
"Aku mengerti..." celetuk kak Jester
Meski aku tahu dia berat hati untuk menerima perintahku, tapi kak Jester percaya jika apa yang aku katakan adalah yang diinginkan Naomi. Langkahnya berat ketika hendak meninggalkan kamar, begitu pula dengan Selena dan Grece yang berjalan dibelakang kak Jester. Tidak lama aku mendengar suara pintu yang tertutup, sengaja aku tidak melakukan apapun agar aku yakin jika kak Jester dan yang lain benar - benar tidak menguping pembicaraanku dengan Naomi.
Aku menarik nafasku dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan, aku tahu pembicaraan ini akan berat dan juga menguras semua emosi. Setelah menyiapkan hati untuk segala kemungkinan, aku berbalik dan menatap Naomi yang masih duduk memeluk kedua kakinya dengan kepala yang dia sandarkan pada tangan. Tubuhnya dia sandarkan pada dipan kasur, perlahan aku melihat kedua tangan Naomi meremas lengannya dengan sangat kuat seakan dia sedang memaksakan diri untuk mengatakan sesuatu padaku.
Perlahan aku berjalan mendekatinya, duduk disebelahnya, lalu membelai lembut rambutnya yang terasa begitu halus. Hal pertama yang bisa aku pikirkan saat itu adalah memberinya rasa aman dan nyaman agar dia mau berbicara apapun padaku, aku menunggunya siap untuk memulai pembicaraan dan membiarkan keadaan hening ini semakin membuat Naomi merasa tenang.
"Kamu harus tetap tinggal disini!! Kembalilah pada Jester!!" ucap Naomi dengan sedikit teriakan, dia pun langsung mengalihkan pandangannya menatapku dengan penuh harap meski matanya terlihat berkaca - kaca.
Aku menghela nafasku sebelum menanggapi perkataan penuh emosi Naomi, sesuai dengan dugaanku ini akan menjadi pembicaraan penuh drama yang kembali melibatkan perasaan. Tapi mengingat apa yang baru saja terjadi, aku bisa memahami dengan baik kenapa Naomi ingin aku kembali pada kak Jester untuk menggantikan posisinya. Aku pun juga melakukan hal yang sama dulu kepada Selena, memaksanya untuk menggantikan ku karena aku dan Naomi ingin yang terbaik untuk kak Jester.
"Kamu gak mencintai kak Jester?" tanyaku berusaha selembut mungkin
"Karena aku mencintainya aku lakukan ini untuknya!! aku mencintainya... dan aku ingin yang terbaik untuknya..." suara Naomi terdengar serak karena dia menahan tangisnya, meski begitu dia mengatakannya dengan penuh tekanan dan membuatku sangat yakin jika dia sama sepertiku dulu ketika meminta Selena untuk menggantikan diriku menjadi kekasih kak Jester.
"Baik... aku akan tinggal disini dan juga akan kembali padanya..." ucapku menerima permintaan Naomi, aku mengatakannya dengan tegas meski nada bicaraku tetap aku buat lembut.
"Terima kasih... dan berjanjilah kamu akan membahagiakannya..." timpal Naomi, bersamaan dengan itu aku juga melihat tangan Naomi meremas lengannya semakin kuat hingga terlihat kuku menusuk kulit lengannya.
"Tidak" tegas aku mengatakannya tanpa keraguan sedikitpun, seketika aku melihat Naomi terkejut mendengar penolakan ku.
"Apa maksudmu dengan tidak?!" agak emosi Naomi bertanya padaku
__ADS_1
Aku melepaskan tanganku dari kepala Naomi yang sedari tadi membelai lembut rambutnya, aku sedikit bergeser dari dudukku agar aku bisa bersandar bersebelahan dengan Naomi pada dipan kasur. Aku arahkan sorot mataku menatap langit - langit kamar dan aku memutar kembali memoriku ketika aku dengan egoisnya meminta Selena untuk berjanji padaku agar dia menjadi kekasih kak Jester. Kini aku merasakan tekanan yang dirasakan Selena ketika itu, aku kembali menghela nafasku yang terasa begitu berat.
