
Akhirnya kami duduk di meja yang telah di reservasi oleh kak Jester, pelayan mendekati kami untuk memberikan buku menu mewah yang sampulnya terbuat dari kulit. Aku sempat termenung sejenak menatap buku itu, berbeda dengan kak Jester yang langsung membuka buku itu lalu menyebutkan beberapa makanan dalam bahasa prancis yang tidak aku mengerti.
"Luna, mau pesan apa?" tanya kak Jester padaku dengan lembut, aku tersenyum padanya lalu membolak - balik buku menu itu.
Aku termenung menatap harga - harga makanan yang ada di dalam menu itu, bahkan harga bajuku saja kalah dari beberapa menu itu. "Oh my... apa - apaan ini? apa tidak masalah jika aku memesannya begitu saja?" ucapku dalam hati, namun sepertinya kegundahanku membuat kak Jester tidak sabar menunggu jawabanku.
"Luna? ada masalah?" tanyanya lagi, aku tertawa kecut lalu mengalihkan pandanganku menatap kak Jester.
"Foie Grass..." jawabku dan seketika suara tawa kecil aku dengar dari pelayan itu.
Aku bahkan tidak mengetahui menu apa yang aku pesan itu, pengucapannya pun aku tidak tahu apakah itu benar atau salah. Tapi tawa kecil dari pelayan itu membuatku sadar bahwa bisa saja aku salah memesan atau salah dalam pengucapannya, aku semakin tidak enak hati kepada kak Jester dan membuatku ingin segera pergi dari tempat itu.
Seketika tatapan mata kak Jester pada pelayan itu begitu tajam dan penuh kemarahan, aku pun yang tidak secara langsung mendapatkan tatapan mata itu merasa ketakutan. Perlahan aku menatap pelayan itu dan melihat tangannya bergetar sembari terus bersiap untuk mencatatkan pesanan kami, aku kembali menatap kak Jester dan dengan deham ku aku menarik perhatiannya.
"Ehem... apa ada yang salah kak?" tanyaku, perlahan tatapan kak Jester menjadi lembut dan menatapku dengan senyuman.
"Eeh.. ti.. tidak, gak ada yang salah. kamu sedikit salah dalam pengucapannya, Foie Grass adalah makanan sedikit ekstrim menurutku" jawab kak Jester terbata, lalu kak Jester meminta pelayan untuk menjelaskan tentang Foie Grass kepadaku.
Mendengar penjelasan tentang makanan yang baru saja aku sebut membuatku mendadak mual, meski pelayan mengatakan rasanya enak namun tetap saja aku tidak tega untuk memakannya. Aku kembali menatap buku menu namun yang aku lakukan sebenarnya hanya membolak - balik buku itu karena aku tidak dapat memutuskan apapun, mungkin ketika itu kak Jester merasakan jika aku kebingungan.
"Apa makanan favoritmu, Luna?" tanyanya, seketika aku berhenti melakukan aktivitasku dan mengalihkan pandanganku menatap kak Jester.
"Aaa... apa ya? Grilled Salmon..." jawabku
Hanya itu yang ada dalam kepalaku dan aku rasa itu sudah mewah... hanya sesekali aku memakannya ketika ayah baru mendapatkan gaji atau bonusnya. Sungguh... aku tidak tahu jika itu adalah makanan yang bahkan tidak terpikirkan siapapun ketika mereka berada didalam restoran seperti ini.
"Maaf nona, kami tidak memiliki menu itu" ucap pelayan padaku
"Sajikan menu itu dalam lima menit" timpal kak Jester
Aku dan pelayan itu terkejut dengan perintah yang begitu tiba - tiba itu, perlahan aku melihat pandangan mata kak Jester menatap pelayan itu dengan tajam seakan kembali terlihat mengancam.
__ADS_1
"Ba... baik tuan muda Gates" ucap pelayan itu terbata
"Kak!!" bentak ku padanya, aku tidak sadar membentaknya saat itu...
Tatapan kaget kak Jester pun terlihat saat dia menatapku, mungkin wajahku terlihat begitu marah padanya sampai - sampai kak Jester menundukkan kepalanya di hadapanku.
"Aku pesan menu yang terbaik disini apapun itu!" ucapku lalu menutup buku menu dan memberikannya pada pelayan itu.
"Baik nona" ucap pelayan itu lalu pergi membawa buku menu dan pesanan kami
Aku kembali menatap kak Jester yang tidak berani untuk menatap wajahku, entah aku kecewa padanya atau aku marah atas sikapnya pada pelayan itu... aku merasa ekspektasi ku terhadap kak Jester salah total, aku pikir dia berbeda... tapi kenyataannya akan ada saatnya dia bersikap seperti orang kaya pada umumnya, aku tidak suka itu :(
"Aku hanya tidak ingin ada yang merendahkan mu..." celetuknya memecahkan keheningan diantara kami
"Aku tahu, tapi tidak perlu sampai seperti itu" timpal ku masih dengan nada marahku
Kami pun terdiam beberapa saat, kak Jester juga masih terus menundukkan kepalanya terlihat begitu menyesal atas sikapnya. Sejenak aku merasa jika aku sudah keterlaluan padanya, dengan satu tarikan nafas dan hembusan perlahan aku mencoba untuk meredakan rasa kecewaku.
