Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 4


__ADS_3

Aku kembali berjalan menuju ruang tunggu peserta audisi untuk menemui ayah, ibu dan dokter Alora yang menungguku di ruangan itu, mungkin mereka saat ini sedang cemas menungguku karena sepertinya mereka berharap besar aku lolos audisi.


Benar saja, ketika aku membuka pintu penghubung antara ruang tunggu peserta dan ruang audisi saat itu aku melihat ayah, ibu dan dokter Alora sudah berdiri menungguku didepan pintu. Wajah cemas ketiganya begitu terlihat saat kami saling bertatapan mata, aku tersenyum lalu menunjukkan golden tiket milikku.


Ayah berseru bahagia melihat golden tiket milikku, ibu menangis terharu seketika itu dan dokter Alora langsung terduduk lemas dilantai terlihat begitu lega. Sedangkan aku... Bingung harus melakukan apa, aku hanya berdiri terdiam sembari menatap golden tiket itu terus menerus.


"Dengan ini... Aku mungkin akan kembali ke ibu kota..." ucapku dalam hati dengan penuh kebimbangan


Lamunanku terhenti ketika ayah dan ibu memelukku dan mengucapkan selamat padaku, suara tawa bangga ayah begitu terdengar di telingaku dan ucapan selamat dari ibu yang masih menangis terharu membuatku merasa lega telah bisa membuat kedua orang tua yang begitu mencintaiku itu bangga kepadaku yang tidak berguna ini.


"Ayah... Ibu... Kalau aku menang... Aku akan kembali ke ibu kota..." gumamku, seketika ayah dan ibu terdiam dengan wajah kaget menatapku.


"Aku tahu ayah dan ibu akan terkejut... Apa aku harus... Mundur saja?" tanyaku karena ayah dan ibu terdiam, keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat lalu kembali menatapku bersamaan.


Tentu saja ekspresi itu yang mereka tampilkan, keputusan menjauh dari kota adalah permintaanku. Mengorbankan banyak hal mereka lakukan demi memenuhi keinginan egoisku, lalu ketika ada pilihan untuk kembali ke kota.... pasti mereka hanya memikirkan tentangku, iya... selalu tentangku.


"Kalau kamu tidak ingin kembali kesana, mundur pun tidak apa" jawab ayah


"Ibu selalu akan mendukung apapun keputusanmu, jadi semua keputusan ada di tanganmu sayang" timpal ibu, aku menghela nafasku sejenak.


"Tapi... Mungkin akan ada masalah lagi jika aku harus kembali ke ibu kota, apa itu tidak akan merepotkan ayah dan ibu lagi? Aku sudah sangat sering merepotkan ka..." belum selesai kalimatku, ayah dan ibu kembali memelukku dengan erat.


"Ayah dan ibu tidak pernah merasa direpotkan olehmu sayang" celetuk ayah menimpali perkataanku


Kalimat template yang selalu diucapkan oleh setiap orang tua rasanya, begitulah mereka menyayangiku. Lalu untuk menyianyiakan semua ini lagi...rasanya aku tidak ingin itu terjadi, aku ingin kali ini menjadi seorang Luna yang kembali optimis dan membuat ayah juga ibu bangga dengan pencapaianku.


"Kami tahu kamu berusaha keras untuk membuat kami bangga, tapi tidak ada satupun yang bisa membuat kami lebih bahagia daripada suara tangisan pertamamu ketika ibu baru melahirkan mu. Jadi berhenti berpikir jika kamu merepotkan kami" timpal ibu


Suara lembut dari kedua orangtuaku membuatku terharu, larut aku dalam pelukan mereka. Hati yang beku itu seperti mencair, segala penat seperti melebur dan lenyap. Sekarang, merekalah tempat ternyaman untukku.


"Terima kasih~" gumamku


Tiba - tiba aku hampir terjatuh karena kakiku terasa lemas, ayah dan ibu yang panik langsung berusaha membantuku berdiri tapi dokter Alora malah tertawa kecil ketika itu. Ayah dan ibu yang bingung kenapa dokter Alora tertawa langsung mengalihkan pandangannya menatap dokter Alora, sedangkan aku membalas suara tawa dokter Alora dengan tawa kecilku.

