
Aku dan kak Jester menikmati sore hari dengan bersenang - senang, kami bersama menaiki wahana - wahana yang tersedia disana. Suara tawaku juga tidak dapat aku tahan, aku begitu bahagia dengan semua yang aku alami sore hari itu. Hanya saja... aku ingin menaiki roller coaster dan beberapa wahana lain yang memacu adrenalin, tapi itu hanya akan membuat wig yang aku kenakan akan terbang. Sayang sekali... :(
Aku menolak ajakan kak Jester untuk menaiki beberapa jenis wahana yang dapat membuat wig ku terlepas, beruntungnya aku seorang wanita... jadi aku tolak saja dengan alasan aku takut, kak Jester tidak banyak memaksa atau memintaku untuk tetap melakukannya.
Setelah beberapa wahana selesai kami mainkan, aku melihat matahari mulai sedikit terbenam. Aku pun panik lalu segera melihat jam di handphone milikku, disana tertulis pukul 17:24.
"Kak! kita harus segera masuk kedalam labirin dan temui aku sebelum pukul 18:00!!" ajak ku dengan sedikit paksaan, mungkin aku terlalu panik saat itu sampai membuat kak Jester sedikit heran melihat tingkahku.
"Kenapa terburu - buru? apa..." belum selesai kak Jester berkata, aku langsung menariknya menuju ketempat taman labirin berada.
Namun setelah beberapa langkah menarik kak Jester, tiba - tiba kak Jester menarik ku balik hingga tubuhku menabrak tubuhnya. Seakan kami sedang berpelukan, saat itu detak jantungku berdetak begitu cepat. Aku pun segera mendongakkan kepala untuk menatap wajah kak Jester yang memerah itu, lalu dia mengatakan jika...
"Lu.. Luna, maaf tadi menarik mu. Tapi karena kamu bilang kita tidak punya banyak waktu... sebenarnya kamu berjalan kearah berlawanan untuk menuju taman labirin" celetuk kak Jester
Mendengar perkataan kak Jester semakin membuat aku malu, betapa konyolnya aku melakukan hal itu. "Aaaa~ aku malu!! tapi aku harus bergegas!!" ucapku dalam hati lalu meminta kak Jester untuk mengantarku kesana karena sepertinya kak Jester lebih tahu ada dimana taman labirin itu berada.
Tepat pukul 17:38 kami berada di pintu masuk utara dari taman labirin, kami berdua terdiam sejenak karena sepertinya tidak hanya aku dan kak Jester yang ingin masuk kedalamnya. Beberapa orang terlihat masuk kedalam dan beberapa pasangan juga terlihat berpisah didepan gerbang utara itu, "Sebanyak ini... bagaimana cara aku dan kak Jester bertemu hanya berdua di taman tengah? bukankah mitosnya harus hanya ada aku dan kak Jester yang ada ditengah taman sampai lonceng tanda senja berdenting?" tanyaku dalam hati
"Luna... kamu yakin ingin melakukan ini?" tanya kak Jester memecah keheningan diantara kami, aku sedikit tersentak lalu menatap mata kak Jester dalam - dalam.
"Boleh...kah?" pintaku, kak Jester pun tersenyum lalu menganggukkan kepala.
"Kamu lewat saja gerbang ini, sedangkan aku akan masuk lewat gerbang timur" ucap kak Jester
Aku mengangguk lalu kak Jester berjalan meninggalkanku untuk menuju gerbang timur, aku berjalan masuk bersama beberapa orang lain. Sepanjang perjalanan aku mendapati banyak sekali cabang jalan, sehingga semakin jauh aku melangkah maka semakin sedikit pula rombonganku. Hingga tibalah di persimpangan jalan, sedangkan aku hanya tinggal bersama satu wanita yang tidak aku kenal.
Dia menoleh menatapku lalu bertanya...
"Apa kamu sedang mencari jodoh?" tanya wanita itu padaku
__ADS_1
"Aaa.. ti.. tidak, aku..." aku menggantung jawabanku karena jujur saja aku malu untuk menjawab
"Ooh tidak apa aku mengerti, dulu saat aku masih SMA sepertimu aku juga melakukan ini dengan mantan pacarku" timpalnya, aku pun sedikit terkejut saat itu lalu rasa ingin tahuku tiba - tiba meningkat.
"Lalu? apa kalian bertemu di tengah taman?" tanyaku, wanita itu tertawa ketika mendengar pertanyaan ku lalu dia menghela nafasnya sejenak.
"Tidak... kami tidak bertemu, dan seperti yang aku bilang tadi jika aku kemari bersama mantan pacarku saat masih SMA" jawabnya terdengar menyesal
"Apa kamu... mencintainya...?" tanyaku, sejenak dia terdiam dan menatapku sangat tajam.
Aku tahu seberapa seriusnya dia ketika akan menjawab pertanyaanku, aku sangat mengerti jika dia mencintai mantan pacarnya itu hanya dari tatapan matanya itu. Seakan aku tidak memerlukan jawaban lagi, aku hanya bisa turut sedih dengan apa yang ingin aku ketahui itu.
"Aku mencintainya... hanya saja sejak keluar dari labirin ini... hubungan kami menjadi lebih kacau, entah itu kutukan taman labirin atau itu semua hanyalah sebuah pemikiran alam bawah sadar yang membuat kami terpengaruh jika hubungan kami pasti kandas. Semua bermula ketika aku termakan oleh mitos yang melegenda itu" jawab wanita itu begitu sedih, aku turut menyesal untuknya.
