
Aku berjalan sampai dipinggir jalan dari rumah sakit, disana aku melihat sebuah mobil taksi sedang berhenti menunggu penumpang. "Kebetulan, beruntung..." dalam hati aku berkata seperti itu, tidak biasanya taksi mudah didapat disaat seperti ini. Namun ketika aku hampir sampai saat itu seseorang menyela dan meraih ganggang pintu mobil begitu cepat, aku menatapnya dan begitu juga dengan orang itu.
"Maaf, aku sedang diburu waktu. Sebentar lagi akan ada taksi berikutnya" celetuknya, dia warga lokal yang sepertinya pekerja kantoran disana.
Aku tahu kalau tidak akan ada lagi taksi yang bakal datang jika aku tidak memesan lebih dulu, ini bukan pertama kali aku berada di Paris. Yah dengan terpaksa aku berikan saja, mungkin aku bisa menggunakan fasilitas umum lain. Dengan gestur tangan aku mempersilahkan orang itu untuk masuk kedalam mobil taksi itu, namun disaat hampir bersamaan supir taksi keluar dari dalam mobil lalu menyeret warga lokal itu keluar dari mobil. Sebuah pemandangan yang cukup mengejutkan, mengingat aku tahu jika itu akan membahayakan pekerjaan si sopir.
Sosok tinggi dengan tubuh berotot terlihat marah saat itu, supir taksi itu terlihat menakutkan dengan kumis tebal dan juga kaca mata hitamnya. Baju yang dia kenakan juga baju perusahaan, namun terlihat terlalu kekecilan untuk tubuhnya yang berotot itu. Orang ini terlalu memaksakan baju itu demi sebuah penyamaran yang sempurna, tapi aku tahu siapa orang dibalik penyamarannya itu.
"Menyerobot bukan kebiasaan orang Prancis" begitu ucapnya ketika menyeret orang lokal dari dalam mobil, suaranya begitu aku kenal meski dia berbahasa Prancis.
"Aku akan laporkan kamu ke atasanmu!!" bentak warga lokal begitu marah, namun sopir taksi itu tidak mempedulikannya. Dia menatapku lalu berkata..
"Masuk nak, kamu sudah lebih dulu berlari mendekat" begitu katanya dengan memberi gestur tangan agar aku segera masuk, aku ingin tertawa saat itu namun berusaha aku tahan sebaik mungkin.
Tidak lama aku melihatnya memberi gestur tangan mengejek pada warga lokal itu, mereka berdua pun saling lempar ejekan sampai mobil ini melaju cukup jauh. Disebuah lampu merah aku tidak mampu lagi untuk menahan tawaku, aku tertawa cukup keras sampai menarik perhatian sopir di depanku. Kami saling bertatapan mata di spion dalam mobil dan disaat bersamaan dia terlihat bingung.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanyanya dengan bahasa Prancis
"Papa, aku tahu itu kamu" jawabku lalu kembali tertawa
"Argh!! kenapa kamu bisa tahu?! aku sudah menyamar dengan baik!!" timpal papa sembari menarik kumis palsu yang tebal itu dan melepaskan kaca mata hitamnya, aku tertawa terbahak - bahak melihatnya kesal.
"Siapa lagi gumpalan otot yang memanggilku 'nak' selain dirimu, papa? setidaknya kalau mau menyamar, bersikaplah lebih natural. Ketika berbahasa Prancis, kata 'nak' itu hanya akan diucapkan olehmu" ucapku sebelum akhirnya aku kembali tertawa keras, papa terlihat semakin kesal.
"Dapat dari mana mobil taksi ini?" tanyaku sembari berusaha untuk menahan tawaku
"Pemilik perusahaan taksi disini teman papa, jadi papa pinjam saja satu unit" jawab papa dengan nada yang terdengar kesal, seketika tawaku menghilang.
Papa... dia melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku, tidak pernah terpikirkan di kepalaku kalau papa bakal membantuku sejauh ini. Bukankah dia memiliki banyak pekerjaan disana? kenapa papa buang - buang waktu untuk sesuatu hal bodoh seperti ini? lagian... Luna tidak ada sangkut pautnya sama papa, mungkin juga kematiannya tidak berpengaruh apapun baginya.
"Haruskah papa melakukan ini? aku bisa melakukannya sendiri" ucapku, ketika itu aku mendengar papa menghela nafasnya.
"Sudah menjadi kewajiban seorang ayah untuk menemani anaknya dalam keadaan apapun, hati dan pikiranmu sedang kacau nak. Papa tidak bisa membiarkanmu melaluinya sendiri" jawab papa dengan lembut, aku tersenyum namun entah kenapa air mataku menetes.