__ADS_1


"Kamu sudah berusaha keras Luna, selamat ya... Dokter Alora bangga padamu" ucap dokter Alora


"Dokter! Luna hampir terjatuh lagi! Kenapa malah tertawa?" agak membentak ayah mengatakannya


"Ayah... Aku cuma lega karena rasa gugup ku berakhir, ini tidak apa - apa" timpal ku


"Itu benar tuan Lincoln, Luna baik - baik saja" ucap dokter Alora, bersamaan dengan ucapannya itu dia berjalan mendekati kami sembari membawakan kursi roda milikku.


"Apa kamu merasakan semangat hidup lagi, sayang?" tanya dokter Alora padaku sambil mengulurkan kedua tangannya untuk membantuku berdiri, aku menyambut uluran tangannya.


"Aku merasa... Senang, terima kasih sudah memberikan aku kesempatan ini dokter" ucapku sembari berjalan tertatih mendekati kursi rodaku dibantu dokter Alora


Setelah aku duduk di kursi roda itu, dokter Alora berlutut di hadapanku dan menatap wajahku dengan senyumannya.


"Hidup itu tentang tujuan dan mengejar tujuan itu akan membuatmu bahagia, Luna... Tidak akan ada yang bisa menghentikan mu untuk bahagia kecuali dirimu sendiri, hancurkan tembok penderitaan yang kamu bangun sendiri itu dan mulailah melangkah untuk mendapatkan kebahagiaan" ucap dokter Alora dengan nada yang lembut


Bukan kalimat yang sama persis, tetapi bahkan dua tahun yang lalu seorang dokter Ellie pun teramat sering memberikan kalimat motivasinya untukku. Bisa dibilang.... dialah orang pertama yang membuatku mengenal kata semangat, tapi.. Luna tetaplah Luna yang labil. Aaah.. menyesal selalu datang di bagian akhir bukan?


Aku termenung mendengar perkataannya dan mencoba memikirkan apa yang baru saja dokter Alora katakan, mungkin benar jika aku menderita selama ini karena ulahku sendiri... Kata - kata Selena di pertemuan terakhir kami kembali terngiang di kepalaku...


"Apa aku akan bahagia jika aku memutuskan untuk tetap berada di ibu kota bersama pangeranku? Mungkin aku iya, tapi melihat wajah sedih dari kak Jester ketika tahu tentang keadaanku... Apa itu akan tetap membuatku bahagia?" gumamku ketika malam telah tiba, aku kembali memikirkan tentang masa lalu sebelum akhirnya terlelap tidur karena pengaruh obat yang aku minum.


Pagi menjelang, aku terbangun dari tidurku, tubuhku terasa begitu ringan tidak seperti hari - hari sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa, tapi ada sesuatu gejolak dalam hatiku yang membuat aku ingin... Tersenyum sendiri...


Perlahan aku mencoba untuk berdiri tanpa bantuan apapun, aku merasa memiliki tenaga untuk itu dan benar saja... Saat itu kakiku terasa sangat kuat untuk menopang tubuh ringkih ku, aku tertawa kecil dan begitu merasa bahagia.


Oh iya.. Luna yang sekarang sangat berbeda dengan Luna 2 tahun yang lalu. Saat ini aku kembali memiliki rambut dan sudah sepanjang bahu, yaah walau tidak lagi lebat. Setidaknya tidak botak, lumayan lebih nyaman dilihat bukan?xixixixi... Berhenti menjalankan kemoterapi membuatku kembali memiliki rambutku, dengan tubuh yang semakin kurus dan wajah yang menonjolkan struktur tulang semakin membuatku terlihat seperti seonggok tulang berbalut kulit. Ditambah wajah yang selalu terlihat pucat, dengan penampilan seperti ini mana bisa aku menjadi idola.. tapi tidak ada salahnya mencoba kan?!


Setelah itu aku berjalan keluar untuk menemui ayah dan ibu di halaman depan, aku tahu mereka pasti ada disana karena sejak tidak memiliki pekerjaan setelah resign dari keluarga Parker... Untuk menopang kehidupan keluarga kecil kami, ayah dan ibu memutuskan menjadi petani buah - buahan dengan memanfaatkan lahan dihalaman depan rumah.