"Bagaimana denganmu? apa kamu bersama kekasihmu?" tanyanya, aku tersentak mendengar pertanyaan itu.
"Hei jangan terpengaruh ceritaku, aku tadi memang sedih tapi pada akhirnya aku bersyukur bisa putus darinya" dengan sedikit tertawa wanita itu berkata, aku sedikit memiringkan kepalaku untuk menunjukkan seberapa bingungnya aku.
"Yaah kamu harus tahu setelah aku putus dengannya... seorang wanita mengaku jika dia dihamili oleh pacarku, pada akhirnya aku seperti diselamatkan oleh mitos itu. Bisa kamu bayangkan jika aku meneruskan hubungan kami?" ucapnya kembali dengan suara tawa kecil yang menyertai setiap kalimatnya, aku sampai ikut tertawa saat mendengarnya.
"Aku pernah muda sepertimu, aku juga tidak tahu apa alasan yang membuatmu ingin membuktikan apa cinta kalian bisa langgeng atau tidak. Tapi ingatlah kata - kata wanita yang lebih berpengalaman ini, cinta itu adalah ketika kamu dan dia merasa nyaman saat bersama, gelisah saat terpisah, dan saling melindungi perasaan pasangannya. Kalian harus saling memberi, menjadi tempat nyaman, dan saling mengerti" ucapnya lagi memberi wejangan padaku, aku menganggukkan kepalaku dengan senyum di wajahku.
"Kalau begitu bisa kamu bacakan ini jika kamu dan pacarmu itu bertemu ditengah?" tanyanya sembari dia merogoh sesuatu didalam sling bag yang dia kenakan
Beberapa saat wanita itu memberikan aku sebuah note kecil berisi tulisan, aku menerima kertas itu dan aku membacanya dengan seksama. Dengan perasaan terkejut setelah membacanya, aku kembali menatap mata wanita di depanku itu. Dia terlihat tersenyum dengan mata yang berkaca - kaca, meski aku tidak mengerti mengapa dia tiba - tiba ingin menangis.
"Itu adalah kata - kata yang seharusnya aku ucapkan bersama mantan pacarku, aku hanya berpikir jika itu akan berguna untukmu... maukah kamu meneruskan apa yang sangat ingin aku lakukan?" pintanya padaku
Jujur saja aku ragu untuk menerima permintaan wanita ini, aku yakin kak Jester tidak akan mau untuk melakukannya. Tapi melihat seberapa serius dan berat beban hati yang wanita ini ingin aku tuntaskan... aku juga merasa berat hati untuk menolak permintaannya, aku menghela nafasku sejenak lalu kembali menatap note kecil itu.
__ADS_1
"Aku... tidak yakin pangeranku mau untuk melakukannya, tapi jika dia mau... aku janji akan mengucapkan apa yang tertulis di note ini bersama pangeranku itu" jawabku lalu kembali menatap wanita itu dengan senyuman.
"Manisnya... semangat lah!!" timpalnya
Lalu kami pun berpisah, dia memilih jalan sebelah kiri sedangkan aku memilih jalan kanan. Kini aku hanya sendiri menyusuri labirin itu dengan kemungkinan sampai taman tengah hanya lima puluh persen saja, belum lagi waktu yang sudah semakin tidak memungkinkan. Aku kini dipenuhi perasaan pesimis, aku yakin aku tidak akan bertemu kak Jester di taman tengah tepat waktu.
17:50...
Tidak aku sangka aku sampai di taman tengah labirin, aku melihat dan membaca sebuah papan dengan bertuliskan "PINTU BARAT" dan aku begitu senang karena aku bisa sampai di taman tengah labirin yang begitu menyesatkan. Aku pun terus melangkahkan kakiku hingga aku dapat melihat sebuah kursi taman yang terbuat dari kayu seakan memang dibuat hanya untuk dua orang dengan hiasan bunga yang berbentuk menyerupai lambang 'LOVE' tepat berada dibelakang kursi itu, didekat kursi itu juga aku melihat sebuah kolam air mancur yang pancurannya terlihat begitu indah menjulang.
Setelah berjalan mendekati air mancur itu, aku pun memutar tubuhku untuk mencari kak Jester. Namun sepertinya memang dia tidak dapat sampai ke taman tengah ini, yaah... dengan begitu banyaknya persimpangan yang menyesatkan, aku rasa untuk sampai ke taman tengah ini adalah sebuah tantangan tersendiri.
Aku tidak bisa menyalahkan kak Jester jika dia tidak mampu untuk sampai kemari, "Sudahlah Luna... ini tidak akan mempengaruhi apapun tentang hubunganmu dengan kak Jester" ucapku dalam hati ketika aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 17:55.
"Aku pikir aku tidak akan bertemu denganmu, aku kesulitan dan beberapa kali mendapatkan jalan buntu. Syukur aku bisa bertemu denganmu.... Luna" terdengar suara yang sangat aku kenal berasal dari belakangku
Aku yang masih terkejut itu langsung memutar tubuhku dan aku pandangi wajah kak Jester yang tersenyum menatapku...
Aku...
Aku senang...
Aku.... tidak mampu untuk menggambarkan dengan tulisan....
jika...
Aku sangat bahagia... walau aku tidak mempercayai mitos itu...
Aku memang aneh kan... :)
__ADS_1