
Aku dan tuan Lincoln mengangkat kepala kami dan secara bersamaan menyeka air mata yang masih tersisa di wajah kami masing - masing, setelahnya dengan gestur tangan tuan Lincoln mengajakku untuk masuk kedalam ruangan dimana jenasah Luna disimpan untuk sementara. Didalam ruangan terdapat sebuah lantai yang ditinggikan untuk meletakkan peti mati, perlahan aku berjalan mendekati peti itu tepat dibelakang tuan Lincoln. Tubuhku kembali terasa bergetar dan juga terasa begitu dingin pada telapak kaki dan juga telapak tanganku, "Apa aku masih belum siap untuk melihatmu?" tanyaku pada diriku sendiri.
Aku terus paksa tubuh ini berjalan semakin mendekati peti mati itu, tapi benar - benar tidak bergerak lagi kaki ini untuk lebih mendekat. Disaat bersamaan aku melihat tuan Lincoln sudah sangat dekat dengan peti itu, tangannya perlahan meletakkan bingkai foto Luna pada sebuah dudukan yang terletak diatas peti. "Aku tidak boleh terus jatuh dalam kesedihan ini, ayolah tubuhku... jangan jadi pecundang" begitulah caraku untuk memberikan dorongan pada hati dan juga kedua kakiku agar kembali bergerak, perlahan pada akhirnya aku kembali bisa berjalan mendekati peti mati itu.
Tatapan mataku tertuju pada bingkai foto yang baru saja tuan Lincoln letakkan diatas peti mati lalu perlahan aku memberanikan diri untuk melihat isi dari peti mati itu, Yaah... aku mendapati wajah pucat Luna yang masih tersenyum... tubuhnya terbaring didalam peti itu dan sudah mengenakan pakaian yang begitu bagus dan cocok untuknya, tidak terasa air mata ini kembali mengalir sesaat setelah aku menatap wajahnya.
"Dia sudah menderita penyakit ini sejak SD... ketika itu dia tidak pernah tahu apa yang terjadi padanya ketika dia sering jatuh pingsan dan juga sering keluar masuk rumah sakit, dia masih saja terlihat begitu ceria bermain seperti anak - anak lainnya... tapi semua itu berubah saat dia semakin tumbuh dewasa, Luna menyadari tentang kondisi kesehatannya..." celetuk ayah Luna ditengah heningnya ruangan itu, sejenak ayah Luna menghela nafasnya
"Saat SMP aku sudah tidak pernah lagi melihat senyumnya, dia terlihat selalu murung... pojokan kamar diatas kasur adalah tempat favoritnya ketika itu. Dia selalu duduk disana... melipat kedua kakinya dan dia peluk erat kaki itu sampai menempel pada dadanya, kepalanya pun dia letakkan diatas kedua kaki yang dia tekuk itu.... seperti itulah keseharian Luna sejak dia menginjakkan kakinya di SMP" ucap ayah Luna lagi
"Aku... juga mendengar hal yang sama dari nyonya Lincoln, tapi kenapa... dia tidak mau jujur saja padaku? apa aku... tidak pantas untuk diberitahu tentang keadaannya? kenapa dia menghindari ku? jika saja..." belum selesai aku berkata, tuan Lincoln menepuk pundakku dan aku menoleh menatap matanya.
"Tuan muda Gates, Luna tidak bermaksud seperti yang anda pikirkan. Aku juga tidak tahu apa yang Luna inginkan ketika itu, yang aku tahu hanya... dia selalu memikirkan tentang kebahagiaan anda, itulah yang aku sering dengar dari Justin setiap kali Luna curhat dengannya" timpal tuan Lincoln, aku termenung sejenak...
"Tuan Lincoln, anda menemani Luna disaat suka dan duka... tolong katakan padaku, apakah itu seindah kedengarannya?" tanyaku, seketika itu tuan Lincoln terkejut dengan pertanyaanku sampai membuatnya terdiam.
"Yang aku inginkan hanya kesempatan untuk salah satu dari momen itu..." dengan helaan nafas aku mengatakan itu saat tuan Lincoln tidak menjawab pertanyaan ku, aku kembali menatap wajah Luna dan kami pun terdiam kembali.
"Pada akhirnya yang harus kita ambil dari hidup adalah bagaimana cara menerima suatu keadaan tanpa menyalahkan kenyataan..." celetuk tuan Lincoln, sebuah kalimat yang membuatku tersentak sampai aku kembali menatapnya.
"Tuan muda Gates, aku harap anda tidak selalu menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi... Luna pasti tidak senang dengan kondisi tuan muda saat ini, yang dia inginkan hanya kebahagiaan anda... Luna tidak peduli pada akhirnya anda akan bersama siapa, tapi Luna sudah berusaha keras untuk mendampingi anda sampai dititik ini..." ucap tuan Lincoln
"Anda benar... aku akan mencoba lebih keras lagi untuk menerima kenyataan ini.." timpal ku sembari mengusap air mataku, perlahan tangan tuan Lincoln kembali mengambil bingkai foto Luna lalu memberikannya padaku.