Ketika ayah dan ibu melihatku berjalan sendiri menemui mereka di halaman depan, aku melihat wajah bahagia keduanya. Mereka berlari mendekatiku dan memelukku bersamaan, rasa cinta ayah dan ibu yang membuatku mampu untuk terus bertahan selama ini.


Setelah itu kami sarapan bersama di sebuah gubuk kecil dekat dengan lahan kebun ayah dan ibu, begitu terasa jika ayah dan ibu senang dengan perkembangan kesehatanku. Ayah dan ibu banyak bercerita tentang hal - hal indahnya dunia luar, mungkin mereka ingin memancingku agar aku meminta untuk diantar keliling desa ini. Tapi aku masih tidak tertarik untuk itu, karena aku hanya ingin hidup bersama ayah dan ibu sampai akhir hayatku.

__ADS_1


Tidak lama sebuah mobil mewah berwarna hitam parkir tepat didepan rumah kami, wajah khawatir ayah dan ibu begitu terlihat. "Siapa? Apa mungkin orang keluarga Gates?" ucapku dalam hati yang juga ikut panik sebenarnya, namun aku berusaha untuk tetap terlihat tenang.


Seseorang turun dari kursi belakang mobil itu dan aku melihat...


"Grece?" gumamku, seketika itu ayah dan ibu menoleh menatapku.


"Lunar!! Ini aku looh!! Grece yang cantik!!" teriak Grece dari kejauhan sembari melambaikan tangan kepadaku, dia berlari mendekatiku yang masih berusaha secepat mungkin untuk beranjak dari gazebo.


"Lunar! Aku tuh sudah buat keputusan, aku ingin membawamu langsung ke ibu kota tapi komersil bilang aku harus membuat konflik sedikit antara kamu dan peserta lain" ucap Grece sembari memelukku dengan erat


Grece itu memang lucu, konyol dan selalu menggebu - gebu, karena itu mudah untukku bisa akrab dengan gadis ini. Kehadirannya dalam hidupku tak pernah aku pikirkan sebelumnya.


"Hah?! Buat apa seperti itu?!" aku kaget mendengar perkataannya


"Duuh Lunar, ini tuh untuk mengangkat namamu biar cepat terbang melayang" jawab Grece dengan nada kesal padaku, perlahan dia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan wajah sebal.


"Grece, aku ikut audisi ini cuma ingin menang dan aku tidak peduli akan seperti apa namaku dikemudian hari" timpal ku


"Kamu punya kualitas menjadi diva, apa kamu gak ingin dikenal di seluruh dunia?" tanya Grece padaku, aku menggelengkan kepala.


"Tidak, aku.." belum selesai aku berkata, Grece memotong perkataanku.


"Lunar... Lunar... kamu harusnya senang karena kamu diberi kelebihan dengan suaramu, dengan begitu kamu akan lebih mudah membekas di hati banyak orang" timpal Grece, aku menatap Grece dengan wajah bingung dan sedikit memiringkan kepala.


"Membekas di hati banyak orang? Apa itu penting?" tanyaku heran


"Untuk itulah kita hidup!!" dengan teriakan penuh semangat Grece mengatakannya, aku sampai kaget karena Grece tiba - tiba berteriak.


"Dengan membekas di hati banyak orang, maka akan banyak orang yang mengingat kita meskipun kita telah tiada di dunia ini. Semua itu agar kita tidak dilupakan ketika kita sudah mati nanti, nama kita akan terus disebut oleh orang - orang yang telah kita tinggalkan!" ucap Grece meneruskan kalimatnya dengan penuh semangat.


"Simpelnya dia cuma ingin mati dalam keadaan terkenal" timpal Yohan dari belakang Grece, suaranya terdengar kesal mendengar apa yang baru saja Grece katakan padaku.


"Karena sebagai anak pemilik media terbesar, dia merasa malu di umur segini dia belum juga bisa dikenal banyak orang dan kalah saing dari selebgram seperti Naomi Scott dan Sarah Arielle" timpal Aiko juga terdengar kesal pada Grece

__ADS_1


Grece pun marah - marah kepada keduanya, melihat keakraban mereka semua membuat aku tertawa terbahak - bahak. Aku benar - benar jadi teringat keakraban antara kak Jester, kak Luke dan kak Harry, suara tawaku ketika itu menular pada ayah dan ibu. Seketika itu kami tertawa bersama... Aku merasa... Hidup kembali...


__ADS_2