Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 18


__ADS_3

Peter mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku duga akan terucap didepan Manda, setelah dia mengetahui semua tentangku... bukankah seharusnya dia akan menjauhiku? aku sampai tidak dapat berkata apapun lagi dan seketika itu aku teringat kak Justin, ya.. dia sama seperti kak Justin ketika itu.


Entah ide darimana dan sejak kapan, dititik terendah ku ketika itu... tiba - tiba kak Justin menyatakan cintanya padaku, "Apa yang sebenarnya dipikirkan pria - pria ini? kenapa kalian terkesan obsesi pada wanita berpenyakitan ini?" tanyaku dalam hati ketika mataku tidak mampu untuk lepas dari tatapan mata Peter.


"Sudah... aku duga akan begini..." celetuk Manda dengan suara yang bergetar, aku tersentak lalu aku mengalihkan tatapan mataku pada Manda.


"Ma.. Manda... ini... ini tidak seperti yang kamu bayangkan, aku juga tidak tahu akan begini..." timpal ku terbata


"Selamat ya... semoga kalian... langgeng..." celetuk Manda lagi lalu dia berjalan melewati ku dan menabrakkan bahunya ke bahuku dengan keras, aku sampai hampir jatuh saat itu.


Aku terlalu syok dengan apa yang terjadi saat itu, bahkan aku sampai membiarkan Manda pergi dengan semua kesalahpahaman diantara kami. Aku terdiam membatu menatap tanah tepat dibawah kakiku, tubuhku tiba - tiba bergetar entah mengapa. Mungkin karena aku begitu emosi, atau karena... aku tersadar akan satu hal ketika itu, kemana pun aku lari dari masalahku... aku tidak akan pernah bisa meninggalkan rasa bersalah atas apa yang sudah pernah aku perbuat.


Aku mengalami de javu... apa yang menimpaku selalu mengingatkan aku pada masa laluku, tentang kak Jester, kak Justin, dan Selena... ditengah lamunanku itu tiba - tiba Peter menepuk pundakku dan menyadarkan ku dari lamunanku, aku perlahan mengangkat kepalaku untuk menatap wajahnya.


"Ayo kita pulang dulu, gak baik untukmu terlalu lama berdiri seperti ini..." ucap Peter ketika itu, aku seperti tidak punya kuasa dan tenaga lagi untuk mengatakan apapun.


Aku hanya berjalan mengikuti arah tarikan tangan Peter padaku, dia mengajakku kembali masuk kedalam mobil dan kami pun menuju rumah. Di rumah aku langsung turun dari mobil Peter dan berlalu begitu saja untuk masuk kedalam rumah, kakiku aku langkahkan dengan cepat menuju kamar, membuka pintu lalu menutupnya kembali ketika aku sudah berada didalam. Aku menuju kasur lalu aku rebahkan tubuhku disana, seperti biasa ketika aku sedang dalam keadaan bimbang seperti ini... aku selalu membenamkan kepalaku di bantal.


Tidak lama aku mendengar suara bunyi ketukan pintu kamar, aku menoleh menatap pintu itu dan tidak lama aku melihat wajah ayah dan ibu muncul dari celah pintu yang terbuka itu. Tingkah ayah dan ibu yang mengkhawatirkan ku ketika itu membuatku ingin tertawa, ayolah... mereka melakukan itu diusia mereka yang sudah tidak muda lagi, bagaimana aku bisa menahan rasa ingin tertawaku saat itu.


