
Entah apa yang sedang dibicarakan antara kak Jester dengan Naomi ketika aku dan Selena menunggunya di ruang makan, cukup lama aku menunggu mereka selesai bicara. Sampai akhirnya setelah beberapa menit berlalu, Naomi membuka pintu itu dan mengintip kami dari celah pintu yang terbuka. Aku pikir kita yang akan menemui kak Jester di ruangan sebelah, tapi ternyata Naomi membawa kak Jester menemui kami di ruang makan itu.
Saat itu aku duduk disalah satu dari empat kursi meja makan yang ada disana bersebelahan dengan Selena, kami dapat langsung menatap kak Jester dan Naomi yang masuk kedalam ruangan itu. Tatapan mata kak Jester tertuju padaku, aku pun menatap matanya dan berusaha untuk mengatakan jika aku Luna yang kamu kenal dulu dan bukan ketika kamu menembak ku.
"Pagi kak" sapaku padanya
Aku berusaha untuk mencairkan suasana canggung ini dengan menyapanya lebih dulu, tapi yang terjadi malah kak Jester menundukkan pandangannya dan tetap diam tanpa kata. Langkahnya terlihat berat mendekati meja makan dan dia duduk tepat di hadapanku, sorot matanya masih tertunduk seakan dia benar - benar menganggap ku wanita menjijikkan yang tidak pantas untuk dilihat.
Tidak lama Naomi pun duduk disebelah kak Jester bertatapan dengan Selena, aku melihatnya saling bermain mata dengan Selena tanpa kata. Tapi aku tahu apa yang diinginkan oleh Naomi ketika kami hanya terdiam, dia ingin seseorang dari kami untuk memulai obrolan.
"Maaf, aku bingung harus mulai darimana. Aku yang bertamu tapi malah kesulitan untuk berbicara" celetukku memecah keheningan di ruangan ini, suasananya begitu canggung dan membuatku semakin tidak tahu apa yang harus aku katakan didepan mereka.
"Kamu... katakan saja alasanmu, aku akan menerima apapun yang kamu katakan dan kamu segera pergi jauh - jauh dari hidupku" timpal kak Jester, suaranya terdengar bergetar dan sedih.
"Kak, jangan keras seperti itu padanya. Dengarkan dulu alasannya dan terima dia ada di sisimu la.." belum selesai Selena berkata, kak Jester memotong.
"Terima dia di sisiku? tidak ada tempat lagi untuknya, aku sudah punya Naomi di sisiku!!" timpal kak Jester dengan bentakan dan tangannya menggebrak meja dihadapan kami, ketika itu aku melihat Naomi mengelus punggung kak Jester untuk menenangkannya sembari berkata....
"Aku juga tidak akan membiarkanmu berada disisinya" timpal Naomi terdengar kesal mendengar apa yang Selena katakan, aku pun tersenyum mendengar perkataan Naomi.
"Tidak, bukan seperti itu. Kalian salah menangkap apa yang ingin disampaikan Selena" ucapku setenang mungkin agar tidak kembali mematik emosi mereka
Aku menepuk pundak Selena yang sudah terlihat emosi karena sikap kak Jester kepadaku, perlahan kepala Selena menoleh menatapku dan aku tersenyum padanya. Tatapan matanya terlihat sedih, aku tahu dia sangat mengkhawatirkan keadaanku.
"Selena, ini adalah tugasku. Aku tahu kamu ingin membantu, tapi semakin banyak orang yang ikut campur maka akan semakin banyak juga kekacauan yang akan timbul. Serahkan padaku sampai disini, oke?" pintaku padanya, Selena pun membuang muka ketika aku mengatakannya.
Mungkin baginya semua yang akan aku lakukan hanyalah hal yang sia - sia karena penolakan kak Jester begitu kental terasa, tapi dia tidak bisa menyampaikan karena keinginan kerasku untuk tetap menuntaskan semua impian terakhirku. Yang aku bisa lakukan disaat ini untuk Selena adalah... meyakinkan dirinya jika aku baik - baik saja apapun yang akan terjadi, dia hanya perlu menahan semua perasaannya ketika melihat kak Jester bersikap kasar padaku.