"Aku tidak tahu apa yang ingin anda lakukan dengan foto ini, tapi jika ini bisa membantu anda untuk memaafkan Luna... aku sebagai ayahnya akan mendukung anda" ucap tuan Lincoln, aku menerima bingkai foto itu lalu mendekapnya.
"Anda salah tuan Lincoln, ini bukan agar aku bisa memaafkannya tapi aku yang berharap Luna yang memaafkan ku..." timpal ku
__ADS_1
Aku menghela nafasku lalu menunduk pada tuan Lincoln untuk memberinya salam, setelahnya aku berjalan keluar untuk memulai perjalananku memenuhi check list Luna. Bingkai foto Luna saat itu seakan menjadi alasan aku melakukan tur aneh ini, semua aku lakukan demi dirinya meski aku terlihat seperti orang bodoh yang akan keliling Prancis membawa sebuah bingkai foto.
Diluar ruangan aku melihat Naomi yang sedang memeluk Selena, dia terlihat ingin menenangkan Selena walau dirinya sendiri pun menangis terisak-isak ketika itu. Mata kami bertemu dan entah kenapa gejolak emosiku tiba - tiba kembali meningkat, kejadian antara Naomi, Daniel dan hotel Gates ketika itu seakan kembali terputar di otakku dan rasa bersalah menghantuiku. Aku tidak ingin bertengkar dengannya sekarang, aku putuskan untuk mengabaikannya dan segera berjalan keluar dari rumah sakit ini.
Mungkin Naomi menyadari amarahku, meski aku tidak menunjukkan amarah itu padanya. Aku kesal pada diriku sendiri dan juga atas kebodohan yang seakan sudah melekat padaku, aku begitu kesal pada diriku sendiri. Saat itu Naomi mengikuti ku sampai keluar dari rumah sakit, berkali - kali aku mendengarnya memanggil namaku untuk memintaku berhenti berjalan. Tapi aku abaikan dia, saat ini aku tidak ingin berdebat dengannya karena aku tahu hanya akan ada kata - kata menyakitkan ketika aku berbicara padanya.
"Berhenti, Jester!!" teriak Naomi sembari menarik lenganku, lalu dia segera berlari memutari ku agar kami saling berhadapan.
"Kamu marah sama aku?!" tanya Naomi sedikit membentak, aku membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengannya.
"Aku salah apa?! kenapa kamu marah sama aku?!" tanya Naomi lagi dengan nadanya yang semakin meninggi
"Kenapa kalian tidak langsung katakan saja tentang apa yang terjadi di belakangku..." jawabku, ketika itu aku tidak yakin Naomi mendengarnya karena aku bergumam saat mengatakannya.
"Hah?! apa maksudmu? aku juga tidak tahu kalau Luna..." belum selesai Naomi berkata, aku memotongnya.
"Kenapa tidak langsung katakan saja dengan jujur apa yang sedang kalian hadapi agar aku tahu!! kenapa kalian selalu berpikir tidak perlu untuk menceritakan kepadaku tentang masalah yang kalian sedang hadapi?!!" bentak ku padanya, aku melihat Naomi tersentak ketika aku mengatakannya.
"Kejadianmu dengan Daniel... aku hampir saja kehilanganmu... jika saja Luna dan Selena tidak segera menyadari apa yang sedang terjadi padamu, mungkin saat ini aku sudah kehilanganmu..." terbata aku mengatakannya, Naomi pun tertegun memandangi wajahku.
"Jess... aku..." belum selesai dia berkata, aku kembali memotongnya.
"Dia!! Luna juga melakukan hal yang sama!! dia tidak pernah mengatakan sedang berperang melawan penyakitnya!! Kenapa?!! kenapa tidak langsung katakan saja?!!!" bentak ku lagi
"Hanya tinggal katakan saja... hanya bicara saja... apa sulitnya bagi kalian, hah?!!" tanyaku begitu kecewa atas semua yang terjadi, meski aku sudah katakan aku akan berusaha keras untuk menerima kenyataan namun semua itu begitu sulit.
Aku masih tidak memahami kenapa wanita yang bersamaku melakukan hal yang sama, mereka membahayakan diri mereka hanya demi kebahagiaanku atau hanya dengan alasan mereka mencintaiku. Tidak masuk akal... ketika sudah mencintai itu sudah sewajarnya untuk saling menemani baik suka maupun duka, bukankah seperti itu seharusnya arti dari kata mencintai?
__ADS_1
Naomi hanya mematung di depanku, entah dia masih terkejut atau karena dia tidak bisa menjawab pertanyaanku. Aku tidak mau memikirkannya saat itu, aku harus fokus pada tujuanku sekarang. Menyelesaikan check list Luna dan segera pulang untuk menguburkan Luna secepat mungkin, hanya itu yang menjadi tujuanku saat ini. Aku kembali melangkah melewatinya, namun Naomi tidak membiarkanku untuk pergi.