"Apa?" tanyaku dengan sedikit bentakan meski rasa ingin tertawa begitu kuat


"Eeh tidak tidak... jadi... gini, ayah... bagaimana ya mengatakannya..." jawab ayah terbata dan terlihat kebingungan


"Ayo katakan saja, kamu kan seorang ayah. Kenapa malah jadi tidak ada wibawanya begitu?!" timpal ibu terdengar kesal


"Iya ini baru juga mau ngomong, sabar" timpal ayah sembari menggaruk kepalanya


"Apa?!" tanyaku lagi dengan sedikit bentakan


"Ayah dengar kamu ingin ke kota menemui nona Selena, apa... kamu masih ingin pergi ke ibukota?" tanya ayah, aku terdiam sejenak menatap wajah ayah dan ibu yang menatapku dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"Apa ayah akan mengantarku kesana?" tanyaku


"Yaah... sebenarnya ayah pasti akan mengantarmu kesana, tapi..." jawaban ayah terhenti dan menggantung, beberapa saat ayah sepertinya dicubit oleh ibu karena ekspresi wajah ayah yang tiba - tiba merintih kesakitan.


"Tapi? apa?" tanyaku


"Kamu tahu kan kalau kita membutuhkan waktu yang tidak sebentar jika kita menuju ibukota, kami khawatir dengan kesehatanmu. Selain itu ini tentang kompetisi yang kamu ikuti, besok kamu harus tampil lagi... apa kamu merasa masih punya waktu untuk melakukan perjalanan ke ibukota?" ucap ibu lalu mereka pun serentak memejamkan mata, mungkin mereka pikir aku akan marah atau menangis saat itu.


"Kalau begitu tidak usah, aku urungkan niatku untuk menemui Selena" jawabku pasrah, aku kembali membenamkan wajahku di bantal.


"Eeh.. hmm... sayang, ayah punya ide dan mungkin kamu mau dengar" celetuk ayah padaku, aku kembali menoleh menatap wajah ayah dan ibu.


"Apa itu?" tanyaku


"Setelah selesai dengan kompetisi mu, ayo kita liburan ke ibu kota. Kita berkunjung ke rumah keluarga Parker dan kamu bisa menemui nona Selena dengan waktu yang lebih leluasa" jawab ayah, seketika itu aku merasa jika itu adalah ide yang baik.


"Bolehkah?" tanyaku dengan antusias, ayah dan ibu tersenyum padaku lalu menganggukkan kepala.


Kami pun mengobrol hal - hal lain yang mungkin akan kami lakukan ketika kami sudah berada di ibu kota, aku mengatakan jika aku ingin makan - makanan yang ada di beberapa rumah makan disana, aku juga katakan pada ayah jika aku ingin ke festival square dan beberapa tempat yang menjadi kenangan untukku, ayah dan ibu menyetujui semua permintaanku namun saat itu aku teringat jika kami bukanlah keluarga kaya.


Aku mengatakan pada ayah kalau aku membatalkan semua permintaanku, aku merasa jika aku akan jadi anak paling gak tahu diri jika seenaknya mengatakan semua permintaanku ditengah kesulitan ekonomi keluarga kami. Namun saat itu ibu menunjukkan jumlah tabungan yang mereka miliki dan aku terkejut, ayah mengatakan jika buah - buahan hasil kebun dibeli seluruhnya oleh tuan Jhonson dan dibayar tunai didepan.


Saat itu ayah juga bercerita jika sejak kompetisi berjalan, orang asing dari berbagai daerah mulai datang berkunjung ke desa ini. Penginapan mulai penuh dihari - hari akan diadakannya kompetisi, rumah makan sekitar sering didatangi pengunjung dari luar desa, dan orang - orang asing mulai mencari - cari tahu tentang desa yang mengadakan kompetisi bernyanyi dan sampai masuk televisi meski itu hanya media lokal.


Penduduk desa sangat senang dengan semua perkembangan yang terjadi, ayah juga menitipkan banyak salam dari penduduk desa kepadaku. "Sepertinya rencana tuan West, tuan Jhonson, dan Grece berhasil... apa itu artinya aku sudah selesai dengan tugasku disini?" tanyaku dalam hati


"Wah kalau bisa mempertahankan jumlah pengunjung seperti ini, desa terpencil ini akan segera terkenal sampai ke penjuru negeri donk?" ucap ibu yang memecahkan lamunanku, aku menatap wajah ibu yang senang dengan perkembangan desa.


