Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 16


__ADS_3

Aku tertidur dimalam hari dengan semua pemikiranku tentang Selena dan Manda, malam itu aku bermimpi tentang Selena yang menangis begitu sedihnya. Selena berdiri entah dimana dan matanya menatap seorang pria yang tepat berdiri dihadapannya, air matanya begitu deras mengalir membasahi pipi dan menetes deras membasahi tanah. Aku berlari mendekatinya untuk menenangkan tangisan Selena, namun tiba - tiba Selena menoleh menatapku lalu berkata...


"Semua karena mu!!!" bentaknya padaku


Aku terbangun dari tidurku dengan kaget, nafasku terengah - engah dan sangat tidak beraturan. Seketika itu aku ingin menghubungi Selena untuk menanyakan kabarnya, aku pun beranjak dari kasur dan mengambil kotak kenanganku dibawah kasur. Didalam kotak itu aku melihat buku diary, seragam sekolahku, baju yang aku pakai ketika kencan pertamaku bersama pangeranku, foto - fotoku bersama kak Jester, kak Luke, kak Harry, kak Justin dan juga Selena, dan sebuah handphone yang diberikan Selena padaku dihari ulang tahun kami.


Aku menekan tombol power untuk menghidupkannya, namun handphone ini sudah kehabisan dayanya. Aku segera membongkar isi kotak kenanganku dan mencari charger handphoneku, begitu ketemu aku langsung menancapkannya di stop kontak terdekat dan menunggunya menyala. Tidak lama layar handphone itu pun menyala, aku menunggu prosesnya sampai handphone itu benar - benar dapat di operasikan.


Ketika itu aku langsung dapat melihat wajah Selena yang menjadi wallpaper handphoneku, aku teringat tentang ulang tahun kami yang kami rayakan bersama - sama. Aku merasakan air mataku kini menggenang di kantung mataku ketika mengingat tentang semua kenanganku bersama Selena, aku menyeka air mata itu lalu segera melakukan panggilan kepada Selena. Namun sayang... handphoneku sudah kehilangan sinyalnya, aku harus membeli nomor baru agar dapat menghubungi Selena.


"Ya ampun... kenapa harus sekarang" gumamku


Aku keluar dari kamar untuk mencari ayah dan meminta solusinya, namun sayang aku tidak dapat menemukan ayah. Ketika melihat garasi dan tidak mendapati mobil disana, aku tahu jika ayah sedang ke kota. Hanya ada ibu yang terlihat sibuk di kebun kami, aku pun berjalan mendekati ibu lalu berkata...


"Ibu... aku ingin ke kota..." pintaku padanya, seketika itu ibu terkejut dan menatapku.


"Hah?! kenapa kamu ingin ke kota?!" tanya ibuku panik


"Aku... ingin bertemu Selena..." jawabku terbata


"Kenapa sama nona muda Parker?! apa dia sakit? atau dia mengalami hal malang?!" tanya ibu padaku dengan nada yang masih panik


"Engga bu, aku cuma... khawatir kepadanya karena janji yang aku ikat paksa padanya..." jawabku, ibu pun bernafas lega saat mendengar jawabanku.


"Ooh.. ibu kira apa, tentu saja boleh. Apa sih yang engga buat putri cantik ibu ini? nanti bilang sama ayah ya" ucap ibu sembari mengelus kepalaku dengan lembut, aku tersenyum menatap wajah ibu yang begitu tulus mencintaiku.


Tidak lama aku mendengar seseorang menyebut namaku dari kejauhan, serentak aku dan ibu menoleh menatap sumber suara. Diujung jalan depan pekarangan, aku melihat Peter melambaikan tangan dari dalam mobil. Peter mengarahkan mobilnya untuk masuk kedalam pekarangan rumahku, setelah parkir sempurna saat itu Peter langsung turun dan berjalan mendekatiku dan ibu.

