
Malam itu aku tertidur karena pengaruh obat yang aku konsumsi sebelumnya. Aku hanya mengingat Selena memapah ku sampai kamar lalu merebahkan tubuh ringkih ini di kasur bersebelahan dengan Naomi yang sudah lebih dulu tertidur, lalu... semua menjadi gelap, entah aku benar - benar tertidur atau malah sebenarnya aku pingsan malam itu. Ketika pagi menjelang, aku tersentak lalu aku dapati matahari sudah terbit dan cahayanya menembus melewati celah gorden yang menutupi kaca jendela kamar.
Sepertinya semua baik - baik saja, Selena masih terlihat pulas disebelah kiriku dan Naomi juga masih terlihat tidak bergerak sedikitpun meski aku bergerak cukup keras karena kaget. Aku menghela nafasku sejenak lalu secara tiba - tiba Selena pun terbangun dan langsung terduduk menatapku dengan wajah kagetnya itu, wajahnya terlihat lucu karena salah satu matanya terlihat sulit untuk terbuka kala itu.
"Ada apa?" tanyaku sembari tertawa kecil
"Hah... hah... aku mimpi buruk, duuh..." jawab Selena lalu kembali merebahkan tubuhnya di kasur
"Mimpi apa?" tanyaku lagi
"Lupakan, pokoknya aku kesal padamu tahu!" jawabnya terdengar emosi, aku kembali tertawa kecil mendengar jawabannya
"Ayo siap - siap" ajak ku karena aku memiliki jadwal untuk bertemu dokter Richard sebelum dia berangkat untuk bekerja
Tanpa berkata apapun saat itu Selena langsung beranjak dari kasur lalu segera berjalan keluar dari kamar, begitu pula denganku yang berjalan dibelakangnya. Diluar kamar aku melihat ruang keluarga masih tertutup, sepertinya kak Jester juga belum bangun. Akhirnya pagi yang tenang pun aku rasakan, tidak seperti biasanya dimana aku, Selena, Naomi dan kak Jester akan berebut kamar mandi saat pagi menjelang seperti ini. Sepertinya rumah ini memang dirancang untuk dihuni oleh dua orang, itu kenapa kamar mandinya hanya satu.
Dua puluh menit aku habiskan waktuku untuk bersiap - siap, begitu pula dengan kak Jester yang terlihat baru bangun dari tidurnya dan berjalan hendak ke dalam kamar mandi. Kami saling sapa ketika aku dan Selena berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, semua berjalan baik sampai ketika sarapan sudah siap namun Naomi tidak juga kunjung bangun. Dengan rasa khawatir saat itu aku, Selena dan kak Jester pun masuk kedalam kamar untuk membangunkan Naomi, kekhawatiran kami pun terjawab ketika itu. Naomi jatuh sakit...
"Kamu sakit?" tanya kak Jester pada Naomi, dengan tangan kak Jester mencoba untuk memeriksa suhu tubuh Naomi.
"Aku cuma gak enak badan kok, kalian kuliah lah... aku baik - baik aja" jawab Naomi
"Aku ada kuis hari ini, jadi gak bisa nemenin Naomi. Kalian gimana?" tanya kak Jester sembari menatapku dan Selena bergantian, aku dan Selena sempat saling menatap tanpa kata sebelum menjawab pertanyaan kak Jester.
Dari raut wajah kak Jester aku bisa melihat dia begitu khawatir dengan kondisi Naomi, tapi kuliahnya memang tidak bisa dia tinggalkan. Aku juga kaget dengan kondisinya yang tidak enak badan karena sepertinya dia baik - baik saja sebelumnya. Entahlah... aku pun kemarin tertidur pulas akibat pengaruh obat.
"Aku juga ada kuis, Luna yang mahasiswa baru juga gak mungkin bolos" jawab Selena, lalu kami bersama - sama mengalihkan pandangan untuk menatap kak Jester.
"Aku beneran baik - baik aja Jess, jangan khawatir berlebihan. Dirumah juga aku bisa istirahat" timpal Naomi berusaha meyakinkan kak Jester, aku mendengar kak Jester menghela nafasnya.
"Ya udah deh, kalian mau berangkat bareng aku?" tanya kak Jester kepadaku dan Selena, kami serentak menggelengkan kepala untuk menolak tawaran kak Jester.