Setelah memastikan Selena paham atas apa yang aku inginkan darinya, aku kembali menatap kak Jester dan Naomi. Aku pun tersenyum pada mereka, lalu aku mengatakan...
"Aku hanya punya waktu satu bulan lagi sebelum aku akan pergi jauh dan tidak akan pernah bisa bertemu dengan kalian lagi" ucapku dengan helaan nafas
"Bagus, pergilah sekarang juga dan jangan kembali lagi" timpal kak Jester dan bersamaan dengan itu, Selena menggebrak meja seraya berkata...
"Kak! kamu..." ucapan Selena ketika itu langsung aku potong dengan tepukan ringan di punggungnya dan aku menimpali dengan...
"Sayangnya jadwal keberangkatanku sudah ditentukan kak, jadi maaf aku tidak bisa segera pergi" timpal ku, aku sedikit kecewa dengan respon kak Jester tapi aku tidak bisa protes ataupun marah karena dia bersikap seperti itu juga karena ku.
"Kamu mau kemana?" tanya Naomi penasaran, aku mengalihkan pandanganku menatap Naomi.
__ADS_1
"Aku akan pergi jauh keluar negeri dan menetap disana selamanya" jawabku setenang mungkin
"Kamu masih bisa kembali kan, lagian penerbangan kemana pun lancar tanpa hambatan" timpal Naomi dengan sedikit ejekan kepadaku, aku tertawa menanggapi ejekannya kepadaku.
Apa yang dikatakan Naomi benar, aku tahu alasanku tidak masuk akal bagi mereka. Tapi ada satu hal yang tidak mereka ketahui, seandainya pun memang aku tidak meninggal dan hanya akan pindah... maka harga tiket pesawat bagi keluargaku bukanlah sesuatu yang murah. Baik kak Jester maupun Naomi adalah anak dari keluarga orang kaya, tentu saja mereka akan menganggap alasanku sebagai bentuk kekonyolan. Jadi saat itu aku menanggapi ejekan Naomi dengan...
"Naomi, aku ini dari keluarga yang tidak kaya. Tiket pesawat terasa mahal untukku dan lagi saat kami pindah maka konsekuensinya adalah aku akan kehilangan kewarganegaraan ku, setiap kembali kesini aku membutuhkan paspor dan juga visa" ucapku terdengar setenang mungkin dan tidak ingin terpancing ejekan Naomi kepadaku, saat itu Naomi pun terdiam menatapku datar.
"Luka itu sangat dalam, aku menyadari betapa jahatnya aku saat itu padamu. Aku sangat menyesalinya dan sekarang aku cuma ingin menyembuhkan luka itu" ucapku penuh penyesalan, aku menatap wajah kak Jester yang kini menatap mataku dengan dalam.
"Untuk apa? tidak perlu, aku baik - baik saja saat kamu tidak pernah muncul" timpal kak Jester, aku sudah menduga akan mendapatkan jawaban itu. Namun aku tidak ingin menyerah, aku harus tetap memaksanya.
"Ini tidak hanya tentangmu kak, tapi untukku juga. Penyesalan seumur hidupku adalah perbuatan jahat ku kepadamu, jika kamu tidak memaafkan ku maka aku akan membawa penyesalan ini seumur hidupku" jawabku, seketika itu tiba - tiba Naomi seakan tersadar akan sesuatu dari gerak tubuhnya. Naomi pun berkata...
"Kamu dulu menolak Jester karena tahu kamu akan pindah keluar negeri?" tanya Naomi menimpali pembicaraan serius ku dengan kak Jester, dia seperti ingin memastikan sesuatu dengan pertanyaannya itu.
