikit suara tawa, begitu juga dengan Selena yang menimpali suara tawa kecilku.


"Dasar... setidaknya belilah handphonemu sendiri..." dengan tawa kecilnya itu Selena menyindirku, aku tertawa makin keras mendengarkan sindirannya.

__ADS_1


Dear Diary...


Yah tidak akan pernah ada rencana yang akan berjalan mulus tanpa hambatan, tapi aku bersyukur aku mendapatkan kesempatan untuk membantu Naomi bangkit dari rasa terpuruknya. Aku akan berusaha semampuku, aku berjanji akan membantu Naomi bangkit!


__ADS_2