"Kak Jester tidak mencintaiku, dia hanya mencintaimu dan jika kamu memintaku kembali padanya... apa menurutmu dia akan bahagia?" tanyaku
Sebuah pertanyaannya yang sebenarnya bukan aku tujukan pada Naomi, pertanyaan itu sebenarnya aku tujukan pada diriku sendiri. Sebelum ini... aku tidak menyadari seberapa buruknya pilihanku yang melibatkan Selena dan kak Jester, hanya ada perasaan sesal yang menghantuiku hingga pada akhirnya aku kembali kesini untuk menyelesaikan semua penyesalanku. Tapi aku seakan mendapatkan karma itu dari Naomi, dimana Naomi adalah aku dan aku adalah Selena.
Aku tidak ingin Naomi melakukan hal yang sama denganku sampai membuatnya merasakan penyesalan dan juga rasa bersalah yang sama sepertiku, aku harus hentikan dia mengambil keputusan yang sama sepertiku bagaimanapun caranya. Karena aku tahu, hanya akan ada penyesalan dikemudian hari jika Naomi tetap memilih jalan yang pernah aku pilih.
"Apa kak Jester sudah tahu tentang keadaanmu?" tanyaku sembari mengalihkan pandanganku untuk menatap matanya, Naomi hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali tanpa dengan raut wajah terkejut menatapku.
Aku tahu dia mungkin kaget aku tahu tentang rahasia yang coba Naomi sembunyikan seumur hidupnya, mungkin pada akhirnya dia menyadari jika aku mengetahui semua itu dari Selena. Ekspresi wajah terkejutnya berangsur menghilang, kini dia menatapku dengan sorot mata kesedihan.
"Apa katanya setelah tahu?" tanyaku penasaran
"Dia ingin pernikahan ini tetap berlanjut..." jawab Naomi penuh keraguan
"Aib ku tidak akan selamanya bisa Jester redam, entah kapan Daniel akan kembali melakukan hal bodoh seperti ini... jika aib ini terbongkar, aku akan merusak nama baik keluarga Gates..." jawab Naomi terbata, sejenak kami kembali terdiam sampai suara helaan nafas Naomi terdengar.
"Keluarga besar Gates adalah keluarga terhormat di negara ini, aku mendengar dari ayahku kalau dulu papa Jester rela keluar dari keluarga besar karena ayahku dihina oleh kakek Jester dan demi membalas perbuatan mereka, papa Jester dan ayahku bekerjasama membangun jaringan hotel dan rumah sakit menggunakan nama keluarga yang sebenarnya sama sekali bukan bidang bisnis dari keluarga besar Gates dan Scott" ucap Naomi menjelaskan tentang kondisi dua keluarga besar mereka, aku kurang paham dengan apa yang dikatakan Naomi tapi setidaknya aku paham seberapa inginnya Naomi menjaga nama baik dua keluarga besar ini.
"Balas dendam dengan gaya ya, membuktikan diri bahwa tanpa warisan keluarga besar namun tetap bisa bangkit dan kaya raya" timpal ku dengan suara tawa kecil yang menyertainya, tapi Naomi tidak merespon tawaku yang berusaha untuk memancing tawanya.
"Aku mengerti, kalau aib mu itu terbongkar maka usaha tuan William menjaga nama baik akan tercoreng di mata keluarga besar Gates. Lalu apa kamu sudah katakan hal ini juga pada kak Jester?" tanyaku penasaran, aku ingin tahu apa kak Jester sempat untuk memikirkan tentang hal berat ini.
__ADS_1
Setahuku... kak Jester bukanlah tipe orang yang peduli tentang hal - hal seperti ini, dia hidup dengan bebas seperti yang dia inginkan tanpa mau terkekang oleh apapun. Setidaknya itu yang pernah aku rasakan ketika aku dekat dengannya dan juga bagaimana ketika aku melihat kedekatan dari kak Jester dengan tuan William dan juga nyonya Marrie, mereka keluarga kaya yang cukup aneh bagiku. Karena selain keluarga Parker, satu - satunya keluarga kaya yang aku berani dekat dengannya hanyalah keluarga Gates.