"Emm.. aku sama Selena ada urusan selepas kuliah" jawabku
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" tanya kak Jester penasaran, aku bingung untuk mencari alasan dan pada akhirnya aku hanya bisa menatap Selena sambil berharap dia punya alasan bagus untuk menutupi kebohongan kami.
"Eemm anu kak... bertemu dengan teman lama..." timpal ku sembari memberi gestur mata pada Selena agar dia segera menimpali kebohonganku, beruntung sekali sahabatku yang satu itu sangat peka dengan kode yang aku berikan.
"Beberapa teman SMA kami yang tahu Luna ada disini meminta Luna untuk menemui mereka, Luna akan pergi dari negara ini jadi mereka memaksa buat bertemu" ucap Selena untuk menimpali kebohonganku
"Ya udah kalau gitu, aku berangkat duluan ya. Naomi kamu istirahat aja, kalau ada apa - apa kamu harus segera meneleponku" ucap kak Jester lalu mengecup kening Naomi yang masih terbaring di kasur itu, tidak lama setelahnya kak Jester langsung berjalan meninggalkan kamar.
Saat itu aku melihat Selena dengan raut wajah cemburunya, sepertinya Selena masih sulit untuk menghilangkan perasaannya untuk kak Jester. Tapi Naomi lah yang lebih baik untuk kak Jester menurutku, suatu saat nanti aku berharap selena bisa merelakan cintanya itu untuk kak Jester kepada Naomi.
"Kalian berdua hati - hati ya" celetuk Naomi ketika aku dan Selena hendak keluar dari kamar
"Kamu juga cepat sehat ya, sayonara~" timpal ku dengan sedikit tawa kecil
"Kita masih akan bertemu kembali, sayonara bukan kata yang tepat untuk kita" ucap Naomi dengan sedikit suara tawa, aku tertawa karena merasa bodoh saat itu.
"Oh iya? trus apa donk?" tanyaku
"Ittekimasu lebih tepat, sayonara itu selamat tinggal untuk waktu yang lama atau bahkan tidak akan bertemu lagi" jawab Naomi menjelaskan arti kata perpisahan yang ternyata berbeda arti itu
"Baiklah... ittekimasu, Naomi~" ucapku sembari melambaikan tangan, Naomi pun melepas kepergian kami dengan lambaian tangan juga.
Di lorong utama rumah menuju ke pintu keluar, aku dan Selena berjalan berdampingan dalam diam. Akhir - akhir ini Selena semakin sering tidak dapat mengendalikan emosinya, dia lebih sering terdiam dan selalu menatapku dengan wajah sedih. Mungkin karena waktu yang ditetapkan dokter untukku sudah semakin dekat yang artinya kami akan segera berpisah, atau mungkin karena sikapku yang akhir - akhir ini mungkin terlihat semakin siap dengan semua skenario terburuk dalam hidupku. Entahlah...
"Teman lama ya..." celetuk Selena memecah keheningan diantara kami, suaranya terdengar begitu sedih.
"Yah memang bukan teman, tapi aku sering menemuinya untuk jangka waktu yang lama... anggap saja sebagai teman~" timpal ku dengan sedikit suara tawa
"Kamu hanya terpaksa harus terus bertemu dengannya" timpal Selena semakin sedih, aku hanya tertawa menanggapi perkataannya.
Saat ini hanya respon tawa yang bisa aku berikan untuk Selena, aku sendiri bahkan sedih dengan kondisiku saat ini. Aku berharap respon yang aku berikan kepada Selena mampu membuatnya berfikir aku sudah pasrah dan siap dengan kondisi yang aku jalani saat ini. Tawa dalam tangis memang, tapi aku rasa itu lebih baik daripada tidak kunjung selesai meratapi nasib dan berlari dari kenyataan seperti yang dulu sudah aku lakukan.
Karena siap ataupun tidak, waktu itu akan segera datang menjemput ku untuk selamanya bukan? Fokusku saat ini hanya menyelesaikan misi yang tersisa, semangat Luna sebentar lagi semua pasti tercapai :):):)
__ADS_1
Aku dan Selena pun pergi dari rumah kak Jester dan Naomi menggunakan mobil milik Selena, tujuan kami sudah jelas... ke rumah dokter Richard untuk memeriksakan kesehatanku walau aku tahu tidak ada yang akan membaik, malah justru sebaliknya.
