Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 24


__ADS_3

Aku mengkonsumi obat yang diberikan oleh dokter Alora kepadaku ditengah istirahat sedang berlangsung, tidak lama Grece, Yohan dan Aiko datang menemui ku di belakang panggung. Aku yang saat itu sedang terbaring lemas, hanya bisa tersenyum melihat kedatangan mereka.


"Kamu kenapa Luna?!" tanya Grece dengan panik, dia segera berlari dan mendekatiku.


"Semua baik, aku hanya sedang lelah" jawabku dengan senyuman


"Suhu tubuhmu tinggi, apa kamu bisa melanjutkan kompetisi?" tanya Grece padaku, dia terdengar begitu mengkhawatirkan ku.


"Semua baik, terima kasih kamu menerima ide untuk memajukan sesi break. Aku tertolong" jawabku


"Luna, sesi break akan berakhir beberapa menit lagi. Jika kondisimu tidak membaik, lebih baik kamu tinggalkan saja kompetisi. Kesehatanmu lebih utama" ucap Grece, aku tertawa kecil mendengar saran dari Grece saat itu karena aku membayangkan Grece akan memaksaku untuk terus tampil.


Tapi... Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan kompetisi begitu saja, Grece pasti akan kerepotan kan jika aku benar - benar melakukannya. Selain itu obat yang diberikan dokter Alora perlahan - lahan memang meredakan nyeri yang aku derita sejak tadi, aku bisa merasakan kakiku dan juga menggerakkannya meski masih terasa begitu lemas. Tidak lama setelahnya aku mencoba untuk duduk dari baring ku, aku ingin mengukur kekuatan tubuhku yang tersisa sembari berharap aku bisa menyelesaikan kompetisi ini.


"Luna.." celetuk ayah, ibu, dokter Alora, Manda, Peter, Grece, Yohan, dan Aiko nyaris bersamaan dengan aku yang kini duduk di pinggir kasur tandu, aku tertawa kecil lalu berkata..


"Ayo kita selesaikan ini, aku sudah membaik" timpal ku dengan senyum di wajah


Acara kembali dimulai, MC saat itu mengumumkan kepada para penonton yang sebelumnya mendatangi bazar diarea acara diadakan untuk kembali mendekati panggung. Aiko dan tuan West memandu acara dengan sangat baik, mereka berbasa - basi di atas panggung untuk memberikan aku waktu bersiap.


Ketika itu aku dipapah oleh ayah dan Peter mendekati tirai penghubung antara ruang tunggu peserta dengan panggung, panitia mendekatiku lalu menanyakan tentang kondisi kesehatanku. Aku menjawab jika semuanya baik dan aku ingin segera tampil, meski terlihat berat hati namun pria yang menjadi panita acara itu menerima permintaanku.


Ayah meminta untuk disediakan kursi dipanggung yang dapat dengan mudah untuk aku jangkau jika tiba - tiba aku memerlukannya, meski terdengar berlebihan tapi aku yakin akan membutuhkannya nanti ditengah acara. Panitia menerima permintaan ayah lalu panita bertanya tentang lagu apa yang akan aku nyanyikan. Aku menjawab aku akan menyanyikan lagu dari Celine Dion dengan judul All By Myself, panitia itu tidak lagi menanyakan nada dasarku untuk menyanyikannya dan hanya memberikanku semangat.


"Sayang, kamu tidak harus melakukannya... tidak masalah jika kamu mundur sekarang, mereka pasti akan memahami mu" celetuk ayah ketika itu, perlahan aku melepaskan tangan kananku yang melingkar di bahu ayah lalu melepaskan tanganku yang melingkar di bahu Peter secara bergantian.


Aku merasakan jika obat pereda nyeri yang diberikan oleh dokter Alora padaku bekerja dengan sangat baik, rasa nyeri itu hilang hampir tidak terasa lagi. Kini aku bisa berdiri dengan tegak seperti sebelum - sebelumnya, aku pun mencoba melangkah dengan perlahan dan aku berhasil. Aku berbalik dan menatap ayah, Peter, ibu, dokter Alora, dan Manda bergantian, aku berkata kepada mereka..