"Maaf kak... aku hanya tidak suka dengan sikapmu tadi..." ucapku dengan penuh penyesalan
Aku tersenyum padanya dan lagi - lagi senyumku membuat wajahnya memerah, aku tertawa kecil melihat tingkahnya dan mungkin suara tawaku membuat kak Jester tidak tahan menahan malunya. Seketika itu kak Jester membuang muka dan berdiri dari duduknya, aku terkejut melihatnya yang tiba - tiba berdiri itu.
"Aku mau ke toilet dulu" gumamnya lalu segera berjalan meninggalkanku disana.
Aku melihatnya terus berjalan hingga tidak lagi terlihat di mataku, tidak lama pelayan datang dan menawarkan untuk menuangkan wine di dalam gelasku yang kosong itu. Aku menolaknya dan mengatakan jika kami masih anak SMA, pelayan itu sempat terkejut lalu sedikit menunduk dan meninggalkanku.
Disaat itu beberapa orang tertangkap mata sedang menatapku dari atas sampai bawah, aku sungguh tidak nyaman dengan semua tatapan itu. Seketika otaku terasa beku, aku berkeringat dengan derasnya dan ketika aku menyekanya dengan kain serbet di hadapanku saat itu kain serbet itu pun terlihat basah.
Tidak lama terlihat kepala pelayan datang menghampiri mejaku untuk mengganti kain serbet yang baru saja aku gunakan, aku terkejut dengan kehadirannya di sebelahku. Dengan sedikit terbata aku mengatakan "ya silahkan" ucapku sembari kepalaku menunduk beberapa kali bermaksud untuk menghormatinya, namun lagi - lagi sikapku dianggap aneh oleh orang - orang disana.
Tahu rasanya kegugupanku? aku gambarkan... aku seperti ingin segera berlari dan meninggalkan tempat itu lalu berteriak sekeras - kerasnya sambil berharap tidak akan ada satu orang pun yang mengenaliku pernah berada ditempat yang tidak seharusnya aku datangi ini.
__ADS_1
Ditengah gundahnya hatiku itu, aku melihat kak Jester sudah kembali dan langsung duduk di hadapanku dengan tatapan mata yang khawatir.
"Lu..Luna, kamu baik - baik saja?" tanya kak Jester saat itu
"Aah... Aku baik - baik saja kok kak, kenapa?" tanyaku padanya
Dalam hatiku berkata "Apa aku terlalu menampakkan kalau aku tidak nyaman berada ditempat ini ya?" kemudian tatapan kak Jester semakin tajam padaku, aku membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengannya. Aku tidak ingin mengecewakan pangeranku, aku harus bisa bertahan!! aku pasti bisa, demi pangeranku!!
"Aku beneran baik - baik aja kak" ucapku lalu kembali menatapnya dengan senyuman, wajah kak Jester kembali memerah dan kini giliran kak Jester yang membuang muka untuk menghindari senyumanku itu.
Aku tertawa kecil melihat tingkahnya, tawaku aku lepas sebagai bentuk penguatan diriku untuk mengabaikan seluruh tatapan merendahkan itu. Aku bersama pangeranku untuk pertama kalinya, kami sedang berkencan dan tidak aneh jika aku menguatkan hatiku untuk bisa berbahagia malam ini.
"Aa..nu Luna..." gumam kak Jester dan aku menghentikan tawaku
"Hmm? ada apa kak?" tanyaku
"Bi... bisakah, eeh maksudnya... ***.. boleh gak, aku mengenalmu lebih dalam" gumamnya, aku tertawa kecil lagi menanggapi permintaannya.
"Apa yang menarik dariku kak?" tanyaku
"Semuanya! eeh maksudku bukan hal yang aneh - aneh!! aku cuma ingin kenal denganmu lebih dekat! cu.. cuma itu kok" jawabnya panik, sungguh lucu pangeranku ini :)
"Baik... apa yang ingin kamu tahu dariku kak?" dengan helaan nafas aku pun kembali bertanya padanya, kak Jester menggaruk dahinya seakan sedang berpikir untuk mengajukan pertanyaan padaku.
"A.. aku.. ingin tahu.. tipe pria yang kamu inginkan... Tidak! bukan berarti aku ingin tahu apa aku masuk kriteriamu, aku hanya ingin tahu saja!!" jawab kak Jester dan kembali membuatku tertawa
"Pria idamanku ya? Hmm... apa ya? sebenarnya aku tidak punya kriteria khusus, tapi saat ini aku suka pada seseorang dengan kriteria tertentu" jawabku lalu ekspresi kak Jester pun berubah, dia terlihat kaget ketika kami saling bertatapan mata.
"Si... siapa pria itu?" tanyanya dengan suara yang bergetar
Aku ingin tertawa terbahak - bahak saat itu melihat ekspresi cemburu kak Jester, "begini ya rasanya dicemburui? apa benar dia cemburu padaku?" tanyaku dalam hati. Aku sedikit ingin lebih menggodanya, aku menaruh kedua tanganku diatas meja dan mendekatkan tubuhku ke kak Jester.
__ADS_1
"Aku tidak terlalu mengenalnya, aah maksudnya aku belum terlalu mengenalnya. Dia datang kepadaku dan mengajakku berkencan, aku menyesal untuknya karena aku sudah janjian denganmu kak" jawabku dengan nada yang menggoda, aku tidak tahan untuk terus menahan tawaku karena kak Jester terlihat melamun ketika mendengar jawabanku.
"Ta.. tapi... aku menci..." belum selesai kalimat kak Jester saat itu, makanan kami datang dan membuat kak Jester menghentikan kalimatnya.