__ADS_1


Peter mengatakan pada ibu jika dia ingin mengajakku keliling desa, aku sempat menolaknya namun ibu malah mendukung ide Peter dan mengatakan jika itu bagus untukku agar lebih mengenal desa ini lebih baik lagi. Aku yang seakan tidak punya pilihan lagi untuk menolak akhirnya meminta Peter agar menungguku bersiap, aku katakan saja jika aku baru bangun tidur dan butuh waktu lama agar aku siap. Namun hanya suara tawa dari ibu dan Peter yang aku terima, sepertinya anak gadis yang bangun siang tidak berpengaruh apapun dimata Peter.


Tiga puluh menit aku habiskan untuk bersiap termasuk sarapan dan meminum obat - obatan ku, aku dan Peter berpamitan pada ibu lalu Peter mengatakan pada ibu untuk mengajakku ke pantai yang hanya penduduk desa asli yang mengetahui cara sampai ke pantai itu. Peter berjanji untuk pulang sebelum senja, ibu pun mengizinkan kami pergi berdua.


Lima belas menit berlalu untuk kami sampai di pantai yang disebutkan oleh Peter, sebuah pantai yang sangat indah dengan pasir yang begitu putih, ombak yang sangat tenang, dan juga airnya begitu jernih berwarna kebiruan sampai aku dapat melihat pasir didasar air pantai yang begitu jernih itu.


Mungkin mataku terlalu berbinar saat itu sampai mengundang gelak tawa dari Peter, dia mengajakku untuk turun dan menikmati pantai itu. Tanpa pikir panjang aku pun segera turun dan berjalan mendekati pantai, aku melepaskan kedua sandal yang aku kenakan hari itu lalu membiarkan kaki ini bersentuhan langsung dengan lembutnya pasir putih.


Aku terus berjalan hingga mendekati bibir pantai lalu membiarkan deburan ombak membasahi kedua kakiku, hembusan angin sepoi - sepoi khas pantai menabrak tubuhku begitu saja. Dari belakang aku mendengar suara tawa Peter, aku merasakan dia berjalan terus mendekatiku lalu berhenti tepat di sebelahku. Kami bersama - sama menatap garis terjauh pantai dan menikmati pemandangan indah itu bersama - sama, senyumku begitu merekah saat itu.


"Bagaimana? indahkan? kamu tidak akan pernah menyesal pernah kesini" celetuk Peter memecah keheningan diantara kami.


"Yaah... ini salah satu pantai terindah yang pernah aku datangi, terima kasih sudah mengajakku kemari" jawabku


"Apa yang... Manda katakan padamu?" tanya Peter tiba - tiba dengan nada yang begitu serius, aku tersentak mendengar pertanyaannya dan terdiam sejenak.


"Aku... bilang tidak bisa menerima cintanya karena... aku menganggapnya sebagai teman..." jawab Peter terbata, aku menghembuskan nafasku dengan keras agar Peter paham jika aku tidak ingin mendengarkan sebuah kebohongan darinya.


Mungkin saat itu Peter sangat paham jika aku tidak suka dengan jawabannya, Peter membuang muka untuk menghindari bertatapan mata denganku. Lalu aku melihatnya berpikir keras sampai harus menghela nafas, tapi aku biarkan saja dia melakukan apapun asal dia dapat berkata dengan jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi diantara Peter dan Manda.


"Aku menolaknya karena aku tidak mencintainya, bagaimana mungkin aku bisa berpacaran dengan orang yang tidak aku cintai?" ucap Peter padaku, seketika itu aku tersentak


Aku bukan tersentak karena jawaban Peter saat itu, tapi karena.... aku membayangkan jika yang mengucapkan kata itu adalah... kak Jester, aku yang memaksa Selena untuk mencintai kak Jester namun aku lupa bagaimana jika kak Jester tidak dapat mencintai Selena? apa karena itu Selena menangis didalam mimpiku?