"Dia mengatakan tidak peduli, tapi dia tidak mewakili suara keluarga besar... aku tidak yakin apakah dia paham dengan beban ini atau tidak, karena dia kadang bersikap bodoh" ucap Naomi dan tertawa lah aku mendengar perkataannya, sesuai dengan dugaanku kalau Naomi akan berpikiran yang sama sepertiku tentang kak Jester.
"Entah karena aku kenal kak Jester atau memang begitulah sifat kak Jester, aku rasa dia benar - benar tidak memahami apa yang sedang dia hadapi sebenarnya" timpal ku lalu aku tertawa untuk beberapa saat, Naomi perlahan kembali menyandarkan kepalanya di tangan yang sedang memeluk kedua kakinya itu.
"Tapi... kak Jester tetaplah kak Jester, meski dia tidak paham tapi aku yakin saat ketakutanmu terjadi maka kak Jester akan tetap berada di sisimu dan melindungi mu sekuat tenaga. Karena kak Jester sangat mencintaimu, dia akan melindungi mu apapun yang terjadi, bukankah selama ini kamu sudah merasakannya?" tegas aku mengatakannya pada Naomi
Mungkin ketika itu omonganku berhasil menyadarkannya, entah apa yang sudah pernah kak Jester lakukan pada Naomi yang membuat kata - kataku mengena pada hatinya. Kepala yang semula Naomi sandarkan pada tangan, kini perlahan terangkat dengan sorot mata yang nampak tersadar akan sesuatu. Aku tersenyum melihat sorot matanya itu, seketika aku berpikir jika ini adalah langkah awal yang tepat agar Naomi tidak terjerumus pada lubang yang sama denganku.
"Apa kamu masih meragukan kak Jester akan selalu berada di sisimu? Naomi... siapa yang kamu ingat ketika kamu ketakutan, kesepian, sedih dan butuh pertolongan? nama siapa yang kamu teriakkan saat kamu merasa terpojok?" agak menekan aku saat mengatakannya, perlahan Naomi semakin mendongakkan kepalanya seiring dengan semua pertanyaanku padanya.
"Jester... aku selalu membayangkan dia setiap aku terlibat dalam masalah karena kebodohanku..." jawab Naomi terbata
"Kamu boleh tetap keras kepala memintaku untuk kembali pada kak Jester, tapi hati kecilmu akan selalu menolak permintaan egoismu itu dan hati kecil itu akan terus memberontak untuk melakukannya... Naomi, siapa yang kamu inginkan sebenarnya untuk menjadi pendamping kak Jester?" aku kembali menekan dirinya agar dia tidak ragu - ragu dengan perkataannya sendiri, Naomi tersentak ketika aku semakin menekannya.
Perlahan tapi aku bisa membaca apa yang yang coba Naomi ucapkan dari gerak bibirnya yang gemetaran itu, "Luna" aku melihat Naomi mencoba mengatakan itu dari gerak bibirnya untuk menjawab pertanyaanku. "Tidak, kamu tidak boleh katakan itu, Naomi!" ucapku dalam hati begitu geram melihatnya penuh rasa ragu, tapi itu seperti mempertegas bahwa aku memang membenci diriku sendiri.... bukankah begitu? Naomi benar - benar refleksi dari diriku yang dulu kan? :)
"Siapa?!" tanyaku dengan suara yang lebih lembut sembari menepuk pundaknya
"Lu.." belum selesai Naomi menjawab, aku memotongnya
"Siapa?!!" tanyaku dengan sedikit bentakan, aku semakin geram padanya karena dia masih saja tidak jujur pada hatinya sendiri
__ADS_1
"Aku!! aku... aku ingin mendampinginya... aku sangat ingin mendampinginya... Luna... tolong aku!!!" jawabnya dan seketika itu tangisannya pecah, air matanya berlinang deras membasahi wajah. Tidak terasa aku pun meneteskan air mataku, aku berhasil... aku berhasil membuatnya tidak jatuh ke lubang yang sama denganku...
Bolehkan aku berbangga akan hasil ini? aku berhasil merubahnya... aku berhasil... membuatnya tidak sepertiku... aku.. bangga... pada diriku untuk pertama kalinya... dalam hidupku... :)