"Iya, bayangkan saat itu aku menerimanya... aku tahu aku tidak bisa menemaninya dalam waktu yang lama, bagaimana aku bisa menerima kenyataan kami akan dipisahkan oleh keadaan" jawabku, namun tiba - tiba kak Jester berdiri hendak meninggalkan kami. Tangan Naomi menahan lengan kak Jester agar dia tidak pergi, sejenak kami terdiam sampai kak Jester berkata...
"Tidak masuk akal, jika memang seperti itu kamu masih tetap bisa berada di negeri ini bersamaku" terdengar penuh emosi kak Jester mengatakannya
"Jester... ini berhubungan dengan orang tua Luna, apapun yang terjadi... perpisahan dengan orang tua tidak bisa dianggap sepele seperti ucapanmu, pertimbangan Luna juga berat" timpal Naomi berusaha menenangkan emosi kak Jester dan terus menahannya ditempat itu.
"Aku bisa membelikannya tiket pulang pergi semau dia!! tidak ada alasan untuk hal konyol seperti itu!!" bentak kak Jester kepada Naomi
"Lalu kamu sampai hati menghinaku seperti itu?!!!" bentak kak Jester
Kemarahan kak Jester membuat tubuhku gemetaran, namun sepertinya tidak hanya aku yang takut melihatnya begitu marah. Naomi sampai berdiri dan memeluk kak Jester dengan erat untuk meredakan emosinya, Selena pun menggenggam tanganku di atas meja seakan dia ingin mengajakku untuk segera meninggalkan tempat itu. Nafas kak Jester terdengar begitu berat dan memburu, aku takut.... aku tidak pernah melihatnya seperti itu, tapi aku tetap pada pendirianku... aku tidak boleh menyerah kali ini
"Dia tidak mengatakan seperti itu Jess.... tenangkan dirimu dulu dan dengarkan alasannya. tujuan kamu berada disini adalah agar kamu berdamai dengan hatimu" ucap Naomi yang berusaha menenangkan kak Jester dengan perkataan dan juga pelukan, Naomi menuntun kak Jester akan kembali duduk secara perlahan.
Ketika kak Jester sudah duduk, aku kembali mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan kembali. Menjelaskan kebohonganku lagi... kepadanya, aku tetap tidak bisa memberikan alasan sejujurnya karena aku tidak ingin... dia menerima permintaanku karena kasihan, aku ingin dia menerima permintaanku karena memang hatinya yang ingin.
"Saat aku menolakmu di atas panggung itu, sebelumnya Selena sudah memperingatkan kalau aku harus segera menjelaskannya padamu. Tapi aku terlalu muda saat itu, aku tidak bisa berpikir jernih dan normal ketika aku dihadapkan antara memilihmu atau orangtuaku, aku memilih untuk menghinamu seperti itu dan berharap kamu akan membenciku seumur hidupmu agar kamu bisa melupakanku" ucapku menjelaskan alasan dari penolakan ku di atas panggung
Sebuah kebohongan baru dari Luna... :)
"Kamu sudah dapatkan yang kamu harapkan" sindir kak Jester terdengar begitu ketus kepadaku, aku menanggapi ketusnya dengan sebuah senyuman.
"Kamu benar kak, aku sangat merasakan kebencianmu padaku. Saat itu aku dihadapkan dua pilihan yang berat, pilihan pertama yang aku pilih waktu itu atau pilihan kedua yang Selena tawarkan padaku namun aku tidak memilihnya" ucapku dengan setenang mungkin
__ADS_1
"Apa pilihan kedua itu?" tanya Naomi, aku mengalihkan pandanganku menatap Naomi lalu tersenyum padanya.
"Selena bilang, kalau memang waktuku sudah ditentukan akan berpisah dengannya... kenapa aku tidak memberikan kenangan yang indah bersamanya, kenangan yang tidak akan kami sesali karena pernah saling mengenal, dan membahagiakannya sampai detik - detik terakhir" jawabku, seketika itu Naomi mengalihkan pandangannya menatap Selena namun mereka berdua tidak berbicara apapun.