"Ini adalah keinginanku, aku ingin menyelesaikannya agar aku tidak menyesali apapun lagi setelah ini selesai" ucapku lalu aku tersenyum semanis mungkin kepada mereka agar mereka paham aku sudah baik - baik saja


Aku berjalan menuju panggung ketika namaku dipanggil oleh Aiko, Aku berjalan menuju tengah panggung dibarengi dengan sorak - sorai penonton dan tepuk tangan yang begitu bergemuruh. Disaat itu lampu mulai perlahan meredup dan menyisakan lampu sorot yang mengarah padaku, aku menarik nafasku panjang - panjang lalu melepaskannya perlahan... "Tubuhku... aku mohon, bekerja samalah denganku..." gumamku


***Celine Dion - All By Myself***


When I was young


I never needed anyone


And making love was just for fun


Those days are gone


Livin' alone


I think of all the friends I've known


When I dial the telephone


Nobody's home


All by myself


Don't wanna be


All by myself


Anymore


Hard to be sure

__ADS_1


Sometimes I feel so insecure


And loves so distant and obscure


Remains the cure


All by myself


Don't wanna be


All by myself


Anymore


All by myself


Don't wanna live


All by myself


Anymore


*************************************


Ketika musik masuk pada solo instrumen, aku merasakan kesakitan lagi pada pinggulku. Aku sampai harus bersimpuh karena aku tidak kuat untuk terus berdiri saat itu, ketika itu musik berhenti karena para pengiring lagu kaget dengan apa yang terjadi padaku ditengah panggung.


Disaat musik berhenti aku merasa semua menjadi kacau... aku kemudian memutar otak agar acara tetap berjalan, ketika suasana hening menyelimuti... aku segera bernyanyi solo dan berharap pengiring musik mendapatkan momentumnya


***Celine Dion - All By Myself***


When I was young


I never needed anyone


Those days are gone


All by myself


Don't wanna be


All by myself


Anymore


All by myself


Don't wanna live


Oh


Don't wanna live


By myself, by myself


Anymore


By myself


Anymore

__ADS_1


Oh


All by myself


Don't wanna live


I never, never, never


Needed anyone


*************************************


Aku telah selesai menyanyikan lagu dengan baik meski sempat terjadi kekacauan karena aku tiba - tiba terduduk, suara tepuk tangan dari para penonton begitu terdengar. Sesuai dugaanku, penonton tidak sadar apa yang sebenarnya baru saja terjadi padaku. Hingga aku berhenti bernyanyi aku masih saja bersimpuh menahan rasa sakit yang aku derita, tapi bagi mereka itu adalah salah satu gimmick ku menyanyikan lagu.


Bagi yang tahu kenapa aku sampai seperti itu... aku melihatnya dengan sangat jelas pada raut wajah Grece, Yohan dan Aiko, aku tersenyum sembari perlahan mencoba untuk berdiri kembali. Untuk pertama kalinya sepanjang aku mengikuti kompetisi ini, Grece memberikan komentar pendek atas penampilanku.


Setelah mendengar semua pendapat para juri, aku kembali berjalan menuju belakang panggung. Disana ayah dan Peter sudah siap menyambut ku untuk kembali memapah ku berjalan menuju sofa terdekat, dokter Alora dan ibu berlari mendekatiku ketika itu dan tidak membuang waktu dokter Alora langsung memeriksa keadaanku dengan peralatan dokternya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya dokter Alora


"Baik, aku lebih baik dari sebelum ini" jawabku


"Apa kamu masih bisa bertahan sampai akhir kompetisi?" tanya Peter


"Aku akan mengalahkan mu" jawabku dengan sinis, Manda dan Peter tertawa mendengar jawabanku ketika itu.


"Tinggal satu langkah lagi kan? aku akan bertahan sampai saat itu, semua akan menjadi lebih baik ketika aku memenangkan perlombaan ini" aku mengatakannya dengan sedikit bergumam, sebenarnya itu aku lakukan untuk menyemangati diriku sendiri.


"Lunar! apa Lunar ada disini?!" seru seseorang dari kejauhan, kami semua serentak menoleh menatap sumber suara.