Aku meletakkan foto Luna di kursi sebelah kananku, sempat aku memandangi wajahnya yang tersenyum itu didalam bingkai. Sejenak aku kembali terngiang suaramu yang seakan berkata "Ayo berangkat!" dengan penuh semangat, entah darimana suara itu namun aku memiliki keyakinan jika memang itulah yang akan kamu ucapkan ketika kamu masih hidup dan berada dalam posisi ini.
"Aku sudah terlalu besar untuk didampingi olehmu, papa. Setelah di menara Eiffel, tinggalkan saja kami disana" celetukku
"Tidak ada kata besar, dimata papa dan mama... kamu masih seperti anak kecil yang bahkan masih tidak mampu untuk berdiri sendiri, jadi biarkan papamu ini..." belum selesai papa berkata, aku melingkarkan tanganku untuk memeluk papa dari belakang.
__ADS_1
"Terima kasih, papa. Kamu adalah sosok ayah paling keren yang pernah aku tahu, maaf aku menjadi anak yang selalu merepotkan mu" timpal ku, aku merasakan tepukan lembut tangan ayah di lenganku yang melingkar di bahunya.
"Kejadian ini akan mendewasakan mu, petik lah pelajarannya dan jadikan sebagai pengalaman berharga untuk kedepannya" dengan lembut papa mengatakannya, perlahan aku melepaskan pelukanku lalu bersandar pada kursi.
Aku menyeka air mata yang masih tersisa di pipiku dan juga mengatur nafas yang begitu sesak aku rasakan di dadaku. Agak lama kami terdiam saat menyusuri jalanan paris ini, papa baru berbicara kembali ketika kami hampir sampai di area menara Eiffel.
"Apa kamu bawa note yang dibawa Luna?" tanya papa memecah keheningan
"Tidak, tapi aku ingat semua yang dia impikan" jawabku, ketika itu papa tertawa penuh semangat sembari berkata...
"Baiklah, ini akan menjadi perjalanan yang panjang!!" agak berteriak papa mengatakannya, aku tertawa mendengar seberapa semangatnya papa untuk menemaniku.
Pagi ini menjadi awal dimana aku akan menuntaskan semua impian mu di Paris, berbekal foto mu yang ada didalam bingkai... aku seolah sedang bersama mu Luna melakukan perjalanan yang cukup melelahkan ini, namun itu mungkin terlihat sebagai tindakan bodoh bagi orang - orang yang kebetulan bertemu denganku. Tidak jarang mereka bertanya tentang aku yang berkeliling membawa foto mu, diantara mereka juga tidak jarang aku mendengar kekaguman mereka atas kecantikanmu. Senyum mu didalam foto itu memang sangat menawan, tidak heran mereka melontarkan pujian - pujian itu padamu.
Di Setiap perjalananku menuju spot - spot impianmu, aku selalu menyempatkan diri untuk mengabadikannya dalam sebuah foto dengan kamera ponselku. Aku berusaha tersenyum di setiap foto - foto itu, tapi tahu kah kamu Luna... aku kesulitan untuk bisa tersenyum, aku selalu terbayang kamu benar - benar ada di sebelahku dan semua kata - kata yang mungkin kamu lontarkan padaku seakan terdengar di setiap tempat yang ingin kamu kunjungi. Seolah aku bisa melihat dunia lain dimana kamu masih hidup dan kita melakukan perjalanan ini bersama... terasa perih hatiku ketika bayangan itu muncul didalam kepalaku...
Jika saja papa tidak mendampingiku, aku mungkin tidak akan sanggup melakukan perjalanan sia - sia ini. Papa selalu menunjukkan sikap penuh semangat, aku tahu tujuannya... papa ingin terus membakar semangatku agar aku bisa kuat untuk melalui ini semua.
Dua hari lebih aku berhasil menuntaskan semua check list itu, tidak lupa foto - foto sebagai bukti juga aku dapatkan. Masih dengan taksi yang papa pinjam, aku kembali kerumah sakit dimana jenasah Luna masih disimpan dengan baik. Didalam rumah sakit tepat didepan kamar jenasah, aku melihat tuan Lincoln duduk bersandar di kursi depan pintu masuk kamar itu. Suara langkah kaki kami menarik perhatian tuan Lincoln saat itu, dia menoleh menatap kami dan segera berdiri dari duduknya.