Ditengah perjalanan, aku menceritakan kejadian semalam ketika kami sedang beres - beres. Ketika itu Naomi tiba - tiba memintaku untuk kembali pada kak Jester, aku ingin mendiskusikan hal itu dengan Selena karena aku tidak bisa mengetahui apa yang dipikirkan Naomi malam itu. Namun bukannya sebuah jawaban, Selena malah berkata...
"Naomi menyuruhmu kembali pada Jester?!!" tanya Selena dengan nada terkejut
"Iya benar, dia tiba - tiba mengatakan seperti itu setelah membuka pesan di handphonenya" jawabku mencoba meyakinkan Selena jika aku tidak sedang mengarang cerita, Selena mengernyitkan dahinya dan terdiam sejenak.
"Daniel pasti, dia itu emang ngeselin. Entah cara apa kali ini yang dia lakukan" celetuk Selena dengan begitu yakin jika memang pria bernama Daniel lah yang membuat Naomi berkata seperti itu semalam
"Aku ingin membantu, tapi sepertinya Naomi ingin menyelesaikan semuanya sendiri. Selena~ cari cara donk" pintaku padanya dengan paksaan, Selena saat itu menatapku dengan wajah kesal.
Kami terdiam beberapa saat dan sepertinya Selena benar - benar sedang memikirkan cara agar dapat mengetahui pesan apa yang Naomi baca sampai membuatnya ingin aku kembali pada kak Jester, setelah agak lama kami terdiam tiba - tiba Selena menoleh menatapku ketika kami terjebak sedikit kemacetan lalu lintas pagi itu.
"Hmm... aku tidak tahu Daniel mengirimi pesan dari aplikasi apa, tapi jika kita beruntung maka Daniel mengirim lewat aplikasi Ingram" celetuk Selena, aku pun memiringkan kepalaku tanda aku tidak mengerti apa yang Selena katakan.
"Kenapa kalau lewat aplikasi Ingram?" tanyaku penasaran.
"Aku tahu password akun Ingram Naomi, aku pernah jadi adminnya" jawab Selena tanpa beban, aku pun mengerti lalu aku berharap antara Naomi dan pria bernama Daniel ini berhubungan lewat Ingram agar aku tahu apa yang membuat Naomi seperti itu.
"Bagus!! Sekarang buka, aku ingin tahu yang Naomi baca dari handphone miliknya!!" dengan antusias aku meminta Selena untuk membukakan akun Ingram Naomi dari handphone miliknya yang aku ambil begitu saja dari dalam tas yang Selena letakkan di dekatku.
"Hei! itu handphone milikku!!" bentak Selena, tapi aku tidak punya waktu lagi untuk menanggapi kekesalannya. Aku segera operasikan handphone itu untuk membuka akun Ingram Naomi, ketika aku harus mengetik id akun dan password aku langsung kembalikan handphone itu pada Selena yang masih sibuk menyetir.
"Email dan password nya apa?!" tanyaku padanya, Selena menepis tanganku pelan sembari menghela nafasnya.
"Ada di aplikasi catatan, disana ada email dan password akun Ingram Naomi" jawab Selena
Aku segera membuka apa yang Selena katakan, disana aku mendapatkan alamat email dan juga password nya sesuai apa yang Selena katakan. Aku segera mengkopi lalu menempelkan id dan password akun Naomi pada aplikasi Ingram dan terbukalah akun Ingram milik Naomi dari handphone Selena. Disana aku melihat ratusan notifikasi... tidak tidak, maksudku ribuan notifikasi baik pesan, pemberitahuan, dan lain - lain.
Tapi tujuanku terletak pada pesan pribadi diakun tersebut, tanpa pikir panjang aku segera menekan tanda pesan lalu mencoba mencari pesan dari akun yang bernama Daniel. Scroll... Scroll... Scroll... dan aku pusing bukan main~
"Akun selebgram memang beda" celetukku dengan helaan nafas, Selena menertawakan ku karena aku tiba - tiba putus asa dan tidak bersemangat seperti sebelumnya.
__ADS_1
Entah sudah ke berapa kalinya aku scroll layar handphone itu, tapi seperti kata pepatah kalau usaha tidak akan mengkhianati hasil pada akhirnya aku menemukan sebuah akun dengan pesan yang sudah terbuka tidak seperti pesan - pesan lainnya. Aku menekan akun itu dan terbukalah semua percakapan antara Naomi dan Daniel, aku terkejut melihat apa yang Daniel kirimkan pada Naomi.