"Tentu saja, dengan begitu buah - buahan kita akan semakin laris di supermarket tuan Jhonson. Karena itu ayah berpikir untuk memperluas kebun" timpal ayah yang terdengar senang


"Tapi... aku baru saja bertengkar dengan Manda... apa itu akan menjadi masalah untuk ayah dan ibu?" tanyaku, aku begitu menyesal dengan apa yang baru saja terjadi diantara aku, Manda dan Peter.

__ADS_1


"Kamu bertengkar sama Manda? kenapa? apa karena Peter?" tanya ibu, sepertinya ibu langsung memahami apa yang terjadi diantara aku dan Manda.


"I..iya.. ibu yang mengizinkanku pergi bersamanya, ditengah jalan aku bertemu Manda dan Peter menambah buruk keadaan..." jawabku


"Apa yang terjadi, sayang?" tanya ayah padaku


"Peter bilang dia tidak mencintai Manda dan dihadapan Manda saat itu Peter malah bilang... dia jatuh cinta... padaku..." jawabku terbata, seketika itu wajah kaget ayah dan ibu begitu terlihat jelas.


Kami sejenak terdiam, entah apa yang dipikirkan ayah dan ibu dengan apa yang terjadi padaku, Manda dan Peter. Kami semua terhubung tidak hanya pada pribadi, bahkan pada pekerjaan ayah dan ibu. Mungkin aku akan mengacau lagi, terlebih sebelum ini terjadi... tuan Jhonson ayah Manda juga sudah pernah memperingatkan jika Peter dan Manda sudah dijodohkan, "Aku mengacau... lagi..." ucapku dalam hati.


"Bagaimana perasaanmu pada Peter?" tanya ibu memecah keheningan diantara kami, aku menghela nafas lalu membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengan ibu.


"Jujur saja... aku masih tidak bisa move on dari kak Jester, aku tidak punya rasa apapun padanya karena kenanganku selalu teringat akan kak Jester..." jawabku


"Kamu sudah katakan itu pada Peter?" tanya ibu lagi, aku menggelengkan kepala beberapa kali merespon pertanyaan ibu.


"Ketika dia mengatakannya aku terlalu syok, belum lagi Manda yang begitu marah padaku.... aku bingung saat itu harus melakukan apa..." jawabku


"Apa kamu membutuhkan ayah dan ibu untuk bicara pada mereka?" tanya ayah


"Jika iya, apa yang akan kita katakan pada mereka? percintaan remaja seperti ini tidak seharusnya melibatkan para orang tua, aku benarkan?" ucapku balik bertanya pada ayah dan ibu


Kami mulai terdiam lagi, sejenak aku berpikir tentang kenapa kak Justin, Alvin dan kali ini Peter tiba - tiba jatuh hati padaku? jika itu kak Jester aku masih dapat menemukan alasannya, kak Jester tidak tahu tentang penyakit yang aku idap dan terlebih lagi kak Jester juga mengatakan jika aku adalah tipe wanita yang dia sukai. Tapi untuk kak Justin, Alvin dan Peter? apa yang mereka lihat dariku?


"Ayah..." celetukku saat itu memecahkan keheningan kami


"Iya, sayang?" timpal ayah, aku menoleh menatap mata ayah dengan ekspresi serius karena ada satu hal yang begitu menggangguku.


"Mengapa ayah jatuh cinta pada ibu? apa yang ayah lihat dari ibu sampai akhirnya ayah jatuh cinta pada ibu? bagaimana pertemuan kalian sampai akhirnya memutuskan untuk menikah?" tanyaku pada ayah, seketika itu ayah dan ibu terkejut dan wajah mereka berdua pun memerah karena malu.


Aku harus tahu sudut pandang pria jika dia jatuh cinta pada seorang wanita, bahkan jika wanita itu adalah gadis sepertiku. "Apa yang sebenarnya kalian pikirkan tentang ku? kenapa tiba - tiba kalian jatuh cinta padaku?" tanyaku dalam hati, aku harus mendapatkan jawaban ini sebelum aku berpikir dengan cara pikirku seperti sebelum - sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2