"Jess!! aku ikut!!" teriak Naomi seraya berlari kembali menghalangi langkahku
"Menjauh Lah!!!" bentak ku tepat didepan wajahnya, Naomi pun tersentak dan begitu terkejut menatapku.
Air mata Naomi pun mengalir deras namun dia tetap menatapku begitu tajam, mungkin ini pertama kalinya bagiku membiarkan Naomi menangis tepat di hadapanku. Terlebih ini adalah pertama kalinya aku adalah sebab Naomi menangis, tidak seperti sebelumnya aku selalu menjadi penenang untukku. Aku membuang muka ketika itu untuk menghindari tatapan mata Naomi, jujur saja hatiku terasa sakit melihatnya menangis seperti itu sampai tangan ini meremas bingkai foto Luna begitu kuat.
"Kamu janji untuk menjaga senyumanku!! apa kamu lupa janjimu?!" tanya Naomi dengan bentakan, aku bergeming dan terus aku menghindari tatapan mata dengannya.
"Jester!! jawab aku!!" bentak Naomi lagi menekan ku
"Aku tidak akan melupakan janjiku yang pernah terucap, aku akan dengan sekuat tenaga untuk memenuhi janji - janji itu" timpal ku dengan nada datar
"Kamu buat aku sedih hari ini!! kamu menyentak ku!! kamu marah padaku dan meninggalkanku seperti ini, kamu tidak pernah seperti ini padaku!!!" bentak Naomi lagi begitu emosi, aku hanya diam saja menerima semua amarahnya karena aku merasa pantas untuk mendapatkan itu.
"Aku... kali ini... aku cemburu padanya... kamu berubah padaku... aku gak tahu apa salahku sampai kamu berubah padaku... kembali... kembali Jess..." seketika suara Naomi terdengar memilukan, mungkin aku sudah keterlaluan padanya...
Perlahan aku melingkarkan tangan kananku di kepala Naomi lalu mendekapnya, aku cium lembut kepala Naomi beberapa kali untuk menenangkannya. Lalu aku menghela nafasku, aku berusaha untuk menenangkan diriku sebelum berkata...
"Naomi... aku tidak berubah dan aku juga tidak kemana - mana, aku masih ada disini untukmu tapi... kali ini saja biarkan aku sendiri, ada hal yang harus aku selesaikan agar penyesalanku tidak berlarut" dengan suara yang berusaha selembut mungkin aku mengatakannya, namun tangisan Naomi masih begitu terasa memilukan di telingaku.
"Maaf aku membuatmu cemburu... maaf tadi aku menyentak mu... ini alasanku tidak ingin kamu menyusul ku kemari, hatiku sedang kacau, otakku tidak bisa berpikir dengan jernih, aku begitu marah pada diriku sendiri yang bodoh ini" ucapku meneruskan kalimatku sebelumnya, seketika itu Naomi menggelengkan kepalanya didalam pelukanku beberapa kali.
"Tidak benar... kejadian ini bukan salahmu, baik aku dan Luna... kami sama - sama bersikap egois, Luna pernah bilang dia ingin menemanimu kalau kamu ada masalah dan begitu juga aku. Kita semua pernah berjanji padamu, apapun yang terjadi akan kita hadapi bersama. Tapi... kami malah mencoba untuk menyelesaikan masalah kami sendiri tanpa melibatkan mu... ini bukan kesalahanmu, jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri... maafkan aku, Jess!!" dengan terisak - isak Naomi mengatakannya
"Terima kasih sudah mengatakannya, tapi aku tetap tidak bisa menerima itu Naomi. Kepekaan ku terhadap kondisi kalian... sangat buruk, padahal aku mengatakan aku mencintai kalian tapi dua kali juga aku tidak bisa merasakan kalau telah terjadi sesuatu pada kalian... cinta apa yang seperti itu? kali ini... izinkan aku menebus kebodohanku sendirian, lalu..." aku menggantung kalimatku sejenak seraya aku melepaskan pelukanku dari kepala Naomi, aku mundur sedikit agar Naomi dapat menatap wajahku. Dengan berlinang air mata Naomi menatap wajahku yang tersenyum padanya, lalu aku katakan...
__ADS_1
"...Ini terakhir kalinya aku tidak peka dan bersikap bodoh di depanmu, kedepannya kamu beri aku seribu kode sekalipun aku akan berusaha untuk memecahkannya sebaik mungkin" ucapku meneruskan kalimat sebelumnya, Naomi pun tertegun menatapku.
"Aku pergi dulu.. ada banyak hal yang harus aku selesaikan" dengan lembut aku mengatakannya, tanganku pun membelai lembut rambut Naomi untuk menenangkan rasa cemburunya. Aku pergi melewatinya dan dia pun akhirnya membiarkanku pergi, check list Luna harus aku selesaikan sesegera mungkin.