"Tuan Gates dan tuan muda Gates, saya ingin berterima kasih atas semua bantuannya.." celetuk tuan Lincoln sembari menunduk dihadapan kami
"Sudah selesai semua, bahkan sampai transportasi untuk membawa Luna pun sudah siap.... jika tidak ada tuan Gates, saya tidak tahu harus bagaimana lagi" jawab tuan Lincoln, saat itu papa menepuk pundak tuan Lincoln dan memintanya untuk mengangkat kepala.
"Tidak usah dipikirkan, sekali lagi kami keluarga Gates sangat menyesal dan turut berduka cita atas meninggalnya putri anda, Luna Lincoln" ucap papa dan seketika itu tuan Lincoln pun meneteskan air matanya.
Dengan cepat tuan Lincoln berusaha menyeka setiap tetes air mata yang begitu deras mengalir dengan tangannya, disaat bersamaan papa memeluk tuan Lincoln begitu erat sambil menepuk - nepuk punggungnya. Kehilangan anak semata wayang memang tidak pernah mudah bagi siapapun, mungkin papa sangat memahami perasaan tuan Lincoln.
Aku tinggalkan papa dan tuan Lincoln untuk masuk kedalam kamar Luna, didalam sana aku segera melangkahkan kaki ini mendekati peti mati untuk meletakkan kembali foto Luna diatas peti mati itu. Terasa begitu menyedihkan bagiku namun aku bangga karena aku tidak pernah memiliki hutang janji pada Luna, tidak sepeti dirinya yang dua kali telah mengingkari janji diantara kami.
Didalam peti mati yang masih terbuka itu, aku melihat wajahmu yang tersenyum....
"Hei... aku sudah selesai dengan semua check list mu... apa kamu senang? semua sudah aku abadikan dengan foto - foto didalam ponselku, kamu senang kan? aku bahkan tidak melanggar janjiku padamu... tapi kamu? kamu melanggar janji kita untuk kedua kalinya... haruskah aku membalas mu? haruskah aku melupakanmu setelah ini? kenapa kamu hadir dalam hidupku lagi setelah kamu pernah menghilang? apa kamu sengaja? Heii... jawab pertanyaanku..." gumamku ketika aku menatap wajah Luna dalam - dalam, tidak lama air mataku kembali mengalir hingga menetes membasahi tanganmu... perlahan aku meletakkan bingkai foto mu ke dudukannya dan kembali menatap wajahmu..
"Kenapa... kamu tersenyum? kamu senang melihatku menderita? hatiku sakit karena mu, apa kamu mengerti?" masih bergumam aku mengatakannya, aku begitu kesal saat itu karena hatiku terasa begitu sesak. Amarahku kembali memuncak, aku begitu kesal dengan apa yang terjadi padaku..
"Tentu saja kamu tidak akan menjawabnya!! kamu hanya mayat!! apa yang aku lakukan dua hari ini pun terasa seperti orang bodoh!! Berkeliling di Paris membawa sebuah bingkai foto!! itu hanya tindakan orang bodoh!!" ucapku melampiaskan kekesalanku padanya, nafasku tidak beraturan dan aku membutuhkan waktu sejenak untuk meredakannya.
"Selamat tinggal!" ucapku lalu berbalik untuk meninggalkan ruangan itu...
__ADS_1
Aku tidak tahu apakah saat itu aku sudah ikhlas atau kecewa padamu, tapi aku hanya tidak sanggup lagi melihat senyummu itu Luna.
Setelah itu aku sama sekali tidak pernah menginjakkan kakiku lagi ke rumah sakit, aku hanya diam dikamar hotel dan kadang ditemani oleh Naomi sampai jadwal keberangkatan kami untuk pulang tiba. Keesokan paginya kami pun berangkat menggunakan dua jet pribadi milik keluargaku dan keluarga Naomi, dengan mobil yang sudah papa sediakan entah darimana saat itu kami semua berangkat dari hotel menuju salah satu hanggar di bandara Charles de Gaulle. Dua pesawat jet kami pun sudah disiapkan sedemikian rupa untuk segera berangkat, papa mengatur segalanya untuk kepulangan kami semua.
Tidak lama aku melihat mobil jenasah dengan keluarga Lincoln dan juga Selena turun dari mobil itu, beberapa orang terlihat mengeluarkan peti mati dari dalam mobil dan entah kenapa tubuhku bergetar hebat. Dadaku terasa begitu sesak dan kepalaku juga terasa begitu pening, "Ada apa? kenapa tiba - tiba terasa begitu menyesakkan?" tanyaku dalam hati.