Ada seorang pria yang mengenakan pakaian panitia mencariku saat itu, ayah mendekati pria itu untuk menanyakan kenapa mencariku. Bersamaan dengan itu panitia lainnya memanggil Peter untuk bersiap tampil, Peter berpamitan padaku lalu aku membalasnya dengan memberikannya ucapan semangat agar dia menampilkan kemampuan terbaiknya.


Tidak lama ayah berjalan mendekatiku sembari memberikan selembar note yang bertuliskan


***Isi Note***


Lunar, aku berharap kamu membawakan lagu All I Ask dari Adele setelah ini. Dari Grece yang cantik


**************


Aku tertawa kecil ketika selesai membacanya, entah kenapa Grece begitu terobsesi mendengar ku menyanyikan lagu ini. Mungkin menurutnya aku akan cocok jika menyanyikan lagu dari Adele, atau... karena Grece merasa lagu dari Adele All I Ask sangat cocok untuk hidupku, aku pun sebenarnya berpikir demikian.


All I Ask...


Sebuah lagu yang berkisah tentang permintaan terakhir pasangan kekasih yang akan berpisah, melalui lagu All I Ask, Adele bercerita tentang seseorang yang tidak bisa bersama lagi dengan kekasihnya dan akan berpisah selamanya. Pada malam terakhir mereka, dia meminta pada kekasihnya untuk pura-pura bahagia, agar hubungan mereka bisa berakhir dengan manis.


"Apa aku bisa meminta hal yang sama pada kak Jester ketika aku sudah kembali kesana? apa dia akan menerimaku atau malah mengusirku? aku ingin... aku ingin memiliki kenangan indah bersamanya..." ucapku dalam hati, ketika itu tidak terasa air mataku kembali menetes.


Ayah, ibu, dan Manda mendekatiku dan berusaha untuk menenangkan tangisanku, namun mereka sebenarnya tidak tahu mengapa aku menangis. Aku menyesali apa yang sudah aku lakukan pada kak Jester... aku seharusnya menjadikan sisa - sisa hidupku untuk membuat kenangan indah bersamanya, bersama orang yang aku cintai...


Air mataku semakin deras mengingat semua penyesalanku dimasa lalu, aku larut dalam kesedihan sampai tiba - tiba ayah menepuk pundak ku dengan lembut sembari berkata...


"Ayah tidak tahu kenapa kamu menangis, tapi dengarkan apa kata ayah ini...." celetuk ayah ketika itu, aku menatapnya dengan masih membiarkan air mataku berderai deras.


"Kamu memang tidak seberuntung teman - temanmu, terlahir di keluarga dengan kondisi ekonomi yang tidak baik, tingkat sosialmu juga tidak tinggi, koneksi ayah dan ibu pun tidak luas, dan kamu menderita penyakit yang serius. Tapi lihatlah dirimu sayang... kamu telah berusaha lebih keras daripada teman - temanmu itu hingga kamu sampai dititik ini, itulah yang meyakinkan ayah kamu adalah anak yang jauh lebih hebat dari semua orang yang ayah kenal" ucap ayah meneruskan kalimatnya, aku semakin tidak dapat menahan air mataku ketika itu.


Aku menabrakkan tubuhku ke tubuh ayah dan memeluknya dengan erat, ayah mengelus kepalaku dengan lembut dan tangannya kini mendekap tubuh kurus ku dengan kuat. Beberapa kali ayah memberikan kecupan di dahiku, jarinya juga sesekali menyeka setiap air mataku yang keluar.


"Kamu sudah bekerja keras sayang... kamu tidak perlu membuktikan apapun lagi, kami tahu kamu anak berbakat dan kami bangga kepadamu" celetuk ibu lalu memeluk ku dan ayah bersamaan

__ADS_1


Seketika itu aku tidak lagi merasa menyesal... hatiku terasa lega entah karena menangis atau karena ucapan dari ayah dan ibu, aku begitu... senang, melebihi rasa senang ku setelah aku berada dititik ini. Dititik aku hampir menggapai cita - citaku dan kini.... alasanku untuk tetap berdiri tinggal satu.


Pangeranku... aku ingin membuat kenangan indah bersamamu, tunggu aku ya... :)


__ADS_2