"Kamu bisa mengusahakannya kan?! beri waktu Manda untuk membuktikan cintanya padamu, di satu titik kamu akan terbiasa menerima cintanya!!" bentak ku padanya


Peter menatapku dengan wajah herannya, mungkin karena aku yang begitu terkesan memaksa agar Peter menerima cinta Manda. Tapi bagiku... aku seakan sedang menghadapi kak Jester yang menolak cinta Selena kepadanya, aku benar - benar melihat bayang - bayang kak Jester pada Peter. Menyadari aku sedang berhalusinasi, aku pun membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengan Peter.

__ADS_1


"Lunar? kenapa kamu... terkesan begitu memaksaku?" tanya Peter padaku, aku terkejut dan berusaha mencari alasan yang mungkin cukup masuk akal.


"Aaa... yaa... karena... Manda terlihat sangat mencintai mu, dia curhat padaku dan mengatakan dia sudah merubah semua hal agar bisa membuatmu jatuh cinta padanya" jawabku dengan nada panik, kebodohanku terjadi lagi... aku seharusnya tahu jika aku tidak pandai dalam hal berbohong, Peter langsung tertawa mendengar alasanku itu.


"Lunar, aku tahu kamu bohong. Apa kamu mengingat sesuatu yang sama dengan apa yang aku dan Manda alami?" tanya Peter padaku dengan suara tawa yang terdengar di setiap kalimatnya


"Ti... tidak! gak ada kebohongan!! aku hanya memikirkan Manda!!" bentak ku padanya, Peter tiba - tiba menarik bahuku agar aku tidak terus menghindari untuk bertatapan mata dengannya.


"Lunar, kamu boleh katakan apa yang sedang mengganggu pikiranmu sekarang. Aku ingin dengar apa alasanmu terlihat begitu memaksaku untuk menerima cinta Manda, mungkin itu akan merubah pikiranku tentang Manda" ucapnya memaksaku, aku hanya bisa terdiam menatap mata Peter.


"Kamu pernah bilang kalau kamu mencampakkan pria yang kamu cintai dan dia terlalu tinggi jika dibandingkan denganku, apa yang terjadi? kenapa kamu mencampakkan pria itu?" tanya Peter lagi memaksaku untuk bicara, tidak terasa air mataku menetes ketika itu.


Melihatku menangis dengan tiba - tiba seperti itu membuat Peter panik lalu melepaskan tangannya dari bahuku, aku menutup wajah dengan kedua tanganku lalu menunduk. "Jangan menangis... jangan menangis Luna..." ucapku dalam hati agar aku bisa lebih tenang, suasana canggung begitu terasa seketika itu.


Kami memutuskan untuk duduk di pasir tepat dibawah sebuah pohon kelapa yang begitu rimbun, kami masih terdiam dengan waktu yang cukup lama sembari menikmati pemandangan indah pantai disiang hari. Aku juga tidak tahu harus mencairkan suasana canggung itu dengan cara apa, sangat aneh memang ketika kita menangis dihadapan orang yang tidak kita kenal dengan baik.


"Maaf kalau aku tadi... bertanya hal yang sensitif untukmu..." celetuk Peter memecahkan keheningan diantara kami, aku menghela nafas dan berusaha untuk terus membuat hatiku terasa lebih tenang.


"Aku yang minta maaf... aku tiba - tiba menangis, aku yakin kamu pasti panik..." timpal ku dengan sedikit suara tawa


"Jangan dipikirkan, itu semua karena aku memaksamu buat..." belum selesai Peter berkata, aku memotongnya.


"Namanya Jester Gates, seorang pria yang hadir dalam mimpiku dan bertemu di dunia nyata secara mengejutkan. Dia pria yang menjadi cinta pertamaku dan aku pun cinta pertama untuknya, sebuah kisah cinta yang seharusnya berakhir dengan sempurna dan bahagia" timpal ku, perlahan aku menatap wajah Peter yang termenung menatapku.


"Tapi takdir begitu jahat padaku, aku harus berpisah darinya karena kemalangan yang menimpaku" ucapku meneruskan kalimatku sebelumnya


"Kemalangan?" tanya Peter kepadaku, aku tersenyum padanya dan aku katakan..

__ADS_1


"Aku gadis penderita leukimia..." jawabku


__ADS_2