Mungkinkah aku masih berharap kita pulang bersama - sama dengan senyumanmu yang merekah di sampingku karena semua impianmu sudah terwujud? Mungkinkah aku masih berharap peti jenasah itu tidak terisi olehmu Luna? Seperti inikah rasanya kehilangan dan penyesalan? kamu memang egois Luna, berani membiarkanku melalui semua ini dengan rasa sesal yang teramat sangat dalam.
"Penumpang semuanya naik ke pesawat Scott dan jenasah dibawa dengan pesawat Gates" perintah papa dengan agak berteriak saat itu.
Dengan segera semuanya menuruti perintah papa, aku pun masuk kedalam jet miliki keluarga Scott dan menjadi yang pertama duduk didalamnya. Tidak lama Naomi duduk di sebelahku dan dia memberikan senyumannya, aku membalas senyumnya dan dia meletakkan kepalanya di pundakku. Ketika semua sudah masuk dan duduk, pesawat ini pun mulai bergerak meninggalkan hanggar. Dari balik kaca jendela, aku juga melihat pesawat jet keluarga Gates bergerak.
Aku merasa menyesal namun tidak tahu apa yang aku sesali, hatiku begitu terasa sakit tapi ini bukan seperti rasa sakit yang sudah aku terima belakangan ini. Ada sesuatu hal yang tertinggal tapi tidak aku pahami dan itu membuatku merasakan keanehan ini, aku terus memikirkan hal itu sepanjang perjalanan kami kembali menuju rumah.
Empat belas jam berlalu dan sepanjang itu juga aku sering mendengar suara tangisan Selena, tuan dan nyonya Lincoln, Grece, dan juga Naomi... semuanya masih merasa kehilangan Luna, begitupun denganku. Meski aku sudah tidak menangis lagi sejak mengucapkan selamat tinggal padamu, tapi tidak bisa aku pungkiri aku merasa kehilangan bahkan sampai sekarang.
Setelah mendarat di negara kami, saat itu sudah tersedia beberapa mobil yang siap untuk mengantar kami semua pulang kerumah masing - masing. Bahkan mobil jenasah pun telah tersedia menyambut kedatangan kami di hanggar, tidak mengherankan saat itu karena aku melihat mama keluar dari salah satu mobil yang tersedia. Sepertinya papa dan mama saling menjaga komunikasi selama ini, begitu pula dengan semua ceritanya...
Mama berlari mendekatiku yang baru turun dari dalam pesawat lalu segera memelukku begitu erat, tangan mama juga membelai kepalaku begitu lembut sembari berkata...
"Tidak apa sayang... tidak apa... semua akan baik - baik saja..." begitu yang mama katakan, aku hanya mengangguk beberapa kali untuk menimpali usaha mama menenangkan ku.
"Jadi... kapan kalian akan memakamkan Luna?" tanya papa pada keluarga Lincoln, hampir bersamaan pelukan mama pun terlepas lalu menatap tuan dan nyonya Lincoln.
"Besok pagi kami akan mempersiapkan pemakamannya, tidak baik jika kami terlalu lama menundanya.." jawab tuan Lincoln
"Baiklah, beritahu kami dimana kalian akan memakamkannya. Kami akan hadir di acara pemakaman itu" timpal papa
"Kami keluarga Gates turut berduka atas meninggalnya Luna" ucap mama
"Terima kasih" timpal keluarga Lincoln
Kami pun berpisah setelah menaiki mobil - mobil itu sesuai tujuan masing - masing, sesampainya dirumah aku langsung turun dan melangkah menuju teras rumah diikuti oleh Naomi. Setelah Naomi membuka pintunya, aku pun berjalan menuju ruang keluarga dan merebahkan tubuh ini di sofa. Tidak lama aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat, tentu saja itu adalah Naomi karena tidak ada satu orangpun selain aku dan Naomi disini... aku tahu itu, tapi... masih terasa asing bagiku, dua minggu bersama Luna dan Selena disini masih menjadi hal yang biasa untukku.
"Jess... tidurlah dikamar..." celetuk Naomi memecah keheningan
"Tidak usah, biarkan aku disini..." pintaku, aku mendengar suara helaan nafas Naomi dan dia pergi meninggalkanku disana.
Ketika aku mendengar suara pintu tertutup, aku segera memejamkan mata untuk tidur. Namun saat itu aku bermimpi hal - hal aneh....
__ADS_1
Aku bermimpi melihat Luna yang marah padaku... tidak mengatakan apapun dan hanya berdiri terdiam disebuah ruangan yang gelap bersamaku...