"Sisa waktuku tinggal satu bulan ini kak, aku cuma ingin menghapus lukamu dan menyingkirkan penyesalan seumur hidupku. Aku harap kamu...." belum selesai aku bicara, kak Jester kembali emosi dan dia mengatakan...
"Kamu pikir hatiku itu apa?!! apa kamu pikir hati ini bisa kamu pakai untuk datang dan pergi sesukamu?!!" bentak kak Jester, dia meluapkan semua amarahnya padaku dalam satu tarikan nafas. Tapi aku tidak ingin menyerah, aku yakin kak Jester pasti bisa mengerti...
Aku yakin... kak Jester pasti mengerti...
"Tidak begitu kak, kamu jangan berpikir aku mengganggap hatimu..." perkataan ku kembali di potong oleh kak Jester...
"PERGI KAU!!" bentak kak Jester terdengar sangat emosional padaku, amarahnya semakin tidak terkendali.
Sontak Naomi berdiri dan mendekap kepala kak Jester dalam pelukannya, sejenak kami semua terdiam dan terdengar deru nafas kak Jester di ruangan itu. Aku tidak pernah menyangka sosok pangeranku akan semarah ini, Yaah aku tahu... aku tahu itu karena aku, tidak seharusnya aku kaget saat itu...
Aku mengerti... :(
"Jess... atur amarahmu, aku tahu kamu sangat kecewa. Jester yang aku kenal tidak seperti ini, dia tidak akan membentak - bentak wanita seperti ini... atur nafasmu seperti yang pernah kamu ajarkan untukku" ucap Naomi dengan lembut sembari terus mendekap kepala kak Jester dalam pelukannya
Aku merasakan ketulusan cinta Naomi kepada pangeranku... aku begitu bisa merasakannya, aku juga sempat membayangkan aku yang berada diposisi Naomi. Menjadi penenang untuk orang yang aku cintai, seharusnya aku yang berada disana jika aku tidak memilih pilihan bodohku dulu... tapi penyesalan bukanlah sebuah solusi, aku harus berhenti memikirkan tentang penyesalan masa lalu.
Aku bisa... :)
"Maaf.... maaf aku membentak mu... aku cuma ingin kamu pergi dan biarkan aku hidup damai dengan hatiku meski luka ini masih ada" terdengar pilu kak Jester ketika mengatakannya
Sakit hatiku mendengarnya begitu sedih, luka itu sepertinya jauh lebih dalam dari apa yang aku duga sebelumnya... sepertinya kak Jester... trauma dengan perbuatanku kepadanya, maafkan aku... pangeranku... :(
"Kalian bisa tinggalkan kami? kita akan bicarakan ini lagi nanti" ucap Naomi mengusir kami, kalimat usiran Naomi membuat Selena bereaksi.
"Luna tidak punya..." belum selesai Selena berkata, aku menarik lengannya sembari berdiri dari dudukku.
"Kami mengerti, selamat pagi kak Jester.... Naomi..." dengan senyuman aku pun berpamitan pada mereka
Aku menarik lengan Selena untuk beranjak dari tempat ini dan membiarkan kak Jester dan Naomi berduaan, saat ini sangat tidak mungkin untuk terus membahas apa yang aku inginkan. Meski awalnya Selena menolak untuk pergi, namun senyumku mampu membuatnya bergerak dan meninggalkan tempat itu. Diperjalanan kami menuju keluar dari rumah kak Jester dan Naomi, Selena menahan langkahnya dan menarik lenganku agar aku berbalik dan menatapnya.
"Luna! kamu tidak punya waktu lagi!!" bentak Selena, aku terdiam sejenak lalu kembali tersenyum padanya.
"Tidak apa, aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Mungkin itu sudah bisa mengurangi penyesalanku, yakan?" ucapku lalu kembali berbalik dan berjalan keluar dari rumah itu.
__ADS_1
Aku ingin meneteskan air mataku yang sudah terasa begitu sulit untuk aku bendung, tapi aku selalu meneguhkan hati dengan janjiku sendiri jika aku tidak akan pernah lagi menangis...
Hatiku... kamu kuat kok :)